“Kamu harus gugurin janin itu." Sherin terkesiap, ia membolakan matanya kaget. Wanita berpakaian glamaour dan seksi yang sedang duduk di sofa seberang apartement milik lelaki yang baru saja bersuara hanya mampu terpaku di tempatnya menatap tidak percaya kearah si lelaki yang sudah mengisi hatinya untuk beberapa tahun tersebut. Sulit di percaya bagaimana lelaki itu mampu mengatakan kata yang menyakitkan seperti itu kepadanya. u*****n dan sumpah serapah langsung tertelan begitu saja di ujung lidahnya yang tiba-tiba terasa kelu. Dadanya sesak, napasnya tercekat, hatinya sakit bagai seperti ribuan pedang tajam menghunus jantungnya. Manik matanya memandang sedh, nanar serta kecewa pada sosok di hadapannya. Tega. Pikirnya. Bagaimana bisa lelaki itu dengan mudahnya meminta dirinya untuk mem

