Bab Sebelas

1272 Kata
komen yang banyak yaaaaaa oh iya ini cerita kedua aku yang tokohnya masih SMA. kalian udah baca karya aku di  yang judulnya "My husband is my classmate"? kalau belum langsung cus baca, udah tamat kok. di situ ada Renata si cerewet manja dan Zian si ganteng judes. ... Jian Li yang sedang mendengarkan Ruth dan Dera yang sedang asyik berbicara di bangku mereka. Mereka sedang membicarakan tentang pensi yang akan dilaksanakan sebentar lagi. Biasanya sekolah mereka mengundang bintang tamu seperti band yang sedang terkenal dan beberapa band indie.             “Aku berharap banget kalau tahun ini bintang tamunya rindu band! Uuuh vokalisnya itu lho siapa sih namanya?” tanya Ruth semangat.             “Handoko?” tebak Dera.             Ruth mendecakkan lidah. “Ih Handoko mah nama aslinya, nama bekennya lho.. Steve? Ya kan Steven? Duh ganteng banget!”             Jian Li mengernyitkan alis. “Hah Handoko jadi Steve? Ya Tuhan… jauh banget!”             “Biarin yang penting ganteng!” ujar Ruth.             “Kalau ganteng mah, Kahfi juga ganteng.” Ucap Jian Li melirik Kahfi yang baru masuk kelas dengan tumpukan buku di tangannya.             “Yah Kahfi mah emang ganteng, enggak usah ditanya.” Ucap Dera mendapati Kahfi yang melirik kea rah mereka. “Eh pak ketu ngelihatin gue ya?”             Ruth menoleh pada Kahfi, namun pria itu sedang menata meja guru. “Enggak ah!”             “Tapi dia ngelihatin gue beberapa detik lho! OMG apakah itu pertanda Kahfi ada rasa sama gue ya?”             “Euh halu lo mulai!”             Jian Li diam-diam tersenyum malu, ia tahu jika tadi Kahfi melirik ke arah dirinya bukan Dera.             “Kenapa lo senyum-senyum?” tanya Ruth yang memperhatikan sahabat barunya itu.             “Hah enggak kok, gue cuma lagi… bayangin aja persamaan Handoko sama Steve heheh”             “Euuu lo masih aja dipikirin, dasar!”             Jian Li nyengir, matanya kembali menatap Kahfi yang kini sudah kembali ke kursinya. Pria itu seperti biasa, membuka bukunya dan entah mencoret apa. Di saat yang lain sedang asyik mengobrol sambil menunggu bel masuk berbunyi, namun Kahfi lebih sering disibukkan dengan buku dan pensilnya.             Dan sebenarnya, bukan hanya Kahfi saja yang seperti itu. tetapi satu murid lainnya yang sama memiliki kebiasaan seperti Kahfi, Ainun.             Gadis berhijab dan pendiam itu pun sama, sibuk menulis yang entah apa itu. Jian Li meragukan jika Ainun sedang sibuk menyalin PR, karena Ainun ranking kedua di kelas ini setelah Kahfi.             Selalu saja melihat kesamaan yang dimiliki Kahfi dan Ainun membuat hati Jian Li terasa sakit.             Lamunan Jian Li hilang bersamaan dengan bel masuk yang berbunyi. Begitu guru masuk, Kahfi dengan sigap memimpin doa sebelum belajar. …             Sarah yang sedang duduk di pinggir lapangan sekolah sambil menonton pertandingan basket kakak kelasnya sedikit terkejut merasakan sesuatu yang hangat menyelimuti tubuhnya. Gadis berampung panjang itu mendongakkan kepala dan menemukan Ainun yang baru saja memberikan jaket kepadanya.             “Dalaman kamu kelihatan,” ucap Ainun sambil tersenyum.             Sarah tersenyum canggung. Ia tidak menyadari jika dirinya menggunakan pakaian dalam dengan warna yang mencolok sehingga terlihat jelas dari luar seragamnya. Pantas saja tadi ketika melewati segerombolan lelaki, para gerombolan menggodanya.             “Makasih, Nun.”             “Sama-sama.” Jawab Ainun duduk di sebelah Sarah.             “Mana Deeva?” tanya Sarah celingak-celinguk mencari keberadaan Deeva.             “Tadi di ajak istirahat bareng sama Ario,”             “Wooo mereka udah baikan?”             “Kayaknya.”             Ainun menatap Sarah yang terlihat fokus melihat pertandingan basket, namun Ainun tahu jika pikiran Sarah tidak berpusat pada pertandingan. “Sarah,”             “Hm?”             “Gimana kabar Mama?”             “Baik,”             “Papa?”             “Yah baik.”             “Mereka masih sibuk kerja ya?” tanya Ainun lagi.             “Yah begitulah, sampai-sampai mereka lupa pulang dan ingat ada anak yang menunggu kepulangan mereka.”             Ainun menggenggam tangan Sarah. “Sarah, terlepas dari kesibukan Mama dan Papa bekerja, tetapi setidaknya mereka tengah bertanggung jawab untuk memberikan yang terbaik buat kamu. Kamu masih bisa makan, jajan, sekolah, belanja.. bukankah itu hasil keringat mereka?”             “Tapi Nun, kamu tahu kan kalau itu bukan yang aku pengen.” Bisik Sarah.             “Aku tahu Rah, yang kamu butuhin adalah kebersamaan dan cinta dari mereka.”             “Tapi mereka enggak ngerti Nun,” gumam Sarah masih fokus menatap pertandingan.             Ainun menghela nafas, ia tahu bagaimana sedihnya sahabatnya itu. “Sebenarnya kalau kita mengharap untuk orang lain memahami kita itu akan sulit. Karena setiap orang akan memiliki pembelaannya masing-masing. Tidak ada pengharapan yang pasti di dunia ini, kecuali satu.”             “Apa itu?”             “Mengharap kepada-Nya,” tunjuk Ainun ke atas dengan senyuman.             Sarah meringis. Ia ingin sekali berkata, bahwa dirinya kotor. Bahkan ia saja sudah jijik dengan dirinya sendiri, bagaimana bisa Tuhan memperhatikannya?             “Mungkin untuk sekarang kamu meragukan-Nya, tapi kelak Insya Allah kamu meyakini kuasa-Nya Sarah. Takdir Allah akan selalu membahagiakan hamba-Nya asal ia meyakini.” Ainun mengenggam tangan Sarah semakin erat, seakan meyakinkan sahabatnya bahwa dirinya ada untuk menemani Sarah.             Sarah tersenyum pada Ainun dan memeluk sisi tubuh Ainun. Andaikan ia tidak malu, mungkin ia akan menangis seperti anak kecil pada sahabat terbaiknya.             Di sisi lain, Bobby menyipitkan mata melihat Sarah dan Ainun sedang berpelukan. Pemuda kurus itu membuang ganggang permen yang sudah habis ke tempat sampah di sebelahnya.             “Sial?!” gerutu Bobby.             Kahfi yang sedang duduk di sebelah Bobby menoleh.             “Bikin iri aja tuh mereka berdua, gue kan juga pengen dipeluk Ainun,” rengek Bobby memeluk sisi tubuh Kahfi.             Kahfi menggeliat dari pelukan Bobby. “Bob ih apaan sih lo?” kesal Kahfi.             “Hehehe tenang Fi, enggak usah liat gue kayak jijik gitu dong! Gemes deh,” ucap Bobby sambil mencolek dagu Kahfi dengan gaya centil.             Kahfi mendecakkan lidahnya dan kembali memakan batagor yang sedang dipegangnya. Pria itu sedikit melirik Ainun di sebrang dan kembali menunduk.             “Enak ya jadi cewek, peluk-peluk gitu malah kelihatan lucu. Lah kita kalau pelukan manja gitu yang ada geli ya Fi?”             “Jadi, intinya lo mau ngomong apa?”             “Ainun cantik ya,”             Kahfi mendengus. “Lo bilang Ainun cantik, tapi daritadi lo mandangin Sarah mulu.”             Wajah Bobby memerah dan terlihat salah tingkah. “Enggak kok! Gue liatin Ainun kok,”             Kahfi tentu saja tidak percaya. Ia kenal Bobby sejak SMP dan tahu jika Bobby memang suka memuji perempuan. Tapi sejak SMA, Kahfi tahu kalau mata Bobby selalu memandang satu perempuan barbar di sebrang mereka.             Ia tidak menyangka, ternyata sahabatnya yang kurus dan ceria itu menyukai perempuan seperti Sarah yang ceplas-ceplot dan baju ngetat seperti lontong yang padat.             “Kahfi!”             Kahfi dan Bobby menoleh melihat Jian Li yang menghampiri mereka. Gadis Chinese itu duduk di sebelah Kahfi sambil tersenyum lebar. “Aku nyariin kamu daritadi ternyata kamu lagi lihat pertandingan basket.”             “Aku enggak dicariin nih?” tanya Bobby dengan nada dramatis.             Jian Li nyengir sambil menggelengkan kepala.             “Euh jujur amat sih si cici,” gumam Bobby.             “Kenapa cari saya?” tanya Kahfi.             “Tadi mau ajak istirahat bareng, tapi kamu keburu pergi.”             “Oh, tadi beli batagor sama Bobby di depan.” ….             “Mereka pacaran ya?” tanya Sarah melihat Kahfi dan Jian Li sedang berbicara akrab di sebrang mereka.             “Siapa?” tanya Ainun.             “Kahfi sama Jian Li,”             Ainun menatap Kahfi dan Jian Li yang memang sedang mengobrol di sebrang mereka. “Enggak tahu juga,”             “Kalau Kahfi pacaran sama Jian Li, fix gue beneran ilfeel dengan kealiman dia. Masa dia jaga jarak sama cewek, tapi sama Jian Li akrab gitu. Apalagi kan Jian Li itu…”             “Udah enggak usah urusin orang, Rah. Enggak ada hubungannya sama kita.”             Sarah menatap Ainun dengan alis terangkat sebelah. “Beneran enggak ada hubungannya?”             Ainun tersenyum dan menggeleng.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN