Bab Sepuluh

1415 Kata
Nyonyah dapat banyak protes dari IG yang enggak suka kalau Nyonyah satuin Mas Kahfi dan Cici Jian Li. coba Nyonyah mau dengar pendapat di sini, kalian setuju enggak Mamas sama Cici bersatu kayak romeo juliet?? up hari ini mumpung kemarin udah ada tambahan yang komen!! UP besok mau? cus komen lagi yaaa Warning: Ada adegan yang anu-anu. anak kecil skip aja bacanya atau cari lapak aman!! ...                 Sarah membelai wajah lelaki yang menemaninya sejak semalam. Mereka hanya berbalut selimut tanpa memakai apapun di dalamnya. Wajah Sarah menatap pria yang sedang tertidur di sebelahnya dengan bingung.             Ini adalah kecelakaan.             Bagaimana bisa ia tidur dengan Yogi? Yang notabene adalah kakak kelas dan naksir kepada sahabatnya.             Perlahan mata Yogi terbuka, pria itu masih merasakan pusing kepalanya akibat minum terlalu banyak, lelaki itu segera duduk sambil memegang kepalanya.             “Udah sadar?”             Yogi menoleh dan terkejut mendapati Sarah di sebelahnya yang hanya berselimut. Sarah terlihat acak-acakan dan tanda merah memenuhi leher hingga atas payudaranya. “Jangan bilang kita..”             “Ya, kita melakukannya.”             “Sial!” Yogi mengambil bajunya di bawah lantai dan segera memakainya, sementara Sarah dengan santai menyalakan rokok dan bersandar di ranjang tanpa risih dengan penampilannya yang telanjang.             “Lo gue coret,” ujar Sarah.             “Coret apa?”             “Sebagai kandidat cowo buat Ainun. Sorry tapi gue pengen yang dapatin sahabat gue, cowo baek-baek.”             Yogi menghela nafas dan memijit pangkal hidungnya. Seharusnya ia langsung pulang saja setelah kerja, namun karena ia sedang banyak pikiran akhirnya Yogi memilih melampiaskan diri dengan alcohol. Ia ingat jika dirinya bertemu Sarah yang sedang mabuk, mereka menari dan karena situasi yang entah mengapa terasa melankolis mereka berbagi ciuman dan akhirnya…             Sial! Sial! Sial! Padahal ia sudah menganggap Sarah sebagai adiknya. Bagaimana bisa ia begitu bodoh b******a dengan wanita itu?             Yogi mengambil gaun pendek milik Sarah di bawah ranjang dan memberikannya pada Sarah. “Pakai baju dulu,”             “Kenapa? Lo napsu lagi sama gue? Mumpung gue masih b***l, boleh main sekali lagi. Tapi gue kehabisan kondom.”             Yogi duduk di sebelah Sarah, pandangan pria itu sedikit frustasi. “Sarah, lo tahu kalau apa yang kita lakukan itu kesalahan? Maksud gue, gue bukan cowo sok suci. Gue udah sering making love sama cewek, tapi lo… lo udah gue anggap sebagai adik gue yang selalu bantu gue.”             “Yah gue pun juga sama.” Sarah melempar pakaiannya dan duduk di pangkuan Yogi, memeluk leher pria itu dan mencium lehernya. “Tapi yaudah kita udah terlanjur, kenapa kita enggak lanjut aja?”             Yogi mendesis, menahan erangan ketika tangan Sarah memegang miliknya yang kembali keras. Pria itu sulit berpikir, haruskah ia mengikut nafsunya atau logikanya.             Sarah membuka pakaian Yogi, wanita itu kini menjelajahi bibir Yogi yang masih terdiam kaku. “Oke, jadi lo enggak mau?”             Yogi menggeram, pria itu memegang pinggang Sarah sehingga kini posisi ia berada di atas. Yogi dengan terburu-buru mencium sekujur tubuh Sarah dan memasuki miliknya yang sudah mengeras.             Wajah Sarah diam-diam menjadi datar, gadis itu memeluk leher Yogi untuk menutupi ekspresinya.             Lelaki sama saja, sedikit dipancing semua pertahanannya runtuh. Pikirnya. ….             Ainun baru saja selesai menyetrika pakaiannya. Hari ini ia akan mengikuti kegiatan sebagai pengajar sukarela bersama Zahra.             Diantar oleh Abi, Ainun berangkat memakai motor menuju Mabel. Tadi Zahhra baru saja mengabari jika gadis itu sudah sampai di sana.             “Nanti Abi jemput pulangnya?” tanya Abi ketika mereka sudah sampai di depan Mabel. Ainun menemukan Zahra yang sudah menunggunya, gadis itu segera menghampiri dan menyalami Abinya.             “Enggak usah dijemput Abi, Ainun bisa pulang pakai angkot.”             “Tapi jauh lho ke jalan rayanya, atau Abi tungguin aja?”             “Enggak usah Abi, Insya Allah sebelum ashar Ainun udah sampai rumah kok kalau enggak Ainun pakai ojek online buat pulang biar enggak bikin Abi khawatir.”             “Ojek online?”             Ainun tersenyum. “Tenang aja Abi, ada ojek online syariah kok, pengemudinya perempuan jadi aman.”             “Yaudah Abi pulang dulu ya, kalau ada apa-apa kabarin Abi aja. Assalamualaikum,”             “Waalaikumsalam.” Jawab Ainun dan Zahra.             “Jauh enggak Teh tadi ke sini?” tanya Zahra begitu Abi pergi.             “Lumayan. Eh banyakan yang ngajar di sini?”             “Kalau yang SMA cuma bertiga aja sama teman pengajian aku, yang lainnya anak kuliahan soalnya mereka yang ngajar pelajaran SMA sementara kita bagian SD.”             Ainun mengangguk dan bersama-sama mereka masuk ke dalam rumah yang di terasnya terdapat standing banner bertuliskan “Rumah Belajar (MaBel)”             Begitu masuk ke dalam, terdapat 7 orang seusianya dengan pakaian yang sedang lusuh sedang belajar. Zahra dan Ainun menganggukkan kepala sebagai salam dan masuk ke ruang dalam rumah yang sepertinya digunakan sebagai tempat pengajar karena ada beberapa meja kecil dan rak berisi buku serta terdapat cemilan yang telah disediakan.             “Ruang depan dipakai khusus untuk kelas 3 SMA yang akan persiapan ujian. Di sini ruang kita buat pengajar, sama pemilik rumah juga disediain cemilan dan minuman buat kita yah katanya sebagai pengganti membayar jasa kita. Oh iya Teh, untuk kelas SD kita ngajar di ruang sebelah ini.”             Ainun memperhatikan beberapa buku di rak buku yang berjajar rapi. Buku pelajaran dari kelas SD hingga SMA berjejer lengkap di sana. ATK pun sudah disiapkan serta terdapat beberapa penghargaan yang dipajang di dinding yang menunjukkan bahwa rumah mabel ini sebagai rumah pendidikan gratis yang memfasilitasi pembelajaran bagi orang-orang yang tidak mampu.             “Pemilik mabel ini masih muda lho! Lulusan ITB. Teteh tadi lihat enggak yang ngajar tadi? Itu pemiliknya!”             Ainun hanya tersenyum kecil, sejujurnya ia tidak terlalu memperhatikan siapa yang mengajar. Begitu masuk ke dalam ia hanya memperhatikan sekelompok seusianya yang berpakaian lusuh yang terlihat semangat untuk belajar.             “Teh, sebentar lagi kita ngajar. Teteh boleh ambil buku untuk materi hari ini!” …             “Itu teman kamu, Zahra?” tanya pria tampan yang baru saja masuk ke dalam ruang istirahat pengajar. Pria itu melirik Ainun yang sedang mengajari 8 orang anak kecil dengan posisi mereka yang melingkar sementara Ainun di tengah terlihat sedang menyimak apa yang di katakana salah satu anak tersebut.             “Iya Kak, itu Teh Ainun kakak kelas aku di sekolah.”             “Makasih ya udah bawa teman kamu ke sini, Alhamdulillah semakin banyak yang bantu mengajar yah sangat terbantu Mabel kita ini.”             “Iya Kak, kalau aku entar ajak teman lagi ke sini boleh?”             “Boleh banget! Kebetulan juga kemarin banyak yang mau daftar Mabel ini, cuma saya hold dulu karena kita kekurangan pengajar. Yang mengajar kelas SMA lagi pada sibuk skripsi jadi pada enggak bisa lanjut.”             “Oh kalau gitu entar aku coba ajak teman-teman di tempat pengajian.” Ucap Zahra sambil menoleh pada Ainun yang baru selesai mengajar. “Teh Ainun, sini!”             Ainun yang baru saja menyimpan buku pelajaran di rak, menghampiri Zahra bersama seorang pria berkacamata dan kelihatannya pria itu lebih tua.             “Kenalin, ini Kak Azhar beliau ini pendiri rumah Mabel Teh!” ucap Zahra semangat.             Ainun menangkupkan tangannya di depan d**a begitu pun Azhar sambil menyebutkan nama mereka masing-masing.             “Makasih ya Ainun hari ini sudah bantu-bantu mengajar.”             “Sama-sama Kak, saya juga senang mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat ini.”             Azhar tersenyum menatap wajah Ainun sebentar sebelum gadis itu mengalihkan wajahnya ke arah rak. Ia pikir Ainun akan banyak bertanya seperti para pengajar lainnya yang baru datang pertama kali, namun ternyata Ainun lebih banyak diam. Gadis itu terlihat menjaga jarak.             “Kita pulang sekarang?” tanya Ainun pada Zahra.             “Tapi Zahra ada ngajar lagi jam setengah 3, Teteh pulang sendiri enggak apa-apa?”             “Enggak apa-apa kok.”             “Mau saya antar?” tanya Azhar menawarkan.             “Enggak usah makasih Kak, kalau gitu saya duluan ya. Assalamualaikum,”             “Waalaikumsalam,”             “Enggak usah senyum-senyum Kak Azhar,” goda Zahra melirik Azhar yang masih menatap Ainun.             “Ainun itu cantik ya,” puji Azhar.             “Bukan cantik lagi tapi cantik banget! Di sekolah Teh Ainun itu dicap gadis paling cantik. Tapi jangan macam-macam ya Kak, Teh Ainun enggak pernah dekat atau pacaran sama cowok. Jangankan pacaran, lihat Teh Ainun ngobrol berdua sama cowo aja enggak pernah.”             “Kelihatan kok.” Gumam Azhar.              “Cieee Kak Azhar naksir Teh Ainun ya?”             “Ngarang kamu, bukan naksir cuma suka aja lihat wajahnya. Wajarlah cowo lihat wajah cantik, kalau Kakak suka lihat wajah ganteng itu bahaya.”             Zahra terkikik. “Deketin gih Kak, Kakak kan lagi cari calon istri? Teh Ainun lulus langsung nikahin.”             Azhar tertawa. “Lihat nanti aja, Ainun juga masih muda banget. kelas 2 SMA kan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN