"Kamu jangan nakal ya nak, dengerin apa kata papa sama bunda," ujar Cyn pada ponselnya. "Iya mama, aku mau main. Dah." Cyn melihat ponselnya karna sudah ditutup oleh pemilik suara tadi. Sekarang Sabian main dengan keluarga Hendro. Cyn senang mendengar keluarga itu harmonis dengan yang seharusnya. Mudah-mudahan penyakit mas Hendro ngga kambuh. Sabian senang punya teman baru, anak tirinya Hendro. Bahkan kalau di rumah saja, anak itu tiba-tiba minya tolong mau tolong telpon budanya biar ngomong sama teman barunya itu. Dan malam ini, malam pemuda-pemudi pada memadu kasih, Cyn tidak mau kalah. Cyn diajak oleh Gio ke rumah baru temannya. "Ngga usah ah ngga enak." Saat dirinya dipaksa ikut oleh Gio. "Ngga enak gimana? Kamukan calon tunangan aku," ujar Gio membuat Cyn panas dingin. "Mi.

