Rendra tiba di bandara keesokan paginya. Maya sudah menunggu di pintu kedatangan dengan perasaan campur aduk. Senang, gugup, takut, bahagia—semuanya bercampur jadi satu. Begitu melihat Rendra keluar, Maya langsung berlari memeluknya. Rendra memeluk erat. "May..." Maya menangis di dadanya. "Lo datang." "Iya. Aku datang." Mereka berpelukan lama. Orang-orang di sekitar berlalu lalang, tidak peduli. Tapi mereka tidak peduli. --- Senin siang, apartemen mereka. Rendra duduk di sofa, menatap Maya yang masih berdiri di dapur, membuatkan teh. "May, sini." Maya mendekat. Duduk di sampingnya. Rendra meraih tangannya. "Gimana perasaan lo?" Maya menghela napas. "Bingung. Takut. Seneng. Campur aduk." Rendra mengangguk. "Aku juga." Maya menatapnya. "Lo nggak marah?" Rendra kaget. "Marah? B

