Ajakan

1291 Kata
Di bangunan gedung tinggi perusahaan besar ditengah padatnya kota Jakarta bertuliskan 'PT. Pramudya Corp' adalah sebuah perusahaan sukses yang sedang berkembang pesat dengan semua project property mereka kuasai mulai dari hotel, apartemen, dan mall mereka kuasai. Dengan penerus perusahaan yang masih muda, sosok CEO mereka ternyata baru berusia sekitar 22 tahunan dan merupakan salah satu lulusan terbaik dari Harvard University. Di dalam ruangan berdominasi warna putih, terdapat lemari besar disisi kanan dengan warna warni box yang berisi file kerja sama dan sebagainya tersusun rapi, ada pula meja besar ditengah ruangan berwarna putih menghiasi salah satu furniture ruangan serta tidak lupa kursi kebesaran sang pemiliknya berwarna hitam, dan lukisan gold bergambar harimau besar terpasang di dinding atas belakang kursi meja itu, di samping pintu berwarna putih tersebut terdapat sofa berukuran sedang lengkap dengan meja kacanya, jangan lupa satu pintu berwarna coklat yang ternyata adalah pintu penghubung sebuah kamar ruangan itu hanya berisi lemari pakaian dari kaca berukuran sedang, dan sebuah ranjang besar berwarna coklat lengkap dengan selimut dan bantalnya yang merupakan tempat untuk sang pemilik ruangan ini ketika lelah dan butuh istirahat. Pria yang sedang duduk di kursi kebesarannya terlihat merenggut rambutnya gusar, helaan nafas kasar jelas terdengar dari sana. Bahkan ia kini tidak mementingkan penampilannya yang sudah berantakan, lengan kemeja panjangnya pun ia gulung hingga sikut dan rambut yang biasa nya tertata rapi kini sudah berantakan oleh tangannya sendiri. Arkan pria itu memijat pangkal hidungnya pelan, berharap rasa pusing yang menderanya segera lenyap. Banyak pikiran bersarang di otak cerdasnya tentang Sherin yang katanya berstatus istri tapi rasanya seperti tidak beristri, orang tuanya dan sekarang harus bertambah karena dirinya merasa melihat sosok itu wanita yang dicintainya dalam diam ketika SMA dulu. Bertahun-tahun ia memendam perasaannya menumpuk tanpa berani mengungkapkan kepada wanita yang hingga sekarang masih bersemayam di lubuk hati terdalamnya mendapati tempat special, meski mereka dulu saling kenal hanya berakhir sebagai teman. Tidak lebih, karena ia memilih menjadi pecundang dibalik topeng kesenioritasan. Wajah wanita itu saat tersenyum dan tertawa masih melekat di ingatannya, bahkan saat wanita itu dengan ekspresi semangatnya masih terekam jelas ketika mereka akan pergi hunting photo bersama rekan yang lain karena tugas dari club mereka. Ketukan pintu terdengar diketuk dari luar menyadarkannya dari bayangan wajah wanita specialnya tersebut. Setelah mengijinkan sosok di balik pintu masuk, pintu terbuka lebar ia melihat wanita yang usianya diatas dirinya berjalan mendekat lengkap dengan hijab menutupi mahkota kepala wanita itu. Wanita yang sudah bersuami dan memiliki putri cantik berusia 4 tahun. “Maaf pak. Ada yang ingin bertemu.” Ucap Desi sekretarisnya. Alis Arkan terangkat bingung, “Siapa Des.” “Katanya Arthur Ramadhan Pak.” Mendengar nama itu di sebut Arkan harus benar-benar merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa dirinya lupa jika hari ini sahabat SMA-nya itu mau berkunjung ke kantornya. “Ah iya. Suruh beliau masuk Des. Dan bisa tolong buatkan minum untuk tamu saya.”, Desi mengangguk mengerti, “Baik Pak.” “Whats up, Bro.” Sapaan itu meluncur dari sosok pria berperawakan tinggi dengan sedikit brewok disekitar tulang pipi nya itu saat baru memasuki ruangannya. Arkan mendengus dengan senyum tipis. Sosok itu datang dengan pakaian santai miliknya kemeja lengan pendek warna coklat dan celana jeans berwarna hitam berjalan kearahnya. Sosok itu merentangkan kedua tangannya lebar menyambut sobat lamanya. Arkan kembali mendengus ia memeluk lelaki itu ala cowok sekilas. “Baik Sob. Lo sendiri gimana?” Sahut Arkan terlihat sangat santai. “Gue baik. Baik banget malah.” Cengirnya membuat Arkan mendengus kecil. Rupanya sahabatnya ini tidak pernah berubah sama sekali. Sejak mereka kenal dan berpisah karena dirinya mendapat beasiswa ke luar negeri. “Gila udah sukses aja nih rupanya.” Ejek Arthur di selingi kekehan kecil. Arkan hanya tersenyum tipis menanggapi. “Gimana kabar anak-anak yang lain Thur.” Tanyanya basa-basi. Arthur tampak terlihat memicingkan matanya sejenak seperti sedang berpikir mencoba mengingat. “Gue juga udah lama nggak ketemu mereka, terakhir pas malam prom disekolah waktu itu aja sih.” balasnya, "Eh Tapi gue masih ingat sekitar 5 bulan pas lo pergi ke America waktu tuh ada kejadian heboh disekolah loh.” “Apa?”. “Waktu itu kalau nggak salah ada anak sekolah kita yang katanya HAMIL sih." Deg. Jantung Arkan bekerja lebih cepat. “Maksudnya.” Raut wajah Arkan yang memandang sedikit melotot kearahnya, membuat Arthur memicingkan matanya sejenak alisnya sedikit terangkat ke atas. “Lo kenapa Ar.” Tanya lelaki itu heran apalagi melihat reaksi sahabatnya yang kini menggaruk tengku belakang lehernya sendiri membuat Arthur bingung. “Gue nggak apa-apa kok.” Elaknya, “Lo ada apa datang ke Jakarta.” Seru Arkan mengalihkan pembicaraan mereka. “Oh. Gue ada acara mau ke pernikahan teman kuliah gue waktu di Singapore. Sekalian liburan di sini sebentar lah.” Ucapnya. “Lo mau ya temenin gue sabtu besok.” Lanjut orang itu seenak jidatnya. “Ogah. Kenapa gue harus ikut.” Protes Arkan malas. Yang mau menikah temen siapa kenapa dia harus ikut, kenal juga tidak. Pikir Arkan. “Elah Sob. Temenin gue kenapa nanti gue berasa jones disana kalo pergi sendiri.” Arkan memutar bola matanya. “Lo kan emang jones tai.” Ejeknya membuat Arthur melotot tidak terima. “Sialan. Kaya lo nggak aja anjir.” Sungut Arthur membara. Lalu keduanya tertawa geli karenanya. Arthur menceritakan banyak hal dengannya, tapi pikiran Arkan entah mengapa justru melantur memikirkan siapa siswi tersebut. **** Clarissa kini tengah menyusun belanjaan yang tadi ia beli sudah di masukka ke dalam kulkas kecil miliknya. Dirinya tidak banyak belanja hanya ada ceker ayam untuk persediaan, jagung, sayur dan buah apel hijau semua kesukaan putranya. Raka. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi sudah waktunya dia berangkat ke tempat kerja karena hari ini ia mendapat shift pagi lagi. Setelah semua pekerjaan rumahnya beres, ia pun bergegas mengambil kunci motor yang tergantung di samping pintu. Saat berbalik setelah mengunci pintu ia dikejutkan dengan kedatangan laki-laki yang sekarang sedang memamerkan senyum menawannya bersandar di dekat pintu mobil dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya. Clarissa mendesah, ia berjalan menghampiri orang itu terlebih dahulu. “Pa--.” “Kakak Andre ngapain disini.” Selak Clarissa berkacak pinggang, membuat Andre kakak laki-lakinya itu meringis menggaruk tengku belakangnya kikuk. Apalagi wajah kesal adik angkatnya itu kini sungguh menyeramkan kedua bola matanya terasa hampir keluar dari rongganya. “Aku mau jemput kamu Cla.” Jawan Andre membuat wanita itu memutar bola matanya malas. “Kakak tahu sendirikan aku gimana. Aku bisa pergi sendiri. Buat apa ada motor kalau nggak aku pakai. Kakak mau itu motor lumutan hitu.” Sarkasmenya setengah mengeram.. Andre menghela napas pelan. Bingung menghadapi adik angkatnya ketika sedang marah, seperti sekarang. “Aku tahu kamu bisa pergi sendiri. Aku hanya berinisiatif saja Cla. Kebetulan habis antar Raka sama mama tadi.” Jelasnya membuat Clarissa menghembuskan nafas pendek. “Aku pergi naik motor aja ya kak. Nggak apa-apa kan Kak. Maaf.” Ucapnya pelan penuh kehati-hatian takut menyinggung niat baik lelaki dihadapannya. “Iya sudah. Nggak apa-apa.” Andre mengalah. Clarissa tersenyum manis membuat Andre dan bahkan kaum adam lainya akan terpesona melihat kecantikannya. “Tapi sabtu besok kamu mau ya temenin aku?” lanjutnya. Senyum Clarissa langsung luntur. “Kemana?” tanya Clarissa memutar bola matanya. “Acara pernikahan teman aku. Mau ya. Aku kan nggak jadi antar kamu sekarang.” paparnya membuat Clarissa menghela nafas kasar. “Gimana Cla.” Wajah pria itu menatapnya penuh harap dan memohon membuat ia tidak enak jika menolak akhirnya Clarissa hanya mampu mengangguk. “Aku pulang dulu ya. Ingat kamu hati-hati. Jangan ngebut-ngebut oke.” pamitnya semangat seraya menasehati wanita di depannya. Dibalas anggukan dan gelengan kepala heran dari Clarissa. Setelah kepergian Andre wanita cantik itu pun bergegas menaiki motor. Menjalankan motornya membelah jalanan raya. Dirinya tidak menyadari jika di ujung jalan ada sepasang mata memperhatikannya dengan wajah menyeringai. Gotcha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN