09. Cinta Pada Pandangan Pertama

2329 Kata
Raut wajah Sekar yang tak bersahabat langsung ditangkap oleh Panji, ia ragu untuk memulai percakapan. Seketika, terngiang penggalan lirik dari salah satu lagu favoritnya. Saat ia masih duduk di bangku sekolah, dan kini apa yang dibicarakan lirik tersebut sangat menyentil keadaan Panji saat ini. Ia memang butuh kursus untuk merangkai kata. Tanpa Panji sadari, ia tersenyum geli. “Anda pikir ini lucu?” ucap Sekar sinis begitu ia mendengar ejekan dari pemuda yang baru dua menit duduk dihadapanya. Matanya yang sedari tadi hanya terpaku pada satu titik di ujung kata menu, pada buku dengan desain elegan yang menuliskan beberapa nama sajian pada restoran tersebut. Berhasil berpindah menatap Panji, dengan tatapan menusuk. Rona tatapannya menciptakan gelombang berayun, berusaha menahan duka akan kekecewaan atas apa yang baru saja ia alami tiga menit lalu. “Sori, aku nggak ngetawain kamu. Aku cuman keinget lagu Jamrud. Yang judulnya Pelangi Di Matamu. Kamu tau ‘kan lagu itu?” seru Panji berusaha santai. Menikmati kebersamaannya dengan Sekar, wanita tercantik yang pernah ia lihat. Ia heran, mengapa tak dari awal saja dirinya menyetujui untuk bertemu dengan Sekar. Saat pertama kali Arya, berusaha ingin membantunya keluar dari krisis hati yang ia derita. Sudah dua tahun Panji menjauhi mahluk yang disebut perempuan. Sakit hati, kekecewaan, trauma, rasa tak percaya membuatnya skeptis dan apatis terhadap kaum hawa. Alasannya bisa dibilang sederhana, tunagannya tiba-tiba memutuskannya tepat sehari setelah mereka bertunangan. Ia pikir Anindya, perempuan yang sudah mengisi hatinya sejak ia duduk di bangku kelas dua SMA, hanya bergurau dan ingin mengerjainya. Namun, dengan jelas dan tanpa penyelasan Anindya meminta Panji untuk merelakannya pergi. Saat ditanyai alasannya, Anindya pun tidak mengetahui. Gadis pujaan hatinya itu, hanya merasa sudah tidak mencintai Panji. Bahkan Anindya sendiri pun bingung, mengapa dengan mudah merelakan Panji pergi. Seluruh keluarga, sahabat, teman dan rekan Anindya ataupun Panji pun ikut bingung dibuatnya. Karena setahu mereka, Anindyalah yang menaruh hati pada Panji. Anindyalah yang tergila-gila dengan Panji. Serta, Anindyalah yang justru berharap dapat menjadi pelabuhan pertama dan terakhir hati Panji. Panji yang merupakan seorang introvert, dengan kepribadian plegmatis yang dominan, membuatnya mudah bergantung pada orang lain. Tidak heran, setelah pemutusan hubungan mereka yang hanya sebelah pihak.  Memancing sisi lain Panji yang melankolis. Jiwanya rapuh seketika, semua hal yang dilakukannya menjadi berantakan. Panji menjadi pria yang lalai, serta mengancam projek besar yang ia jalankan. Untung saat itu Arya yang baru saja bekerjasama dengan perusahaan Panji, dapat memasuki ruang hati Panji. Arya juga memulihkan kondisi mental Panji. Berkat Arya yang hampir dikenalnya satu tahun lalu, Panji dapat kembali bangkit. Ia mulai kembali fokus dengan projeknya, sehingga pekerjaan mereka mendapatkan hasil yang diinginkan. Program keamaan yang mereka susun, akhirnya berhasil dirilis dan dipesan oleh perusahaan-perusahaan elit terkemuka dunia. Degan tujuan, untuk menjaga keamanan data perusahaan mereka. Selain itu, Arya berhasil membuat Panji bangkit untuk kembali bersosialisasi dengan manusia. Walau selalu Panji tolak saat Arya ingin mengenalkannya pada manusia berjenis kelamin perempuan, termasuk Sekar. Hampir setiap bertemu Panji, Arya selalu menyebut nama Sekar. Berusaha membuatnya penasaran dengan wanita yang menurut Arya, sempurna untuk dijadikan pengganti Anindya. Namun setiap kali Arya membujuknya, selalu Panji tolak hingga beberapa waktu lalu, saat mereka bertemu untuk menguji projek mereka. Arya menantang Panji dengan menawarkan taruhan, yaitu bila Arya berhasil mendapatkan kesepakatan besar maka Panji harus mengambulkan permintaannya. Panji yang awalnya pesimis, program mereka akan menarik perhatian perusahaan elit. Tentu mengejek Arya dan dengan mudah menyetujui taruhan tersebut. Namun dengan syarat bila ternyata Arya gagal, maka Arya harus berhenti membicarakan kaum hawa di depannya. Terutama gadis yang bernama Sekar. Kenyatannya, Panjilah yang kalah dan harus menerima undangan Arya hari ini untuk bertemu Sekar. Awalnya, ia berencana akan memperkenalkan diri dengan Sekar sejenak. Kemudian setelah Arya pergi meninggalkan mereka, Panji pun akan meninggalkan gadis itu. Ia juga sudah menyiapkan skenario, bila Arya bertanya mengenai pertemuan ini. Panji akan beralasan bahwa Sekar tak menyukainya. Panji juga akan mengatakan bahwa Sekar mengamcam akan melaporkannya pada pihak berwajib, bila Panji berusaha menganggunya. Tentu, hal tersebut akan dengan mudah di terima Arya. Karena, Arya selalu menceritakan bagaimana awal perjumpaan mereka. “Nggak! Saya gak tahu…” bibir Sekar akhirnya mengeluarkan suara setelah beberapa kali terkatup. Matanya masih menatap tajam Panji tanpa berkedip, mengeluarkan gelombang intimidasi yang berhasil ditangkap Panji. Namun itu tak memberikan pengaruh padanya. Entah mengapa, ia sangat suka melihat sorotan mata Sekar yang mengancam. “Mungkin emang aku butuh kursus, buat merangkai kata. Itu yang tadi aku tertawakan. Aku menertawakan diriku sendiri, yang bingung harus ngomong apa sama kamu…” jelas Panji masih berusaha terlihat santai. Ia tak menghiraukan cara duduknya yang kaku. “Kita nggak usah ngomong apa-apa, Saya mau pergi…” ucap Sekar membuang muka kemudian beranjak. “Kamu suka sama Arya?” Panji sendiri tidak percaya dengan pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Ia bahkan tidak mengetahui, mengapa ia menanyakan sesuatu yang sangat konyol kepada perempuan yang baru saja ia ketahui namanya empat menit lalu. Perempuan yang dijodohkan untuknya. Tiba-tiba saja ia bertanya apakah perempuan tersebut menyukai orang yang menjodohkannya. Akan tetapi, pertanyaannya itu mampu membuat Sekar mematung. Sekar yang hampir melangkah meninggalkan Panji, seketika terdiam. Ia kembali menyelam pada ingatannya beberapa menit lalu, saat perasaannya menggebu-gebu, bersemangat, penuh adrenalin. Serta penuh hasrat untuk memiliki cinta Arya. Mengingat itu jantungnya kembali bergemuruh, ia pun menoleh pada Panji dengan tatapan yang berganti. “Ia Saya menyukai Arya, jadi sudah nggak ada alasan kan untuk kita saling kenal…?” ucap Sekar gusar. “Bagaimana kalau kita buat Arya mejadi pacarmu?” Panji semakin kaget dengan ucapannya. Ia betul-betul tidak tahu kalimat itu dapat terlontar begitu saja, dari bibirnya yang tipis. Akan tetapi, ia merasa senang, karena Sekar mengurungkan niatnya untuk pergi. Gadis itu memilih kembali duduk, dihadapannya. “Maksud Anda?” “Aku mungkin salah, tapi aku rasa Arya juga tertarik sama kamu. Mungkin, dia belum menyadarinya. Tapi kalo ada trigger mungkin dia bisa sadar!” kini Panji mengatakannya dengan penuh kesadaran. Ia pun paham mengapa hatinya berucap seperti itu. Pikirnya, mungkin ini kesempatan yang harus ia gunakan agar Sekar mau berteman dengannya. Paling tidak dengan berteman dengan Sekar, dapat menjadi senjata untuk mendapatkan hati gadis yang membuatnya terpesona. Selain itu, Panji merasakan perasaan yang aneh. Tiba-tiba ia b*******h, adrenalinnya memompa kencang. Untuk pertama kalinya dalam hidup pemuda yang lebih tampan dari Arya itu, ingin mendekati seorang wanita. Rasa trauma, patah hati, kekecawaan, hingga perasaan skeptis terhadap kaum hawa, hilang seketika. Ia ragu akan cinta pada pandangan pertama, namun ia mengakui, ia tersihir pesona Sekar sejak pandangan pertama. Apakah benar? Cinta pada pandangan pertama itu ada? Apakah yang aku rasakan sekarang adalah, jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap gadis in? Pikir Panji takjub, sekaligus heran. “Anda yakin?” ucap Sekar penuh harap. Sorotan matanya kini berubah. Tanpa sadar Panji kembali menarik mulutnya, membuat bibirnya seakan hilang. Menggantikan garis tipis melengkung, dengan cekungan yang menghadap hidungnya yang menjulang runcing. Tercetak lubang kecil yang menghias kedua pipi Panji. Menambah kesan menggemaskan namun maskulin secara bersamaan. “Anda ngetawain Saya lagi?” Sekar tak mempan diberikan pesona Panji. Lesung pipi yang selalu menjadi senjata utamanya dalam menarik perhatian orang, kini tak lagi ampuh. “Enggak, aku suka perubahan emosi kamu. Dari sana aku bisa bilang kalau kamu orang yang jujur, dan juga tulus. Kamu menarik Sekar, aku menyesal kenapa baru hari ini aku mengiyakan ajakan Arya buat ketemu kamu. Andai kita bertemu lebih cepat mungkin bisa saja buka Arya yang kamu suka, melainkan aku…” “Seperti yang Anda bilang, saya memang suka Arya. Dan, perandaian Anda itu nggak masuk akal. Tidak mudah buat Saya untuk menyukai orang lain, terutama yang baru saya kenal!” sorot mata Sekar kembali tidak bersahabat. “Ok, maaf kalau aku menyinggung kamu. Maksudku tadi, aku menyesal baru bisa kenal kamu sekarang. Maka, untuk menebus penyesalan serta kesahalanku, aku akan bantu kamu buat Arya menjadi pacarnya.” ucap Panji sedikit teriris, ia takut kalimatnya akan menjadi bumerang baginya dikemudian hari. “Bagaimana caranya?” “Hmmm… sebelum bahas itu, mending kita pesan makan dulu. Daripada kita diusir karena belum pesan makanan! Kamu udah tau mau pesan apa?” Sekar kembali ingat pesanan yang direkomendasikan oleh Arya untuknya, dengan sedikit malas ia meraih buku menu yang sedari tadi menjadi objek pandangannya. Ia menemukan Norwegian Salmon pada halaman ke empat. “Tadi Arya nyaranin aku buat nyobain Norwegian Salmon… jadi aku pesan itu!” seuntai kalimat yang membuat Panji terhenti dari kegiatannya membolak-balikan buku menu, kemudian menatap Sekar takjub. “Kenapa?” “Gapapa, aku senang benteng yang tadi kokoh mulai melunak…” “Maksud kamu?” “Kamu udah nggak pake Saya-Anda lagi, dan itu buat aku senang!” “Oh… lebay! Well, sorry tadi sikapku emang kurang bersahabat! Aku pikir hari ini hari yang… sudahlah…. Kamu jadinya pesan apa?” “Tenderloin Wagyu kayanya… side dish-nya apa? Trus minumnya enggak skalian?” “Mashed potato, sayurnya steamed asparagus, trus sausnya mau yang mushroom sauce aja. Sama salmonnya medium rare aja, minumnya... Virgin Mary deh…” ucap Sekar tanpa melihat Panji sama sekali, hanya sibuk melirik pada daftar sajian. “Ok….” ucap Panji singkat, lalu memalingkan wajahnya pada pramusaji yang sudah menunggu mereka sedari tadi. Dengan sigap, wanita muda dengan rambut gaya quiff memakai seragam restoran tersebut menghampiri meja mereka. Riasan tipis tampak membuat wanita muda itu segar dan elegen. “Mbak, tolong Norwegian Salmonnya satu. Side dish-nya mashed potato, sayurnya steamed asparagus, trus sausnya yang mushroom.  Sama salmonnya tolong dimasak medium rare ya Mbak… Trus, satu Tenderloin Wagyu. Side dish-nya sama, cuman sayurnya mau yang mix aja ya mbak… trus minumnya Virgin Mary satu sama Pinot Noir ya Mbak… Eh? Kamu nggak mau wine?” ucap Panji tiba-tiba menoleh pada Sekar. “Nanti aja… sementara itu dulu!” “Ok, itu aja ya Mbak… terima kasih Mbak!” kemudian sang prumasaji melangkah menjauhi mereka setelah menyebutkan kembali pesanan mereka, meninggalkan Sekar yang mulai melunak terhadap Panji. “Jadi, kamu pikir hari ini kamu bakalaan…” ucap Panji terhenti sambil memandang Sekar dari atas hingga bawah. “Pandangan apaan tuh maksudnya?” tukas Sekar merasa tersindir, ia mengubah posisi duduknya condong ke meja setelah diselidik Panji. Panji hanya menjawab dengan senyuman manis. “Enggak, aku becanda! Benar kata Arya kamu cantik, apakah setiap hari kamu seperti ini?” “Maksudnya seperti ini?” “Dengan riasan sempurna, rambut kepang, trus heels…” “Selamat ya Pak Panji, Anda orang asing pertama yang melihat saya totalitas. Bahkan, mantan-mantan pacarku aja belum pernah ada yang melihat aku begini!” “Hmmm… jadi ini spesial buat Arya?” “Bisa dibilang begitu…. Jadi, Arya bilang aku cantik?” hanya dibalas anggukan oleh Panji kemudian melanjutkan, “Dan yaaah… kamu memang cantik! Dari tadi aku perhatikan beberapa cowok berusaha lirik kamu lho… dan aku juga mengakui kalau kamu itu cantik, bahkan kamu menarik!” Ingin Panji menambahkan dengan kalimat “aku pun tertarik dengan kamu Sekar… bukan, aku bukan tertarik, tapi aku tlah jatuh cinta begitu pertama kali aku memandangmu!” namun ia memutuskan, biarkan hatinya saja yang berbicara demikian. “Tapi, kenapa dia nggak suka aku? Jujur, selama ini aku pikir dia suka aku. Sejak pertama kali kita kenal dia kesannya ngejar aku. Jadi dia cuman PHP doang ternyata!” “Emang dia pernah bilang suka kamu?” kini giliran Panji yang mencodongkan tubuhnya ke arah Sekar, sedangkan Sekar kembali menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa mewah restoran tersebut. “Enggak pernah si… Tapi, perbuatannya, sikapnya, cara natapnya, gerak-geriknya, semuanya yang dia lakuin ke aku, secara nggak langsung mengatakan kalo Arya suka ama aku!” “Hmmm… wajar sih! Aku aja sempat nyangka dia homo pas awal kita kenal dulu!” ucap Panji sedikit terkekeh mengingat awal-awal pertemuannya dengan Arya. “Oh ya? Kok bisa?” “Begini, Arya itu ke semua orang kayak gitu... Dia baik. Terlalu baik bahkan! Sudah ratusan, bahkan ribuan cewek yang jatuh cinta sama dia. Bukan cewek doang lho, cowok juga!” Panji perlu menambahkan senyuman ejekan saat mengingat beberapa rekan kerja prianya yang jatuh hati, bahkan menyatakan cinta pada Arya. Namun ditolak mentah oleh Arya, karena setahu Panji Arya menyukai wanita. “Tapi ya itulah Arya, dia selalu perhatian dan peduli sama orang yang dekat dengannya. Entah itu cewek, ataupun cowok. Mau tau ataupun muda. Dia baik ke semua orang. Karena sikapnya itulah, mereka selalu berakhir seperti kamu. Jatuh hati sama Arya. Makanya tadi dengan gampangnya aku tanya, apakah kamu suka ama Arya." Panji berusaha mengubah posisi duduknya yang kaku. Benteng tebal aura Sekar yang dirasakannya semula, sudah mulai menipis. Membuatnya lebih santai berhadapan dengan gadis itu. "Yaaa… karena setiap orang yang diberi perhatian sama diam bakalan jatuh hati dan berharap menjadi bagian hatinya Arya. Nggak sedikit lho yang nyatain cintanya ke Arya, dan selalu dengan halus Arya menolak mereka. Lebih ajaib lagi, sikap Arya nggak berubah lho setelah menolak mereka. Dia masih menjadi Arya yang dulu. Masih perhatian, masih peduli sampai-sampai orang yang menyatakan perasaan ke Arya mundur dan ngejauhin Arya. Padahal Arya berusaha approach mereka! Tapi ya, kita juga nggak bisa maksa orang yang nggak mau kenal kita lagi, ‘kan?” “Apa gara-gara Arya udah punya pacar?” Sekar menyimpulkan, tanpa memikirkan variable yang dijelaskan oleh Panji. Kemudian ia melanjutkan “Makanya dia nolak-nolakin mereka? Jujur aku nggak tau kalo dia udah punya pacar….” “Setahuku, Arya belum punya pacar, ataupun calon pacar, malah…” Sekar menyela perkataan Panji seolah itu bukan jawaban yang ia inginkan.   “Setelah aku pikir-pikir, apa yang kamu bilang ada benarnya juga. Selama ini, perlakukannya ke aku ya… bentuk kepedulian terhadap teman. Tapi akunya aja yang mungkin kegeeran. Tapi aku nggak salah juga doong… Kamu pikir aja, mana ada cowok yang segitu pedulinya sama cewek yang dari awal kenal udah dicuekin. Dimanfaatin, dan gak dipeduliin…” “Jadi kamu ngerasa Arya ngejar-ngejar kamu? Trus kamu manfaatin, gitu?” giliran Panji yang memotong pembicaraan Sekar. Saat Sekar ingin menjawab pertanyaan Panji, tiba-tiba pramusaji muncul sambil membawa pesanan mereka. Membuat Sekar terpaksa berhenti untuk mendiskusikan Arya, serta perasaan menggebunya untuk membuat Arya cemburu. Dengan cerita, yang berakhir pada perlabuhan hati Arya untuknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN