"Dia ke bandara?" tanya Raffa kepada Stefano yang baru saja duduk di sebelahnya. "Iya." "Cari tau tujuan penerbangannya." Baru saja Stefano bersiap untuk bertindak, Marcelo sudah masuk ke dalam kamar tanpa sekali pun mengetuk pintu. "Snow putar arah," pungkas Marcelo. "Dia nggak jadi ke bandara." Raffa dan Stefano sama-sama menoleh sambil mengernyitkan alis. Keduanya diam, tapi tatapan mata mereka menuntut penjelasan. "Tujuan mereka ke stasiun. Aku udah suruh orang buat ngikutin." "Terus?" tanya Raffa. "Dia lagi boarding," balas Marcelo. "Tujuan?" "Saint Moritz." Hancur. Hanya satu kata itu yang kini ada di benak Raffa. Entah seberapa hancur, tapi sakit yang dia rasa seolah lebih parah dari sekedar rasa sakit biasa. Serupa jiwa dan raganya menjadi benar-benar mati rasa. Snow p

