- KESEMPATAN EMAS -

3915 Kata
Zevanya masih trauma karena tadi dia hampir saja kehabisan nafas disaat Devanka menenggelamkan kepalanya ke dalam air dalam waktu yang cukup lama. Untung saja ada Bodyguard Devanka yang baik hati menyelamatkannya, sepertinya Zevanya sudah berhutang budi pada Leo.   “ Kapan hari – hariku menjadi lebih indah? “ gumam Zevanya sambil menggosokan handuk ke rambut tebalnya.   Saat ini Zevanya masih berada di taman, ia sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk tetapi Devanka memintanya untuk membawakan buah anggur. Dia pun menurut saja dan terpaksa menghentikan aktivitasnya tadi.   Zevanya berjalan menuju kamar Devanka dengan perasaan was – wasan, ia takut kalau Devanka akan melakukan sesuatu yang buruk lagi kepadanya, tapi dia mencoba untuk memberanikan diri menemui lelaki itu. Ketika Zevanya masuk ke dalam kamar, terlihat Devanka sedang berdiri didekat jendela dengan posisi membelakanginya. Kedua tangan Devanka berada di dalam saku celana dengan pandangan ke arah luar jendela.   “ Devanka, ini buah anggurnya. “ Zevanya meletakan piring yang terdapat buah berwarna ungu dan berbentuk bulat terlihat begitu segar di atas meja.   Devanka membalikkan badannya, lalu berjalan mendekati meja dan mengambil satu buah anggur yang langsung dia makan. Sambil mengunyah buah tersebut, ia memperhatikan Zevanya yang kini berdiri disampingnya dengan kepala tertunduk.   Seulas senyuman jail tercetak di wajah Devanka, ia mengambil satu buah anggur lagi dan menawarkan kepada Zevanya. “ Kamu mau? “   Zevanya mendongakan kepalanya, ia melirik sebentar buah anggur yang kini berada ditangan Devanka, lalu Zevanya beralih menatap Devanka. “ Aku tidak mau. “ Tolaknya.   “ Aku tidak suka penolakan. “ Balas Devanka dengan ekspresi datar tetapi mampu membuat Zevanya takut karena jika lelaki itu mendapatkan penolakan sudah pasti akan melakukan sesuatu yang merugikan kepada Zevanya.   “ Baiklah, aku mau anggur itu. “ Zevanya ingin mengambil buah anggur yang sejak tadi berada ditangan Devanka, tetapi tiba – tiba saja Devanka menjauhkan tangannya membuat Zevanya terdiam bingung.   “ Giliran aku sudah mau anggur itu, kenapa kamu malah menjauhkannya dariku? “ Zevanya menatap Devanka penuh pertanyaan.   Devanka tersenyum miring lagi, ia memberikan ekspresi sedikit menyeringai sambil menatap Zevanya. “ Tidak semudah itu, Zee. Ambil anggur ini dari mulutku! “ Devanka meletakkan buah anggur tersebut di bibirnya sendiri tetapi dia tidak mengigit buah itu. Devanka menempelkan anggur itu di bibir bagian luarnya hanya untuk sekedar menahan supaya tidak terjatuh.   Tentu saja Zevanya tercengang mengetahui bahwa dirinya harus mengambil buah yang kini setengan menempel di bibir Devanka. Mata Zevanya mengerjap cepat dengan perasaan tak karuan, ia merasa setiap harinya lelaki itu selalu mempermainkan dirinya.   Melihat Zevanya hanya diam, Devanka menarik Zevanya agar mendekatinya, ia menunjuk buah yang kini masih berada di permukaan bibirnya sebagai bentuk isyarat agar Zevanya segera mengambil anggur dari mulutnya. Mata Devanka melotot tajam pertanda dia mulai marah karena Zevanya sangat lelet mengambil tindakan. Kalau Devanka sudah begitu, apalagi yang bisa Zevanya lakukan selain menuruti kemauan lelaki kejam dihadapannya itu.   Zevanya memejamkan matanya sebentar seraya mengatur kadar ketegangan yang menyeruak di dalam dirinya. Dia merasa risih untuk mengambil buah itu dari bibir Devanka, tetapi mau tidak mau, Zevanya harus melakukan hal tersebut.   Perlahan Zevanya berjinjit untuk mencapai bibir Devanka. Maklum saja, Devanka memang memiliki tubuh yang cukup tinggi melebihi Zevanya sehingga membuat gadis itu harus jinjit untuk mendekati wajahnya ke bibir Devanka karena lelaki itu tidak mau sedikit pun membungkukkan badannya untuk mempermudah Zevannya mencapai bibirnya.   Merasa kesulitan menggapai anggur yang masih melekat dibibir Devanka, secara refleks Zevanya meletakkan kedua tangannya di pundak Devanka sebagai pegangan untuk mempermudah dirinya berjinjit lebih tinggi.   Devanka sempat melirik tangan Zevanya yang menempel di pundaknya tetapi dia biarkan saja, ketika dia beralih menatap Zevanya ternyata gadis itu sudah semakin mendekat dengan wajahnya.   Sebelum mengambil anggur itu dari bibir Devanka, gadis itu sempat memandang sebentar kedua bola mata Devanka yang kini juga sedang menatapnya dengan intens. Sial! Entah mengapa tatapan lelaki itu mendebarkan jantung Zevanya hingga membuat dia kehilangan konsentrasi. Tak ingin berlama – lama dalam situasi yang membuat jantungnya berdisko, dengan cepat mulut Zevanya mengambil anggur itu dari bibir Devanka.   Untung saja Devanka tidak menahan anggur itu dan membiarkan saja Zevanya mengambilnya dengan mudah, tapi satu hal yang mereka rasakan satu sama lain yaitu, bibir mereka berdua tadi sempat bersentuhan meskipun hanya sekilas tetapi cukup menciptakan suasana canggung antara mereka berdua.   Sambil mengunyang buah anggur tersebut, Zevanya menurunkan kakinya yang sejak tadi berjinjit, lalu menarik tangannya yang berada di pundak Devanka dan mulai melangkah mundur untuk memberi jarak antara dirinya dengan Devanka.   “ Kalau sudah tidak ada yang kamu butuhkan, aku ingin ke bawah. “ Ucap Zevanya yang sudah selesai menghabiskan anggur di mulutnya.   Devanka mengerutkan dahinya karena sejak tadi merasakan sesuatu yang bergemuruh di dalam tubuhnya, ia sampai memegang d@danya sendiri untuk mengecek debaran jantungnya yang berdetak begitu cepat.   Melihat Devanka sejak tadi memegangi d@danya sendiri membuat Zevanya jadi penasaran dan langsung bertanya. “ Ada apa, dev? Apa jantungmu terasa sakit? apa kamu punya riwayat penyakit jantung? “   Pertanyaan konyol itu Zevanya lontarkan, dia tidak tahu saja kalau lelaki dihadapannya sedang  deg – degan akibat sentuhan bibirnya tadi.   Devanka tidak menjawab pertanyaan Zevanya tetapi tangannya bergerak membuka laci meja yang berada didekatnya, lalu ia mengambil sebuah benda yang berbentuk seperti pisau carter. Hal itu membuat Zevanya jadi panik karena berfikir Devanka akan menghukumnya lagi meskipun dia tidak tahu apa kesalahannya.   ‘ Apa lagi yang akan pria kejam ini lakukan kepadaku? ‘  batin Zevanya ketika melihat Devanka kini berjalan mendekatinya. Zevanya pun menundukkan kepalanya takut disaat lelaki itu sudah berdiri dekat dihadapannya.   Devanka mengangkat dagu Zevanya menggunakan benda tersebut agar kepalanya mendongak dan menghadapnya. Tubuh Zevanya gemetar ketakutan melihat kini sebuah benda mengerikan itu menempel di dagunya.   “ A—apa yang ingin kamu lakukan, dev? Apa kamu akan menyayatku dengan pisau itu? “ Zevanya bertanya – tanya dengan perasaan cemas.   Devanka tersenyum miring, ia menjauhkan benda itu dari dagu Zevanya, lalu menekan tombol kecil di bagian tengah benda yang berbentuk carter tersebut. Betapa kagetnya Zevanya ketika melihat ternyata yang muncul bukannya pisau melainkan sebuah sisir untuk rambut.   “ Tenang saja, aku tidak ingin menyakitimu. “ Ucap Devanka seraya berjalan duduk di pinggir kasur. “ Kemarilah. “ Devanka menepuk kasur di sampingnya memberikan isyarat agar Zevanya duduk disebelahnya.   Dalam keadaan bingung, Zevanya menuruti saja untuk duduk di sebelah Devanka.   “ Menghadap kesana. “ Kali ini Devanka memerintah agar Zevanya duduk membelakanginya dan gadis itu mengikuti perintahnya. Zevanya segera membalikan badannya.   “ Apa yang akan kamu lakukan? “ Zevanya bertanya – tanya, dengan kepala setengah menoleh ke arah Devanka.   “ Aku hanya ingin membantu untuk menyisir rambutmu yang terlihat berantakan ini. “ tangan Devanka mulai bergerak untuk menyisir rambut lurus berwarna hitam kecoklatan dengan panjang sebahu milik Zevanya yang masih sedikit basah.   Zevanya terheran – heran karena Devanka mau menyisir rambutnya yang saat ini memang terlihat sedikit berantakan karena dalam keadaan basah. Zevanya benar – benar tidak bisa memahami sikap Devanka yang sulit ditebak. Terkadang Zevanya berfikir bahwa lelaki ini sangat kejam tetapi disisi lain, sesekali Devanka juga menunjukkan kebaikannya. Jadi, haruskah Zevanya menyebutnya lelaki kejam yang baik hati? Ah tidak masuk akal karena orang yang baik tentunya tidak akan bersikap kejam. Sudahlah, kalau terus memikirkan tentang Devanka tidak akan menemukan titik terang.   “ Apa tadi kamu merasa takut ketika aku menenggelamkan kepalamu? “ Pertanyaan Devanka kali ini seharusnya tidak perlu di jawab karena semestinya lelaki itu tahu dari raut wajah dan jeritan Zevanya ketika kepalanya dibenamkan ke dalam kolam renang tentunya menunjukkan bahwa Zevanya benar – benar ketakutan setengah mati. Lalu, mengapa dia bertanya seperti itu? apakah baginya jeritan Zevanya tadi terdengar sangat menyenangkan seperti instrumen mengerikan kesukaan Devanka yaitu Dark Piano yang menurut lelaki itu menyenangkan untuk di dengar. Jika memang Devanka menganggapnya seperti itu, sungguh Zevanya ingin sekali membenturkan kepala Devanka agar lelaki itu hilang ingatan, lalu saat itu juga Zevanya akan mengajarkan Devanka hal – hal yang normal dan membuat Devanka melupakan sikap psikopatnya yang anehnya.   Itu hanya seandainya saja, karena untuk saat ini Zevanya belum memiliki keberanian yang cukup untuk bertindak jauh seperti itu.   “ Kenapa kamu diam, Zee? Aku bertanya apakah kamu takut atau tidak? “ Devanka mengulang pertanyaannya.   “ Bukan hanya takut, tetapi aku juga merasa trauma atas apa yang sudah kamu lakukan kepadaku, dev. “ Jawab Zevanya dengan hati – hati karena takut membuat Devanka marah kepadanya.   “ Jika kamu tidak ingin mendapatkan perlakuan buruk seperti itu lagi, tolong nurut kepadaku, Zee. Bukankah keinginanku sangat sederhana? Kamu cukup menuruti apapun perintahku.  “ Balas Devanka, ia sudah selesai menyisir rambut Zevanya yang kini terlihat rapih.   Zevanya terdiam. Memang benar permintaan Devanka sangat sederhana yaitu agar dirinya selalu menuruti perintahnya tetapi disini yang membuat segalanya rumit adalah permintaan Devanka yang selalu saja menakutkan bagi Zevanya dan bisa membuat mentalnya terganggu, seperti kemarin contohnya yaitu ketika Devanka menyuruh Zevanya untuk membunuh orang. Memang terkesan simple bagi Devanka hanya mengucapkan kalimat.  ‘ Bunuh dia. ‘ Namun Devanka tidak merasakan bagaimana Zevanya begitu tertekan dan ketakutan dengan permintaanya itu.   ‘ Dasar psikopat! ‘ batin Zevanya menggeram kesal.   “ Rambutmu sudah terlihat rapih. “ Ucap Devanka.   Zevanya pun membalikkan badannya menghadap Devanka. “ Terima kasih. “ Ucapnya berlagak ramah, padahal dalam hatinya terus saja merutuki Devanka.   “ Hm. “ Devanka hanya berdehem seraya menaruh kembali sisir itu ke dalam laci.   “ Dev, kenapa sisir itu bentuknya seperti pisau carter? “ tanya Zevanya penasaran.   Devanka tersenyum tipis. “ Bukankah itu keren? “ Devanka balik bertanya.   “ Apa kamu bilang? keren? “ Zevanya menggeleng. “ Bagiku itu sangat mengerikan. Bahkan, tadi aku fikir kamu ingin menyayatku dengan pisau. “ Imbuhnya.   Devanka tertawa hanya satu kali suara saja, setelah itu dia menyampingkan rambut Zevanya membuat gadis itu nampak terkejut dengan sikap lelaki itu, apalagi Devanka kini menggeser duduknya agar lebih dekat dengannya.   “ Zee, apa kamu ingin tinggal dirumahku? “ tanya Devanka langsung mendapat gelengan cepat dari Zevanya.   “ Tidak! “ Zevanya menolak mentah – mentah. “ Aku ingin tetap tinggal di apartemen bersama kedua adikku. “ Tambahnya.   “ Kenapa? bukankah menyenangkan tinggal di rumah megah ini? nanti aku akan memberikan kamu kamar, zee. Kamu juga tidak perlu bulak – balik dan keluar biaya untuk berangkat kerja kesini. “ Devanka mencoba untuk merayu gadis itu agar mau tinggal dirumahnya.   “ Gak apa – apa aku bulak – bali, dev. Aku tetap memutuskan untuk tinggal di Apartemen. “ Jawab Zevanya. Dia lebih baik capek dan keluar biaya tambahan untuk ongkos dibanding tinggal dirumah Devanka yang terasa seperti neraka baginya.   Devanka memajukkan wajahnya kehadapan Zevanya sambil berkata dengan suara yang terdengar menggoda. “ Apa kamu takut jika bersama denganku setiap saat apabila kita satu atap? “   Zevanya terdiam seraya meneguk salifanya dengan susah payah, ia mencoba untuk menatap Devanka yang kini memandangnya dengan senyuman menyeringai. Zevanya ingin sekali menjawab bahwa dia sebenarnya memang takut jka tinggal bersama Devanka tetapi dia merasa was – was kalau lelaki itu akan marah saat mendengar jawabannya itu, alhasil Zevanya memilih diam saja.   Mata Devanka kini beralih memandang perut Zevanya. Devanka jadi mengingat kejadian kemarin yaitu saat dirinya berdebat dengan Zevanya karena gadis itu telah menuduhnya sudah menikmati tubuh Zevanya disaat Devanka sedang menggantikan pakaian Zevanya yang kala itu terdapat banyak bercak darah, padahal kenyataanya tidak seperti yang Zevanya fikirkan.   Devanka masih menatap perut Zevanya sambil bertanya. “ Bagaimana? Apakah sudah ada tanda – tanda kehamilan? “ sindir Devanka karena sebetulnya dia memang tidak melakukan apa – apa disaat menggantikan pakaian Zevanya, lalu bagaimana Zevanya bisa hamil sedangkan tidak ada yang terjadi antara mereka berdua.   Zevanya menggeleng sambil memengang perutnya. “ Tidak ada tanda – tanda, dev.  Ya, semoga saja hal itu tidak akan pernah terjadi karena aku tidak mau hamil, kecuali ketika aku menikah nanti. “ Terangnya sambil mengusap perutnya sendiri.   Alis Devanka terangkat satu seraya bertanya. “ Memangnya siapa yang ingin menikah denganmu? “ tanya nya dengan tatapan remeh.   “ Yang pasti seorang laki – laki. “ Jawab Zevanya seadanya.   Tangan Devanka meraih dagu Zevanya, lalu berkata. “ Bagaimana kalau aku yang akan menikahimu? ” pertanyaan yang terdapat unsur menggoda itu membuat Zevanya jadi merasa gugup.   Dalam hati, Zevanya mencibir bahwa dia tidak sudi menikah dengan Devanka yang merupakan anak seorang pimpinan geng sindikat kejahatan dan sudah banyak membunuh orang dengan sangat kejam. Sepertinya, semua itu sudah cukup menjadi alasan untuk Zevanya tidak perlu jatuh cinta, apalagi sampai menikah dengan Devanka.   “ Bagaimana? apa kamu mau aku nikahi? “ Devanka bertanya lagi.   “ Aku tidak tahu. “ Zevanya bangun dari duduknya. “ Jika kamu sudah tidak membutuhkan apa – apa lagi aku ingin—“   “ Temani aku keluar. “ Potong Devanka.   “ Mau kemana? “ tanya gadis itu.   “ Ikut saja. “ Devanka bangun dari duduknya, mengambil konci mobil di atas meja, lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Zevanya yang masih terdiam.   “ Ayo, Zee. Apa perlu aku menyeretmu? “ tanya Devanka yang sudah berada di ambang pintu keluar.   “ Tidak. “ Zevanya buru – buru menghampiri Devanka sebelum lelaki itu benar – benar menyeretnya untuk sampai keluar.   **   Devanka menghentikan mobilnya di depan sebuah cafe yang ingin dia datangi hanya untuk sekedar bersantai dan menikmati coffe. Devanka melirik Zevanya yang saat ini tertidur.   “ Perempuan ini selalu tidur jika di ajak naik mobil. “ Devanka menggeleng heran, ketika mobil melaju pasti gadis itu mulai mengantuk dan akhirnya terlelap. Padahal, saat ini masih siang dan perjalanan yang ditempuh pun tidaklah jauh tetapi sudah membuat Zevanya tertidur.   Tangan Devanka mulai bergerak mengguncang pelan tubuh Zevanya beberapa kali hingga gadis itu mulai menggeliat dengan mata yang masih terpejam. Entah mengapa kini pandangan Devanka jadi terfokus ke arah bibir merah jambu milik Zevanya yang sedikit terbuka.   Tanpa di sadari, ternyata saat ini Devanka mulai memajukkan wajahnya untuk mendekati bibir Zevanya, ia sampai meneguk ludahnya dengan susah payah karena merasa kikuk. Tak hanya itu saja, Devanka juga merasakan darahnya berdesir deras ketika memperhatikan Zevanya dengan jarak yang cukup dekat seperti saat ini.   Sedetik kemudian, Devanka langsung memundurkan wajahnya untuk menjauh dari hadapan Zevanya. “ Sial! Apa – apaan ini! “ Devanka memejamkan matanya seraya mengusap wajahnya dengan kasar untuk menghilangkan fikirannya yang tadi sempat berniat ingin mencium bibir Zevanya.   Rupanya, suara Devanka yang tadi bicara cukup keras membuat Zevanya jadi terbangun.   “ Ada apa, dev? “ tanya Zevanya seraya duduk tegak, ia mengerjapkan matanya beberapa kali sambil mengusap leher belakangnya yang terasa sedikit pegal karena posisi tidurnya tadi dengan kepala yang sedikit menyamping.   Devanka menggeleng. “ Tidak ada apa – apa. “ Jawabnya dengan tangan yang bergerak membuka SeatBelt. “ Kenapa kamu mudah sekali tertidur? “ tanya nya.   Zevanya terkekeh. “ Aku tidak tahu. “ Mata Zevanya menatap ke arah luar jendela dan melihat bahwa kini sudah berada di parkiran sebuah café. “ Kita mau ngapain, dev? “   Sebelum menjawab, Devanka menghela nafasnya. “ Mau bunuh orang. “ Jawabnya menakuti Zevanya.   “ A—apa? “ Zevanya menggelengkan kepalanya dengan cepat. “ Aku tidak ingin turun! aku mau disini saja, dev!  “ Zevanya terlihat ketakutan sekali karena berfikir jika dirinya ikut turun, pasti nanti Devanka juga akan menyuruhnya untuk membunuh orang. Zevanya tidak ingin melakukan hal keji itu untuk yang kedua kalinya.   Devanka berdecak. “ Apa kamu bodoh? Ini café dan di dalam aku ingin bersantai sambil menikmati coffe, bukan untuk membunuh orang. “ Di akhir pembicaraan Devanka menggelengkan kepalanya karena merasa perempuan disebelahnya saat ini terlalu polos dalam menanggapi segala hal.   Ekspresi ketakutan yang semula tercetak di wajah Zevanya mendadak pudar dan gadis itu kini terkekeh. “ Oh, kirain kamu beneran mau bunuh orang. “ Katanya sambil cengar - cengir.   “ Ayo turun. “ Devanka pun turun lebih dulu, kemudian di ikuti oleh Zevanya. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam café. Zevanya berjalan di belakang Devanka yang saat ini berada didepannya, lelaki itu cepat sekali melangkahkan kakinya sedangkan Zevanya memilih untuk berjalan santai saja.   Di dalam café terdapat banyak anak muda yang duduk bersantai, ketika melihat kedatangan Zevanya, sekumpulan anak muda itu langsung menatap Zevanya bagai singa sedang memantau mangsanya.   “ Bro! ada cewek cakep, noh. “ Ucap salah satu lelaki yang tertuju kepada Zevanya.   “ Godain, bro! duh, mana body nya mantab betul kayak gitar spanyol! “ mereka berdecak kagum. “  Sepertinya dia sendirian aja datang kesini. “ Sahut lelaki lainnya melihat Zevanya berjalan sendirian saja tidak bersampingan dengan Devanka.   Memiliki perawakan yang tidak terlalu tinggi dengan tubuh semampai namun berisi, serta mempunyai wajah yang cantik dilengkapi lesung pipit cukup dalam di kedua pipinya, lalu disempurnakan lagi oleh hidung mancung bak orang arab milik Zevanya membuat gadis itu terlihat menawan.   Zevanya sempat menoleh ke arah mereka sekilas, lalu ia memberikan seulas senyuman manisnya karena para lelaki itu lebih dulu tersenyum kepadanya. Setelah itu Zevanya mengalihkan pandangannya ke arah lain.   “ Menurut kalian, dia gampang gak kalo kita ajak ke club terus nginep di hotel? “ lelaki itu menunjuk ke arah Zevanya yang kini sedang menghadap ke arah lain.   Devanka yang menyadari saat ini para lelaki itu sedang menatap Zevanya penuh arti sambil membicarakannya pun langsung mendadak emosi, ia menghentikan langkahnya sehingga membuat Zevanya yang berada dibelakangnya menabrak punggung Devanka.   BUKK…   “ Aduh!! “ Zevanya mengusap keningnya yang membentur punggu Devanka. “ Kamu kenapa berhenti dadakan, sih? “ tanya nya.   Devanka membalikkan badannya, lalu meraih tangan Zevanya dan kembali berjalan dengan menggandeng gadis itu membuat Zevanya jadi kebingungan kenapa tiba – tiba Devanka jadi menuntunnya.   Sambil berjalan menuju tempat duduk, mata Devanka tertuju ke arah para lelaki yang sejak tadi menatap Zevanya, ia sengaja menunjukkan tangannya yang saat ini saling bertaut dengan Zevanya, seolah – olah dia sedang memberitahu kepada mereka agar tidak memandangi Zevanya atau bahkan berniat menggodanya karena gadis itu adalah miliknya.   Para lelaki itu pun langsung mengalihkan pandangannya tak lagi menatap Zevanya setelah melihat Devanka menatap ke arah mereka dengan sinis sambil menggengam erat tangan Zevanya. “ Yah, bro! Ternyata dia datang kesini sama cowoknya. “ Ucap salah satu dari mereka. Sebelumnya, mereka fikir Zevanya hanya sendiri datang kesini karena tadi gadis itu berjalan dibelakang Devanka bagai orang asing.   Devanka memilih untuk duduk dibangku paling pojok. Pelayan pun datang menghampiri tempat duduk Devanka saat ini untuk mencatat apa yang Devanka dan Zevanya inginkan. Setelah mencatat pesanan mereka berdua, pelayan itu pun pergi untuk menyiapkan makanan.   “  Zee, apa kamu tahu kenapa tadi aku menggandengmu? “ tanya nya.   “ Aku tidak tahu. “ Balas Zevanya.   “ Aku melakukan itu agar kamu tidak terus dipandangi oleh para lelaki hidung belang yang berada disana! “ seru Devanka dengan tangan yang menunjuk ke arah kumpulan lelaki yang tadi sempat membicarakan Zevanya.   Zevanya melihat ke arah lelaki yang baru saja Devanka sebut Hidung Belang. Dia tidak mengerti mengapa Devanka bisa menuduh mereka seperti itu, padahal Devanka saja tak mengenali mereka.   “ Kenapa kamu berfikir kalau mereka seperti itu? “ Zevanya menopang dagunya sambil menunggu jawaban Devanka.   “ Aku dapat melihat dari mata mereka penuh arti ketika memandangmu. “ Devanka menyandarkan punggungnya di penyangga kursi, dia tidak menjelaskan secara rinci apa yang tadi dia dengar bahwa para lelaki itu memiliki niat buruk pada Zevanya.   “ Kalau begitu, aku harus berterima kasih padamu karena sudah menyelamatkanku dari pandangan buruk mereka. “ Balas Zevanya berterima kasih.   “ Meskipun aku suka menyakitimu, tapi aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh dan melukaimu, Zee. Jika sampai itu terjadi, maka mereka harus kehilangan nyawa nya! “ seru Devanka terdengar mengerikan tetapi juga membuat hati Zevanya tersentuh karena Devanka sampai begitu kejam kepada orang yang ingin mencoba melukainya.   ‘ Tumben sekali dia berkata manis. Ya, walaupun tetap ada unsur mengerikannya. ‘ Batin Zevanya.   Tak lama makanan pun datang dan mereka berdua mulai menikmati hidangan yang dipesan masing – masing. Tiba – tiba saja, disaat Devanka sedang menikmati minumannya yaitu menyeruput Coffe Flat White mendadak terkejut ketika melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam café. Posisi duduk Devanka yang saat ini menghadap ke arah pintu masuk membuat lelaki itu dapat melihat jelas siapa saja yang datang.   “ Roger!! “ seru Devanka seraya meletakkan gelas coffe di atas meja dengan kasar membuat Zevanya yang sedang menikmati pasta jadi terkejut. “ Kenapa dia ada disini? “ Devanka bertanya dengan nafas memburu.   “ Ada apa, dev? “ Zevanya dapat melihat jelas kini dahi Devanka berkerut dengan alis yang saling bertautan, kedua tangan Devanka yang berada di atas meja kini terkepal kuat., mata lelaki itu menatap lurus ke arah lain. Zevanya pun mencoba mengikuti arah padangan Devanka yang saat ini tertuju ke arah seorang lelaki yang dapat Zevanya perkirakan berumumur kepala empat.   Terlihat lelaki itu dikawal oleh sekitar lima orang Bodyguard.   “ Kenapa kamu terlihat kesal, dev? “ Zevanya terus saja bertanya – tanya.   “ Zee… cepat kamu lari ke mobil sekarang juga! “ Devanka menyerahkan konci mobilnya kepada Zevanya. “ Cepat! “ bentak Devanka ketika melihat Zevanya hanya diam saja.   “ Tapi…”   “ Zee, jangan buat aku marah dan akan menggorok lehermu! “ ancam Devanka langsung membuat Zevanya ketakutan setengah mati, ia segera mengambil konci mobil dan bangun dari duduknya untuk segera pergi.   Disisi lain, saat ini Roger sedang bicara kepada para Bodyguardnya.   “ Ini kesempatan bagi kita untuk membunuh anak Jazon Ulpio selagi dia tidak dalam pengawasan para penjaganya! “ perintah Roger yang ternyata musuh bebuyutan keluarga Ulpio yang tak lain rival bisnis papahnya Devanka yang ingin berkuasa tetapi selalu gagal mengalahkan keluarga Ulpio. Namun, kali ini Devanka sedang sial karena ditemukan oleh Roger dan para Bodyguardnya dalam keadaan tanpa pengawalan dari para penjaganya karena dia datang ke café hanya bersama Zevanya.   “ Siap Bos! Kami akan bunuh dia! “   Roger pun tidak mengikuti para Bodyguardnya yang pergi ke arah Devanka. Lelaki itu memilih untuk keluar café dan menunggu di mobil saja menanti kabar tentang kematian Devanka dari para Bodyguardnya.   Ketika Zevanya sudah sedikit menjauh dari Devanka, terlihat para Bodyguard itu mulai mendekat ke arah Devanka. Zevanya pun menghentikan langkahnya untuk melihat apa yang akan terjadi, namun di saat yang bersamaan ternyata Devanka juga sedang melihat ke arah Zevanya, lelaki itu memberikan tatapan tajam ke arah Zevanya seolah – olah menyuruhnya untuk segera pergi. Akhirnya, Zevanya pun kembali melanjutkan langkahnya karena di tatap seperti itu.   BRAKK…   Tiba – tiba saja terdengar suara benda terjatuh begitu keras, Zevanya yang ingin membuka pintu keluar pun kembali berhenti untuk melihat apa yang terjadi saat ini. Seketika mulut dan mata Zevanya terbuka lebar karena ternyata suara keras yang tadi terdengar bukan berasal dari suara benda jatuh melainkan tubuh Devanka yang baru saja di lempar karena mendapat serangan dari para Bodyguard itu hingga saat ini posisi Devanka berada di atas meja kayu yang sudah terbelah dua karena terlalu kencang tubuh dia dibanting oleh komplotan berbadan kekar itu.   Semua yang ada di dalam café pun berlarian keluar karena takut melihat kejadian tersebut, tubuh Zevanya sampai terombang – ambing karena saat ini dia berada ditengah – tengah pintu keluar membuatnya terdorong ke kanan dan kekiri oleh para pengunjung lainnya yang berebut ingin keluar dari cafe.   Zevanya pun melipir dan memilih untuk tidak ikut berlarian keluar café, ia masih terdiam melihat kini Devanka sedang diserang habis – habisan alias di keroyok oleh komplotan itu.   Zevanya bagai patung yang tak bergerak sedikit pun melihat kejadian mengerikan di hadapannya. Tapi, tiba – tiba saja ada sesuatu yang terlintas di otaknya ketika menyadari bahwa ini saatnya bagi Zevanya untuk pergi menyelamatkan diri dan lapor ke polisi karena tidak ada Bodyguard Devanka yang mengawasinya serta lelaki itu juga tidak dapat berkutik. Namun, Zevanya jadi bimbang karena dia tidak tega mendapati Devanka saat ini dipukuli oleh mereka.   Sekarang, gadis itu nampak gelisah dan resah, tetapi dia harus cepat mengambil keputusan karena tidak ingin kehilangan kesempatan emas seperti ini. Baiklah, saat ini Zevanya sudah mengambil keputusan dengan penuh tekad.   “ Aku tidak perduli dengan Devanka! Sebaiknya, aku laporkan saja dia ke polisi! “ Ungkap Zevanya, ia berusaha menyampingkan perasaan tidak teganya melihat Devanka saat ini dipukuli oleh para Bodyguard itu karena keselamatannya saat ini adalah yang paling penting.  **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN