Dendam

1211 Kata
Dikatakan murahan oleh seluruh teman kelasnya bukanlah masalah besar bagi Laura. Toh, dia tidak pernah peduli dengan omongan mereka yang tidak akan memengaruhi hidupnya. Tapi, masalahnya Liam juga mengatakan seperti itu. Liam bahkan tidak percaya dengan dirinya. Laura harus apa sekarang? Misi Laura untuk mendekati Liam dan tahu kebenaran tentang pembunuhan itu bahkan belum bisa terlaksana. Namun, dia juga tidak akan mendekati Liam dengan mudah seperti kemarin sebelum namanya bersih. Dia memang tergolong bodoh karena tidak juga menyerah untuk mendekati Liam, tapi jelas lebih bodoh lagi jika dia benar-benar menyerah. Ini rencana Dominus untuk membuatnya jauh dari Liam. Ya, Dominus! Dia harus menemui enam laki-laki bajing*n itu untuk memperbaiki nama baiknya! Kakinya langsung melangkah keluar dari kelasnya. Cacian, makian, bahkan tarikan ataupun dorongan dari teman kelasnya benar-benar dia abaikan. Rasa sakit hati dikatakan murahan dan juga emosi yang sudah mengumpul di atas kepalanya membuat Laura benar-benar lebih bertenaga. Meski tubuhnya kecil, gadis itu berhasil keluar dari kelas yang lumayan kacau dan ricuh. Ingatkan Laura untuk mengadu soal sekolah yang tidak profesional dan tidak bisa mendidik anak muridnya dengan baik. Brak! Ruang yang menjadi sasaran Laura adalah ruang milik Dominus. Ruangan yang belum lama ini Laura bersihkan. Di sana, tepat di depan meja biliar Gama dan Felix sedang memainkan bola-bola kecil itu. Mereka menatapnya, tapi mata Laura langsung teralih mencoba mencari anggota Dominus yang lain. Dia mendapati Matt berdiri di depan kulkas yang sudah diisi kembali. Kemudian dia melihat Frans dan Haidar sedang asik bermain PS. Yang dicarinya tidak ada. Laura jelas masuk keruangan itu berusaha kembali mencari sosok Dharma. "Wait! Lo nyari siapa? Mau apa lo ke sini huh?" Gadis itu menghempas dengan kasar tangan Gama yang menahannya. Kepalanya mendongak, menantang Gama yang terlihat terpancing emosi. "Mana sih Dharma?!" Mendengar nama Dharma disebut, Gama langsung tertawa keras diikuti anak-anak di belakangnya. Mereka berlima berhasil membuat Laura kembali geram. "Lo nyariin dia karena postingan itu?" tanya Gama begitu bodoh. Memang apalagi yang akan membuat Laura mencari Dharma?! "Gimana-gimana? Liam jauhin lo sekarang? Dia pasti ogah sama cewek murahan kaya–" Plak! Tamparan itu menghentikan ucapan Gama juga tawanya. Bibir Laura nyaris terlihat bergetar saking sakit hati dan geram dengan tingkah semua orang. Apakah tidak ada yang membelanya? "Waw, lo nampar gue?" Gama kembali bersuara. Tangannya mengusap pipi yang sedikit memerah. Laura terdiam. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya dengan napas memburu. Otak cantiknya sebisa mungkin mengontrol emosi agar tidak ada tindakan kelewatan seperti tadi. "Lo berani nampar gue?" tanyanya lagi. Kali ini tangan Gama mencengkram dagu Laura dengan kasar hingga kepala gadis itu mendongak dan menatapnya semakin nyalang. "Lo cuma hama kecil yang sekali sentuh bisa hancur kalau gue mau." "Gam, jangan kelewatan," cegah Matt, laki-laki itu menyentuh bahu Gama mencoba mencegah sahabatnya melakukan tindakan yang keterlaluan lagi. Sayangnya, Gama tidak menggubris. Bahunya bahkan disentakkan dengan kasar agar tangan Matt menyingkir dari sana. Laki-laki itu beralih, tangannya mencengkram lengan Laura dan membawa gadis itu di depan meja biliar. Dengan kasar, Gama mendorongnya. Ringisan karena kepalanya menghantam meja pun Laura keluarkan. Belum juga menetralkan rasa sakit, Gama sudah lebih dulu meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh Laura. "Gam, lo gila?! Jangan kelewatan!" peringat Felix yang ikut panik. Kini keempat temannya berdiri di sebelah tubuh Gama dan Laura, berusaha mencegah Gama melakukan hal bodoh. "Gue nggak akan kelewatan kalau dia nggak kurang ajar sama gue," jawab Gama tanpa menatap keempat temannya. "Frans, hp lo. Fotoin gue sama dia. Gue mau bikin dia makin kelihatan murahan." Laura langsung panik. Gadis itu sebisa mungkin mendorong Gama meski nyatanya kalah tenaga. Kakinya mencoba menendang ke sana dan ke sini, mengincar tubuh Gama agar laki-laki itu segera menjauh darinya. Tidak hanya Laura, keempat teman Gama juga sama paniknya. Mereka tidak pernah kelewatan batas saat membully orang. Tidak akan bermain fisik yang menyangkut pelecehan. "Gama lo gila! Lepasin dia!" Matt mulai berteriak, laki-laki yang biasanya hanya diam melihat Laura tertindas itu mulai bereaksi dan membela. "Lo deket ke sini, nggak cuma ciuman yang gue kasih ke dia!" ancam Gama membuat Matt berhenti melangkah. Wajahnya tampak merasa bersalah saat bertemu pandang dengan Laura yang sibuk berusaha melepas diri. "Anj*ng lo, Gama! Ketua OSIS nggak ada akhlak!" Gama tertawa, dia menatap Frans yang ternyata melakukan perintahnya. Dengan sekali gerak, Gama benar-benar mendaratkan bibir tipisnya dia atas bibir Laura. Gadis itu berontak, namun semuanya terlambat. Frans telah mengabadikan momen itu. "Gam, lepas udah selesai!" kata Frans. Tapi Gama tak juga beranjak sampai akhirnya tubuh laki-laki itu terpental. Dharma pelakunya. Napasnya yang memburu dengan mata menatap tajam sudah menunjukkan betapa emosinya laki-laki itu. Matanya teralih menatap Laura yang sudah lepas dari Gama, hatinya sedikit nyeri saat sadar gadis kuat itu menangis. "Brengs*k lo, Gam!" Gama berusaha berdiri. Laki-laki itu tertawa sambil merebut ponsel Frans, melihat hasil jepretan temannya. Matanya mendongak, menatap Laura yang kini menatapnya dengan sengit. Gadis itu menangis. "Gue nggak suka pelecehan fisik kaya gini di rencana kita!" "Oh ya?" Gama mengembalikan ponsel Frans. "Postingan lo pagi tadi disebut apa?" Masa bodoh dengan perdebatan keduanya. Laura segera berlari dari sana. Gadis itu gagal mengembalikan namanya. Yang dia dapat justru semakin memperburuk situasi. Apakah ini akhirnya? Rencananya gagal semua dan kegagalan itu jelas karena Dominus. ....... Liam tidak mengerti. Entah kenapa emosinya memuncak saat menatap postingan dari Dharma pagi tadi. Dia ingin percaya jika itu hanya akal-akalan Dharma untuk membully Laura. Bahkan saat gadis itu menjelaskan tanpa diminta, Liam ingin percaya, hanya saja dia masih merasa kesal dan tanpa sengaja mengucapkan kata hinaan itu. Liam berjalan dengan khawatir, kata anak kelasnya yang bergosip, Laura mencari Dharma karena ulah laki-laki itu. Tujuannya hanya satu, tempat mereka biasa berkumpul jika jam kosong seperti ini. Namun, begitu dia sampai di dekat ruang itu, matanya menangkap sosok Laura yang keluar dari sana dengan kondisi kacau. Gadis itu bukan gadis yang sekuat baja lagi. Dia ... menangis. Secepat mungkin Liam berlari mengejarnya. Dia tidak bisa diam saja karena Dominus sudah kelewat batas dalam melakukan aksi bully-nya. "Laura?" Untuk pertama kalinya Liam memanggil nama Laura lebih dulu. Langkahnya memelan saat mendekati Laura yang berjongkok ditemani suara tangisan. Liam menyejajarkan tubuh mereka. Laki-laki itu menatap gadis yang kini terlihat rapuh dan tidak sekuat biasanya. Kira-kira apa yang membuatnya sehancur itu? Apa yang Dominus lakukan hingga Laura menangis? Apakah lebih buruk lagi? "Laura, lo–" "Pergi." Untuk pertama kalinya juga Laura menyuruhnya pergi. Gadis yang seharusnya memekik senang saat diajak berbicara itu mengusirnya. "Laura, kasih tahu kenapa lo nangis?" "Pergi." Lagi, Liam mendengar kalimat pengusiran itu. Apakah sesakit ini? Apakah ini yang dirasa Laura saat dia mengusirnya? "Gue minta maaf soal omongan gue tadi, gue nggak maksud buat ngehina lo. Gue–" "Pergi, Liam. Gue mohon lo pergi!" Liam menunduk. Laki-laki itu itu memainkan ujung sepatunya dengan gelisah. Dia tidak mungkin pergi sebelum tahu apa yang Dominus lakukan kepada gadis di depannya. "Gue bakalan pergi asal lo kasih tahu apa yang mereka lakuin sampai lo nangis, Laura." Tangis Laura terhenti. Gadis itu menatapnya dan menghapus jejak air mata itu dengan kasar. "Lo bener, gue murahan." Hanya itu yang Laura berikan. Setelahnya, gadis itu masuk ke dalam UKS dan mengunci ruangan dari dalam. Liam menggeram. Laki-laki mantan anggota Dominus itu terlihat kesal. Jika tidak bisa mendapatkan jawaban dari Laura, maka dia harus mencari jawaban itu dari Dominus. Akhirnya, setelah sekian lama dia diam, Liam bergerak untuk melawan. ..........
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN