"Iya sayang, aku udah sampe kok." Ucap seorang wanita tinggi dengan ponselnya, ia sedang menelpon seseorang. Tangannya sangat sibuk memegangi koper dan tasnya.
"Udah dulu ya, aku mau naik Taxsi." Final Andini, ia menutup teleponnya dan memasukkan benda pipih itu ke celananya agar tak ketinggalan.
Andini masuk kedalam mobil setelah supir taxsi itu menaikkan kopernya ke bagasi. Raut wajahnya berseri, ia mencoba mengejutkan semua orang dengan kedatangannya yang tiba-tiba dari Amerika.
"Pasti semuanya terkejut senang, ahh... sayangnya aku melewatkan pernikahan Arya."
Andini tersenyum, rambutnya yang tergerai ia singkirkan ke sisi kiri. Mobil taxsi itu melaju membelah jalanan padat ibu kota jakarta, melaju menuju rumah Wiliam kakaknya.
Mobil Taxsi itu berhenti di rumah besar mewah dengan halaman yang luas namum satpam membukakan pintu gerbang agar taxsi masuk karena jarak antara gerbang dengan rumah itu cukup jauh.
"Pak, masukin aja sampe depan rumahnya." Titah Andini, sopir taxsi hanya mengangguk mengerti, ia mengikuti intrusksi Andini.
Andini keluar dari taxsinya setelah membayar ongkos perjalanan. Ia berjalan ke arah pintu, tangannya tergerak untuk membuka gagang pintu.
Andini masuk ke rumah itu, ia berjalan menuju ruang tamu sangat tepat sekali karena semuanya sedang berkumpul disana.
"Hallo, ada yang masih mengingatku?" Tanya Andini dengan nada agak keras. Semuanya menoleh dan berdiri seketika.
"Kak Andini kok ga bilang dulu sih sama kita mau kesini."
Hera memeluk Andini rindu dan semuanya mendekat untuk melepas rindu pada Andini.
Fanya menatap wanita itu sekali lagi, memastikan bahwa wanita yang baru datang itu bukan orang yang ia kenal. Wajahnya menunduk dan tak berseri, ia sangat berharap bahwa itu bukan ibunya.
"Andini kebiasaan kalau ke rumah ga bilang dulu, ada apa kemari kau rindu dengan kakakmu ini kah." Goda Wiliam sambil terkekeh diakhir ucapan.
"Tante, sya ingin oleh-oleh." Ucap syakila sambil menatap tantenya seraya tersenyum manis.
"Tante bawa oleh-oleh kan?" Tanya Jessica dengan spontan Gavin adiknya melirik.
"Cih. maniak oleh-oleh dasar." Cibir Gavin namun Jessica tidak mempedulikannya.
"Ada kok, dikoper tapi, Nanti tante kasih kalau udah beres-beres oke!!" Kekeh Andini, maniknya melirik ke arah Arya yang tengah memeluk Safira dengan Fanya disampingnya.
Sebenarnya Arya dan Fanya baru saja pulang dari Jepang 3 jam yang lalu, sungguh tak menyangka Adik ayahnya itu akan memberi kejutan seperti ini.
"Ehh.. Arya!!!" Seru Andini.
"Ehh. Tante hahaha" Ares terkekeh, kekehannya membuat Safira yang hampir terlelap terbangun dan melirik Andini.
"Ayah itu siapa?" Tanya Safira polos.
"Nenek Andini, sayang."
Arya membenarkan rambut anaknya yang sedikit acak-acakan. Fanya sedari tadi hanya diam menyembunyikan tubuhnya dibelakang Arya yang tengah mengobrol, sungguh hatinya tak karuan kali ini. Apa yang terjadi nantinya jika mereka tau bahwa Andini adalah ibunya?
"Maaf ya tante ga dateng ke nikahan kamu. Oiya mana istrimu." Tanya Andini pada Arya, Andini sangat penasaran dengan wanita yang sedari tadi menyembunyikan dirinya dibelakang Arya.
"Iya tan gpp.. ohh istri arya ada kok." Arya sedikit bergeser memperlihatkan istrinya.
Wajah Andini yang sedari tadi berseri dan tersenyum kini pudar saat Fanya tersenyum kikuk padanya, sungguh tak menyangka keponakannya menikahi anaknya sendiri.
"Fanya anak mamah kok ada disini sih." Andini memeluk Fanya erat, ia memang rindu anak kandungnya tapi Andini sangat terpukul kali ini, tak menyangka akan bertemu anaknya dengan cara seperti ini.
Fanya memeluk Andini tak kalah eratnya, rasanya ia ingin menangis, matanya sudah memanas kali ini. Fanya rindu pada ibunya tapi ia tak menyangka akan jadi seperti ini.
"Oiya. kenalin semuanya ini anak tante, namanya Fanya Angelicta." Ucap Andini sambil melepaskan pelukannya dan mengusap rambut Fanya sayang.