- RASA GENGSI -

2607 Kata
Devanka menghentikan mobilnya di parkiran Apartemen Zevanya. Dia tidak berkata apapun sejak tadi di perjalanan hingga sampai ke tempat tujuan, bahkan Devanka tidak menatap Zevanya sama sekali, entah mengapa dia begitu tetapi Zevanya menduga kalau Devanka masih merasa malu karena keceplosan menunjukkan bahwa dia marah karena takut Zevanya terluka.   ‘ Dasar gengsi! ‘   “ Terima kasih karena kamu sudah mengobati luka di kepalaku dan mau mengantarkan aku pulang. “ Zevanya melepaskan SeatBelt dengan mata tertuju kepada Devanka, lelaki itu menatap lurus ke depan tak sedikit pun menoleh ke arah Zevanya.   Zevanya memperhatikan wajah Devanka yang terdapat beberapa luka memar dan bercak darah. Lelaki itu sudah mengobati luka Zevanya tetapi dia sampai lupa untuk mengobati dirinya sendiri. “ Devanka, wajahmu terlihat memar. Apakah sudah di obati? “ tangan Zevanya bergerak untuk menyentuh sudut bibir Devanka dengan niat ingin mengusap sisa darah kering yang masih menempel, tapi dengan cepat di tepis oleh Devanka.   “ Turun! “ bentaknya sampai mengejutkan Zevanya.   “ Aku hanya ingin—“   “ Apa telingamu sudah tidak berfungsi? Aku bilang turun! “ seru Devanka melirik Zevanya sekilas namun begitu sinis.   “ Baiklah. “ Zevanya menarik tangannya yang tadi sudah hampir menyentuh wajah Devanka, ia membuka pintu mobil dan segera keluar. Sebelum menutup pintu, Zevanya membungkukan sebentar tubuhnya untuk melongok Devanka. “ Nanti kalau sudah sampai rumah jangan lupa luka memarnya di obatin ya atau paling tidak kamu kompres sebentar supaya cepat sembuh. “ Pesannya mencoba untuk tetap berbaik hati pada Devanka meskipun lelaki itu tadi sudah menyiksanya.   “ Aku tidak butuh perhatianmu! “ Devanka malah memandangnya kesal, padahal gadis itu tidak sedang membuat kesalahan. “ Tutup pintu mobilku! “ serunya agar Zevanya buru – buru pergi karena dia sudah ingin melajukan mobilnya untuk pergi.   “ Hati – hati, dev. “ Tepat setelah pintu tertutup rapat, Devanka melajukkan kendaraan beroda empat itu dengan kecepatan tinggi.   Zevanya masih berdiri di parkiran memandang kepergian Devanka, ia menghela nafas kasar sambil berkata. “ Semoga mobilnya menabrak pohon lalu dia mati. “ Cibirnya yang sudah merasa jengkel karena setiap kali dia mencoba untuk bersikap baik dan perduli tetapi Devanka tidak pernah mengindahkan apa yang dia lakukan.   “ Ya ampun, aku baru saja menyumpahkan orang agar cepat mati. Pasti dosaku semakin bertambah. “ Zevanya menepuk bibirnya sendiri seraya melangkahkan kakinya menuju ke dalam gedung Apartemen. “ Tapi, ini semua juga gara – gara Devanka aku jadi banyak mengeluh dalam hidup. “   Sampai di dalam apartemen, Zevanya langsung mendapat banyak pertanyaan dari kedua adiknya. Namanya juga anak – anak, pasti rasa ingin tahunya sangat tinggi melebihi ibu – ibu yang suka bergosip.   Zevanya duduk di atas sofa sedangkan kedua adiknya bersimpuh di lantai menghadap kakaknya dengan tatapan cemas melihat keadaan Zevanya dengan perban kain kasa yang menempel di sudut dahinya.   “ Kakak kenapa di perban? “ tanya Ninis.   “ Apa kepala kakak bocor? “ Neo juga ikut penasaran.   Zevanya menampilkan senyuman ke arah Ninis dan Neo. “ Kakak hanya ke jedot pintu saja, kok. Jadi kepalanya benjol, deh. “ Bohong Zevanya lalu dengan polos kedua adiknya mengangguk sambil berkata. “ Oh….”   “ Aku fikir kepala kakak terluka parah, jika itu benar terjadi aku akan menangis. “ Ungkap Neo yang masih duduk di lantai, kini meletakkan kepalanya di atas paha Zevanya.   “ Loh, kenapa kamu ingin menangis? “ Zevanya mengelus kepala adik lelakinya dengan lembut.   “ Aku pernah nonton sinetron dan ada salah satu pemain kepalanya di perban seperti kakak, lalu ketika bertemu keluarganya dia tidak mengenalinya. “ Terang Neo jadi membuat Zevanya tertawa mendengarnya. “ Kalau tidak salah, itu disebut amnesia. Aku sangat takut jika kak Zee seperti itu. “ Imbuhnya.   “ Kamu tenang saja, kakak tidak amnesia, kok. “ Zevanya mengacak pelan rambut Neo lalu beralih mencubit hidung Ninis. “ Kakak masih ingat bahwa kalian berdua adalah harta berharga yang kaka punya saat ini. “ Ungkapnya dengan mata berkaca – kaca melihat kedua adiknya kini hidup dengan bayang – bayang ibu dan ayahnya yang masih hidup, mereka tidak tahu saja kalau orang tuanya sudah meninggalkan dunia untuk selamanya.   “ Kami berdua sayang kak Zee. “ Ninis dan Neo bergerak untuk memeluk Zevanya dengan erat sebagai bentuk kasih sayang yang mereka berikan kepada kakak tercinta yang selalu menjaga mereka dan sekarang menjadi tulang punggung keluarga.   “ Kakak juga sayang kalian berdua. “ Setetes air mata turun membasahi pipi Zevanya, ia merasa memiliki energi ketika Ninis dan Neo memeluknya karena dengan begitu Zevanya jadi punya alasan untuk tetap hidup serta bertahan menghadapi kenyataan pahit yang setiap hari dia rasakan.   Biarlah dia merasa tersiksa asalkan kedua adiknya aman dan bisa tetap melanjutkan hidupnya tanpa beban. Zevanya berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi kedua adiknya dari Devanka yang selalu memberinya ancaman ingin membunuh adiknya jika tidak menuruti perintahnya.   Baiklah, mulai hari ini Zevanya harus lebih berhati – hati lagi sebab kecaman dan hukuman selalu menghantuinya setiap saat.   **   Malam ini udara terasa begitu lembab, di balik langit rembulan menunjukkan dirinya dengan menampilkan cahaya yang tak begitu terang atau mungkin sedikit meredup, tapi keindahan yang ditunjukkan tidak perlu di ragukan lagi membuat Devanka terpukau, ia menikmati kesunyian malam sambil berbaring di atas kursi panjang dekat kolam renang dengan mata memandang langit gelap yang di sambut gemerlap bintang.   Devanka melipatkan kedua tangan di belakang kepalanya sebagai bantalan agar tidak terasa sakit dan lebih nyaman, kedua bola matanya berekeliling memperhatikan bintang yang tersebar luas di atas langit.   ‘ Apa kamu khawatir kepadaku? ‘   Tiba – tiba saja suara itu terngiang melintasi keheningan malam yang Devanka rasakan saat ini, bayang – bayang wajah Zevanya ikut menghantuinya. Entah mengapa ada sesuatu yang dia rasakan dan hal itu membuat Devanka benci dengan perasaan yang seperti ini.   “ Untuk apa aku harus khawatir? “ Devanka bicara sendiri. “ Aku tidak perlu merasa perduli kepada siapapun. “ Imbuhnya, ia bergerak untuk duduk. “ Aku adalah Devanka anak sang pimpinan sindikat, memiliki rasa simpati dan empati bukanlah diriku! “ serunya menyadarkan kembali bahwa sikap yang harus dia miliki seutuhnya hanyalah kekejaman dan tak perduli kepada siapapun.   Mengapa Devanka perlu menegaskan sifatnya itu kepada dirinya sendiri? Ya, mungkin saja karena saat ini dia mulai merasa bahwa ada perubahan dalam hati dan perasaanya yang membuat Devanka merasa seperti bukan dirinya sendiri. Contohnya, dia begitu takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Zevanya, padahal perasaan semacam itu tidak pernah terjadi kepadanya selama dia hidup dan itu artinya ini perdana bagi Devanka mengalami rasa khawatir kepada seorang gadis.   Devanka memang akan melindungi siapapun yang bekerja dengannya tetapi permasalahannya saat ini adalah perasaan ketakutan yang berlebihan dia tujukkan kepada Zevanya membuatnya merasa tersiksa.   Ada apa dengan hati dan fikirannya? Mengapa dia jadi selalu membayangkan Zevanya sejak ciuman tak sengaja di mobil terjadi antara dirinya dan dengan gadis itu.   Apakah ciuman itu menimbulkan efek yang begitu dahsyat kepada Devanka sehingga membuat hati Devanka jadi terpikat? Entahlah, bahkan Devanka sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi satu hal yang ingin Devanka tegaskan pada dirinya sendiri bahwa dia ingin membatasi dirinya agar tidak terlalu berlebihan pada Zevanya karena dia tidak ingin gadis itu membuatnya jatuh cinta.   Di saat sedang menikmati lamunannya, ponsel Devanka berdering dan langsung dia angkat. Dia tempelkan telepon genggam itu di telinganya lalu terdengar suara lelaki yang menjadi bagian paling penting di dalam hidup Devanka saat ini.   ‘ Devanka? ‘   “ Papah? Apa kabar? “   ‘ Baik, dev. ‘   “ Apa ada sesuatu yang terjadi? “ tanya Devanka karena papahnya menelefon tengah malam begini.   ‘ Papah hanya ingin bertanya, apa kamu sudah menemukan keluarga si pengkhianat? Papah tidak sabar ingin membunuhnya secara langsung jika sudah ditemukan! ‘ suara dari sebrang sana terdengar penuh emosi.   “ Sejauh ini belum ada kabar lagi karena para pengawal sudah mencari – cari dimana keberadaan mereka tetapi belum dapat ditemukan. Diperkirakan mereka melarikan diri ke luar negri. “ Terang Devanka membuat papahnya kecewa.   ‘ Papah tidak mau tahu, dev! Cari mereka kalau perlu sampai ke ujung dunia! ‘ selesai marah – marah, Jazon selaku papahnya Devanka memutuskan panggilan.   TUT…TUT…TUT…   Devanka menghela nafas berat, kakinya turun menginjak rerumputan hijau di halaman rumahnya, lalu dia berjalan untuk menghampiri salah satu Bodyguard kepercayaanya.   “ Leo? “ Devanka berhenti di ambang pintu masuk ke dalam rumah dari halaman belakang.   “ Iya, tuan? apa ada sesuatu yang terjadi? “ tanya Leo dengan kepala tertunduk.   Devanka memasukkan tangan kiri ke dalam saku celananya, lalu dengan ekspresi datar dia bertanya. “ Bagaimana kabar soal pencarian keluarga si pengkhianat itu, apakah sudah ada informasi kemana mereka pergi? “   Leo mendongakan kepalanya untuk menatap Devanka. “ Belum ada, tetapi para pengawal masih terus melakukan pencarian. “   “ Hm. “ Devanka menggaruk ujung hidungnya sambil berfikir. “ Apakah keadaan rumah keluarga itu kosong? “   “ Rumah itu sudah di jual kepada pengusaha properti dan akan di bangun rumah megah. Sepertinya mereka sengaja menjualnya kepada pengusaha properti agar mendapat penawaran yang tinggi dan duitnya langsung digunakan untuk melarikan diri ketempat yang sangat jauh. “ Jelas Leo panjang lebar disimak baik – baik oleh Devanka.   “ Baiklah, kamu harus telusuri lagi sampai mereka ketemu. “ Selesai bicara Devanka pergi meninggalkan Leo yang masih berdiri di ambang pintu masuk.   **   Zevanya menggeser tirai yang menutupi jendela dan membiarkan cahaya matahari masuk menyinari kamar Devanka, setelah itu Zevanya beralih untuk merapihkan kasur Devanka yang sedikit berantakan. Sambil melipat selimut, sesekali mata Zevanya melirik ke arah Devanka yang sedang menikmati sarapan paginya yang selalu saja sama yaitu steak daging dan ice lemon sampai membuat Zevanya heran mengapa lelaki itu tidak pernah mengganti menu makanannya? Zevanya saja yang setiap hari mengantarkan makanannya saja merasa bosan melihatnya, lalu apakah Devanka yang memakannya tidak merasa bosan? Lelaki itu memang benar – benar aneh.   Ketika Zevanya sedang memperhatikannya, tak sengaja Devanka menatap ke arahnya membuat kedua mata mereka saling bertabrakan satu sama lain.   “ Kenapa kamu menatapku seperti itu? “ tanya Devanka dengan ketus.   “ Tidak. “ Zevanya menggeleng. “ Aku sedang memandang ke arah dinding di belakangmu. “ Bohong Zevanya.   Devanka menoleh ke arah dinding dibelakangnya. “ Apa yang kamu lihat? “ dia bertanya karena merasa heran saja kalau Zevanya secara sengaja memandangi dinding polos yang tidak terdapat bingkai atapun hiasan.   “ Gak ada, sih. cuman…” Zevanya menerka – nerka ingin memberikan alasan apa lagi untuk mengelak bahwa dirinya tadi memang benar – benar sedang memperhatikan Devanka.     “ Cuma apa? “   “ Cuma… kayaknya dinding kamu harus di ganti jadi warna lain, deh. “ Zevanya meletakan selimut yang sudah dia lipat rapih di atas kasur, lalu berjalan ke arah Devanka.   “ Ganti warna lain? memangnya kenapa dengan warna dinding kamarku? “ Devanka bangun dari duduknya, lalu memperhatikan dinding kamar yang berwarna putih polos.   “ Menurutku terlalu biasa dan tidak ada kreativitasnya. Biasanya, kamar laki – laki itu ada banyak poster atau mungkin di dekorasi biar lebih unik dan jadi nyaman ketika di kamar. “ Zevanya ikut memandangi dinding itu bersebelahan dengan Devanka.   “ Benar juga apa katamu. “ Devanka manggut – manggut, ia melirik Zevanya dengan seulas senyuman tipis.   Zevanya jadi ikut tersenyum ketika Devanka senyum kepadanya, ia merasa senang karena lelaki itu mau mendengarkan saran darinya.   “ Baiklah, kalau begitu aku ingin mendekorasi serta mengecat ulang kamar ini agar lebih menarik dan ada sisi kreativitasnya. “ Ungkap Devanka seraya membalikkan badannya menghadap meja yang masih terdapat peralatan makannya tadi.   “ Nah, gitu dong. “ Zevanya terlihat begitu senang sambil mengacungkan jempol ke arah Devanka. “ Apa kamu sudah punya ide ingin di dekorasi dan di cat warna apa? “ Zevanya menunggu jawaban dari Devanka dengan antusias. “ Nanti, aku akan membantumu untuk mengecat atau mendekorasi kamar ini dengan senang hati. “ Tambahnya.   “ Um…” Devanka membungkukkan tubuhnya untuk mengambil pisau yang dia pakai tadi untuk memotong steak daging. “ Untuk dekorasi aku belum mendapatkan ide, tapi kalau untuk cat aku sudah punya pilihan yang tepat. “   Zevanya sempat melirik pisau yang sudah berada ditangan Devanka tetapi dia berusaha untuk tidak menghiraukannya. “ Warna apa yang kamu pilih? “ tanya nya.   “ Warna merah. “ Devanka menodongkan pisaunya ke arah Zevanya membuat gadis itu terperangah dan jantungnya langsung berdebar – debar karena pisau tajam itu sudah berada di depan wajahnya.   “ Ma—maksud kamu apa, dev? “ Zevanya ingin melangkah mundur tetapi Devanka bergerak cepat menahan lengannya dan menarik Zevanya agar lebih dekat dengannya.   Devanka menyeringai dengan seulas senyuman tipis. “ Agar kamar ini lebih terlihat menarik dan penuh kreativitas, bagaimana jika aku mengecat sebagian tembok dengan darah segarmu? “ Devanka menempelkan pisau itu di pipi Zevanya.   Mata Zevanya melirik pisau yang sudah siap menusuk pipinya, ia gemetar ketakutan tetapi Devanka terlihat masih dapat tersenyum senang.   “ Me—mengapa harus dengan darahku, dev? “ Zevanya bicara dengan terbata – bata, bahkan untuk menelan salifanya sendiri saja Zevanya sampai kesulitan karena begitu panik.   “ Bukankah keren jika dinding kamar ku ini jadi berwarna merah – putih seperti bendera negara kita? “ Devanka menurunkan pisau itu ke arah leher Zevanya semakin membuat gadis itu keringat dingin bersamaan dengan ketakutan yang terus mengalir dalam dirinya.   “ De…dev, aku—“   Tiba – tiba saja Devanka tertawa sebentar seraya menjauhkan pisau yang sejak tadi menempel pada wajah dan leher Zevanya, lelaki itu kembali meletakkan pisau di atas piring. “ Zee, apakah kamu pernah melihat wajahmu sendiri di saat sedang ketakutan? “ dengan santainya Devanka bertanya seperti itu pada Zevanya yang saat ini sedang berusaha mengatur dirinya dari rasa terkejut akibat ulah Devanka tadi.   Jika tahu memberi saran pada Devanka membuat dirinya terancam, Zevanya tidak akan pernah bicara padanya seperti itu, untung saja Devanka tidak serius ingin mengecat dinding dengan darahnya, kalau sampai itu terjadi, tidak bisa Zevanya bayangkan berapa banyak darahnya akan di kuras habis oleh lelaki kejam itu.   “ Kenapa kamu selalu membuatku ketakutan setiap hari? “ Zevanya bertanya dengan sedikit mengerucutkan bibirnya.   Lelaki itu mengangkat mengangkat bahunya. “ Aku tidak tahu. “ Devanka sedikit memajukkan wajahnya. “ Tapi, aku suka melakukan itu padamu. “ Imbuhnya di lanjuti dengan senyuman menyeringai yang paling tidak Zevanya sukai dari ekspresi lelaki itu.   Zevanya hanya bisa menghela nafas seberat – beratnya menghadapi lelaki yang bertingkah mengerikan di setiap pergerakannya. “ Kenapa luka di wajahmu belum diobati juga? “ Zevanya bertanya seperti itu karena baru saja tersadar ketika menatap Devanka dari dekat ternyata wajah lelaki itu masih dalam keadaan memar dan tidak dibersihkan meskipun lelaki itu sudah mandi tetapi masih saja ada beberapa bercak darah di sebagain memar di wajahnya.   “ Aku tidak punya waktu. “ Devanka berjalan melewati Zevanya.   “ Kalau begitu biarkan aku yang mengobatinya. “ Celetuk Zevanya menghentikan langkah Devanka yang ingin pergi ke luar kamar.   Devanka setengah menoleh ke arah Zevanya yang berada dibelakangnya.   “ Kenapa kamu begitu perduli padaku? “ tentu saja Devanka merasa heran karena hampir setiap hari Zevanya mendapatkan siksaan darinya tetapi dengan bodohnya gadis itu selalu menunjukkan simpati kepadanya.   “ Tentu saja aku perduli karena kamu boss ku. “ Jawab Zevanya dengan lantang.   Devanka membalikkan badannya. “ Awas saja kalau kamu perduli dan perhatian seperti ini karena ingin menarik hatiku! “ seru Devanka mewanti – wanti agar gadis itu tidak sedang mencoba untuk menaklukannya.   “ Apa kamu fikir aku naksir padamu? “ Zevanya tertawa kecil. “ Ternyata kamu bisa kepedean juga ya. “   “ Dasar bodoh! “ cibir Devanka, ia kembali melanjutkan langkahnya untuk keluar kamar sambil berteriak. “ Obati aku di taman. “   Zevanya bertelak pinggang menatap kepergian Devanka sambil menirukan cara bicara dan kata – kata Devanka tadi. “ Obati aku ditaman. “ selesai meniru, Zevanya berdecih sebal. “ Dasar gengsian! “ Dia pun mengambil perlengkapan yang dibutuhkan untuk mengobati luka Devanka, setelah itu dia berjalan menuju taman dengan terburu – buru karena ditakutkan jika dia begitu lamban akan di hukum lagi oleh Devanka.   Hidup Zevanya saat ini adalah sebuah hidup dengan bayang – bayang hukuman jika setitik saja melakukan kesalahan. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN