Zevanya sudah siap untuk pergi melangkahkan kakinya keluar café, ia mencoba untuk tidak perduli melihat Devanka terus di pukuli oleh para Bodyguard itu. Tangan Zevanya sudah memegang gagang pintu untuk dibuka, tapi tiba – tiba sesuatu yang mengejutkan memaksa Zevanya untuk menutup kembali pintu dan lagi – lagi membuat langkahnya terhenti.
“ Argggh!! “ terdengar suara jeritan kesakitan yang sangat Zevanya hafal betul itu adalah suara Devanka. Zevanya ingin pergi dan terbebas tetapi disisi lain dia tidak tega melihat Devanka di serang oleh mereka, ia sudah mencoba untuk bersikap tega tetapi Zevanya masih memiliki hati nurani.
Zevanya memejamkan matanya untuk menenangkan dirinya agar bisa berfikir jernih dan kalimat terakhir yang Devanka ucapkan tiba – tiba bergema ditelinganya.
‘ Meskipun aku suka menyakitimu, tapi aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu, Zee. Jika sampai itu terjadi, maka mereka harus kehilangan nyawanya! ‘
Mata Zevanya terbuka lebar, kata – kata terakhir yang Devanka ucapkan itu mampu menjadi alasan mengapa dia ingin menolongnya untuk saat ini. Perset@n dengan semua ini! Zevanya tidak bisa membiarkan Devanka terluka.
BUKK…
Beberapa kali wajah Devanka di hantam keras tetapi Devanka tidak bisa berkutik karena tangan dan kakinya di pegangi oleh empat lelaki berbadan tinggi dan kekar, sementara satu Bodyguard lainnya sibuk memukuli Devanka.
Zevanya celingak – celinguk mencari sesuatu yang dapat dia gunakan sebagai senjata untuk menolong Devanka. Saat ini di dalam café hanya ada Zevanya, Devanka dan para Bodyguard itu karena semua karyawan dan pengunjung café lainnya sudah berlarian keluar. Zevanya pun memilih untuk berjalan ke arah dapur dan akhirnya Zevanya memutuskan untuk mengambil salah satu benda yang menjadi perhatiannya yaitu sebilah pisau yang begitu mengkilap dan nampak tajam. Tanpa berfikir panjang, Zevanya langsung mengambil pisau itu, lalu dengan langkah terburu – buru dia pergi keluar dapur.
Zevanya menyembunyikan tangan yang memegang pisau dibelakang punggungnya, dengan langkah hati – hati dia mendekati tempat dimana saat ini Devanka masih mendapatkan pengeroyokan.
“ BERHENTI PUKULIN DIA! “ teriak Zevanya mencoba untuk memberanikan diri meskipun sebenarnya dia sendiri cukup takut untuk menghampiri gerombolan para lelaki berbadan kekar itu.
Mereka semua menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Zevanya.
Saat ini, posisi Zevanya berdiri di belakang lelaki berperawakan pendek dengan otot – otot tangannya begitu kekar yang sejak tadi mengambil bagian untuk memukuli Devanka, sedangkan empat orang Bodyguard lainnya saat ini berdiri di sebrang Zevanya masih memegangi tubuh Devanka agar tidak bisa berkutik.
Devanka berdecak sebal ketika melihat Zevanya ternyata belum juga pergi ke mobil dan malah menghampirinya. “ Dasar Bodoh! Untuk apa dia kesini! “ gumama Devanka dengan kerutan di dahi dan gigi yang bergemertak.
Lelaki berperawakan pendek di depan Zevanya pun ikut membalikkan badannya menghadap Zevanya. “ Kamu tidak usah ikut campur! Sebaiknya kamu pergi saja sebelum kamu menyesal! “ serunya.
“ Kalian yang akan menyesal jika tidak melepaskan dia. “ Zevanya menunjuk ke arah Devanka dengan dagunya. “ Bebaskan dia sekarang juga! “
Para Bodyguard itu pun tertawa keras mendengar ucapan Zevanya. “ Sudah jangan dengarkan perempuan tidak waras itu! ayo kita habiskan dia sekarang juga! “ mereka pun kembali fokus untuk memukuli Devanka.
“ Huss…Huss….” Lelaki pendek itu mengusir Zevanya seperti seekor kucing, ia kembali membalikkan badannya untuk melanjutkan aksinya.
Zevanya pun tidak tinggal diam, ia tunjukkan pisau yang sejak tadi dia sembunyikan di belakang punggungnya. Dengan tangan gemetar sambil memegang kuat gagang pisau tersebut, Zevanya pun dengan nekat mengarahkan pisau tajam itu ke bagian leher lelaki berperawakan pendek tadi yang ada dihadapannya.
“ Berhenti pukulin dia atau temanmu akan mati ditanganku! “ ancam Zevanya yang kini posisinya sudah siap menikam lelaki itu dari belakang. Seketika semua Bodyguard itu menghentikan aktivitasnya karena terkejut melihat salah satu temannya dalam keadaan bahaya.
“ Kamu jangan macam – macam! “ seru lelaki yang kini masih memegangi tangan Devanka.
“ Kalian yang jangan macam – macam! Lepaskan dia atau kepala temanmu akan lepas dari tubuhnya! “ balas Zevanya dengan tatapan tajam, tubuhnya sedikit gemetar karena dia sendiri juga tidak menyangka akan berani bertindak seperti ini.
Lelaki pendek itu gemetar ketakutan karena jika dia bergerak sedikit saja, sudah pasti pisau tajam itu akan menggores lehernya. Tangan Zevanya yang satunya lagi bertugas mengunci tubuh lelaki itu agar tidak bisa bergerak bebas.
“ Su—sudah, lepaskan saja! dengarkan perintah perempuan ini! “ teriak lelaki yang saat ini nyawanya berada di tangan Zevanya. “ Cepat lepaskan! “ dia sudah ketakutan setengah mati sampai marah – marah pada temannya agar segera menjauh dar Devanka.
Zevanya menatap para lelaki di hadapannya secara bergantian. “ Apa kalian tidak dengar? Cepat menjauh dari dia atau leher temanmu ini akan ku buat putus sekarang juga! “ ancam Zevanya lagi membuat mereka semua terpaksa melepaskan tangan dan kaki Devanka yang sejak tadi di pegangi.
Setelah sudah terbebas, Devanka pun langsung berdiri tegak sambil memegangi punggungnya yang terasa sakit.
Namun, tiba – tiba salah satu Bodyguard itu diam – diam mendekati Zevanya dan langsung bergerak cepat menarik tangan Zevanya yang memegang pisau agar menjauh dari leher temannya yang bertubuh pendek tadi.
“ Aww….” Tangan Zevanya terpelintir karena diputar ke arah berlawanan hingga pisau yang dia pegang terjatuh ke lantai dan di saat itu juga perut Zevanya di hantam dengan sikut lelaki pendek yang berada di hadapannya membuat Zevanya jatuh telengkup di lantai.
“ Zee…” Devanka terlonjak kaget, ia ingin menghampiri Zevanya untuk menolong gadis itu tetapi dengan cepat tubuhnya di dorong keras hingga membetur dinding oleh salah satu Bodyguard.
Lelaki berperawakan pendek itu sudah terbebas dari pisau yang sejak tadi menempel di lehernya, kini ia berjongkok di samping Zevanya yang sedang meringis kesakitan dalam posisi badan tengkurap. “ Dasar perempuan bodoh! “ rambut Zevanya di tarik kuat hingga kepalanya mendongak, lalu dengan kencang kepalanya di hantam ke lantai beberapa kali hingga cairan merah mengucur di dahi Zevanya.
“ Sa…kit… sudah cukup, aku mohon. ” Suara lirih penuh rasa sakit itu terdengar melengking membuat Devanka bagai terbakar api amarah mendapati gadis yang berada dihadapannya itu di siksa.
“ Kurang ajar!! “ Devanka tidak tahan melihat Zevanya diperlakukan seperti itu, ia mendorong kuat lelaki yang sejak tadi menahan tubuhnya agar menjauh, setelah itu dia bergegas mendekati Zevanya.
“ Zee…” Belum sempat Devanka mendekat untuk menolong Zevanya, ia pun dihadang kembali oleh para Bodyguard itu dan kali ini Devanka mulai melakukan perlawanan. Devanka meninju wajah lelaki di hadapannya sangat kencang, kemudian dia tendang bagian perutnya hingga terjatuh, lalu tangan Devanka bergerak untuk mengambil salah satu kursi kayu, ia angkat kursi tersebut dan langsung Devanka hantam tepat di kepala lelaki itu hingga membuat lelaki itu tak sadarkan diri.
Tak berhenti sampai disitu, kini tubuh Devanka di tarik oleh teman lelaki yang baru saja Devanka buat tak sadarkan diri.
“ Kurang ajar kau! “ Lelaki itu langsung mencekik leher Devanka hingga membuat nafas Devanka cukup sesak. Sambil menahan sakit karena lehernya semakin di cengkram kuat, perlahan tangan Devanka merogoh saku belakangnya untuk mengambil silet yang selalu dia bawa kemana – mana, ia selipkan silet itu di sela – sela jarinya, lalu dengan cepat Devanka arahkan silet di sela jarinya tepat ke wajah lelaki dihadapannya.
SRRTTT…
Darah pun langsung keluar dari pipi lelaki yang baru saja Devanka sayat menggunakan silet.
“ Ah….sakit sekali! “ lelaki itu melepaskan tangannya yang sejak tadi mencekik Devanka dan disaat itu juga Devanka langsung menendang lelaki itu hingga terjatuh, lalu menginjak d@danya selama beberapa kali hingga tak berdaya.
Belum cukup sampai disitu, teman yang lainnya pun ikut maju mendekati Devanka untuk menghajarnya tetapi dengan cepat Devanka membalikkan badannya, lalu dia mengarahkan silet itu ke wajahnya sama seperti apa yang Devanka lakukan sebelumnya pada temannya.
“ Sial! “ belum sempat lelaki itu melakukan perlawanan, Devanka langsung memberikan pukulan bertubi – tubi di perut lelaki itu tanpa ampun sampai akhirnya lelaki itu terduduk lemas dan tidak memberikan perlawanan lagi.
Devanka merasakan beberapa bagian tubuhnya sakit dan nyeri, nafasnya pun terengah – engah karena sejak tadi energinya terkuras untuk berkelahi. Mata Devanka memandangi sekelilingnya dan mendapati semua Bodyguard itu sudah terkapar lemah sambil guling – gulingan merasakan kesakitan dengan darah yang berceceran di lantai.
“ Dev….” Suara itu terdengar lirih. Perlahan Devanka membalikkan badannya untuk menoleh ke arah sumber suara.
Devanka fikir semuanya sudah berakhir tetapi ternyata masih ada salah satu Bodyguard Roger lagi yang kini sedang menahan Zevanya. Rupanya, Devanka melewati salah satu di antara mereka yaitu si lelaki berbadan pendek yang sejak tadi membenturkan kepala Zevanya ke lantai.
Mata Devanka memandang tak tega ke arah Zevanya karena terlihat jelas dahi gadis itu berlumuran darah akibat tadi di benturkan beberapa kali ke lantai. Posisi Zevanya saat ini berlutut di hadapan lelaki pendek itu dengan leher yang sudah siap di hujam menggunakan pisau.
Apa yang lelaki itu lakukan pada Zevanya tentunya langsung membuat Devanka naik pitam tetapi kali ini Devanka harus berhati – hati dan tidak bisa langsung menggunakan serangan fisik karena jika dia salah bertindak sedikit saja, maka nyawa Zevanya akan hilang dalam sekejap.
Lelaki yang saat ini berada di belakang Zevanya memberikan senyuman menyeringai ke arah Devanka. “ Apakah perempuan ini pacarmu? Bagaimana kalau aku bunuh saja pacarmu ini? “ lelaki itu bertanya pada Devanka yang kini berjalan mendekat ke arah Zevanya.
“ Jangan sentuh dia! “ seru Devanka dengan mata melotot dan alis yang saling bertautan, nafasnya memburu cepat merasa emosinya semakin meningkat.
“ Kamu bisa pilih, mau perempuan ini yang mati atau dirimu. “ Ucap lelaki itu masih dengan senyuman penuh menyeringai.
“ Baiklah, biarkan aku saja yang mati! “ Devanka semakin mendekatinya seraya mengusap darah yang menetes dari hidung sendiri akibat tadi sempat di pukul beberapa kali oleh para Bodyguard.
“ Jangan mendekat! “ teriak lelaki itu agar Devanka menjaga jarak.
“ Kenapa? “ Devanka menghentikan langkahnya.
“ Jika kamu mendekat, pasti kamu akan menyerangku! “ serunya, tentu lelaki itu merasa was – was. Sebenarnya, lelaki itu juga merasa ketakutan karena saat ini hanya dia sendiri saja yang masih bertahan sedangkan teman – temannya sudah terkapar lemah.
“ Tenang saja, aku tidak akan menyerangmu. “ Balas Devanka.
“ Aku tidak percaya! Jika kamu semakin mendekat, aku akan penggal leher gadis ini! “ ancamnya.
“ Baiklah, aku tidak akan mendekat. “ Devanka diam ditempat, padahal jaraknya sudah hampir dekat dengan Zevanya.
“ Dev…tolong aku. “ Ucap Zevanya gemetar, sejak tadi ia menangis tak henti – henti melihat sebilah pisau tajam sudah menempel di lehernya.
Devanka merendahkan pandangannya untuk melihat ke arah Zevanya, ia menatap gadis itu penuh arti seraya memberikan isyarat. Tangan Devanka yang semula terkepal, perlahan ia buka setengah hanya untuk sekedar menunjukkan kepada Zevanya bahwa ada silet di dalamnya.
Zevanya yang sudah melihat silet itu di dalam tangan Devanka langsung mengerjapkan matanya cepat pertanda bahwa dia sudah mengerti maksud Devanka karena dia tidak mungkin menganggukkan kepalanya sebab lehernya akan tersayat pisau, oleh karena itu Zevanya memberikan isyarat melalui kedipan mata.
Sebelum Devanka menjatuhkan silet itu ke lantai, ia mencoba mengalihkan perhatian lelaki itu dulu agar tidak melihat apa yang akan dia lakukan.
“ Dengan cara apa kau ingin membunuhku? “ tanya Devanka membuat lelaki itu berfikir.
“ Ingin menusuk perutku atau memotong leherku? Kamu bisa pilih sesuka hatimu. “ Devanka bicara dengan mata yang menatap lurus ke arah lelaki itu, tetapi tangannya bergerak untuk menjatuhkan silet yang sejak tadi dia genggam.
“ Aku akan memenggal lehermu! “ balas lelaki itu.
“ Baiklah, lakukan saja sekarang. “ Ucap Devanka seraya menjatuhkan silet itu ke lantai, lalu menendangnya ke arah Zevanya membuat lelaki itu berfikir kalau Devanka ingin melangkah maju karena kakinya tadi bergerak ke depan.
“ Sudah kubilang jangan mendekat! “ teriak lelaki itu ketakutan.
“ Oke… tenang saja. Aku tidak akan mendekat. “ Devanka kembali diam di tempat.
Zevanya menundukkan kepalanya, matanya menatap ke arah silet yang baru saja Devanka tendang berhenti sempurna tepat dihadapannya. Devanka melirik Zevanya lagi untuk memberikan isyarat agar gadis itu segera bertindak sesuatu, Zevanya yang mengerti dengan tatapan Devanka pun langsung menggerakan tangannya untuk mengambil silet itu.
Zevanya menghela nafas lega setelah berhasil mengambil silet itu tanpa ketahuan, lalu tanpa menunggu lama tangan Zevanya langsung bergerak menyayat tangan lelaki itu cukup dalam hingga terdengar suara jerit kesakitan. Secara refleks lelaki itu pun menjauhkan tangannya yang sejak tadi menempelkan pisau di leher Zevanya.
Pisau itu pun terjatuh dan langsung di tendang jauh oleh Zevanya.
“ AAAHHH!!! PEREMPUAN KURANG AJAR! “
“ RASAKAN ITU! “ teriak Zevanya sambil menginjak kaki pria itu yang kini terduduk sambil memegangi tangannya yang baru saja mendapat sayatan begitu dalam dari Zevanya.
“ Bangun, Zee! “ Devanka menarik tangan Zevanya untuk berdiri, setelah itu Devanka maju mendekati lelaki itu dan menginjak kepala lelaki itu dengan kencang berkali – kali hingga wajahnya berdarah – darah.
“ Ampun! “ jeritnya berusaha menghindari dari sepatu Devanka yang terus menghantam wajahnya.
“ Tidak ada ampun bagimu! “ sekali lagi Devanka menginjak wajah lelaki itu dengan lebih bertenaga sampai disepatunya menempel banyak darah.
“ Sudah, dev! Ayo kita pergi dari sini sebelum polisi datang! “ Zevanya menarik tangan Devanka agar mengikutinya berlari keluar. Terlihat Devanka masih bernafsu ingin menghajar lelaki itu tetapi terpaksa menyudahi aktivitasnya itu karena Zevanya menarik tangannya untuk pergi keluar.
Tepat ketika Devanka sudah sampai di dekat mobil, terdengar suara sirine polisi memasuki parkiran café yang saat ini terdapat banyak kerumunan orang – orang yang saat ini merasa ketakutan karena ada p*********n di dalam café.
“ Ayo kita pergi, Zee! “ mereka berdua buru – buru masuk ke dalam mobil dan Devanka pun segera melajukan kendaraanya itu dengan cepat menjauh dari sana.
**
Devanka melajukan mobilnya sangat kencang agar cepat sampai di rumahnya, ia menoleh ke arah Zevanya yang saat ini memegangi dahinya yang berdarah – darah. Melihat Zevanya seperti itu membuat Devanka jadi kebingungan, ia tidak menyimpan tissue atau apapun yang dapat digunakan untuk membersihkan darah Zevanya.
Devanka pun melihat di depan ada sebuah apotik, tanpa berfikir lama dia langsung membelokkan mobilnya masuk ke dalam parkiran apotik tersebut.
“ Kenapa berhenti disini, dev? “ tanya Zevanya.
“ Kamu tunggu disini. “ Devanka buru – buru keluar dari mobil dan masuk ke dalam apotik, ia membeli berbagai macam obat dan perlengkapan untuk mengobati luka.
Tanpa Devanka sadari, saat ini dia keluar dalam keadaan babak belur dengan memar di beberapa bagian wajahnya dan juga terdapat bercak darah di beberapa bagian tubuhnya. Devanka tidak perduli dengan penampilannya saat ini meskipun beberapa orang yang berada di dalam apotik menatapnya penuh pertanyaan karena yang terpenting baginya saat ini dia sudah mendapatkan apa yang ingin dia beli.
Devanka kembali ke mobil setelah membeli apa yang dia perlukan.
“ Taro ini di bagian dahi kamu untuk sementara waktu agar darahnya tidak terus mengalir. “ Devanka menyerahkan kapas kepada Zevanya dan gadis itu langsung mengambilnya.
“ Terima kasih. “ Zevanya mebuka kapas tersebut dan segera dia gunakan untuk menahan darah yang masih keluar dari luka yang terdapat di dahinya.
“ Kenapa kamu bodoh sekali! “ tiba – tiba saja Devanka marah – marah padanya.
“ Apa maksud kamu, dev? “ tanya Zevanya tetapi Devanka tidak membalas pertanyaannya. Lelaki itu lebih memilih diam saja dengan raut wajah menahan emosi membuat Zevanya terheran - heran. Padahal, baru saja Devanka bersikap perhatian padanya dengan membelikan kapas ke apotik, tapi sedetik kemudian Devanka jadi terlihat marah padanya. Entah apa yang terjadi pada lelaki itu, Zevanya sendiri tidak bisa memahaminya.
Devanka menghentikan mobilnya ketika sudah sampai di parkiran rumahnya. Dia mengambil plastik yang berisi perlengkapan untuk mengobati luka yang dia beli tadi di apotik dan setelah itu dia buru – buru turun dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Zevanya. Saat itu, Zevanya fikir Devanka bersikap baik karena telah membukakannya pintu tetapi ternyata lelaki itu langsung menarik tangannya kasar agar cepat keluar dari mobil.
“ Ikut aku! “ tanpa memperhatikan langkah Zevanya yang hampir terjatuh, Devanka terus saja berjalan cepat menarik Zevanya agar mengikuti langkahnya yang begitu cepat.
“ Kita mau kemana, dev? “
“ Tidak usah banyak bicara! “
Ternyata, Devanka membawa Zevanya ke kamar. Ketika sudah berada di dalam kamar, tiba – tiba saja Devanka melemparkan tubuh Zevanya dengan kasar ke atas kasurnya.
“ Aww….” Zevanya meringis kesakitan ketika tubuhnya di hempaskan dengan kasar oleh Devanka karena tangannya yang tadi sempat terkilir kini jadi tertekan oleh tubuhnya sendiri.
Zevanya merasa terkejut dan bingung karena Devanka tiba – tiba jadi seperti ini, padahal kondisi Zevanya saat ini cukup memprihatinkan dengan dahinya yang masih berlumuran darah dan belum sempat di obati, tapi bukannya mendapat pertolongan, justru Devanka malah memperlakukan Zevanya dengan kasar.
“ Kamu sudah membuatku kesal! “ teriak Devanka yang kini berdiri di samping kasur.
“ Apa maksud kamu, dev? Kenapa kamu jadi kesal padaku? Padahal, aku telah menolong kamu sampai aku sendiri jadi terluka seperti ini. “ Balas Zevanya dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.
“ Justru karena kamu telah menolongku dan itu yang membuatku kesal! “ bentak Devanka membuat Zevanya terlonjak kaget. Lelaki itu membungkukan tubuhnya agar lebih dekat menatap Zevanya. “ Kamu akan mendapatkan hukuman dariku, Zee! “
“ Apa? “ tentu saja Zevanya terkaget – kaget karena Devanka ingin memberikannya hukuman disaat dia sudah banyak terluka seperti ini. “ Kenapa kamu ingin menghukum aku, Devanka? Apa kesalahanku? “
“ Kesalahanmu adalah kamu tidak menuruti perintahku! “ Devanka menarik tangan Zevanya agar kembali berdiri. “ Aku menyuruh kamu pergi ke mobil tetapi kamu malah tetap berada di dalam café dan sok jadi pahlawan! “
“ Sa—sakit, dev. “ Zevanya merasakan nyeri karena tangannya yang tadi terkilir kini di cengkram kuat oleh Devanka. “ Aku melanggar perintahmu juga demi kebaikan kamu, Devanka! Kenapa kamu tega masih ingin menghukumku! “
“ Aku tidak perduli! “ Devanka menarik tangan Zevanya menuju kamar mandi.
“ Dev… apa yang ingin kamu lakukan! “ Zevanya berusaha menahan tubuhnya agar tidak mengikuti Devanka yang terus menarik tangannya, tapi tubuhnya semakin melemah dan tenaganya tidak cukup kuat, alhasil Zevanya membiarkan saja dirinya untuk mengikuti Devanka masuk ke dalam kamar mandi.
“ Kamu harus mendapat hukuman! “
**