"Ck! Kamu ini gimana sih! Pasti istrimu yang menyuruhmu, iya kan? Kamu tahu kan Kal, anak lelaki itu tetap milik ibunya biarpun sudah menikah!" Selalu saja itu yang ibu ucapkan sebagai kalimat andalannya. Aku sampai bosan mendengarnya. Aku berjalan menghampiri mereka sembari meletakkan masakanku diatas meja. Sayur asem, ikan goreng, tempe dan tahu, lalapan, sambal terasi yang menggugah selera. "Bu, memang benar apa yang ibu katakan. Biarpun sudah menikah, anak lelaki tetap milik ibunya. Tapi kewajibannya sebagai seorang suami yang utama adalah menafkahi istri dan anaknya, baru kerabatnya yang lain. Kalau ibu belum paham bisa tanyakan hal ini pada pak ustadz," selaku. Ibu menatapku tajam. "Kamu gak usah ikut campur, Mil! Sok tahu kamu!" "Sudah Bu, sudah! Aku tidak ingin berdebat lagi d

