Pintu kamar mandi di tendang kencang oleh Devanka hingga terbuka lebar, tangannya menarik kasar Zevanya agar ikut masuk ke dalam tetapi Zevanya menahan dirinya untuk tetap berada di luar kamar mandi. Tangisan gadis malang itu terdengar jelas tetapi tidak Devanka hiraukan karena jika sudah berada dalam puncak amarah, Devanka tidak memperdulikan apapun selain rasa ingin menyakiti seseorang.
“ Dev… apa yang akan kamu lakukan. “ Suara Zevanya terdengar gemetar karena begitu ketakutan.
“ Masuk! “ Bentak Devanka membuat Zevanya terlonjak kaget. “ Ayo cepat! “
Perlahan kaki Zevanya masuk ke kamar mandi, ketika sudah berada di dalam, Devanka mendorong tubuhnya hingga jatuh terduduk.
“ Aw…” Zevanya memegangi punggungnya yang terasa nyeri, ia tidak habis fikir kepada Devanka sampai hati mendorong seorang gadis yang sedang dalam keadaan terluka seperti saat ini. Lelaki itu melakukan segala hal tanpa merasa bersalah, sepertinya dia sudah layak disebut psikopat karena tidak memiliki empati sedikitpun kepada perempuan.
“ Aku akan mengurungmu di kamar mandi karena kamu tidak mematuhi perintahku! “ Devanka segera melangkahkan kakinya pergi keluar kamar mandi.
“ Dev!! “ Zevanya buru – buru bangkit untuk berdiri dan mengejar Devanka, tetapi belum sempat Zevanya keluar, pintu kamar mandi sudah lebih dulu di tutup rapat – rapat oleh Devanka dan di kunci oleh lelaki itu dari luar.
“ Devanka! Aku mohon jangan kurung aku disini! “ teriaknya sambil memukul – mukul kencang pintu kamar mandi. “ Dev… aku melanggar perintahmu juga karena ingin menolongmu! Bebaskan aku, dev! “ Zevanya menangis sejadi – jadinya, air matanya mengalir bagai hujan yang deras.
Devanka mematikan lampu kamar mandi yang tombolnya terdapat di luar dan tak hanya itu saja karena Devanka juga mematikan tombol alat Exhaust Fan atau alat yang biasa di pasang di dalam kamar mandi untuk sirkulasi udara.
Di dalam kamar mandi, Zevanya terus saja berteriak meminta ampun pada Devanka agar dirinya di bebaskan dari ruangan yang saat ini gelap dan pengap karena tida ada ventilasi udara sebab Exhaust Fan yang terpasang di atap kamar mandi dimatikan oleh Devanka semakin menambah penderitaan Zevanya.
“ Dev…” Zevanya menggedor – gedor pintu kamar mandi berkali – kali, ia menangis tersedu – sedu. Kepalanya terasa pusing dan sakit di bagian dahinya yang masih berlumuran darah, di tambah lagi salah satu tangannya terasa nyeri karena sempat terkilir. Sepertinya penderitaan Zevanya begitu lengkap dan sempurna sampai tidak ada celah bagi dirinya untuk merasa bersyukur hidup dunia ini.
Zevanya fikir lelaki itu akan memperlakukannya dengan baik karena biar bagaimana pun setidaknya tadi ketika di café dia sempat memberikan pertolongan kepada Devanka meskipun tidak sepenuhnya berhasil, tapi seharusnya Devanka melihat bahwa dia sudah berjuang bahkan sampai mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Dengan jiwa yang kebal akan rasa keperdulian, iba dan pengampunan terhadap seseorang, Devanka berjalan santai menuju sofa, ia duduk disana sambil memandang ke arah Zevanya yang terus menjerit ketakutan di dalam sana. Dia terlihat biasa saja tanpa merasa bersalah, bahkan ada kepuasan tersendiri mendengar Zevanya berteriak ketakutan.
“ Devanka, lebih baik kamu sayat aku saja dengan silet daripada mengurung ku seperti ini! aku tidak tahan, dev! “ Zevanya menyandarkan punggungnya di pintu, lalu secara perlahan dia menjatuhkan tubuhnya pelan agar terduduk di lantai dengan tangan masih terus mengetuk pintu sekuat tenaga berharap Devanka akan mengasihani nya.
Devanka menatap ke arah kamar mandi dengan tatapan sinis, tapi entah mengapa suara tangisan Zevanya semakin lama membuat Devanka merasa tidak tahan mendengarnya, di dalam lubuk hati Devanka yang terdalam tiba – tiba saja muncul sepenggal rasa tidak tega kepada Zevanya mengingat gadis itu saat ini dalam keadaan luka di dahinya.
“ Devanka aku mohon padamu… aku mulai kesulitan bernafas, tolong lepaskan aku! ampuni aku! “ Suara Zevanya terdengar begitu lirih sebab tubuhnya mulai terasa lemas dan tak bertenaga akibat kesulitan bernafas karena kamar mandi Devanka sangat tertutup dan satu – satunya alat sirkulasi udara di ruangan itu dimatikan oleh Devanka.
Lima belas menit berlalu, suara Zevanya tidak terdengar lagi membuat Devanka jadi cemas. Dia bergegas bangun mendekati kamar mandi untuk mengecek keadaan Zevanya karena tidak ada lagi tanda – tanda bahwa gadis itu masih tersadar. “ Zee? “ panggilnya dari luar tetapi tidak terdengar sahutan dari Zevanya.
Devanka mulai panik sendiri, ia langsung menyalahkan lampu kamar mandi dan Exhaust Fan, lalu tangannya bergerak cepat untuk membuka kunci pintu kamar mandi. Ketika kunci berhasil terbuka, Devanka mendorong pintu itu tetapi terasa ada yang mengganjal dan ternyata ada tubuh Zevanya yang sejak tadi masih bersandar di pintu.
Dengan hati – hati, Devanka mendorong pelan pintu itu, setelah mendapat celah untuk tubuhnya masuk meskipun hanya sedikit, Devanka pun buru – buru menerobos ke dalam.
“ Zee? “ Devanka berjongkok di hadapan Zevanya yang kini terkulai lemah, matanya mengerjap – ngerjap secara lamban dan nafasnya terputus – putus menunjukkan bahwa gadis itu kesulitan bernafas dengan tubuh yang sudah tak bertenaga.
“ Dev…” Belum selesai Zevanya menyebut nama lelaki di hadapannya, tiba – tiba saja pandangannya mendadak gelap dan dia pun mulai tak sadarkan diri.
“ Zee, bangun! “ Devanka menepuk – nepuk pelan pipi Zevanya tetapi tidak ada pergerakan dari gadis itu. Tak ingin berlama – lama di dalam kamar mandi, Devanka pun mengangkat tubuh Zevanya, lalu dia bawa ke atas kasurnya.
**
Pusing, letih dan nyeri. Ketiga rasa itu menyerang Zevanya, ia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya terbuka lebar. Zevanya melihat sekelilingnya, ia fikit saat ini sudah berada di alam yang berbeda, tapi ternyata Zevanya masih berada di dalam kamar Devanka dan yang terpenting saat ini dia telah terbebas dari hukumannya yang tadi di kurung di kamar mandi.
Zevanya merasakan di bagian dahinya ada sesuatu yang menempel, ketika dia sentuh, rupanya yang menempel di dahinya adalah perban kain kasa yang di balut plaster. Zevanya yakin pasti yang sudah mengobati lukanya adalah Devanka. Dengan kepala yang sedikit pusing, Zevanya bergerak untuk duduk, ia menoleh ke arah jendela ternyata sejak tadi ada Devanka. Hanya saja lelaki itu sedang menghadap ke jendela dan memandang ke arah luar sehingga tidak melihat kalau Zevanya sudah sadarkan diri.
“ Devanka? “ panggil Zevanya sambil memegangi kepalanya.
Perlahan Devanka membalikkan badannya, menatap gadis yang kini sudah teruduk di atas kasurnya. “ Hm? “ Devanka hanya berdehem seraya berjalan mendekati kasur.
“ Apa kamu yang sudah mengobatiku? “ tanya Zevanya.
“ Tentu saja. “ Devanka naik ke atas kasur dan duduk di sebelah Zevanya, ia perhatikan gadis itu sesekali meringis. “ Apa kepalamu terasa sakit? “
“ Lumayan. “ Zevanya manggut – manggut, ia melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam. “ Aku mau pulang. “ Zevanya pun bergerak untuk turun dari kasur tetapi Devanka menahan dirinya.
“ Tunggu. “
“ Ada apa, dev? apakah kamu akan menghukum ku lagi? “ tanya Zevanya dengan tatapan takut. Jika memang dia akan dihukum lagi, rasanya tubuh Zevanya belum siap mendapatkan siksaan.
“ Jangan ulangi lagi! “ seru Devanka dengan ekspresi datar.
“ Apa maksud kamu? “
“ Aku tidak suka melihatmu ikut campur urusanku seperti tadi di café. “ Devanka kembali mengungkit apa yang sudah Zevanya lakukan.
Zevanya sungguh tak mengerti mengapa Devanka begitu marah hanya karena dirinya sudah mencoba untuk menolongnya. Bukankah seharusnya Devanka berterima kasih karena jika Zevanya tidak datang, tentu saja Devanka masih dalam keadaan dipukuli para Bodyguard itu tanpa bisa berkutik karena tangan dan kakinya dipegangi oleh mereka.
Jika saja tahu ini akibatnya jika menolong Devanka, tentu saja Zevanya lebih memilih untuk melarikan diri dan melaporkan Devanka ke polisi, mungkin saat ini hidup Zevanya sudah mendapatkan kedamaian. Baru kali ini Zevanya menyesal karena telah menolong seseorang.
Ya, begitulah kehidupan. Terkadang niat baik yang kita tunjukkan kepada seseorang tidak selalu diterima dengan baik.
“ Dev, aku tidak bermaksud untuk ikut campur. Aku hanya ingin membantu kamu karena aku tidak bisa membiarkan kamu dipukuli oleh mereka. Apa aku salah jika ingin berbuat baik padamu? “ Zevanya bertanya – tanya, dia masih heran mengapa tindakannya itu salah di mata Devanka.
“ Apa yang sudah kamu lakukan itu membuat diriku jadi merasa bersalah! “ Devanka bicara dengan suara tinggi membuat Zevanya terpanjat kaget. “ Kamu hampir saja mati karena ingin menolongku, Zee! Bagaimana jika itu terjadi! “ Lelaki itu membentak – bentak Zevanya yang kini terdiam dalam ketakutan dan bingung. Ya, Zevanya bingung harus terharu atau marah karena apa yang baru saja Devanka katakan menunjukkan bahwa lelaki itu sebenarnya khawatir dan takut jika terjadi sesuatu yang buruk ketika Zevanya menolongnya tadi.
“ Dev? “ mata Zevanya menatap wajah Devanka begitu mendalam. “ Apa kamu khawatir kepadaku? “ entah mendapat keberanian darimana Zevanya berani bertanya seperti itu.
Devanka tersentak dan baru tersadar apa yang tadi sudah dia katakan, seketika Devanka jadi merasa canggung dan salah tingkah sendiri, ia memilih beranjak turun dari kasur untuk menghindari tatapan Zevanya yang penuh arti. “ Aku antar kamu pulang. “ Ucapnya seraya berjalan keluar kamar meninggalkan Zevanya yang masih terduduk diatas kasur.
Devanka sengaja berjalan keluar lebih dulu untuk menghindari pertanyaan Zevanya yang sepertinya tidak bisa dia jawab dengan mudah karena Devanka sendiri juga tidak faham apa yang ada di hati dan perasaannya.
Zevanya ikut turun dari kasur, dia merasa terheran – heran, bagaiamana bisa sikap Devanka berubah – ubah dalam waktu singkat, padahal tadi dia marah besar kepadanya lalu sekarang berubah jadi sedikit baik padanya.
“ Kenapa Devanka tidak bilang saja kalau sebenarnya dia marah karena takut terjadi sesuatu yang buruk padaku. “ Gumama Zevanya, tanpa terasa dia tersenyum tipis mengingat eskpresi Devanka tadi ketika keceplosan berkata seperti itu. “ Aku sampai harus di siksa seperti ini hanya karena dia kesal aku takut kenapa – kenapa. Cara dia menunjukkan emosionalnya benar – benar gila. “ Imbuhnya.
**