Dua minggu setelah Dimas pamit pergi ke Surabaya, hidup Maya dan Rendra berjalan dalam ritme yang nyaman. Tradisi Minggu pagi berjalan lancar—sarapan telur gosong, jalan ke taman, duduk di bangku kayu favorit. Pesan-pesan singkat di sela kerja masih mengalir. Malam-malam di apartemen Maya masih diisi dengan film dan tawa. Tapi seperti kata pepatah, badai selalu datang saat langit paling cerah. --- Senin, 14.30. Di kantor Maya. Maya baru saja selesai rapat dengan client ketika ponselnya berdering. Nomor kantor—resepsionis. "Mbak Maya, ada tamu. Mbak Cici, katanya teman Mbak Maya." Maya mengernyit. Cici? Nama itu terasa asing. "Cici siapa, ya?" "Dia bilang kenal dari acara Imlek. Temannya Rendra." Maya tegang. Cici—wanita yang dijodohkan dengan Rendra. Yang di acara Imlek dulu bilan

