Dia akhirnya terlepas dari otoriter dan aturan harus mengabdi kepada Dominus. Hari ini, malam ini, Laura benar-benar bebas! Setelah seharian penuh dia harus menjadi babu, tepat jam 9 malam, Laura akhirnya terbebas.
Langkah kaki yang kelewatan ringan bahkan sampai melompat Laura lakukan saat dirinya menuju ke mini market. Dia harus meminta maaf kepada Liam secara langsung dan juga ingin melihat wajahnya yang sangat sangat tampan itu setelah seharian menatap wajah Dominus apalagi Dharma sampai dirinya merasa jengah.
"Liam, Liam!"
Sayangnya saat nama Liam dipanggil, yang muncul justru orang lain. Laki-laki berkulit coklat dan sedikit lebih kurus dari Liam, matanya juga dilapisi kacamata bulat dengan seragam mini market sama seperti yang biasa Liam pakai.
Laura menghidupkan benda pipih di genggamannya. Gadis itu kembali mengecek siapa tahu dia salah jam? Eh tapi benar kok! Sekarang sudah jam 10 lebih, harusnya memang Liam yang menjaga.
Gadis itu akhirnya tetap mendekat meski tahu orang di balik meja kasih itu bukanlah Liam.
"Liam-nya mana?" tanya Laura dengan nada penasaran.
Liam tidak sakit sampai akhirnya tidak masuk kerja bukan? Kalau iya, setidaknya dia bisa mendapatkan informasi dari laki-laki di depannya.
Laki-laki tadi membenarkan letak kacamatanya. "Liam? Dia shift pagi tiap hari Minggu."
Laura mendesah kecewa sekaligus lega. Setidaknya Liam tidak sakit.
"Terus dia di rumahnya?"
Laki-laki berkacamata tadi tampak kesal. "Mana gue tahu. Lo coba datengin aja rumahnya."
Laura mendengus, tapi hanya sedetik karena detik selanjutnya dia tersenyum manis menatap laki-laki itu. Dengan mata berbinar, Laura pun bertanya, "Rumah Liam dimana?" Mata Laura pun melirik nametag yang ada di seragam laki-laki itu.
"Aldo? Tahu rumahnya Liam nggak?"
Aldo, kacamatanya melorot, dengan tergesa dia segera memberikan letaknya. "Gue pernah ke sana sekali, nggak jauh sih dari sini."
Laura semakin senang. "Di mana?"
"Halte bus di depan kompleks itu nyebrang aja, masuk gang di sebelah kanan terus lo susurin aja, cari rumah yang paling bagus yang ada di sana."
Gadis itu lantas mengangguk patuh. Dia segera mengambil dua bungkus coklat di depan meja kasir dan memberikannya kepada Aldo. "Berapa? Yang satu buat lo, ucapan makasih."
Aldo langsung menscan coklat itu. "Dua enam, makasih juga buat coklatnya."
°•°•°•°•°•°•°•°
Laura menganga lebar setelah menyebrang dari halte bus. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Aldo yang mengatakan ada gang di sekitar sini. Ini bukan gang, satu-satunya jalan di sini masih tergolong jalan besar, bahkan dua mobil bisa lewat bersamaan.
"Bodo amat, tugas gue nyari alamat Liam!" ucapnya penuh semangat.
Tangannya yang menggenggam plastik berisi coklat dengan perasaan positif yang kadarnya penuh.
Diiringi lalu lalang kendaraan, Laura berjalan layaknya anak hilang yang mencari pertolongan. Di jalan ini, hampir semua rumah bisa dikatakan bagus. Lalu rumah seperti apa yang harus dia cari?
Laura mendesah frustrasi saat dirinya tidak juga menemukan yang terbagus diantara semua rumah bagus di sana. Bahkan hari yang mulai larut membuatnya memilih beristirahat di depan minimarket yang sudah tutup.
"Rugi gue kasih coklat ke Aldo. Bangs*t emang Aldo!"
Sudah benar-benar frustasi, Laura memilih berdiri dan berniat untuk pergi. Hampir saja dirinya melangkah, tapi matanya justru jelalatan sampai melihat sebuah rumah yang bisa dikatakan megah. Hmm, mungkinkah itu rumah Liam?
Membawa perasaan sok yakinnya, Laura akhirnya menyeberang jalan. Gadis itu menempelkan wajahnya ke besi-besi pagar sambil mencari sisa-sisa kehidupan di sekitar sana.
"Non cari siapa?"
Laura tersentak mundur. Gadis itu sampai harus menetralkan detak jantungnya gara-gara bapak penjaga satpam yang menanyainya.
"Bapak satpam di rumah ini?"
"Bukan, Neng, saya satpam kompleks yang kebetulan tadi mampir aja."
Kepala gadis itu mengangguk-angguk. "Bapak tahu ini rumah siapa?"
Bapak satpam tadi balas mengangguk. "Tahulah, Neng, masa Bapak sudah mampir, tapi nggak tahu ini rumah siapa."
Errr, benar juga sih. Bodohnya Laura bertanya seperti itu.
"Maksud saya, ini rumahnya Liam bukan, gitu, Pak!"
"Ohhh, iya, Neng. Tumben ada yang nyariin, ya? Den Liam-nya nggak pernah ada tamu."
Laura meringis. "Saya calon pacarnya, Pak. Doain yaaa!"
Bapak tadi tertawa. Dengan sisa tawanya, gerbang rumah Liam dibuka. "Ya sudah, Neng, Bapak mau lanjut muter. Neng masuk aja, jangan lupa dikunci lagi."
"Siap, Pak!"
Bapak tadi sudah berbalik berniat pergi dan Laura juga sudah mengunci gerbang rumah Liam. Tapi, anehnya bapak satpam itu tidak juga melangkah.
"Ada yang ketinggalan, Pak?"
Bapak itu berbalik. "Saya cuma kepikiran, Neng."
"Soal apa, Pak?"
"Soal Den Liam. Neng nggak kemakan berita soal Den Liam yang–"
Meski bapak itu tidak meneruskan kalimatnya, Laura cukup tahu hal apa yang ingin disampaikan. Lantas dia tersenyum, dengan begitu tenang Laura meyakinkan bapak satpam kompleks Liam itu.
"Saya sudah dengar dan nggak percaya kok, Pak. Selamat melanjutkan tugas, Pak. Saya izin mampir sebentar ngasih coklat ke Liam aja kok!"
"Syukur, Neng. Harusnya memang Neng ini nggak boleh masuk karena sudah hampir jam sebelas malam, tapi karena Den Liam nggak pernah ada tamu, kali ini saya izinkan."
"Makasih, ya, Pak!"
°•°•°•°•°•°•°
"Liam!!!"
"Liam!"
Suara berisik yang Laura timbulkan tidak membuat sosok Liam keluar dari rumahnya. Sudah hampir lima belas menit dia berteriak di depan rumah, tapi sang pemilik tidak juga keluar.
Laura kembali mendesah lelah, gadis itu berjongkok di depan pintu sambil bertopang dagu.
Ayolah, Laura sudah izin menginap di rumah Selly, masa iya dia harus pulang?
Getar ponselnya menyadarkan Laura dari lamunannya. Gadis itu melihat notifikasi akun media sosial yang baru saja masuk.
Iya, dia bisa mengirimkan chat kepada Liam!
Liam, gue di depan rumah.
Selain itu, Laura juga langsung menelpon Liam tanpa pikir panjang.
°•°•°•°•°•°•°
Liam harus berkedip beberapa kali untuk membaca ulang pesan Laura yang masuk beberapa menit lalu. Gadis itu bilang dia ada di depan rumahnya.
Sekali lagi, depan rumahnya.
Tentu saja Liam tidak bisa percaya. Gadis itu tidak mungkin tahu rumahnya. Kemarin dia belum memberitahu alamatnya kepada Laura, jadi sangat mustahil jika gadis itu menemukan rumahnya.
Bahkan telpon dari Laura tidak sempat dia angkat karena saking bingungnya. Sampai akhirnya, Liam bergegas keluar dari kamar dan menuju ke pintu utama.
Napasnya memburu dengan detak jantung tidak bisa diatur. Dia benar-benar syok. Jika benar Laura ada di depannya, dia tidak tahu harus memuji gadis itu dengan kalimat apa.
Cklek. Krieeet.
Pintu perlahan terbuka. Napas Liam tercekat saat menemukan Laura yang jongkok di depan pintu rumahnya sambil menatap ponsel dengan wajah kesal.
Gadis itu sungguh-sungguh di depan rumahnya. Dia tidak berbohong. Kepalanya bakalan mendongak menatapnya.
"Liam?"
Liam semakin susah bernapas. Gadis itu benar-benar terlalu gigih dan keras kepala.
°•°•°•°•°•°•°•°