"Ternyata gini rasanya dirawat sama istri." Raffa tersenyum lebar tanpa sekali pun mengedipkan mata. Snow tidak menanggapi dan terus menunduk. Darah di telapak tangan Raffa masih sesekali keluar. Namun, setelah dibersihkan dan diolesi cairan antiseptik, kondisi lukanya sudah jauh lebih baik. "Cantik banget istri aku," ucap Raffa lagi. Bibir Snow bungkam. Wajahnya kaku dan kedua tangannya masih fokus membalutkan perban. Sayatan itu tidak sampai terkena jaringan bagian dalam. Tidak perlu dijahit, hanya perlu ditutup untuk menghindari infeksi bakteri dari luar. "Ada untungnya juga sakit gini. Jadi bisa ngerasain dipegang tangannya lama-lama," celetuk Raffa. Snow langsung mendongak dengan raut wajah kaku. "Raff, nggak lucu." "Ok, sorry. Tapi nyatanya aku emang seneng banget dirawat sama

