Laura mendengus sambil menggerakkan kain pel di tangannya. Matanya menatap Gama yang dengan santainya memakan masakannya, sedangkan dia yang memasak disuruh ngepel. Dipikir hanya Gama yang butuh makan? Laura juga butuh sialan!
Gama yang baru menyuapkan lagi sendok berisi nasi itu menatapnya. "Ngapain lo? Mau?"
Kalau Laura bilang iya, menurunkan harga diri nggak sih? Tapi beneran deh, perut Laura meronta-ronta minta diisi.
"Lanjutin ngepel lo aja deh! Nggak nyangka cocok juga lo jadi babu," ucap Gama. Haruskah Laura menyebut ini sebagai pujian? Bangs*t memang, masa iya dia disamain sama babu?!
Laura pun mencelupkan kembali kain pel itu ke ember dan memerasnya. Dia memilih mengepel dengan fokus supaya cepat selesai daripada menanggapi Gama yang sangat diyakini tidak akan sebaik itu membagi makanan untuknya.
*•*•*•*•*•*
"Heh, lo ngotak nggak sih ngasih gue kerjaan?! Ini gue bukan babu!"
Laura berdecak menatap kolam renang Gama yang sangat-sangat kotor. Daun-daun itu memenuhi permukaan air yang padahal terlihat bersih. Sepertinya Gama sengaja menaburkan daun-daun itu.
Gama yang di sebelahnya malah melipat kedua tangannya di depan d**a, menatap Laura yang kini berdiri dengan tampang galak. Wajah Gama sedatar papa tulis bercoret rumus matematika. Sudah datar, memusingkan pula!
"Bukannya ini kesepakatan?"
"Tapi gue serasa beg*! Masa iya yang by one sama gue cuma lo, tapi gue jadi babu kalian?!"
Gama terkekeh, kekehan itu keluar dengan wajahnya yang tetap datar. Bayangkan, pasti mengerikan dan menyebalkan bukan?
Laura benar-benar ingin mendorong Gama ke kolam penuh daun itu saja supaya wajah Gama berganti ekspresi.
"Emang lo beg*, bukan? Cuma demi Liam lo rela jadi babu."
"Lagian kenapa sih lo pada nggak suka Liam?!"
"Yang aneh itu elo!" Gama mendorong kepala Laura dengan jari telunjuknya. "Semua orang ngejauhin dia, kenapa lo malah deket-deket? Lo cari maut sama kita atau sama dia hm?"
Laura menyugar rambutnya. Wajah gadis itu tidak terima atas ucapan Gama. "Gue mau tahu lebih soal Liam."
"Kacau emang lo. Dia pembunuh, lo tahu itu bukan?"
"Bukannya nggak ada bukti akurat? Kalau iya dia pembunuh pasti dia dipenjara! Kenapa lo semua ambil kesimpulan dia pembunuhnya sih?!"
Gama tertawa, tawa keras yang membuat Laura melangkah sedikit mundur. "Karena lo anak baru, jadi lo nggak tahu alasan kita. Dan ... gue rasa ini hukuman sih, biarin lo deketin dia, tapi lo juga terjebak sama kita. Nanti tinggal tunggu aja, lo nyerah sama siapa."
*•*•*•*•*•*
Laura berjalan dengan gontai memasuki halaman rumahnya. Wajah lelah dan kusut milik Laura terlihat sangat jelas di bawah sinar cahaya lampu terasnya. Seragamnya kotor, ujung roknya juga sedikit basah. Masih lima hari lagi dia menjalani ini dan akan berakhir begini juga.
"Sayang?"
Laura mendongak, menatap wajah papa-nya yang tampak cemas. Pria berkemeja putih itu sedang menata piring di meja makan saat menyapa dirinya.
"Papa udah pulang?" tanya Laura, senyumnya begitu lebar dan tampak sempurna untuk menutup wajah lelahnya.
"Iya, Papa beli makanan banyak buat kamu."
"Ngomong-ngomong, kenapa pulang larut? Apa tugasnya banyak?"
Laura mengangguk kaku. "Kalau gitu Laura mandi dulu, Pa!" Laura pun segera berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Dia tidak betah jika terus ditanyai dan harus berbohong untuk menjawabnya.
"Jangan lari-lari, nanti jatuh!"
*•*•*•*•*•*
Laura menatap ponselnya dengan lama. Matanya benar-benar tidak bisa lepas dari bedah pipih canggih yang bersinar itu. Dia mendudukkan diri di atas ranjang dengan mata fokus menatap layar ponselnya.
"Serius? Ini cewek beneran pacar Liam?" gumamnya.
Ponsel itu memang menampilkan foto dari Selly, foto Liam dan seorang gadis berlesung pipit yang duduk berdua di pasir pantai. Baju mereka baju santai, bahkan caption yang tertulis di bawah foto pun terbilang romantis.
Beautiful day with beautiful girl.
Jujur caption itu begitu pasaran, tapi Liam si dingin yang memposting, tentu menjadi hal luar biasa. Tapi, Laura tidak menemukan foto ini saat stalking i********: milik Liam?
Dapet dari mana lo dapet foto itu?
Dia menanyakannya kepada Selly tanpa memberi tahu jika sebenarnya dirinya sudah stalking tentang Liam juga.
Ss-an lama, waktu heboh Liam punya pacar.
Anak-anak kecewa aja gtu, si ganteng punya pacar.
Jd viral deh.
Oh, berarti foto itu sudah dihapus Liam dari postingan i********:, ya? Tapi, berarti itu sudah lama. Saat kejadian Liam si pembunuh belum ada bukan?
Em... ada kemungkinan kalau Liam putus dengan gadis itu. Bisa saja gadis itu menjauh seperti yang lain dan meninggalkan Liam. Ya, berarti sekarang memang Liam itu jomblo! Iya, Laura meyakini itu!
Karena tidak ingin berdebat dengan Selly, Laura memilih mengakhiri percakapan mereka. Dia tentu lebih memilih kembali mengirimkan pesan lewat dm i********: kepada Liam.
Liam. Follback ya.
Kehormatan khusus karena gue follow lo lebih dulu.
Harus dan wajib senang!
Liam, see you tomorrow!
*•*•*•*•*•*
Pagi ini Laura terbebas dari Dominus. Dia sengaja kabur sebenarnya, karena dia ingin menemukan gadis di foto yang Selly kirim. Soal hukuman atau makian yang akan dia dapatkan dari Dominus akan dia pikir belakangan.
Pertama, Laura melangkahkan kaki ke kelas IPA 2, dia melongokkan kepalanya tanpa rasa takut. Bahkan dia tersenyum lebar saat mata-mata anak kelas IPA 2 menatapnya penuh tanda tanya. Iya, Laura menang sedikit tidak normal, dia kehilangan rasa malu jika dia sedang kepo seperti sekarang.
"Dia yang ngejar-ngejar Liam?"
"Anak baru yang sial itu?
"Dia nggak sial, emang caper aja."
"Dih, tapi dia berani banget nggak takut kaya si Giantri."
"Iya, Giantri dulu langsung minta putus."
"Dih, itu juga biar kak Liam kapok. Dia jadi pembunuh, jadi hukumannya ya dijauhin semua orang."
"Ati-ati, ada Giantri!"
Anak-anak perempuan itu lantas menoleh ke satu titik. Pojok depan dekat pintu. Awalnya, Laura mengira mereka menatapnya, tapi begitu dia menyadari gadis cantik berkulit putih dengan rambut lurus sedadanya yang kini menunduk.
Dia yakin, pasti gadis itu Giantri.
Laura pun menegakkan tubuhnya, dia masuk ke kelas dengan wajah didongakkan. Kemudian, begitu sampai di depan gadis yang dia duga Giantri, dia melipat sikunya, menggunakannya sebagai tumpuan.
"Giantri?"
Gadis itu mendongak. Wajahnya tampak pucat karena kulitnya yang begitu putih. Matanya terlihat berkaca-kaca saat menatapnya.
"Laura?" tanyanya lirih.
"Iya, gue Laura. Lo mantannya Liam?"
*•*•*•*•*•*
"Gue nggak bisa waktu itu."
Laura mengusap lembut bahu Giantri. Saat ini mereka sedang berada di depan gudang yang memang sepi di pagi-pagi begini. Giantri yang mengajaknya berbicara berdua saat istirahat pertama dan karena Laura penasaran, gadis itu pun setuju meski harus kembali kabur dari Dominus dan merelakan waktunya bersama Liam.
Giantri sudah menceritakan tentang dirinya yang memang benar mantan dari Liam. Tapi, katanya tidak ada kata putus diantara mereka, hanya Giantri yang menjauhi Liam karena sempat di-bully oleh Dominus. Giantri tidak tahan setiap pulang sekolah selalu dikunci di dalam kelas hingga larut dan akan dibuka saat satpam penjaga menemukannya.
Giantri juga sering disiram air pel saat berangkat sekolah. Tidak hanya dua hal itu, tapi masih banyak hal gila yang Dominus lakukan kepada Giantri. Semuanya berlangsung hanya dalam dua minggu karena setelahnya Giantri menyerah dan menyetujui permintaan Dominus untuk menjauhi Liam.
"Kenapa? Bukannya lo juga yakin kalau Liam bukan pembunuh?"
Giantri mengangguk. Laura sendiri tidak habis pikir, bagaimana bisa Giantri yakin Liam bukan pembunuh, tapi ikut menghukum laki-laki itu?
"Gue nggak sanggup, La. Gue takut, bener-bener takut karena Dominus tahu kelemahan gue. Gue dulu pacar anggota mereka, otomatis mereka tahu gue itu gimana. Gue takut gelap, gue punya asma yang jelas kambuh kalau kedinginan apalagi kena guyur air yang bikin gue kaget dan tahan napas."
Laura mengangguk mengerti sekarang, dipeluknya Giantri dengan begitu tulus.
"Gue percaya lo kuat Laura, jagain Liam ya?"
*•*•*•*•*•*