Kemarahan Dhrama

1049 Kata
Laura tersenyum senang sepanjang langkah menuju ke kelasnya. Sudut bibir itu tertarik membentuk lengkung indah dengan binar mata yang tidak kalah. Dia bahagia, Liam ternyata mantan pacar Giantri, bukan pacar. Dia juga yakin jalannya mendekati Liam akan semakin lancar setelah mendapat persetujuan Giantri. Ya, meskipun Giantri tidak mengatakan apa-apa selain penyebab berakhirnya hubungan mereka, Laura tidak masalah. Soal kenapa Liam bisa luluh oleh Giantri itu urusan masa lalu, sedangkan rencananya adalah masa depan. Dan... Laura yakin dengan caranya sendiri dia bisa mendapatkan Liam. Bugh. "Argh!" "Ngelunjak lo, ya?" Tubuh Laura menegang. Tangannya ditarik tiba-tiba dari belakang sampai-sampai punggungnya tertarik dan menabrak tubuh bagian depan milik Dharma. Meski membelakangi, Laura tetap saja merasa gugup bukan main. Pasalnya ini kejadian tidak terduga, bukan rencananya seperti biasa. "Lo dari mana hm? Sejak pagi sampe istirahat gini nggak nyamperin kita huh?!" Menyentak tangannya hingga terlepas, kemudian sedikit menjauh dari Dharma. Laura berbalik hingga berhadapan dengan laki-laki itu. Ternyata dia sendirian, dia kira Dharma mengajak anak-anak Dominus. "Ada urusan. Ngapain? Kangen lo?" Dharma mendengus. "Pede mampus lo!" "Terus kenapa? Gue nggak wajib ya-" "Wajib, itu kesepakatan!" potong Dharma cepat. Belum sempat Laura membela diri, Dharma kembali menarik tangannya. Entah menyeretnya kemana, yang jelas langkah Dharma terlalu lebar, kakinya terlalu panjang, dan membuat Laura yang berkaki pendek berjalan tertatih-tatih bahkan nyaris terseret. *•*•*•*•*•* "Ah, ati-ati dong!" Laura menggerutu karena Dharma yang mendorongnya ke dalam ruangan gelap di ujung sekolah. Bau debu dan lembab tercium jelas di hidungnya. Seperti bau kehampaan, ruang yang lama tidak terpakai. "Bersihin ini tempat sampe bersih dan rapi. Gue nggak akan biarin lo keluar kalau belum bersih!" Brak. Pintu ditutup, padahal Laura belum jadi mengatakan apapun lagi. Gadis itu jelas langsung mendekati pintu, meraih handle pintu itu dan memutarnya. Sayang, pintu ternyata dikunci, Laura jadi bingung sendiri sekarang. "Ini bel masuk udah bunyi," gumamnya sambil menatap ponsel. Dia pun menghidupkan senter dari ponselnya, berusaha mencari saklar lampu agar mengurangi hawa mencekam di ruangan itu. Laura akui ruangan ini menyeramkan, padahal saat ini masih siang, tapi kegelapan menyelimuti seluruh ruangan. Klek. Saklar ditekan, lampu pun hidup dan menampilkan ruangan itu dengan jelas. Ternyata ruang itu tidak semenyeramkan saat gelap karena ruang itu bukan ruang penuh kursi dan meja rusak seperti dugaannya. Melainkan, ruangan dengan sofa panjang yang membentu U dengan televisi juga alat PS dan DVD, semua benda itu tertutup kain putih dan juga plastik bening yang memanjang. Ada lemari pendingin juga di bagian belakang, meski tidak dinyalakan lemari itu tampak masih berfungsi normal karena bagian-bagiannya masih mulus. Disisi lain, atau tepatnya di sebelah kanan ruangan ada meja tenis. Laura menganga, ruangan yang sangat tidak mungkin ada di lingkup sekolah kini sedang dia tempati. Ruangan unik yang tentunya tidak ada di sekolah lama Laura. Matanya beralih, menatap tembok yang terletak diantara sofa dan kulkas, ada sebuah hijang berukuran 40x40 senti yang penuh dengan foto dan dihiasi beberapa daun plastik. Ruang ini benar-benar terkesan aesthetic seperti yang sedang viral di mana-mana. Laura pun mendekati hijang itu, menatap foto cetak yang tertempel cukup banyak dengan sedikit debu. Potret tujuh remaja dan satu perempuan ikut menghiasi hijang. Senyum Laura sedikit terlukis, meski matanya menatap sendu pada foto itu. Dalam foto semua terlihat bahagia. Entah sengaja atau tidak, tapi wajah Liam justru menatap Giantri, bukan ke depan seperti yang lainnya. Mungkin ini juga alasan Liam diam saat dirinya mendekat, dia masih menyukai Giantri. "Ah, fokus Laura!" "Sekarang lihatlah, lantai itu penuh debu dan bekas air yang mengering!" Laura pun kembali menelisik, senyumnya merekah saat menemukan beberapa alat kebersihan di pojok ruangan dekat meja tenis itu. "Okey, meski nggak berguna bersihin ruang ini, setidaknya abis ini gue bakalan bebas dan bisa deketin Liam!" "Semangat, Laura!" *•*•*•*•*•* "Udah?" Laura mengelap dahinya dengan lengan kiri. Tangan kanannya memegang pel dan matanya menatap pada Dharma yang berdiri di depan pintu. "Mata lo masih normal 'kan? Lo bisa lihat sendiri!" Dharma terlihat mendengus, laki-laki itu datang setelah bel istirahat kedua berbunyi. Wajahnya terkesan terkejut saat membuka pintu tadi. "Lo beneran bersihin?" Laura jelas mengangguk, ekspresi wajahnya seketika berubah saat sadar arti pertanyaan Dharma barusan. "Jangan bilang lo cuma bercanda!" "Yeah, tapi lo malah anggap beneran." "Bangs*t!" *•*•*•*•*•* "Liam, Liam! Hari ini gue masa disuruh beresin gudang sama Dharma!" Laura mengadu, bokongnya dengan lancang duduk di kursi kosong sebelah Liam. Bel pulang sekolah baru saja berbunyi dan Laura baru bisa menghampiri Liam hari ini. Sebenarnya, setelah istirahat kedua selesai bisa saja dia mengobrol sedikit dengan Liam, tapi sayang, guru yang mengajar datang terlalu cepat. "Liam, ruang itu bagus, nggak pernah ada di sekolah lama gue." Meski sudah mengoceh banyak, Liam tetap dalam mode diam andalannya. Kadang Laura sedikit aneh karena Liam yang tidak bisa ditebak. "Liam, lo nggak mau ngajak gue ngomong gitu? Gue capek tauk! Masa udah tiga hari jadi babu Dominus demi lo, eh elo-nya nggak ada respon." Liam, laki-laki itu kini menatapnya lurus. Matanya menajam dengan sorot yang siap melukai lawan. Tubuh Liam yang lebih besar dan tinggi dibanding Laura membuat gadis itu sedikit mendongak saat berusaha menatap balik Liam. "Lo tahu, gue persis kaya babu. Disuruh ini suruh itu, capek!" "Beg*." Ah, apa Liam bilang barusan? Beg*? Hanya satu kata untuk meresponsnya dan itu adalah beg*?! "Liam, lo itu kok kasar sih! Gue itu berjuang demi lo, masa-" "Lo emang beg*." "Liam?" Laura menatap Liam dengan kesal. Siapa coba yang tidak akan kesal jika dikatakan b**o oleh orang yang dia perjuangkan? "Apa? Yang mau by one satu, yang lo abdi enam. Menurut lo itu keputusan bagus?" "Kenapa harus nggak bagus? Kalau gue menang, otomatis mereka semua jadi babu gue dan gue dengan bebas pedekate sama lo!" "Satu lagi!" Laura menarik napasnya pelan. "Gue bertujuan baik supaya lo bisa balas dendam ke mereka yang udah perlakuin lo nggak baik." "Halu." Setelah membuat Laura menganga dengan satu kata terakhir Liam, laki-laki itu beranjak dan meninggalkan dirinya yang sibuk berteriak dan merutuki mulut Liam. "Dibelain malah nyakitin. Rasanya di sini tuh ... anj*ng banget!" Tangan Laura segera menutup mulutnya, matanya melotot karena sadar barusan dia mengumpat. "Astaghfirullah, nggak boleh, Laura! Udah good looking nggak boleh bad attitude!" *•*•*•*•*•*
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN