Sasya 20 Juni 2019 "Permisi ... Permisi, maaf ... Sasya!" Seorang lelaki sedikit berlari menyela di antara kerumunan penumpang yang turun bersamaan denganku. Ya Tuhan, tembok pertahanan hatiku langsung runtuh melihat sosok yang selama ini kutaruhkan hatiku untuknya itu. Sebelum orang itu benar-benar mendekat, aku buru-buru melepaskan cincin dari jari manisku di belakang tubuhku. Namun susah sekali, jariku terlalu tembem untuk cincin ini. Astaga, wajahnya yang dihiasi senyum lebar kini hanya beberapa meter dariku. Dengan sekuat tenaga aku menarik cincin dari jari manisku hingga cincin itu terpental lalu menggelinding di peron kereta. Orang itu celingukan, kebingungan dengan sikapku. Aku berlari mengejar cincin itu, "Please! Please jangan jatuh ke rel kereta!" Hanya tinggal satu jengka

