"Dimana Alex?" Raffa kini berdiri tepat di hadapan Ariana. Pagi buta setelah selesai pesta, seusai bercinta, selepas mengantar Snow ke dalam tidurnya, Raffa akhirnya bisa leluasa menampakkan wajahnya yang mengerikan. Tak perlu lagi segan mengeluarkan bara amarah yang sejak tadi berusaha Raffa padamkan. Ariana yang semula duduk diam kini seketika berubah panik. Pisau yang dia gunakan siang tadi, kini berada di tangan Raffa. Sialnya, lelaki itu sengaja menempatkan bagian paling ujung tepat di kulit lehernya. "Kenapa? Takut?" tanya Raffa saat melihat Ariana bergerak mundur. "Ini yang kamu lakukan ke Snow." Kaki Ariana melangkah sekali lagi ke belakang. Bibirnya bungkam. Tangannya bergetar. Bahkan, Ariana tidak berhasil menelan ludahnya sendiri. "Aku bukan orang yang suka berurusan sama w

