Tiga hari setelah pengakuan Pak Tono, hidup Rendra berubah jadi pusaran emosi yang tidak terkendali. Dia bolak-balik rumah sakit, menemani ayahnya yang semakin lemah. Dia juga berusaha membangun hubungan dengan Dina—hubungan canggung antara dua orang yang baru tahu mereka bersaudara. Maya memahami. Dia sabar. Dia menemani. Tapi kesabaran ada batasnya. --- Senin malam, apartemen Maya. Maya duduk di sofa dengan laptop. Laporan Q4 harus selesai besok. Tapi pikirannya tidak fokus. Rendra janji datang jam 7. Sekarang jam 9, dan dia belum muncul. Pesan terakhir jam 6 sore: Rendra (18.23): Bentar ya. Ayah lagi nggak enak badan. Aku tungguin dulu. Maya membalas: Maya (18.24): Iya, gapapa. Aku tunggu. Itu tiga jam lalu. Dia mencoba menelepon. Tidak dijawab. Dia kirim pesan. Tidak dibal

