08. Patah Hati

2314 Kata
Dengan perasaan yang campur aduk, Sekar menekan centang biru di samping nama Arya yang tertara. Tengah berusaha meraih Sekar lewat panggilan telepon. “Hey, sorry yaa. Kemarin-kemarin, aku bener-bener lagi ribet banget! Ini baru kelar urusannya. Kamu apa kabar hari ini?” kalimat terpanjang, yang pernah Sekar dengar dari Arya dalam tiga hari ini. Sukses membuat Sekar senyam-senyum dan sedikit berjingkrak, membuat Roni geli menatapnya. Sekar hanya mampu mengibaskan tangannya ke arah Roni, menyuruhnya untuk pergi dari hadapannya. Roni yang paham, kemudian beranjak untuk kembali pada meja kerjanya. Ia masih dapat mendengar suara Sekar, sesekali ia melihat tingkah Sekar seperti gadis yang baru saja dihubungi oleh pacarnya sekian lama. Ia menatap geli melihat Sekar dapat beetingkah seperti itu. Untuk pertama kalinya Sekar bersikap genit manja, namun juga manis. Cocok juga untuknya. “Aku biasa aja, ya gak ada spesial!” ucap Sekar berusaha menanggapi Arya senormal mungkin. “Sukurlah...: “WU-ku yang terakhir udah di baca?” tanya Sekar memastikan Arya menanggapi pertanyaannya. Pesan terakhri yang ia kirim adalah, ingin mengajak Arya bertemu. “Belum, aku nggak sempat buka WU. Pengen telpon kamu langsung aja, emang kamu nulis apa? “Aku cuman tanya, sabtu ini kamu bisa ketemu di Dacha nggak… aku libur, tapi belum ada rencana mau ngapain. Siapa tahu, kamu juga free kan?” “Gimana kalau nanti malam aja ketemuannya, kamu free kan?” “Huum, kenapa mau ngajakin dinner?” goda Sekar sekenanya. Ia bahkan geli sendiri mendengar suaranya. Sedangkan Roni yang berusaha menguping, langsung terbelalak. Begitu melihat tingkah agresif Sekar. “Kok tau? Aku udah reservasi di Hotel Mairjaguar jam tujuh malam nanti, kamu bisa, ‘kan?” ia menyebutkan salah satu bintang lima yang terkenal dengan sajian makan malamnya. “Serius? Kamu ngajakin aku dinner?” godaan Sekar ditanggap serius oleh Arya, membuat Sekar takjub. Ia sampai harus melengking, bahkan berdiri dari tempat duduknya. “Iya! Ya, aku akui. Kalau aku kangen ama kamu! Aku juga merasa bersalah, karena sudah menelantarkan kamu beberapa hari ini. Makanya, aku mau menebus kesalahanku dengan mengajak kamu dinner. Kamu mau kan?” suara Arya begitu sopan masuk ke telinga kanan Sekar. Tak hanya itu, kelembutan suaranya pun menerobos ke dalam jantung Sekar yang berpacu kencang. Membuatnya terpaku beberapa saat. “Gimana? Kamu bisa?” tanya Arya setelah beberapa saat, hanay mendengar hembusan napas Sekar yang tidak beraturan. “Hmmm.... Gimana yaa...” Sekar bersandiwara, berpura-pura untuk menimang tawaran Arya. Padahal, dalam benaknya sudah tersuguhkan adegan dirinya bersama Arya di restoran hotel mewah itu. Iya pun tak mampu menolak imajinasi dalam fantasinya yang merenggut benaknya. Ketika muncul sosok Arya yang memintanya untuk menjalin asmara dengannya. “Please... Dan! Untuk pertama kalinya aku minta kamu untuk bilang iya, please jangan ditolak, ya, ya, ya!” kali ini Sekar tersenyum membayangkan Arya yang berlutut memohon padanya. “Hmmm.... okeh!” jawab Sekar dibuat terpaksa. “Yes! Tapi maaf, aku nggak bisa jemput kamu. Aku masih ada urusan sampai jam enam. Takutnya mepet. Soalnya, kalo setengah jam nggak dateng, reservasinya otomatis ke-cancel. Kamu bisa berangkat duluan? Aku usahakan jam tujuh sudah sampai sana!” “Yaudah, gapapa santai aja. Jam tujuh, ‘kan? Atas nama siapa reservasinya?” “Pake nama Sekar. gapapa kan?” “Udah lama aku nggak pernah dengar nama itu, tapi gapapa!” “Yaudah kalau begitu, ampe malam nanti ya. Aku harus ketemu klien lagi. Kamu hati-hati ya nanti pulangnya, trus nanti ke sananya juga pake taksi aja ya!” “Iya bawel, udah sana!” “Iya, bye!” “Bye!” “Cieeee... yang mau dinner.... kayanya bakalan ada yang jadian nih!” goda Roni begitu Sekar mengakhiri panggilannya dengan Arya. “Apaan sih... ya semoga aja!” Sekar tak dapat menahan rasa bahagianya. Ia sungguh, tak dapat menunggu makan malam nanti. Ia ingin cepat-cepat malam tiba. Tanpa terasa, hal itu pun menghampiri. Kini, Sekar sudah duduk dengan perasaan tak menentu di dalam restoran mewah yang dimaksud Arya. Suasana di restoran malam itu tak menunjukkan akan hal-hal yang spesial menurut Sekar. Saat pelayan mengantarkannya ke meja yang telah dipesan Arya, Ia tidak menemukan adanya lilin yang menyala. Juga, tidak menemukan buket bunga yang ditujukan khusus padanya. Bahkan, restoran malam itu cenderung ramai, jauh dari apa yang ia harapkan. Ia pikir, malam ini Arya sengaja mengajaknya untuk makan malam romantis berdua saja. Dengan cahaya temarang dari lilin yang menyala, sambil disuguhkan musik yang mungkin dimainkan langsung di depan mereka. Akan tetapi, kenyataannya sangat berbeda, mungkin ini yang dinamakan ekspektasi versus realita. Ia hanya berusaha menghibur diri, dengan duduk di atas bangku sambil membolak-balikan buku menu. Paling tidak, dengan melihat-lihat daftar makanan, dapat membangkitkan suasana hatinya. Lagipula mungkin Arya akan datang bersama satu buket bunga besar, untuk memintanya menjadi pacarnya. Sekar sama sekali tidak kuasa untuk menahan senyum, saat berhayal akan hal tersebut. Setelah membolak-balikan menu dan belum menemukan apa yang ingin ia makan malam itu, Sekar memutuskan meletakkan buku menu tersebut ke atas meja. Setelah itu Sekar melihat jam bernuansa emas yang melingkar di pergelangan tangannya, jarum pendek baru menuju angka tujuh, sedangkan jarum panjang berada di angka sebelas. Ia datang terlalu awal. Sekar merasa sedikit bodoh, serta malu dengan dirinya sendiri. Sebegitu tak sabarnya ia, menunggu momen yang sudah hampir dua bulan ia nantikan. Bahkan, untuk acara malam ini, gadis yang jarang dibubuhi riassan apapun pada wajahnya, memilih untuk berhias diri secara total. Wajahnya yang biasanya hanya dibubuhi krim perawatan wajah dengan sedikit bedak, kini ia tambahkan foundation, tidak lupa pula disusul blush on dan highligter. Area mata yang biasanya tidak terdapat apa-apa, kini ia bubuhi eyeshadow.Ttidak tertinggal, ia pulaskan maskara agar bulu matanya lebih terlihat tebal dan lentik. Kemudian, agar matanya terlihat lebih indah, ia aplikasikan eyeliner tipis. Membuat matanya yang besar, semakin keras. Terlihat kesan seksi dan cantik dalam satu waktu, persis seperti karakter yang diinginkannya. Ia juga menebalkan alis panjangnya. Serta, untuk bibirnya yang bergelombang nan tebal, ia hanya oleskan lip tint alih-alih lipstik. Karena ia hanya ingin bibirnya terlihat natural, lagipula bibirnya memang sudah berwarna merah cerah. Tidak hanya itu, ia juga mengenakan busana yang jarang ia pakai. Mungkin hanya di acara tertentu saja. Seperti pesta formal dan sesekali di pesta pernikahan. Tubuhnya dibaluti A-Line Dress warna hitam pekat ukuran Tea-Length yang biasa disebut ukuran tanggung bagi masyarakatan Indonesia, dengan panjang sleeve di atas siku. Ditambah, aksesori besi keemasan yang melingkat diantara perut dan bagian atas tubuhnya. Belum lagi, rambut yang ia biarkan terurai di bagian atas, sedangkan di bagian bawah ia kepang besar dan diletakkan di depan tubuhnya sebelah kanan. Memberikan kesan berantakan namun rapi. Juga, tidak lupa ia menggunakan sepatu Ankle Strap Shoe berwarna senada dengan tali emas. Yang mengikat di pergelangan kakinya. Sungguh, penampakannya malam ini sangat berbeda jauh dari penampilan Sekar sehari-hari yang biasa Arya lihat. Ia bahkan sadar, bahwa beberapa pasang mata memperhatikannya sejak pertama kali ia melangkah memasuki area restoran. Tak membuatnya salah tingkah, justru membuatnya semakin percaya diri bahwa malam ini Arya akan jadi miliknya. Ia berlenggok mengikuti pramusaji yang mengantarkannya ke tempat yang sudah disediakan untuknya dan Arya. Layaknya model papan atas, Sekar berjalan menampilkan keelokan tubuhnya. Ruang restoran tersebut, seketika berubah menjadi panggung runway khusus Sekar. Menciptakan rasa kagum, tertarik, dan juga iri bagi seluruh yang memandang. Sekar mencuri perhatian setiap orang yang melewatinya. Akan tetapi, sesungguhnya Sekar hanya ingin mencurgi perhatian Arya, yang sampai detik ini belum kunjung tampak. Sekar yang mulai senewen, memilih untuk mengeluarkan ponsel dari tas wristlet kulit berwarna hitam dengan ornamen emas pada tali dan juga ritsleting. Ia lalu mengetik nama Arya, berniat menghubunginya. Sedetik kemudian, ia urungkan. Sekar memutuskan untuk membuka aplikasi pesan teks WhatsUp, lalu membaca kembali pesan Arya yang ia terima tiga puluh menit lalu. Kembali ia membaca pesan Arya yang betuliskan, From : Arya Sorry, aku bakalan telat dikit, kamu kalau udah otw ydah hati2. Tapi kalau belum, nanti aja gpp dari pada kamu nungguin aku lama. Sayangnya, sekar baru membaca pesan Arya saat taksi yang membawanya sudah berada di lobby hotel. Sekar hanya membalas sekedarnya, untuk menenangkan Arya dan dirinya. Ia kemudian menimang untuk mengirim pesan teks kepada Arya. Namun saat jarinya siap menari di atas layar kaca ponselnya, tiba-tiba ia mengurungkan niatnya. Ia memutuskan meletakkan ponselnya di atas meja dan mengambil kembali buku menu yang berada tak jauh dari ponselnya. Sesekali, Sekar melirik ke arah pintu masuk, saat membalikkan setiap halaman buku menu. Hingga saat halaman ke tiga, penampakan Arya yang berjalan tergesa-gesa terlihat di pantulan bola matanya. Sekar tak dapat menahan dirinya untuk tidak tersenyum, saat melihat Arya yang juga berpenampilan lebih rapi dari biasanya. Pemuda itu bahkan menggunakan jas. Menambah kesan tampan. Membuat Sekar semakin yakin, bahwa Arya memang bertujuan menemuinya secara khusus. Ia tidak menyesal telah berhias sempurna. Sehingga, membuatnya sangat cocok untuk bersanding dengan pemuda itu. Lama memperhatikan penampilan Arya, kini Sekar mengalihkan pandangnnya ke tangan pemuda yang semakin dekat berjalan ke arahnya. Berharap Arya sedang memegang seikat bunga. Namun saat mendapati tangan Arya tidak membawa apa-apa, Sekar sedikit kecewa. Tangan kanan Arya yang sedari tadi ia perhatikan kini berayun ke arahnya. Pemuda itu berlari kecil menuju meja yang telah di duduki Sekar. “Kamu udah lama nunggu?” tanya Arya seraya mengatur napasnya, saat ia berhasil mendaratkan tubuhnya ke kursi di hadapan Sekar. “Enggak kok, cuman sepuluh menitan kayanya!” “Sorrya yaa... Tiba-tiba, banyak urusan dadakan dari klien!” ucap Arya sambil mengambil buku menu, kemudian membukanya dan menyodorkannya ke Sekar. “Kamu udah pesan?” hanya dijawab geleng Sekar, ia sedikit kecewa Arya tidak memperhatikan penampilannya. Ia bahkan berinisatif memainkan rambut dan kalungnya, alih-alih mengambil buku menu. Sebagai usaha, untuk menarik perhatian Arya. “Hey... Ada yang beda dari kamu!” akhirnya Arya menyadari penampilan Sekar. “Kamu cantik banget Sekar malam ini!” puji Arya, tatapannya terlihat tulus memandang mata Sekar tajam. Sekar tersipu malu, kemudian mengambil buku menu yang sudah beberapa kali ia pegang, untuk menutupi perasaan haru bahagia. “Baru sadar aku cantik?” “Enggak si, kamu emang cantik. Tapi baru kali ini kamu full make up! Jadi catiknya makin bersinar gitu,” goda Arya semakin menjadi. “Oh iya, kamu harus cobain menu andalan dari restoran ini!” tambah Arya, saat Sekar membolak-balikan buku menu. Arya mengira, Sekar kebingungan harus memilih apa untuk makan malamnya. Padahal, gadis itu tidak sadar apa yang ia lakukan. Ia hanya ingin meredakan melambungnya perasaan haru akan pujian Arya, yang baru kali ini dapatkan. “Sini...” Arya menarik buku menu tersebut tanpa menyadari sikap aneh Sekar. Kemudian, membolak-balikan halaman buku tersebut dan berhenti pada halaman yang ia tuju. Setelah itu, megembalikan buku menu tersebut ke Sekar. “Ini...!” tunjukknya pada Norwegian Salmon. “Juara deh!” tambahnya. “Boleh deh aku mau itu, udah lama juga gak makan salmon,” ucap Sekar datar. Namun Arya tidak menyadarinya. Sekar sedikit kecewa, sikap Arya tidak seperti bayangannya. Apakah mungkin pemuda itu sengaja? Atau jangan-jangan, pemuda itu sengaja menutupi perasaannya juga. Seperti yang kini Sekar lakukan. Gadis itu yakin, perasaan Arya pun gundah tak karuan sepertinya kini. Makanya Arya nampak seperti tergesa-gesa. Sekar akhirnya memutuskan untuk bersikap biasa saja. Agar Arya tidak terlalu gelisah, sehingga dapat menjalankan misinya dengan sukses. Sekar sempat heran, kenapa harus sesusah ini bagi Arya untuk menyatakan perasaannya padanya. Tanpa dinner romantis, atau apapun itu. Ia pasti akan menerima perasaan Arya. Karena dirinya pun mengharapkan yang sama. Ingi menjalin cinta dengan pemuda yang duduk dihadapannya sembari memperhatikan Sekar mengamati buku menu. “Trus kamu mau pesan apa?” tanya Sekar kembali menyodorkan buku menu kepada Arya, setelah memutuskan ingin memesan minuman apa yang cocok sebagai pendamping menu utamanya. “Enggak. Aku nggak makan, aku cuman mampir sebentar!” jawab Arya hanya mengambil buku menu itu kemudian meletakkannya begitu saja di atas meja. Menciptakan kerutan besar di dahi Sekar. Ia tak paham dengan kalimat yang begitu saja terlontar dari Arya. “Maksud kamu cuman mampir?” “Sebenarnya, niatku ngajakin kamu dinner karena mau kenalin kamu ke temenku!” seketika Sekar terdiam, matanya meredu tak percaya. Jantungnya tiba-tiba berdetak kecang, ia merasa bahwa sekelilingnya tiba-tiba berhawa panas. “Maksud kamu?” “Begini, aku rencana mau jodohin kamu sama temenku. Aku pikir, kamu butuh seseorang biar hidupmu lebih teratur... Aku yakin…” belum sempat kalimat Arya tuntas, Sekar tiba-tiba beranjak. Berhasil memancing perhatian di dalam restoran itu, untuk melihat ke arah meja mereka akibat deritan bangku Sekar cukup nyaring berbunyi. “Dan! Dani...” Arya langsung memegang tangan Sekar, namun ditepis kencang olehnya. Sekar menatap Arya tajam, ada rasa kebencian di dalamnya. “Kalau kamu nggak suka gapapa! Tapi paling nggak, ketemu sebentar ama orangnya, aku...” kali ini ia kembali berhenti, begitu melihat seorang pria tampak seusia mereka sedang berjalan menuju meja mereka.   “Tolong duduk sebentar! Paling nggak sepuluh menit. Kalau kalian nggak saling suka, yaudah gapapa. Tapi aku harap kalian bisa menjalin hubungan! Karena aku yakin kalian bakalan cocok!” bujuk Arya sambil berusaha memapah Sekar kembali ke tempat duduknya. Sekar hanya dapat memandang satu titik di atas meja dengan tatapan kosong, tersirat kesedihan dan kekecewaan di dalamnya. Tak lama pria yang berjalan menghampiri tempat mereka duduk, sudah berdiri di hadapan mereka. “Panji. Panji Erlangga!” ucap pria tersebut, sambil menyodorkan tangan kanannya ke hadapan Sekar. Sekar tak bergeming, ia masih menatap satu titik di atas meja. “Daan...” ucap Arya pelan, berhasil membuat Sekar mendongak. Menatapnya, kemudian beralih menatap Panji. Mata mereka bertemu. Beberapa selang kemudian, Sekar ikut mengulurkan tangannya. Menyambut tangan Panji. “Dani. Sekar Diajeng Wardani!” ucapnya ketus lalu menarik tangannya cepat, kemudian menatap Arya sini. Arya hanya tersenyum sambil mengisyarakatkan untuk Sekar bersikap tenang. “Aku tinggal ya, kalian santai aja...” ucap Arya kemudian berlalu meninggalkan Panji yang langsung terhipnotis akan pesona Sekar, serta meninggalkan Sekar dengan perasaan yang campur aduk. Ia benar-benar ingin beranjak dari sana. Namun, tingkah mereka sudah cukup menarik perhatian orang di dalam restoran tersebut. Ia berencana, akan duduk bersama orang asing ini tidak lebih dari sepuluh menit. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN