Obat Rindu

1131 Kata
Laura berdiri dengan senyuman di bibirnya. Senyum itu membuat Liam semakin tidak menentu dan bingung harus mengatakan apa pada gadis itu. Dia gadis ternekat yang pernah Liam temui. "Liam? Kaget ya pasti?" tanyanya dengan wajah menggoda Liam. Senyum manis dan sialnya tampak menggemaskan itu terpasang apik di wajah Laura. "Gue bawain lo coklat!" katanya lagi. Tangannya mengangkat plastik putih berlogo mini market tempatnya bekerja. "Kok–" kalimatnya tercekat di tenggorokan. Liam belum sempat mengucapkan satu kalimat penuh, tapi gadis itu dengan pedenya menerjang tubuh Liam. Sialan. Jantung Liam berdebar. "Gue kangen, boleh peluk dikit, 'kan?" Liam berdeham, berusaha menetralkan wajah juga degup jantung yang mulai tidak karuan. Terlebih wangi rambut Laura yang begitu segar membuatnya benar-benar salah tingkah. Maklum, Liam sudah hampir 6 bulan penuh tidak pernah berdekatan dengan perempuan. "Minggir." Liam akhirnya menarik paksa, memisahkan tubuh Laura agar jauh dari dirinya. Suaranya kembali mendingin dengan mata tanpa sorot berarti seperti biasa. Dia tidak boleh luluh seberapa pun usaha Laura. Dia tidak boleh membuat nyawa seseorang kembali terancam karena telah menyayangi dirinya. ........ Bibir Laura langsung manyun. Mood yang yang bagus karena telah menemukan rumah Liam dan berhasil memeluk laki-laki itu jadi hancur hanya karena penolakan Liam. Laura lantas memaksa tangan Liam untuk menerima kantung plastik berisi coklat yang dia belikan. Niat hati ingin menginap tidak jadi terlaksana karena seperti Liam tidak akan membiarkan dirinya untuk tidur satu atap dengannya. "Ya udah deh, gue mau pulang. Jangan lupa dimakan coklatnya." Laura mundur, tangannya melambai dengan senyum manis yang sebisa mungkin dia keluarkan meski dalam hati dongkol bukan main. "Sampai jumpa besok, Liam!" Setelah mengatakan itu, Laura benar-benar berbalik dengan senyum yang perlahan luntur. Gadis itu melangkah menuju gerbang rumah Liam berharap sekali saja laki-laki itu memanggil namanya dan mengatakan hati-hati. Ya, sayangnya Laura tidak mendapatkan apa yang dia harapkan seperti biasa. ........ "Pagi!" Selly menyapanya. Sebuah keajaiban karena gadis yang sempat menjaga jarak dengannya bila di sekolah itu menyapanya langsung saat mereka tidak sengaja bertemu di gerbang. "Selly!" pekiknya senang, tapi Laura harus menahan keinginan memeluk Selly karena matanya menangkap anggota Dominus dengan motor mereka memasuki area sekolah. Begitu Dominus melewati mereka, Laura sedikit merapat meski masih berjarak dengan Selly. "Ada angin apa berani nyapa gue di sekolah?" Selly tampak tersenyum, senyumnya lebih terkesan miris menatapnya. Memangnya Laura tampak menyedihkan? "Ini, baca pas lo sendirian," ucap Selly sambil menyerahkan satu buku tulis yang sepertinya baru kepada Laura. Setelah Laura menerima buku itu, Selly berlari mendekati seorang gadis yang menjadi teman sebangku Selly sekarang. Jangan bodoh Tulisan itu tercetak di balik sampul buku yang Selly berikan. ........ Senyum Laura yang lebar karena hari ini bebas dari Dominus harus sinar seketika saat sosok Dharma menghadangnya. Laki-laki berpawakan tinggi dengan mata sipit dan hidung kecilnya itu menatap Laura dengan senyum mengejek. Bolehkan dirinya jujur kalau lelah dengan Dominus? Tidak. Tentu saja tidak boleh. Kalau dirinya jujur, bisa-bisa Dominus akan merasa menang dan semakin membuatnya menjauh dari Liam. "Pagi, Laura!" "Mau apa lo?" Dharma tertawa. Laki-laki itu menatap lima temannya yang berdiri di belakang tubuh Dharma. "Widih, galak banget!" Kemudian Dharma kembali menatap Laura. Badannya sedikit menunduk karena selisih tinggi mereka. "Baru juga lepas jadi babu, kok ngerasa jadi ratu sekarang huh?" Bukannya takut, Laura justru balas mendongak. Gadis itu meletakkan kedua tangannya di atas pinggang dan menatap tepat pada manik hitam milik Dharma. "Lo mau apa? Bisa to the point nggak?" "Buru-buru amat, mau kemana?" Laura berdecak. "Ratu nggak punya banyak waktu buat ngobrol sama rakyat jelata." Dharma dan anak Dominus tergelak. Tawa mereka menggema mengisi koridor yang masih ramai itu. Tak sedikit yang menatap mereka bertujuh, terutama si anak baru bernama Laura. "Nggak kapok dia?" "Masih betah, bagus juga mentalnya." "Mending cari aman nggak sih? Dharma bisa aja ngeluarin dia tanpa susah payah." "Mending, kalau gue mending keluar!" "Anjir, bener. Daripada dibully tiap hari, mending gue pindah sekolah." Senyum Dharma semakin lebar terbentuk. Laki-laki itu merasa senang karena banyak pendukung yang mengucilkan keberadaan Laura. "Lo nggak denger? Mending lo nyerah dan terima tawaran gue." "Minggir!" Laura mendorongnya. Laki-laki itu sedikit goyah beberapa langkah. Namun, Laura masih tidak bisa melewati Dharma begitu saja. "Mau lo apa sih, Anj*ng!" Mata Laura jelas memancarkan rasa jengkel. Tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya, siap menghantam wajah Dharma jika tidak ingat bahwa Dharma anak pemilik sekolah yang dia tempati saat ini. Namun, sorotnya berganti redup saat menangkap sosok Liam berdiri jauh di belakang anggota Dominus. "Astaga mulut gue!" Laura mengusap mulutnya dengan kedua tangan. Aksinya jelas membuat Dharma menaikkan sebelah alis karena heran. "Nggak boleh ngomong kasar di depan calon pacar!" katanya lagi semakin membuat Dharma merasa aneh. "Lo–" Laura langsung mendongak, membuat Dharma tidak jadi melanjutkan kata-katanya. "Jangan pede! Tuh ada Liam di sana!" ....... "Auh!" Laura mengaduh. Tangannya mengusap sisi kepalanya yang terasa berdenyut. Matanya sedikit memicing saat sadar beberapa anak kelasnya terutama yang wanita mulai mengerubungi dirinya dengan wajah begitu angkuh. "Kalian kenapa sih?!" Sayangnya mereka justru tertawa. Tubuh Laura terpental saat seseorang diantara mereka menendang pinggangnya. "Nyali lo terlalu gede, Laura." "Maksud lo apa?" Laura mendongak. Tangannya mengusap sisi tubuhnya yang nyeri karena tendangan dari gadis kelasnya itu. "Lo pacaran sama Dharma, 'kan? Lo goda dia tadi, 'kan?!" "Ha?" Wajah Laura benar-benar terlihat seperti orang bodoh. Tapi memang bukan salahnya jika dia tidak paham dengan maksud dari pembicaraan ini. "Aduh, Bangke!" Laura lagi-lagi berkata kasar saat tubuhnya tiba-tiba terpental kemudian rambutnya dijambak dengan begitu kasar. "Lihat ini! Kenapa lo murahan kaya gini sih?!" Mata Laura terbelalak saat melihat postingan Dharma pagi tadi. Mulut Laura seketika merapat dengan gigi saling beradu. Rahangnya mengeras dengan emosi memenuhi kepalanya. "Anji*ng si Dharma Bangs*at!" katanya murka. "Ackh!" Mulutnya terkena tamparan. "Murahan banget lo! Mulut lo juga kotor. Pasti lo udah dicium atau bahkan tidur sama Dharma, 'kan?!" Dharma memang sialan. Laura benar-benar tidak habis pikir dengan Dharma yang seenaknya mengambil fotonya saat menginap di rumah laki-laki itu. Parahnya Dharma membuat dirinya seolah-olah tidur bersama dan sedang memeluk Dharma. Menjijikan. Namun, ada yang lebih penting dari pada Dharma. Laura segera berdiri, melawan mereka dan berusaha keluar dari kerumunan itu. Matanya tidak lepas mencari sosok yang pasti butuh penjelasan soal postingan Dharma. Begitu mendapati Liam yang duduk santai dan memakai earphone kebanggaannya, Laura langsung berlari kearahnya. Mengabaikan makian dan u*****n teman sekelasnya yang mulai gila. "Liam, lo denger gue?" Liam tampak cuek. Tapi Laura tahu Liam mendengarnya, karena laki-laki itu sempat meliriknya sebentar. "Liam soal postingan Dharma, lo nggak percaya 'kan?" "Dia bohong dan sandiwara. Lo tahu gue cuma suka sama lo, okey? Lo jangan salah paham sama gue. Lagian, Dharma nggak mungkin suka gue. Lo harus–" "Bacot. Pergi." Laura terdiam. Wajahnya menatap Liam dengan senyuman. "Lo cemburu? Lo marah karena cemburu 'kan?" Sayangnya, Liam tidak bersikap seperti biasa. Laki-laki itu berdiri, menatapnya dengan tajam, kemudian pergi. "Gue nggak butuh cemburu sama cewe murahan." .......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN