3 : Meet & Pick

660 Kata
Tak terasa ini sudah hari ke-28 dan Arya sama sekali belum menemukan calon istri yang cocok, ia sudah berusaha mengencani beberapa wanita namun diantara mereka semua sama sekali tak ada yang cocok.  Kini Arya hanya menghela nafas lelah, memijat-mijat kepalanya sembari memutar kursi kerjanya ke kiri dan ke kanan secara berulang-ulang.  Arya bingung, waktu untuk membawa calon istri kehadapan ayahnya hanya tersisa 2 hari lagi dan ia sama sekali belum menemukannya terlebih lagi Safira sangat ingin memiliki seorang ibu. Didalam renungannya, ponselnya berdering menampakan sebuah nama.  "Hallo nun, ada apa?" Tanya Arya pada Diana di dalam telepon.  "Arya, apa kau sudah punya pasangan?"  "Belum, memang ada apa nun?"  "Jika aku mengenalkanmu dengan seseorang apa kau mau?" "Tentu, kenapa tidak?"  "Oke, Resto Garden jam 09.00 besok"  "Siap nun." Arya tersenyum, keberuntungan sedang berpihak padanya sepertinya.  "Ku tutup teleponnya, selamat bekerja!!!"  -tut-  "Catat : Resto Garden jam 09.00" Arya mensetting alarm nya pada hari dan jam itu.  ***** Esoknya Arya terbangun tepat satu jam sebelum kencan buta ini dimulai, ya anggap saja kencan buta. Setelah mandi Arya mengambil baju yang ingin ia kenakan, celana panjang hitam dengan kemeja salur menambah pesona dalam diri Arya.  Arya keluar dari kamarnya, sedikit mengendap-ngendap saat melewati kamar anaknya. Sungguh ia tak ingin Safira ikut dalam kencan buta yang akan ia lakukan.  Arya keluar rumah dengan selamat (?) la pergi begitu saja dengan mobil putih yang sering ia pakai. Tak butuh waktu lama ia sudah sampai di resto tersebut, memarkirkan mobilnya ditempat parkir lalu masuk kedalam restoran.  Tring  Dia memakai dress bunga-bunga dan duduk dimeja nomor 08 08.57  Arya menutup kembali ponselnya dan mencari ciri-ciri orang yang dimaksud oleh nuna-nya itu. Berjalan menuju meja yang ia rasa benar, kemudian berdehem agar wanita itu melirik supaya memastikan. "Ekhem." Wanita itu menoleh pada Arya.  "Eh. kau yang kutabrak diacara pernikahan kan?" Arya sedikit tersentak kaget saat melihat wajah wanita itu, sementara wanita itu hanya terkekeh.  "Namaku Fanya, ya aku orang yang kau tabrak." Wanita itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum.  "Namaku Arya Salam kenal nona." Arya membalas senyumnya sembari menarik kursi yang ada dihadapan wanita itu.  "Ingin memesan sesuatu?" Tawar Arya pada Fanya, wanita perawakan putih, langsing dan manis itu hanya mengangguk lucu.  Arya memanggil pelayan dan memesan beberapa makanan untuk mengisi perutnya. Hening beberapa saat setelah pelayan itu pergi, baru pertama kali Ares merasa tak dapat mencairkan suasana.  "Fanya." Panggil Arya, wanita itu langsung menoleh ke arahnya.  "Ya? Ada apa?" Sahutnya.  "Eummm. aku hanya ingin bertanya, apa kau yang menyuruh nuna Diana untuk memperkenalkanku?" Arya berbicara dengan pelan dan sangat hati-hati, takut jika Fanya tersinggung atas ucapannya.  "Iya aku yang memintanya hahaha..." Fanya terkekeh sementara Arya hanya tersenyum.  "Kenapa kau tidak langsung saja menghubungi-ku, aku meninggalkan kartu namaku dalam jas itu." Tutur Arya bersamaan dengan datangnya pelayan yang membawakan pesanannya.  "Lebih baik kita makan dulu, mari!!" Arya tersenyum, tangannya sudah memegang sendok dan garpu siap menyantap makanan yang sedari tadi dipanggil-panggil oleh perutnya.  Mereka makan dengan hikmat tanpa diselingi pembicaraan. Suasana Resto bertemakan alam ini membuat para pengunjung betah berlama-lama disini, itu terbukti oleh Arya dan Fanya yang sedari tadi mengobrol banyak hal setelah acara makannya selesai. Mereka tak pergi dari tempat duduknya, masih mengobrol hangat dengan sesekali tertawa.  "Ah. kisah itu mengocok perutku." Fanya menghentikan tawanya sementara Arya masih terkekeh.  "Ohh iya, aku hampir lupa." Fanya mengambil papper bag yang ia simpan dibawah.  "Aku ingin mengembalikan ini." Ia menyodorkan papper bag nya pada Arya.  "Apa ini?" Tanya Arya sembari membuka papperbag tersebut.  "Itu jas mu, aku mengembalikannya." Fanya tersenyum.  "Aku sudah mencucinya kok." Tambahnya lagi."Ahh... terima kasih kau sudah repot memulangkan ini, bagaimana jika aku belikan gaun yang kau inginkan sebagai ganti gaunmu yang tertumpah minuman?" Tawar Arya, Fanya sontan menggeleng kuat.  "Tidak, tidak usah!!!" Fanya terlihat sangat sungkan.  "Tidak apa, ayo!!!" Arya berdiri dari duduknya dan menggengam tangan Fanya, mengintruksikan ia untuk pergi dari restoran.  "Kau bawa mobil?" Tanya Arya sambil melirik Fanya.  "Aku hanya diantar oleh supirku, kalau mau pulang aku dijemput lagi." Ucapnya santai. " Syukurlah kalau begitu." Arya bergumam.  Mereka akhirnya pergi dari resto itu hendak menuju mall terdekat untuk berbelanja. Setelah berbelanja, Arya dan Fanya menonton film dibioskop dan menghabiskan waktu ditaman bermain bersama. Raut wajah mereka terlihat senang dan bahagia, kencan buta tidak terlalu buruk juga kan?.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN