Melangkahkan kaki dengan senyuman malu-malu diwajahnya saat masuk kedalam rumah, membuat dua orang yang tengah duduk disofa ruang tamu memandangnya dalam satu diantaranya mengerenyitkan kening, heran melihat tingkahnya sedangkan yang satu hanya geleng kepala.
“Kamu sehat Nak.” Celetukan sang ibu membuat sosok tidak lain adalah Andre langsung menekukkan wajahnya masam sedangkan sang ayah yang duduk di sofa single terkekeh mendengar ucapan istri tercintanya.
“Ish, Mama kok ngomongnya gitu.” Andre mendaratkan bokongnya di samping beliau.
“Loh salah Mama apa. Benarkan Pa. Habis kamu pulang-pulang bukannya salam dulu. Lah ini malah mesem-mesem nggak jelas. Ada apa kamu habis nemu duit di jalan.” Omel beliau setengah mencibir.
“Oh ya aku lupa. Assalammualaikum Ma Pa.” Ucapnya memberi cengiran lebar.
“Waalaikumsalam.” Balas Sari ketus, Toni terkekeh kecil melihat tingkah istrinya.
“Jangan marah dong Ma. Nanti cepat tua loh.” Rayunya yang justru mendapat pelototan sang ibu.
“Eh eh sorry Ma. Serem ah Ma jangan mainnya pelotot-pelototan dong. Andre kan jadi atut.” Ujarnya cengengesan mendekati Sari lalu memeluk erat wanita yang begitu ia hormati.
“Makanya jangan bahas-bahas tua.” Omel beliau sedikit mencubit lengan putranya gemas.
“Terus kamu kenapa tadi senyum-senyum nggak jelas?” lanjut beliau penasaran.
“Oh itu. Mmm kenapa ya.” Balasnya polos. Sari gemas, ia mencubit paha putranya yang berlapis celana jeans kencang. Hingga Andre memekik meringis sakit. Sedangkan Toni sang kepala rumah tangga hanya tertawa diseberang meja.
“Aduh.. aduh sakit Ma.” Jeritnya mengadu.
“Makanya jawab yang benar.” Balas beliau galak dibalas anggukan patuh Andre cepat.
“Aku lagi senang Ma.”
“Kenapa?”
“Sabtu besok aku mau ajak Clarissa ke acara pernikahan temen aku Ma. Dan dia mau Ma.” mendengar ucapan putranya beliau menaikkan alis matanya heran.
“Maksud kamu?”
“Ya Mama kan tahu sendiri Clarissa kaya gimana. Tadi aku mau antar dia kerja habis antar Mama sama Raka aja. Eh malah di tolak.” Ia menekuk wajahnya mengingat hal itu.
“Ya sudah aku minta dia temenin aku aja ke acara teman aku sabtu besok.” Lanjutnya menjelaskan.
Sang ibu hanya manggut-manggut membenarkan ucapan putranya. Putrinya itu memang tidak suka merepotkan orang lain, selalu berusaha mengerjakannya sendiri. Beliau sebagai orang tua angkat hanya mendukung apa saja tindakan yang putrinya ambil selama itu baik ia tidak akan melarang.
“Bagus nanti kamu kenalin aja Cla sekalian sama teman kamu yang masih single ya.” Ujar Sari semangat, membuat Andre menegang kaku sedangnya Toni sang ayah terlihat menahan tawanya melihat wajah cengo putranya.
“Aku nggak mau.” Tolaknya mentah-mentah membuat Sari mendelikkan mata kearahnya. Tapi melihat wajah putranya yang berubah serius membuat ibu Sari mengkerutkan keningnya dalam.
“Kenapa kamu nggak mau?”. Andre menghela nafas pendek.
“Aku suka sama Clarissa Ma.” Ucapnya tegas membuat wanita paruh baya disampingnya tercengang berbeda dengan raut wajah sang ayah yang hanya tersenyum tipis menantikan reaksi sang istri.
"A-apa kamu bilang. Jangan bercanda Andre. Mama nggak suka.” Seru Sari tergagap tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Sari tidak pernah berpikir jika mungkin suatu saat naanti putranya memiliki perasaan untuk putrinya angkatnya. Meski mereka sama-sama anak angkatnya Sari cukup terkejut mendengarnya langsung.
“Aku suka Clarissa Ma. Bukan suka tapi aku CINTA. Ya aku cinta sama Clarissa Ma.” Ujarnya jujur menekankan kata cinta pada sang yang terlihat masih syok. Sari sendiri menatap dalam manik mata putranya, seolah ia ingin menyalami perasaan putranya yang seseungguhnya.
Terdengar helaan nafas berat dari wanita di sampingnya membuat Andre was-was menelan ludahnya gugup.
“Sayang. Andre tahu Mama bagaimana kan. Mama tidak melarang kamu untuk suka kepada siapapun. Tapi kalo Cla--". Beliau menjeda menatap Andre dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Ma--.” Andre terdiam ketika Sari menunjuk mulut Andre dengan jari telunjuk meminta tidak protes.
“Andre tahu juga kan kehidupan Cla gimana. Kamu juga tahu keadaannya saat pertama kali Mama membawa putri kesayangan Mama itu datang kerumah kita. Dia memang gadis yang tampak terlihat tegar tapi itu semua tidak sebanding dengan isi didalam hatinya Nak. Dia rapuh. Dia bertahan hingga sekarang semua berkat Raka. Mama sayang kalian berdua. Mama juga mau yang terbaik untuk kalian. Mama nggak akan pilih kasih atau memihak kepada salah satu dari kalian. Jadi kalo kamu memang mau serius sama putri Mama yang satu itu. Satu permintaan Mama tolong bahagiain dia. Sayangi dia Nak. Kamu juga harus yakini dia kalo kamu serius. Mama akan mendukung kamu selama itu yang terbaik.” Papar beliau panjang bahkan sudut matanya sudah tergenang air mata menandakan betapa beliau menyayangi keduanya.
Andre menubruk tubuh wanita paruh baya itu mendekap erat mengucapkan terimakasih berulang-ulang. Betapa beruntungnya dia dikelilingi keluarga luar biasa. Sedangkan sang suami tampak tersenyum lebar mendengar ucapan sang istri, ia begitu mencintai istrinya wanita yang sudah 30 tahun menemani hidupnya baik susah maupun senang. Ibu Sari yang bersitatap dengan sang suami saling melempar senyum haru. Bagaimana dengan Andre. Jangan ditanya lelaki gagah tersebut betul-betul bahagia seperti menang lotre deengan hadiah undian besar dalam hidupnya.
Aku sayang Mama Papa. Batinnya.
****
Clarissa tampak sibuk mengantar semua pesanan saat cafe baru buka tadi, ia sudah disibukkan oleh gerombolan anak SMA yang sepertinya tidak sekolah mungkin bolos. Mereka mengenakan jaket untuk menutupi baju seragam mereka.
Kini dirinya sedang berdiri di dekat counter barista menunggu pesanan yang sedang dibuat, hari ini sahabatnya Bella tidak masuk karena sedang libur.
Pandangannya menatap lurus kearah anak-anak SMA tersebut, mereka tampak sedang asyik bersenda gurau. Melihat itu ia jadi teringat masa sekolah dulu. Masa indah sekaligus suram dalam hidupnya. Mengingatkan dia akan rasa sakit dan air mata yang sudah banyak ia keluarkan. Dirinya tidak sadar jika sudut matanya sudah meneteskan air mata.
Tepukan dibahunya menyentaknya dari lamunan. Buru-buru ia menghapus jejak air mata dipipinya.
“Hei. Kamu tidak apa-apa Cla?”. Tanya Adam bernada khawatir
Pria yang sudah mempunyai tunangan itu memang sejak tadi sudah memperhatikan sahabatnya ini. Ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Clarissa sehingga membuat wanita itu meneteskan air mata tanpa sadar.
“Ah.. Aku nggak apa-apa Dam. Maaf ya.” Elaknya tersenyum tipis meski terkesan di paksakan.
“Ya tidak apa. Tidak usah minta maaf. Aku cuma khawatir. Kalau kamu ada masalah cerita aja Cla jangan dipendam-pendam ingat nggak baik. Nanti jerawatan loh." ucapnya diselingi gurauan diakhir kalimat.
Clarissa tertawa kecil mendengar gurauan sahabatnya itu.
“Apaan sih. Kamu nyumpahin aku jerawatan.” Ucap Clarissa membuat Adam menggaruk tengkuk belakang lehernya kikuk.
“Bu-bukan gitu maksud aku Cla.” gagapnya berusaha menjelaskan melihat raut menyesal sahabatnya membuat Clarissa tertawa geli.
“Ya ampun Dam. Iya nggak apa-apa. Santai. Ohya gimana kabar Arin Dam?” tanyanya mencairkan suasana.
“Alhamdulillah Arin sehat Cla. Tapi ya gitu deh, dia lagi sibuk kerja.” balas Adam.
Clariss mengangguk mengerti, “Bagus dong. Biar bisa kumpulin uang untuk biaya nikah kalian berdua kan.”
“Sebenarnya aku sudah suruh dia buat nggak usah kerja Cla.”
“Kenapa?”
Adam menggedikkan bahunya, “Nggak apa-apa juga. Aku cuma mau biar aku aja yang cari uang buat biaya pernikahan nanti. Tapi ya gitu.”
Clarissa manggut-manggut paham, “Mungkin dia nggak mau tambah beban kamu Dam. Jarang loh ada permpuan kaya Arin.” pujinya.
“Kamu benar Cla. Padahal aku sudah bilang nggak usah tapi tetap maksa. Ya sudah aku juga nggak bisa larang dia jadinya.” jelasnya, “Kamu sendiri gimana sama si itu.” lanjut Adam bernada menggoda.
Clarissa menaikkan alis matanya sebelah bingung, “Itu siapa?”.
Astaga. Adam menggelang tidak percaya, “Mas Andre Cla. Astaga kamu benar-benar.”
Clarissa tergelak, lalu terkekeh kecil dengan pmikiran tentang hubungannya dengan kakak angkatnya itu.
“kami nggak ada hubungan apa-apa Dam. Dia kakak angkat aku.”
“Masa. Tapi kelihatannya dia cinta sama kamu tuh.” ujar Adam tidak percaya.
Clarissa menggeleng, “Cinta bukan berarti harus bersama kan Dam. Lagipula aku punya Raka. Buat aku itu sudah cukup.”
Adam tergelak mendengar ucapan wanita itu.
“Terus Raka gimana. Dia juga butuh figur seorang ayah Cla. Dia masih kecil Cla loh. Kasih sayang kamu aja aku rasa nggak cukup buat dia.” papar Adam menasihati, ia juga tidak mau kalau Clarissa menghabisi hari-harinya sendirian sampai tua. Adam juga mau sahabatnya itu merasakan bagaimana mencintai dan dicintai.
Adam tahu kalau Andre mempunyai perasaan khusus untuk sahabatnya ini. Tapi, sayang masih saja ditolak oleh Clarissa wanita beranak satu itu. Di saat Adam menyayangkan sikap tertutup Clarissa untuk membuka hatinya. Clarissa justru termenung memikirkan ucapan Adam barusan.
Benarkah Raka putrnya membutuhkan figur seorang ayah. Pikirnya.
“Aku cuma mau kamu bahagia sama Raka. Kamu sudah aku anggap keluarga aku sendiri Cla. Jadi demi kebaikan kamu ataupun Raka.” ucapnya memberi jeda ia menatap sahabatnya yang kini tengah menatap dirinya dengan tatapan yang layaknya seorang kakak.
“Buka hati kamu untuk diisi seseorang dan hidup bahagia Cla.” lanjutnya tegas.
Clarissa makin termenung memikirkan semua hal yang berputar di pikirannya saat ini.
Aku harus gimana. Batinnya.