Malam Yang Menegangkan

1949 Kata

Dua minggu setelah laporan polisi, hidup mulai kembali normal. Atau setidaknya, normal versi baru yang waspada. Rendra dan Maya masih bertemu di sela kesibukan, masih sarapan telur gosong tiap Minggu pagi, masih tidur berpelukan di sofa meski leher kaku keesokan harinya. Tapi ada yang berubah. Maya lebih sering melihat ke belakang saat jalan sendirian. Rendra lebih sering ngecek ponsel, takut ada pesan masuk dari nomor asing. Mereka berdua tidak membicarakan Dimas, tapi bayang-bayangnya selalu ada. --- Jumat malam, di warkop langganan. Maya datang lebih lambat dari biasanya. Wajahnya lelah, matanya sedikit sembab. Rendra sudah memesan kopi s**u dan pisang goreng kesukaannya. "Maaf telat," kata Maya sambil duduk. "Rapat molor." "Gapapa. Capek?" "Heem." Dia menyesap kopi. "Client baru

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN