Sebuah jurang yang begitu dalam terlihat tidak digenangi oleh air melainkan justru jurang tersebut dipenuhi cairan lava panas yang berapi – api. Zevanya yang berdiri dipinggiran jurang tersebut gemetar ketakutan, ia membalikkan badannya untuk segera menjauh namun tiba – tiba dia melihat sosok lelaki yang pernah dia temui ketika di club. Zevanya menghentikan langkahnya ketika melihat kedua lelaki itu semakin mendekatinya, ia melangkah mundur untuk menjauh sampai akhirnya Zevanya tidak bisa bergerak kemana pun karena dia sudah berada di pinggir jurang.
“ Pergi! “ teriak Zevanya agar pria berbadan kekar dengan rambut cepak dan pria berbadan kurus dengan tato yang memenuhi lehernya itu segera menjauh darinya, tetapi mereka malah semakin mendekat.
Kedua mata pria itu melotot dengan darah yang berlumuran di tubuhnya menambah kadar kengerian bagi Zevanya saat melihat mereka berdua. “ Kamu sudah membunuhku! kamu harus mati sekarang juga! “ ucap pria berbadan kurus dengan leher tatonya yang berlumuran darah.
“ Tidak! tolong maafkan aku! Sungguh aku sangat menyesal! “ Zevanya menangis dengan tubuh mengigil ketakutan, ia menoleh kebelakang dengan ngeri karena cairan lava yang bergejolak bagai kuah sayur baru matang menimbulkan hawa panas yang luar biasa.
“ Kamu akan pergi ke neraka sekarang juga karena telah membunuhku! “ saat itu juga kedua pria itu mendorong tubuh Zevanya hingga jatuh kedalam jurang dan membiarkan Zevanya tenggelam dan meleleh bersama lava panas itu.
“ TIDAAAK!!! Tolong maafkan aku!! “ Jerit Zevanya ketakutan merasa tubuhnya sangat panas tenggelam di dalam lava. “ Aku terpaksa membunuhmu! “
Devanka yang sedang duduk dipinggir kasur sambil memperhatikan Zevanya pun kaget ketika Zevanya terus menjerit. Dengan cepat Devanka pun langsung mengguncang pelan tubuh gadis itu agar terbangun.
“ Zee…Zee! Buka matamu! “ Devanka menepuk pelan pipi Zevanya berkali – kali.
Seketika Zevanya tersadar dan membuka kedua matanya dengan keringat yang membasahi dahinya, ternyata tadi Zevanya mengalami mimpi yang sangat buruk hingga tangis dan ketakutannya sampai terbawa kedunia nyata. Mungkin kalian pernah merasakan hal yang sama sepertinya ketika bermimpi sampai menangis hingga terbangun.
Zevanya terbangun duduk dengan raut wajah penuh ketakutan. “ Ada apa? “ tanya Devanka kepada Zevanya yang masih terlihat begitu shock.
Zevanya menekuk kakinya dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya, ia menangis sejadi – jadinya sambil berkata. “ Maafkan aku…tolong maafkan aku!! sungguh aku tidak ingin membunuhmu! “ Zevanya berkata seperti itu berkali – kali, ia benar – benar merasa sangat bersalah karena sudah membunuh pria itu, tangisnya kembali pecah sampai tubuhnya gemetar.
Perlahan tangan Devanka mengelus punggung Zevanya sambil mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak memberikan ketenangan. “ Aku tahu kamu sangat ketakutan. Itu hal yang sangat wajar ketika pertama kali membunuh orang, tapi percayalah seiring berjalannya waktu, hidupmu akan kembali damai. “ Ucap Devanka dengan enteng membuat Zevanya mengangkat kepalanya yang sejak tadi terbenam, ia memberikan tatapan tajam kepada Devanka.
“ Hidup dengan damai? ” tanya Zevanya penuh penakanan. “ BAGAIMANA AKU BISA HIDUP DENGAN DAMAI SETELAH MENGHILANGKAN NYAWA ORANG! “ Zevanya bicara dengan teriakan sekuat tenaga, ia mendorong kencang tubuh Devanka hingga lelaki itu terjatuh duduk dilantai. “ DASAR GILA! “ tambah Zevanya, ia benar – benar frustasi sampai tidak memikirkan lagi akibat dari perlakuannnya tadi kepada Devanka. Dia tidak perduli lelaki itu akan marah padanya atau tidak.
“ Aku sudah sangat berdo… saa! Aku sangat berdosa, dev…“ ucap Zevanya gemetar, ia mencengkram seprai kasur yang saat ini dia tempati.
Devanka beranjak berdiri, ia memberikan tatapan tenang tak tersulut emosi dengan apa yang sudah Zevanya lakukan kepadanya justru dia malah memberikan senyuman yang entah artinya apa, Zevanya sendiri tidak mengerti.
“ Sudahi tangismu, ini sudah malam apa kamu tidak ingin pulang? “ Devanka mendekati Zevanya, ia memperhatikan gadis yang masih menangis penuh penyesalan. “ Kamu pingsan terlalu lama sampai hari sudah mulai gelap. “ Tambahnya.
Zevanya mengusap air matanya, ia memperhatikan sekelilingnya dan tersadar kalau saat ini dia berada di dalam kamar Devanka. Mata Zevanya beralih menatap kedua tangannya yang sudah bersih tidak ada darah lagi, lalu dia memperhatikan pakaiannya yang sudah berganti mengenakan kaos milik Devanka yang sama seperti sebelumnya pernah Zevanya pakai, hanya saja kali ini berwarna hitam.
“ Apa kamu tidak ingin bilang terima kasih karena aku sudah baik hati membersihkan darah yang ada ditubuhmu? “ tanya Devanka kembali duduk dipinggir kasur.
Mata Zevanya melebar, ia tidak berfikir harus berterima kasih pada Devanka karena saat ini yang ada di otaknya hanyalah sesuatu yang ingin dia pertanyakan yaitu siapa yang menggantikan baju dan celananya.
“ Siapa yang menggantikan pakaianku? “ tanya Zevanya dengan rasa cemas.
“ Aku. “ Jawab Devanka dengan santai tetapi langsung membuat tubuh Zevanya mendadak lemas. Lelaki dihadapannya ini benar – benar mengusik ketenangan hidupnya dan membuatnya nyaris gila dengan segala perlakuannya.
“ Apa kamu sudah gila? mengapa kamu yang menggantikan pakaianku! “ Zevanya memukul – mukul d@da Devanka melampiaskan kekesalannya.
Devanka pun menahan tangan Zevanya yang ingin memukulnya lagi. “ Lalu, kamu ingin siapa yang menggantikan pakaianmu? “ Devanka memberikan senyuman miring.
Zevanya mencoba menarik tangannya yang di pegang Devanka sambil menatap lelaki itu penuh kebencian.
“ Alasan! “ seru Zevanya.
“ Pakaianmu terkena cipratan darah, aku tidak mungkin membiarkanmu tetap memakai baju itu. “ Terang Devanka. “ Dirumah ini tidak ada lagi perempuan selain kamu. Aku juga tidak mungkin menyuruh Bodyguardku yang menggantikannya karena aku tidak akan mempercayakan dan memberikan mereka kesempatan untuk melihat tubuhmu, Zee. “ Ungkapnya berterus terang membuat Zevanya tersadar kalau dia satu – satunya perempuan yang bekerja dirumah ini selain Alin yang saat ini sedang di luar negeri.
Devanka melepaskan tangan Zevanya yang sejak tadi dia tahan dan perlahan Zevanya pun menurunkan tangannya dengan tatapan kosong. Matanya kembali tergenang air ketika membayangkan Devanka membuka pakaiannya disaat dia dalam keadaan tidak sadarkan diri.
“ Tolong katakan apa saja yang sudah kamu lakukan ketika menggantikan pakaianku, dev. Aku butuh kejujuranmu. “ Zevanya bertanya dengan rasa cemas yang memenuhi dirinya.
“ Apa maksud kamu? “ Devanka bertanya balik. “ Apa kamu fikir aku akan memanfaatkan situasi untuk menikmati tubuhmu dalam keadaan tidak berdaya? “ kali ini Devanka bicara dengan nada sewot. “ Dari pada seperti itu, lebih baik aku menyewa perempuan di club. “ Tambahnya.
Zevanya terdiam beberapa saat mendengar penjelasan Devanka, ia bingung harus percaya atau tidak karena dia pun tidak punya bukti kuat kalau Devanka benar – benar tidak melakukan apapun ketika dia tak sadarkan diri.
“ Aku tak yakin jika seorang laki – laki yang sudah membuka pakaian perempuan tidak melakukan apa – apa. “ Ucap Zevanya masih tak percaya.
“ Hei? “ Devanka meraih dagu Zevanya. “ Aku hanya mengganti baju dan celana kamu saja tetapi tidak membuka pakaian dalam kamu, Zee. Tentu saja aku tidak melihat bagian itu karena tahu itu adalah privasi perempuan. “ Devanka menjauhkan tangannya yang tadi menyentuh dagu Zevanya.
“ Zee, aku memang pembunuh tetapi aku tidak ada niat sedikitpun untuk menghancurkan kehormatan perempuan! Bukankah aku sudah pernah mengatakan itu padamu? “ Devanka memperjelas lagi agar Zevanya tidak salah sangka.
“ Terserah! “ Zevanya beranjak turun dari kasur. “ Aku anggap kamu berkata benar, tetapi jika dalam waktu dekat ini aku hamil…“ Mata Zevanya menyalah – nyalah penuh amarah menatap Devanka. “ Aku minta pertanggung jawaban kamu! “ tegas Zevanya.
“ Tergantung. “ Balas Devanka membuat Zevanya semakin kesal.
“ Apa maksud kamu? “ tanya Zevanya dengan sewot yang kini berdiri dihadapan Devanka yang masih duduk dipinggir kasur.
“ Kalau tiba – tiba kamu hamil tetapi itu bukan anakku gimana? “ Devanka ikut berdiri, kini mereka berdua saling berhadapan. “ Aku tidak melakukan apapun kepadamu, tapi jika kamu tiba – tiba hamil…itu berarti kamu pernah berhubungan dengan lelaki lain! “ ungkapnya membuat Zevanya kesal sekali.
“ Apa kamu fikir aku perempuan murahan yang dengan mudahnya berhubungan dengan lelaki lain? begitu menurutmu? “ Zevanya mendongakan dagunya. “ Kamu sudah membuat hidupku banyak menderita dan sekarang kamu juga sudah merendahkanku! “
Devanka setengah melotot karena sejak tadi Zevanya banyak bicara. “ Tutup mulutmu atau aku akan membunuhmu sekarang juga! “ ancam Devanka langsung membungkam Zevanya yang masih ingin marah – marah pada lelaki kejam dihadapannya.
Zevannya manggut – manggut. “ Baiklah, sebaiknya aku pulang saja! “ Zevanya pun membalikkan badan untuk segera pergi.
“ Zee…” Panggil Devanka membuat langkah gadis itu berhenti.
“ Ada apa? “ tanya nya.
“ Para Bodyguardku akan memantaumu, jadi jangan coba untuk melaporkan kejadian hari ini kepada polisi! “ ancam Devanka sebelum Zevanya dengan nekat ingin bertindak sesuatu.
Zevanya hanya bisa menghela nafas kasar, ia kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi dari rumah megah yang pemiliknya sangat mengerikan lebih dari berbagai jenis hantu di dunia.
**
Malam semakin larut tetapi Zevanya belum juga tertidur, ia berdiri didekat jendela memandangi dunia malam yang mulai sunyi. Dia masih memikirkan apa yang telah dilakukannya yaitu membunuh seseorang. Itu menjadi momok yang sangat menakutkan dan akan selalu teringat dalam hidupnya sampai kapanpun.
TES…
Perlahan air matanya kembali menetes. Zevanya yakin, siapapun tidak akan kuat menghadapi kenyataan mengerikan seperti ini. Dia benar – benar sudah merasa sangat berdosa apalagi sampai bermimpi dirinya diceburkan kedalam lava panas, apakah tuhan benar – benar sudah mengutuknya? Lagi – lagi, tangisnya semakin terisak ketika mengingat semua kejadian yang membuat hidupnya begitu tertekan. Dia harus merahasiakan ini dari siapapun terutama kedua adiknya, Zevanya tidak ingin mereka tahu kalau kakaknya sudah menjadi seorang pembunuh.
“ Mamah….Papah…Zee kangen sama kalian berdua. “ Dengan tubuh bergetar dan tangisnya yang semakin menjadi – jadi membuat malam ini bagai penuh derita. Sungguh, jika bukan karena kedua adiknya saat ini juga Zevanya ingin melompat dari jendela dan menjemput ajalnya sendiri.
Merasa lelah hari ini banyak menangis, Zevanya pun memilih untuk tidur supaya dapat melupakan sejenak penderitaannya yang terus datang silih berganti. Satu hal yang Zevanya pinta kepada tuhan semoga mau mengampuni perbuatannya yang sudah melakukan kejahatan tingkat tinggi.
Pagi harinya ketika sarapan, Zevanya hanya melamun saja, ia tidak memiliki nafsu makan karena terus teringat darah yang keluar dari leher lelaki itu membuat kepalanya jadi pusing membayangkannya.
“ Kak zee kenapa pucat sekali wajahnya? “ tanya Ninis memperhatikan kakaknya yang terlihat lesuh sekali.
“ Iya, apa kakak sedang sakit? “ Neo ikut bertanya.
Zevanya berusaha menampilkan senyumnya. “ Enggak, kok. Kakak sehat sekali. “ Zevanya menuangkan air kedalam gelas Ninis dan Neo. “ Kalian tidak usah khawatir, kakak mu ini baik – baik saja. “ Ucapnya agar kedua adiknya tidak cemas dengan keadaannya.
“ Syukurlah kalau kakak baik – baik saja. “
“ Ninis…Neo, hari ini kalian gak apa – apa kan, kalau kakak gak anter ke sekolah? “ tanya Zevanya, ia merasa hari ini benar – benar tidak bersemangat.
“ Iya gak apa – apa. “
“ Ingat selalu pesan kakak ya, dek. “
“ Siap kak! kami tidak akan bicara pada orang asing. “
Setelah kedua adiknya berangkat sekolah, Zevanya duduk di sofa hanya untuk sekedar melamun. Hari ini dia tidak memikirkan apapun, bahkan Zevanya tidak perduli kalau Devanka akan marah padanya. Sepertinya, dia sudah siap mendapatkan sayatan sebagai bentuk hukuman karena dia tidak masuk hari ini.
Detik, menit dan jam berlalu, ia hanya termenung bagai orang mulai kehilangan akal sehat. Sekali lagi perlu diingatkan bahwa Zevanya sangat trauma dengan kejadian kemarin, semua ini tidak mudah baginya menerima kenyataan bahwa dia sudah menjadi seorang pembunuh.
Apakah kalian bisa membayangkan bagaimana kacaunya Zevanya saat ini? tentu saja ini sangat merusaakk mentalnya.
Tiba – tiba ponsel Zevanya bergetar dan ternyata itu pesan dari tante Maya yang isinya menanyakan kabar Zevanya berserta kedua adiknya. Zevanya pun membalas pesan tersebut dengan mengatakan semuanya dalam keadaan baik – baik saja, padahal tante nya tidak tahu saja kalau Zevanya saat ini bagai hewan yang dirantai sehingga tidak bisa bergerak bebas dan harus menuruti tuannya.
Tak lama ponsel Zevanya berdering lagi dan ternyata kali ini Devanka yang menelefonnya. Sejujurnya dia malas untuk mengangkat tetapi pada akhirnya dia pun menjawab telefon tersebut.
Ketika ponsel sudah menempel ditelinga Zevanya, sebuah suara penuh penekanan terdengar.
‘ Apa kamu sudah bosan hidup? ‘
“ Aku butuh waktu untuk menenangkan diri, dev. “ Jawab Zevanya dengan suara tak bertenaga.
‘ Aku tidak perduli! Apapun yang terjadi, kamu harus tetap masuk kerja! ‘ kecamnya tanpa merasa iba sedikitpun.
“ Hari ini saja, dev. Tolong berikan aku waktu dan kamu tenang saja aku libur bekerja tidak akan melaporkan kamu kepolisi. “
‘ Datang kerumahku sekarang juga atau kamu tidak akan pernah melihat kedua adikmu lagi, Zee! ‘ Ancaman Devanka kali ini langsung membuat Zevanya menegang.
“ Jangan, dev. Ba—baiklah, aku akan segera datang kerumahmu. “ Zevanya sampai terbata – bata ketika bicara karena terlalu panik, ia yakin bahwa ancaman Devanka tidak main – main dan Zevanya tidak ingin kehilangan adiknya hanya karena kesalahannya.
‘ Bagus! Aku tunggu secepatnya! Kalau terlalu lama, maka kamu akan kehilangan nyawa adikmu untuk selamanya! ‘
Telefon pun terputus dan Zevanya bersiap untuk pergi. Dia melangkah dengan terburu – buru agar cepat sampai sebelum Devanka menyakiti kedua adiknya.
Sampainya dirumah Devanka, gadis itu langsung menuju kamar Devanka tetapi dia tidak menemukannya dan ketika bertanya kepada salah satu Bodyguard, katanya Devanka sudah menunggunya di dekat kolam renang. Dengan segera Zevanya menuju kesana.
Di dekat kolam renang, terlihat Devanka sedang duduk santai ditemani salah satu Bodyguardnya yang sering memberikan Devanka pisau ketika ingin membunuh musuhnya. Dapat Zevanya prediksi bahwa pria itu adalah salah satu Bodyguard yang paling dekat dengan Devanka.
“ Dev? “ sapa Zevanya ketika sudah berdiri dihadapan Devanka.
“ Kamu tahu? aku tidak suka orang yang melanggar peraturan! “ Devanka mengeluarkan silet dari saku belakang celanya, lalu memberikan kepada Zevanya.
“ Apa maksud kamu memberikan silet ini untukku? “ Zevanya bertanya seraya mengambil benda kecil namun sangat tajam dari tangan Devanka.
“ Sebagai hukuman karena kamu berniat untuk tidak masuk kerja hari ini, aku ingin kamu menyayat tubuhmu sendiri! “ Perintah Devanka membuat Zevanya terdiam memperhatikan silet ditangannya.
“ Cepat!! “ bentak Devanka membuat Zevanya bergidik ngeri.
“ Dibagian mana? “ Zevanya bertanya kepada Devanka bagian tubuhnya yang mana harus di sayat.
“ Disana. “ Devanka menunjuk bagian perut Zevanya membuat gadis itu menghela nafas berat, ia fikir akan mendapatkan sayatan ditangan tetapi ternyata dibagian lain. Zevanya ingin sekali protes namun dia takut kalau hukumannya akan bertambah.
“ Baiklah. “ Akhirnya dia mengangguk saja, setidaknya kali ini Zevanya menyayat dengan tangannya sendiri sehingga tidak akan terlalu dalam dan kesakitan. Perlahan, Zevanya mengangkat sedikit bajunya untuk menyayat tipis perutnya dengan silet.
Srttt….
Zevanya meringis pelan, ia sengaja sangat tipis menyayat perutnya sehingga darah yang keluarpun hanya sedikit, setelah itu Zevanya langsung menutup perutnya karena malu terlihat oleh Devanka dan Bodyguardnya yang sejak tadi memperhatikannya.
Zevanya memberikan silet itu kepada Devanka. Tadinya, Zevanya berfikir kalau Devanka akan menyayatnya lebih banyak dengan sangat menyakitkan sebagai hukuman, tetapi dugaannya salah karena lelaki itu tidak memberikan hukuman berat dan bahkan menyuruhnya untuk menyayat sendiri. Bagi Zevanya itu sudah termasuk hukuman ringan.
Devanka berdiri seraya menyimpan silet yang masih terdapat darah Zevanya kedalam sakunya, setelah itu dia menatap gadis dihadapannya dengan serius. “ Apa yang ada di otakmu sampai berani melanggar peraturanku? “ tanya nya dengan penuh penekanan.
“ A—aku....” Belum sempat Zevanya menjelaskan, tiba – tiba tangan Devanka mencengkram wajahnya.
“ Sekali lagi kamu melakukan hal bodoh seperti hari ini, aku pastikan akan memotong kedua kepala adikmu! “ ancam Devanka terdengar begitu mengerikan sampai menyebabkan air mata ketakutan mengalir dipipi Zevanya.
“ Ma—maafkan aku, dev! Aku tidak akan melakukannya lagi. “ Ucap Zevanya dengan sangat memohon.
“ Kamu sudah membuatku marah, Zee! Aku sudah cukup baik padamu tetapi kamu sulit sekali untuk menurut padaku! “ Devanka semakin kuat mencengkram kedua pipi Zevanya membuat gadis itu kesakitan.
“ Dev….sakit!! kamu sudah menghukumku, kenapa kamu masih marah padaku. “ Zevanya bicara dengan nafas terisak.
“ Apa kamu fikir aku hanya menghukum kamu dengan memberikan satu sayatan? “ Devanka tersenyum miring. “ Aku akan memberikan hukuman lain agar kamu jera! “ Devanka pun menarik tangan Zevanya kepinggir kolam, lalu dia menyuruh gadis itu untuk berlutut.
“ Apa yang akan kamu lakukan, dev? “ tanya Zevanya dengan wajah penuh ketakutan, ia sudah berlutut di pinggir kolam renang.
Devanka berjongkok disebelah Zevanya sambil berkata. “ Aku akan memberikanmu hukuman yang berbeda! “ tangan Devanka memegang leher belakang Zevanya, lalu dia menenggelamkan kepala gadis itu kedalam kolam renang hingga gadis itu nampak memberontak karena kesulitan bernafas.
Zevanya berteriak minta ampun tetapi tidak terdengar jelas karena hanya gelembung – gelembung air yang bergerak kepermukaaan. Secara membabi buta Devanka semakin menekan agar kepala Zevanya semakin dalam terbenam di dalam air. Devanka tidak berfikir apapun selalin memuaskan kekesalannya kepada Zevanya yang sudah berani melanggar aturannya, sedangkan Bodyguard yang berada dibelakangnya nampak tidak tega melihat seorang gadis diperlakukan seperti itu.
“ Maaf tuan dev. “ Bodyguardnya yang sejak tadi diam melangkah maju.
“ Ada apa? “ tanya Devanka dengan tatapan tajam karena merasa diganggu.
“ Jangan terlalu lama menenggelamkan kepala gadis itu nanti dia kehilangan nafas dan tuan dev akan kesulitan lagi mencari asisten lagi. “ Ucapnya agar Devanka mau menyudahi hukuman menenggelamkan kepala Zevanya dikolam.
Devanka mendengarkan saran dari Bodyguardnya itu yang ada benarnya juga, akhirnya dia pun menarik kasar rambut Zevanya agar kepalanya terangkat ke udara dan menyudahi membenamkan kepala gadis itu dari dalam air.
“ Uhu…Uhuk….” Zevanya terbatuk – batuk dengan nafas terengah – engah, dia hampir saja kehabisan nafas karena sejak tadi kepalanya ditahan Devanka agar tetap tenggelam didalam air. “ Ma—ma—maafkan aku, dev. Uhuk…Uhuk…” Zevanya terlihat kewalahan dengan hukuman Devanka kali ini.
“ Ini tidak seberapa! “ Devanka berdiri, ia memperhatikan Zevanya tanpa rasa kasihan sedikitpun. “ Kalau kamu membuatku kesal lagi, aku akan membakarmu hidup – hidup! “ ancamnya setelah itu Devanka pergi meninggalkan Zevanya dalam keadaan menyedihkan.
Gadis itu terduduk dipinggir kolam renang sambil menangis dengan bagian kepalanya yang basah kuyup dan mata memerah, ia memegangi tenggorokannya yang terasa seperti tercekik karena terlalu banyak menelan air.
“ Ayo bangun. “ Bodyguard Devanka yang masih berada didekatnya mengulurkan tangan untuk membantu Zevanya.
Zevanya menatap lelaki yang masih terlihat mudah dan gagah itu dengan tatapan memelas.
“ Apa kamu akan menyakitiku? “ tanya Zevanya karena takut kalau lelaki itu disuruh Devanka untuk menambah hukuman kepadanya.
“ Tidak. “ Lelaki itu tersenyum, ia membungkukkan tubuhnya untuk mengangkat bahu Zevanya agar berdiri. “ Aku tidak akan menyakitimu. “
“ Terima kasih. “ Ucap Zevanya dengan suara serak karena sejak tadi dia berusaha teriak di dalam air.
Lelaki itu menggiring Zevanya untuk duduk di bangku yang berada disana, lalu dia pergi mengambil handuk dan kembali lagi mendekati Zevanya dengan memberikan handuk.
“ Pakai ini untuk mengelap wajah dan mengeringkan rambut kamu. “ Lelaki itu berdiri dihadapan Zevanya yang kini menatapnya bingung karena Bodyguard Devanka yang satu ini sangat ramah dan baik kepadanya.
“ Terima kasih. “ Balas Zevanya, ia mulai mengelap wajahnya yang basah.
“ Baiklah, kalau begitu aku ingin kembali bekerja. “ Ketika lelaki itu ingin membalikan badannya, Zevanya bertanya sesuatu kepadanya.
“ Siapa nama kamu? “ Zevanya bertanya nama lelaki itu.
Lelaki itu kembali menghadapnya untuk menjawab. “ Namaku Leo. “
Zevanya mengangguk. “ Namaku, Zee. “ Balasnya.
Setelah itu tidak ada percakapan lagi karena lelaki gagah dan baik hati yang bernama Leo itu pergi dan mulai menghilang dari padangan Zevanya.
**