Arya dan Fanya berlibur selama 3 hari di Jepang namun bukan Tokyo tempat mereka bulan madu melainkan di kota Kanagawa. Mereka menghabiskan waktu bersama hanya berdua saja, mengelilingi dan menikmati pemandangan negeri matahari terbit itu.
Mereka sangat bahagia, banyak tempat yang mereka kunjungi dan makanan yang mereka cicipi, Fanya suka Jepang dengan semua keunikannya. Bibir mereka tak henti-hentinya melukiskan senyuman manis, Arya sangat bersyukur memiliki istri yang sangat cantik dan manis.
Selama di Jepang mereka hanya bersenang-senang saja, sama sekali tak ada yang menggangu mereka.
"Arya, Fanya pengen nyoba kimono. Ayo Arya, ga afdol kalo kita ke Jepang tapi ga foto-foto pake Kimono." Fanya menarik-narik tangan Arya menuju sebuah rumah tradisional Jepang yang sedari tadi menyita perhatiannya.
"Emang ada penyewaan kimono disana?" Tanya Arya, Fanya menatap mata Arya lurus.
"Kita coba tanya aja sayangku!!!" Arya tersenyum, sebenarnya Arya sudah tau itu memang tempat penyewaan kimono lewat tulisan di papan depan rumah tersebut.
Arya memang bisa berbahasa Jepang, dia juga tak buta kanji, hiragana, dan katakana hanya saja hobi barunya sangat menyenangkan saat ini.
"Kamu yang nanya ahh.. Arya gabisa bahasa Jepang." Bohong Arya, ia memasang wajah yang meyakinkan.
"Ihh... Fanya juga gabisa, ga percaya klo Arya gabisa bahasa Jepang." Fanya mengerucutkan bibirnya.
Arya menggeleng kuat meyakinkan Fanya bahwa ia tak bisa bahas Jepang sama sekali. Fanya menghela nafas lelah, ia berusaha tenang dan mengambil ponselnya.
"Mau ngapain?" Tanya Arya penasaran.
"Sekarang kan udah jaman cangg-" ucapan Fanya terpotong, suaminya kini tengah mengobrol dengan pemilik toko menggunakan bahasa Jepang yang terdengar sangat fasih.
Fanya menggigit bibir bawahnya kesal, ia telah ditipu dan itu rasanya sangat menyebalkan. Ingin rasanya ia teriak dan mencubit Arya gemas saat ini jika ia tak malu, Fanya menghampiri Arya saat suaminya itu memanggilnya.
"Hmm. Aku mau ngambek." Fanya melipat tangannya di d**a sembari memalingkan pandangannya dari sang suami yang tengah menatapnya aneh.
"Yeh. pending dulu ngambeknya cantik, sekarang pilih mau pake kimino yang mana?" Tanya Arya lembut, manik Fanya langsung beralih pada jajaran kimono yang tergantung indah tangannya tergerak untuk mengambil kimono berwarna merah yang indah.
Arya tersenyum saat Fanya di suruh untuk mencobanya diruang ganti, ia masuk dengan beberapa karyawan toko sementara Arya menunggunya diluar. Sekitar 15 menit telah berlalu, Fanya keluar dengan pakaian yang ia pilih tadi, rambutnya telah digelung menyisakan beberapa helai dibagian sisi kanan dan kiri, terlihat sangat cantik hingga Ares panggling melihat penampilannya.
"Gimana? Fanya cantik kan?" Tanya Fanya sambil tersenyum memamerkan gigi putihnya.
"Engga, Fanya jelek pake apapun juga. Your ugly." Bohong Arya, mata memalingkan pandangan ke arah lain.
"Dasar ngeselinnnn." Fanya mencubit tangan Arya kencang hingga sang empu meringis kesakitan.
"Ah. sakit bep, bisa ga berhenti cubit-cubit dasar genit." Arya memasang wajah jelek pada Fanya hingga wanitanya itu memalingkan wajah suaminya dengan cubitan cinta dipipi.
Para pegawai toko terkekeh melihat pasangan suami-istri itu, toko sedang tak begitu ramai membuat Arya dan Fanya jadi sorotan. Mereka berhenti saling mencubit saat pemilik toko keluar, Arya dan Fanya membungkuk pendek.
Setelah Fanya menyewa kimono, Arya dan Fanya menaiki becak yang didorong oleh tenaga manusia atau orang jepang biasa menyebutnya Jinrikisha, Arya dan Fanya berkeliling dengan itu lalu turun di sebuah tempat dengan bangunan tradisional secara menyeluruh, seperti rumah kaisar atau clan-clan yang ada di anime yang sering Arya tonton saat masih kecil. Mereka puas berfoto dan menjelajah tempatnya.
"Udah semua kita kunjungi disini, sekarang Fanya mau ganti baju lagi. Ayo ke tempat penyewaan." Ajak Fanya.
Tangan kanan Arya melingkar dipundak Fanya, ia mencium sayang kepala Fanya. Mereka kembali ke tempat penyewaan dan kini Fanya kembali memakai pakaiannya.
"Mau kemana lagi kita?" Tanya Arya, matanya melirik pada sang istri, Fanya tersenyum manis.