"Arya tau kan yang gembok ditulisin permohonan kita terus dipasang-pasang ke pagar ? Konon katanya permohonan kita akan terkabul, dan ternyata dijepang ada loh yang kaya gitu." Fanya merangkul dan mengenggam tangan Arya, suaminya tau betul apa yang diinginkan istrinya itu.
"Dimana tempatnya?" Tanya Arya tiba-tiba, Fanya tersenyum lalu menjinjitkan kaki dan mencium pipi Arya senang.
"Aih kkk...... dimana tempatnya sayang?" Ucap Arya lembut, Fanya mengambil ponsel dan meninjukan layarnya ke suami tercintanya.
"Baiklah, lets go!!!"
Arya berjongkok didepan Gita memperlihatkan punggungnya yang lebar.
"Ayo naik sayangku, Arya tau kok kamu udah ga kuat jalan."
Tanpa ragu Fanya naik ke punggung Arya, si suami berdiri dan berjalan.
"Ahh. suamiku sangat pengertian sekali." Fanya memeluk leher Arya, meniup telinga laki-laki tampan itu dan terkekeh geli.
Arya ikut terkekeh, wanitanya itu sedang menggodanya saat ini. Mereka menggunakan kereta listrik dari kamakura ke Enoshim island, cukup lama namun mengesankan karena pemandangan dari jendela memperlihatkan laut yang luas nan indah.
Tujuan mereka hanya untuk mengunjungi Enoshima love bell yang berada dipuncak bukit Enoshima disebuah menara observasi ada sebuah laut yang disebut lover cove atau teluk cinta.
Setelah sampai di stasion Arya dan Fanya masih harus berjalan beberapa kilometer menuju tempat tujuan namun itu sama sekali bukan masalah besar karena selama mereka berjalan, mereka disuguhkan oleh pemandangan yang menakjubkan.
Indahnya pemandangan laut pada sore hari membuat mereka seakan terhipnotis, Arya dan Fanya diam lebih dulu didermaga untuk menikmati sunset, mampir dulu ke restoran untuk mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan.
Mereka telah sampai dipuncak bukit saat langit sudah berubah menjadi hitam namun indah karena bintang yang bertaburan ditambah laut yang memantulkan sinar rembulan. Arya dan Fanya membeli gembok di toko tak jauh dari tempatnya kini.
Arya membeli gembok yang Fanya pilih, gembok berwarna merah muda berbentuk hatilah yang ia pilih. Fanya tersenyum senang lagi, ia sudah tak sabar ingin menuliskan harapannya disana, tangannya sudah memegang spidol sedari tadi.
"Nulisnya jangan sambil berdiri. Ayo duduk disana." Arya menunjuk bangku kosong didepan toko.
"Baiklah."
Mereka menghampiri bangku tersebut, Arya duduk dibawah sedangkan Fanya menjadikan bangku tersebut meja untuk menulis.
"Jadi apa yang kita harapkan?" Tanya Fanya pada Arya.
"Kalau aku sih ingin keluarga kita bahagia, damai dan harmonis." Ucap Arya asal.
Sebenarnya laki-laki 30 tahun-an itu sama sekali tak percaya mengenai tahayul ini. Mana mungkin hanya dengan gembok yang sengaja di pasang disebuah pagar bisa mengabulkan harapan si penulisnya? Sungguh sangat mustahil.
"Karena harapan kita sama arya yang menulisnya." Ucap Fanya, Arya berdecak malas namun ia tetap menulis harapan itu sesuai dengan perkataannya tadi dengan tulisan yang kecil agar muat dalam ruang gembok yang sempit.
"Sudah." Arya selesai menulis, yang tadi ngebet ingin menulis itu istrinya tapi kenapa malah ia yang membuat harapan? Apa karena Arya adalah kepala keluarga? Entahlah Arya sama sekali tak tau jalan pikiran istrinya itu.
"Karena kepala keluarga sudah menulis, biarkan Fanya yang memasangnya dan Arya sama sekali tak boleh tau di mana Fanya memasang ini. oke!!!"
Fanya berdiri dari duduknya, Arya agak tak suka dengan keputusannya itu tapi mau bagaimana lagi? Toh ia juga tak percaya dengan itu semua. Fanya pergi dari hadapan Arya, ia berkeliling tempat mencari tempat yang cocok untuk memasang gembok cinta itu.
Fanha tersenyum lagi, ia menulis di belakang sisi gembok yang Arya tulis. Harapan dan keinginannya saat laki-laki itu muncul dikehidupannya. Fanya membacanya sekali lagi kemudian memasang gembok itu di tempat yang memiliki sedikit ruang untuk gemboknya, setelah puas memandang gembok itu Fanya membuang kuncinya ke laut dan pergi menghampiri Ares yang tengah menunggunya di tempat tadi.
'Kami ingin keluarga kami selalu harmonis, bahagia dan damai. Ares & Gita'
'Aku ingin Ares mencintaiku selamanya Gita'
***
"Nenek kok ayah lama sih jemput Safira!!!" Safira uring-uringan kesal, ia sedari tadi tak bisa diam dan terus-terusan merengek membuat Hera bingung.
"Safira sayang, besok ayah safira pulang kok. ya sayang." Ucap Hera lembut sembari mengusap rambut Safira sayang.
"Gamau nenek, Safira pengennya ayah kesini sekarang. Safira kangen ayah. hwee." Safira menangis sambil merengek-rengek, ia rindu dengan ayahnya, ini sudah 1 minggu dan ayahnya belum menjemputnya sesuai janjinya.
Hera memijat kepalanya bingung, ia tak tau bagaimana cara membuat Safira berhenti menangis dan merengek. Rasanya lelah mengurus cucu pertamanya itu.
"Safira sayang, maen game sama tante yuk." Jessica datang dari arah kamar, menghampiri Safira dan membujuknya agar berhenti menangis.
"Safira gamau Aunty, Safira pengen ketemu ayah."
Safira menatap wajah Jessica dengan tatapan sedih, matanya sudah sembab dari tadi.
"Yaudah gimana kalau kita vidio call ayah, tapi dikamar Aunty pake leptop biar gede oke!!!"
Safira hanya diam tak menjawab, Jessica menggendong Safira dan membawanya ke kamarnya setelah mengambil eskrim didapur.