70. Mimpi

1363 Kata

"Snow." Suara itu terdengar sangat jelas. Namun, seperti menggema dari kejauhan. "Maafin aku, Snow." Masih suara yang sama, tapi Snow tidak bisa melihat apa-apa. "Maaf." Snow kenal baik suara itu. Suara yang selalu hangat dan menentramkan. "Leo," lirih Snow dengan mata yang masih terpejam. "Maafin aku." "Leo!" Snow berteriak dan tubuhnya terlonjak. Peluh sudah membasahi permukaan dahi. Napas Snow terburu, selaras dengan detak jantung yang tak karuan. Mulutnya terbuka separuh. Ada rasa kering di tenggorokan, hingga Snow kesulitan menelan salivanya sendiri. Snow sadar ini hanya mimpi. Namun, entah mengapa rasanya seperti nyata. Suara Leo begitu jelas di telinganya. Bahkan, Snow seperti bisa merasakan aura muram yang terpancar dari diri mantan suaminya. Apa ini, batin Snow. Entah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN