Zevanya masuk ke dalam Apartemennya dengan langkah tak bersemangat, bibirnya mengerucut dan wajahnya nampak murung karena sikap Devanka mendadak berubah kepadanya dalam sekejap. Zevanya menjatuhkan tubuhnya kasar di atas sofa membuat Ninis dan Neo yang sedang duduk jadi kaget. “ Kenapa kakak terlihat sedih? “ tanya Ninis. “ Enggak, kok. “ Zevanya menggeleng lemas, matanya menatap lurus ke atap rumah. “ Mungkin, kak Zee lagi ngerasa capek karena habis bekerja. “ Kata Neo. Dia bergerak turun dari sofa dan duduk di lantai agar bisa memijat kaki Zevanya. “ Neo pijitin ya? “ ucapnya. Zevanya tersenyum tipis. “ Terima kasih, Neo. “ “ Aku ambilin kakak minum dulu. “ Ninis turun dari sofa lalu berjalan menuju dapur untuk mengambilkan Zevanya minuman. “ Terimakasih, Ninis. “

