Ketidaksengajaan

1168 Kata
Malam ini Laura kehabisan bahan untuk dijadikan teman maraton drama. Bak dicuri makhluk gaib, makanan yang seingat Laura masih sangat banyak itu hilang dan lenyap begitu saja dari dalam ruang penyimpanan. Dia hanya tinggal bersama Papa dan Papa juga sering sibuk tidak di rumah. Ah, selain Papa ada Bik Ani yang kemari setiap pagi dan sore untuk memasak, dan tentu Bik Ani tidak mungkin memakan camilannya. Laura pun mengambil dompet dan ponselnya. Dengan sandal bulu dan baju piyama, dia berjalan ke garasi mengambil sepeda. Setelah menutup pintu dan pagar rumah, Laura pun segera menaiki sepeda menuju ke minimarket yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Begitu sepedanya melewati rumah yang tepat di sebelah rumahnya, Laura langsung teringat bocah cilik gundul yang suka keluar masuk rumahnya akhir-akhir ini. Tingkah menggemaskan bocah lima tahun itu membuatnya membebaskan anak itu keluar masuk rumah, terlebih saat ada orang di rumahnya. "Ah, pasti bocil itu yang habisin makanan gue!" gumamnya sedikit kesal. Bisa-bisanya, bocil laki-laki gundul dengan pipi bulat yang dia sangka menggemaskan bisa berubah menjadi pencuri cilik. Lima belas menit sudah Laura menaiki sepeda dan akhirnya dia tiba di depan minimarket tujuannya. "Selamat malam, selamat berbelanja!" Laura menunduk sejenak sebelum meneruskan langkah. Kakinya langsung menuju ke rak camilan dan minuman, tepat seperti tujuan utamanya. Srek. Laura melongokkan badannya mencari tahu asal suara. Dia kini sedang sibuk memilih mau camilan tempe atau ubi ungu, tapi terganggu karena suara itu. Dia ... penasaran. "Liam, udah selesai? Gue balik ya, shift gue udah selesai!" Laura mengernyit dengan tangan memegang satu bungkus keripik berukuran besar. "Liam?" gumamnya. Laura menggendikkan bahu berusaha berpikir jika nama Liam tidak hanya satu. Dia meneruskan kesibukannya memilih keripik mana yang akan dia beli. "Masukin semua aja, uangnya cukup kok!" Laura cekikikan sendiri. Badannya pun berbalik membuka lemari pendingin dan mengambil beberapa s**u juga yogurt kesukaannya, tak lupa dia juga mengambil berbagai merk soda untuk teman maraton. "Coklat kayanya enak!" Laura pun berputar menuju ke tempat coklat dan keju. Niat awal yang hanya ingin membeli coklat malah jadi mengambil keju juga. Tapi masa bodo, uangnya cukup kok! Dirasa sudah cukup karena keranjang sudah penuh, Laura pun menuju kasir. Alisnya menyatu saat kasir itu kosong. "Kemana sih? Nggak tahu apa udah malam?!" Badan Laura bergoyang kesana kemari, kepalanya celingak-celinguk mencoba mencari sosok laki-laki bernama Liam. "Maaf menunggu!" Laura mematung saat laki-laki seumurannya yang menggunakan seragam minimarket berwarna hijau itu memperlihatkan diri. Suaranya berat dan tidak bernada. "Liam?" Laura tidak menduga, dia kira bukan Liam calon pacarnya. Liam yang baru sadar juga jika Laura yang menjadi pelanggan pun mendongak. Matanya menatap terkejut beberapa detik, kemudian kembali biasa saja. "Lo kerja di sini?" "Ada mata 'kan?" Laura berdecak. Melihat Liam dengan seragam minimarket dan banyak berbicara begini membuatnya semakin suka. Dia juga salut karena Liam bekerja dan membiayai hidupnya sendiri. Dengar-dengar sih keluarga Liam tewas semua di malam itu dan saudaranya tidak ada yang mau menerima karena dugaan Liam si pembunuh. "Pulang jam berapa?" Laura bertanya antusias sembari menunggu Liam menscan satu persatu belanjaannya. Liam melirik pergelangan tangannya. "Malam." Bibir Laura menurun. "Sekarang juga udah malam!" Liam diam. Laura tidak kehabisan akal. Gadis itu menopangkan sikunya di meja kasir sambil menatap Liam. "Gue temenin mau nggak? Daripada nonton drama dan nangis mending nonton lo kerja." "Ganggu." "Dih, masa ditemenin calon pacar nggak mau?" Laura memutar bola matanya. Benar-benar si Liam ini, dia terlalu datar untuk diajak berbicara dan bercanda. Dia juga kaku dan tampak tidak ramah. Tapi, kok bisa keterima jadi kasir? Padahal pekerjaan itu butuh keramahtamahan. Atau keterima karena tampang? "Gue duluan! Gue nggak sabar lihat dia!" "Nggak bisa, gue duluan!" Baik Laura maupun Liam menoleh menatap pintu masuk minimarket yang tampak ramai. Ada lima gadis remaja yang sepertinya anak-anak SMA dan SMP yang sedang berebut masuk. Melihat keadaan itu opsi kedua tentang alasan diterimanya Liam adalah opsi tercocok. "Fans lo banyak di sini," ucap Laura spontan. Liam yang sedang memasukan keripik ke kantung kedua pun mendongak. Matanya kembali menatap kelima gadis yang saat ini sudah masuk dan sibuk berkeliling. Sesekali mata mereka memang menatapnya. "Mereka nggak tahu yang sebenarnya." Laura menipiskan bibir. "Gue penasaran banget soal itu bener apa enggak." "Kak, udah selesai belum?" Laura menoleh, menatap satu gadis dari kelima tadi yang kini sudah berdiri di belakangnya. Gadis itu hanya membawa dua kotak s**u rasa coklat. "Tanya sama Liam coba," katanya ringan. Liam yang disebut kembali menatapnya. "Kak, masih lama?" Gadis itu dengan tidak sopannya berdiri di sebelah Laura dan sedikit mendorong tubuhnya. "Masih." Gadis berambut pendek dengan poni tipisnya itu mendesah. "Kakak beli apa sih? Banyak banget. Sengaja biar lama-lama ya?!" Gadis itu menggerutu. Laura yang merasa dituduh jelas tidak terima. Orang dia saja tidak tahu kalau Liam berkerja di sini, masa dituduh modus begini?! "Maaf ni, gue emang kehabisan stok makanan. Niat gue juga murni buat belanja, nggak modus kaya lo sama temen-temen lo itu." Tunjuk Laura kepada empat gadis lain yang sibuk mencuri-curi pandang kepada Liam. "Kakak kok sewot sih?! Kakak sendiri juga modus, tapi nggak ngaku. Iyakan?!" Laura melirik Liam yang malah anteng-anteng saja. Dia tetap sibuk menscan makanan ringannya tanpa berniat membantu dirinya. Brengsek banget Liam itu! "Mohon maaf, siapa yang sewot ya?" "Kenapa nih?!" Empat gadis yang tadi sibuk mencuri pandang pun mendekat. Tangan mereka hanya membawa dua buah makanan atau minuman. "Ini, dia mau modusin Kak Liam, tapi nggak ngaku. Padahal belanjaan dia banyak, tuh! Dia sewot banget pas gue katain." Oh, mengadu ceritanya. Laura mengangkat sebelah bibirnya, tersenyum sinis menatap mereka berlima. "Gue nggak perlu modus ke toko ini cuma buat lihat Liam," katanya. "Udah." Liam menyerahkan tiga kantung kepada Laura, tapi Laura membiarkan kantung itu di atas meja dan tidak berniat bertanya berapa harganya. Dia belum selesai dengan kelima gadis ini. "Loh beneran dia nggak ngaku?!" Gadis berambut ikat kuda itu tertawa mengejeknya. "Padahal belanjaan dia banyak banget!" Gadis berambut pirang bergelombang itu ikut menyahut. Laura akui mereka itu termasuk dalam kategori sedikit cantik, tentunya badan mereka lebih tinggi dari Laura. Tapi, jelas cantikan Laura! "Ngeyel." "Laura, udah." Laura menoleh menatap Liam. "Berapa?" Dia mulai mengabaikan kelima gadis yang tampak bingung. Tentu saja, ini pasti karena Liam memanggil namanya. "Dua ratus empat puluh." Laura menyerahkan kartu kepada Liam. "Pulang jam berapa? Nanti jangan lupa kabarin." Liam berhenti menggesekkan kartu Luara. Matanya menatap bingung. "Oiya, tugas yang kemarin gue udah. Besok lo bisa salin di sekolah. Btw, jangan selingkuh ya?" Telak. Kelima gadis tadi bungkam menatap Laura. Mereka dibuat terbelalak dan tidak percaya saat mendengar percakapan Laura dengan Liam. Em... rencana Laura berhasil bukan? "Kakak pacarnya?" Gadis yang dari tadi diam saja mulai bertanya dengan nada terbata-bata. Laura menerima kartu yang Liam kembalikan. Wajahnya mendongak angkuh dengan senyum tipis dibuat senatural mungkin. "Iya, maaf ya kalau pacar gue suka dingin." Senyum Laura melebar saat dirinya keluar dari minimarket. Tangannya pun sibuk menata plastik-plastik belanjaannya di keranjang juga di stang kiri dan kanan sepeda. Matanya menatap ke dalam minimarket, senyumnya berganti dengan rasa dongkol bukan main. Ternyata kelima gadis tadi masih kegenitan kepada Liam. *•*•*•*•*•*
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN