- TUHAN, MAAFKAN AKU! -

2870 Kata
Selama perjalanan pulang, sesekali Devanka melirik Zevanya yang sedang mengusap sedikit darah di sikut tangannya menggunakan tissue. Devanka memang suka melihat Zevanya nampak kesakitan tetapi jika itu dia sendiri yang membuatnya bukan orang lain seperti kedua pria kurang ajar di club.   “ Devanka, badanku terasa sakit dan pegal – pegal. Apakah besok aku boleh izin untuk tidak masuk bekerja? “ tanya Zevanya dengan harapan Devanka mau memaklumi keadaannya yang sedang tidak enak badan, ditambah lagi kini beberapa anggota tubuhnya terluka karena insiden tadi di club.   “ Tidak! apa kamu lupa? Aku sudah bilang tidak ada libur walaupun kamu sakit! “ tegasnya membungkam Zevanya. Padahal, gadis itu fikir setelah sikap perhatian yang Devanka tunjukkan kepadanya akan membuatnya mudah untuk izin kali ini.   Zevanya tidak berkata apapun lagi, ia tahu pasti semuanya akan sia – sia dan dia takut justru akan mendapat hukuman jika terlalu cerewet.   Ketika sudah sampai di parkiran apartemen, Zevanya sudah bersiap untuk turun namun Devanka menahannya. “ Tunggu dulu. “   “ Ada apa, dev? “ Zevanya memperhatikan Devanka yang saat ini sedang mengambil dompet dan mengeluarkan banyak uang.   “ Aku sudah bilang akan membayarmu cash hari ini juga. “ Devanka menyerahkan uang itu kepada Zevanya yang melongo melihat uang sebanyak itu. “ Kita sudah bersama selama empat jam dan aku membayarmu sesuai dengan perjanjian kita sejak awal. “   Zevanya mengambil uang itu dengan senang hati. “ Terima kasih, dev. “   “ Apa kamu ingin aku gendong lagi sampai depan apartemen mu? “ tawar Devanka tentu saja langsung mendapat penolakan karena Zevanya tidak ingin Devanka tahu tempat tinggalnya lebih detail.   “ Tidak perlu, dev. Cukup sampai disini saja. “ Zevanya menyimpan uang itu, lalu buru – buru turun dari mobil. “ Aku pulang dulu ya. Selamat malam. “ Zevanya berusaha berjalan cepat agar menjauh dari Devanka meskipun dengan langkah tidak seimbang karena lututnya sakit.   Devanka yang masih berada didalam mobil memantau gadis itu sampai sudah tidak terlihat lagi, ia tersenyum miring. “ Kenapa dia selalu ketakutan setiap aku ingin mengantar sampai depan apartemenya? “ Devanka pun tidak ingin banyak berfikir, ia langsung pergi menjauh dari sana.   Ketika Zevanya sampai di apartemen, untungnya kedua adiknya sudah tertidur sehingga tidak melihatnya dalam keadaan kacau seperti ini. Zevanya pun langsung membersihkan diri sekalian mencuci jaket milik Devanka yang dipinjamkan untuknya agar besok kering dan bisa dia kembalikan. Zevanya merasakan perih ketika air mengenai bagian tubuhnya yang terluka, tak hanya itu saja, seluruh badannya terasa ngilu.   “ Hidupku benar – benar penuh derita. “ Ucap Zevanya yang sudah selesai membersihkan diri, ia berjalan menuju kamar adiknya. Tangan Zevanya bergerak membuka pelan pintu kamar adiknya agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan mereka berdua. Terlihat Ninis dan Neo nampak terlelap dengan damai, hal itu membuat Zevanya tersenyum setiap kali melihat wajah adiknya, ia jadi memiliki semangat untuk hidup.   “ Kalau bukan karena kalian berdua, mungkin kakak sudah pergi menemui mamah dan papah. “ Ucapnya memandang kedua adiknya, setelah itu dia kembali menutup pintu kamar adiknya dan berjalan menuju tempat tidurnya.   “ Ah…sakit sekali lutut ku. “ Zevanya naik ke atas tempat tidur dan meluruskan kakinya ketika sudah duduk di atas kasur, ia mengambil kotak obat di meja yang berada tepat disamping kasurnya, lalu ia mulai mengobati beberapa lukanya itu sambil sesekali meringis pelan. “ Untung saja Devanka datang tepat waktu, jika tidak…” Zevanya bergidik ngeri mengingat kejadian tadi. “ Mungkin, aku sudah kehilangan kehormatanku. “ Tambahnya.   Meskipun dia sangat terharu atas tindakan Devanka yang sudah menolongnya tetapi dia tidak habis fikir kenapa lelaki itu tidak membiarkannya libur sehari saja, apalagi Devanka tahu bagaimana kondisi Zevanya saat ini.   “ Aku tidak bisa memahami sifat Devanka karena dia seperti bunglon, dapat berubah – ubah setiap saat. “ Ucapnya seraya merapihkan kotak obat itu dan mulai merebahkan tubuhnya, ia sudah mulai mengantuk.   “ Semoga besok hari yang sangat menyenangkan. “ Ungkapnya dengan mata terpejam meskipun dia tahu kemungkinan hari yang sangat menyenangkan sangat kecil. Zevanya sangat menginginkan kebahagian yang sudah lama dia tidak rasakan karena semenjak kematian orang tuanya, hanya gubuk derita yang dia dapatkan.   Pagi harinya, seperti biasa Zevanya mengurusi kedua adiknya sebelum berangkat kerja. Dia berusaha terlihat tegar meskipun tubuhnya terasa sakit bagai ingin remuk.   Ninis dan Neo memperhatikan Zevanya dengan tatapan penuh pertanyaan. Dia bingung mengapa tangan dan lutut kakaknya nampak memar.   “ Kak, kenapa ada banyak luka di tangan dan kakimu? “ tanya Neo.   Zevanya jadi sedikit gugup, ia mencoba untuk terlihat baik – baik saja. “ Jatuh. “ Jawabnya.   “ Jatuh darimana? apakah masih terasa sakit lukanya? “ Ninis ikut bertanya, ia khawatir dengan kakanya itu.   “ Sudah tidak sakit, kok. Kalian berdua tenang saja ya. “ Zevanya mengusap kedua kepala adiknya, ia tidak mau mereka berdua cemas, oleh sebab itu Zevanya berusaha menunjukkan ekspresi ceria meskipun itu semua hanya sebuah kepalsuan.   “ Oh iya, hari ini kakak akan bayar uang SPP kalian berdua. Jadi, kalian berdua tidak perlu khawatir akan ditagih terus setiap saat. “ Ucap Zevanya memberitahu.   “ Darimana kakak mendapatkan uang dalam waktu cepat? “ Neo bertanya dengan serius.   “ Um…” Zevanya mengusap leher belakangnya seraya berfikir untuk mencari alasan yang tepat. “ Kakak sudah gajian. “ Bohongnya.   “ Perasaan, kakak baru saja bekerja. Kenapa cepat sekali sudah mendapat gaji? “ Ninis ikut bertanya, nampaknya kedua adik Zevanya sangat kritis terhadap sesuatu, ia seperti sedang di interview oleh Ninis dan Neo.   “ Bos kakak baik, jadi dia langsung memberikan gaji pertama kepada kakak. “ Jawab Zevanya seraya mengambil jaket milik Devanka yang semalam dia cuci dan untungnya sudah kering. “ Sudah, ayo kita berangkat. “ Untuk menghindari pertanyaan berikutnya dari kedua anak kecil yang selalu ingin tahu,  Zevanya mengajak mereka untuk segera berangkat sekolah.    “ Baiklah. “   Ninis dan Neo tidak tahu saja kalau kakaknya mendapat uang dalam jumlah banyak harus lembur dan menghadapi insiden mengerikan dulu. Namun, Zevanya tidak menyesal karena dia akan melakukan apapun demi kepentingan kedua adiknya.   **   Zevanya membawakan segelas coffe untuk Devanka yang saat ini duduk santai di halaman belakang, setelah itu Zevanya ingin segera pergi tetapi lelaki itu menahannya.   “ Tetap disini! “ perintah Devanka dan Zevanya tidak jadi melangkah, ia duduk di bangku tepat disebelahnya.   “ Ada apa, dev? “ tanya Zevanya.   Devanka diam mengamati Zevanya, ia memperhatikan beberapa luka Zevanya.   “ Apa semua luka sudah kamu obati? “ tanya nya.   “ Sudah. “ Jawabnya.   “ Bagus. “ Devanka manggut – manggut, ia mengambil secangkir coffe dan menyeruputnya beberapa kali. “ Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepadamu, Zee. “ Ucap Devanka seraya meletakkan gelas itu di atas meja.   “ Apa, dev? “ Zevanya nampak sangat penasaran.   “ Tunggu saja. “ Ucap Devanka dan Zevanya pun diam.   Tak lama, datang beberapa penjaga membawa kedua lelaki yang tidak asing bagi Zevanya. Ya, mereka adalah kedua pria biadaab yang semalam hampir merenggut kehormatannya.   “ Lepasin! “ teriak kedua pria yang kini di giring mendekati Devanka. Mereka berdua berusaha untuk memberontak tetapi kedua tanganya diikat, jadi tidak bisa berbuat banyak selain berteriak.   “ Devanka? Itu lelaki semalam yang kamu pukulin, kan? “ tanya Zevanya dijawab anggukan oleh Devanka. “ Apa itu sesuatu yang ingin kamu tunjukkan kepadaku? “   “ Ya, Zee. “ Devanka bangun dari duduknya, ia menatap Zevanya dengan sedikit menyeringai. “ Zee, aku ingin mengajarkanmu sesuatu yang sangat menyenangkan. “   “  Sesuatu yang menyenangkan? “ Zevanya ikut berdiri. “ Apa itu, dev? “   “ Apa kamu ingin tahu? “ Devanka semakin membuat Zevanya penasaran.   “ Tentu saja. “ Balasnya.   Para Bodyguard itu berhenti di dekat Devanka dan segera menyuruh kedua lelaki yang terlihat sudah babak belur itu untuk berlutut. Devanka berjalan kehadapan kedua pria yang semalam dia pukuli tanpa ampun, ia mengingat jelas apa yang sudah mereka lakukan pada Zevanya dan itu tidak bisa dia terima.   “ Tolong lepaskan kami berdua! “ pinta lelaki berbadan kekar dengan rambut cepak.   Devanka tersenyum miring. “ Apa kamu fikir saya sebaik itu akan melepaskan kalian berdua dalam keadaan hidup? “ Devanka sedikit membungkukkan tubuhnya, ia mencengkram wajah lelaki itu dengan tatapan mengerikan. “ Saya tidak akan membiarkan manusia sepertimu berkeliaran dimuka bumi ini! “ kecamnya.   “ Apa mau mu? “ Lelaki yang berbadan kurus dengan tato memenuhi lehernya bertanya.   Devanka berganti menatap lelaki itu dan tangannya beralih untuk mencengkram rambutnya. “ Saya ingin nyawa kamu! “ balasnya membuat kedua lelaki itu sangat terkejut. Tak hanya mereka saja, Zevanya pun ikut shock mendengarnya.   Zevanya yang berdiri sedikit jauh dari kerumunan itu dapat melihat jelas salah satu Bodyguard memberikan Devanka sebilah pisau yang dapat dipastikan itu sangat tajam.   Zevanya jadi gemetar, ia memang benci pada kedua pria itu tetapi Zevanya masih punya hati dan merasa tidak tega jika melihat mereka berdua dibunuh.   Melihat Devanka memegang pisau tajam, kedua pria itu langsung ketakutan setengah mati.    “ Tidak! tolong jangan bunuh kami! A—apa kamu sudah gila? “   Devanka manggut – manggut. “ Ya, anggap saja saya sudah gila. Jadi, kamu jangan berharap mendapat belas kasihan dari orang yang tidak waras seperti saya! “ senyuman penuh kengerian itu selalu Devanka tunjukkan.   Devanka membalikkan badannya, ia melihat kini Zevanya membeku tak bergerak dengan tatapan penuh ketakutan.   “ Zee, kemarilah. “ Panggil Devanka membuat Zevanya semaki cemas. “ Cepat! “ pintanya dengan nada tinggi agar Zevanya mendekatinya.   Zevanya pun langsung buru – buru menghampiri Devanka. Sekarang, ia sudah dapat melihat jelas kedua wajah pria yang semalam begitu sangar kini nampak seperti anak kecil yang ingin menangis memohon ampun.   “ Tadi, aku bilang padamu ingin mengajarkan sesuatu. “ Devanka memberikan pisau itu ke arah Zevanya. “ Akan aku ajarkan bagaimana cara membunuh orang! “   “ Tidak! “ Zevanya melangkah mundur, tetapi tangan Devanka dengan cepat menahan lengannya agar gadis itu tidak menjauh.   “ Apa kamu ingin membantah perintahku? “ tanya nya dengan mata melotot, ia tidak suka jika menerima penolakan.   “ Dev, aku tidak bisa melakukan ini! “ Zevanya ketakutan setengah mati. Tidak pernah terlintas di hidupnya untuk belajar membunuh orang yang tentu saja sangat aneh dan tak masuk akal mempelajari hal semacam itu.   “ Kenapa kamu tidak mau? ini sesuatu yang sangat menyenangkan, Zee! “ Devanka menarik tangan Zevanya agar gadis itu semakin dekat dengannya. “ Mereka berdua sudah melukai dan ingin menodaai kamu, Zee! Ini saatnya kamu membalas perbuatan mereka! “ Devanka meraih tangan Zevanya dan meletakkan pisau itu tepat di atas telapak tangan Zevanya yang terasa dingin.   Jantung Zevanya ingin berhenti berdetak, ia tidak mengerti pola fikir Devanka yang menganggap membunuh orang adalah sesuatu yang menyenangkan. Baginya, Devanka sudah seperti psikopat yang tak punya hati.   “ Aku gak mau, dev! “ Zevanya menggeleng cepat, kedua bola matanya terlihat sudah dipenuhi air yang siap tumpah. “ Lebih baik kamu saja yang membunuhnya! “ Tangan Zevanya terlihat gemetar, bahkan ia tidak sengaja menjatuhkan pisau itu ke tanah membuat Devanka kesal.   “ Itu perintah dariku dan kamu harus menurutinya! “ Devanka mencengkram wajah Zevanya, matanya semakin lebar menatap tajam Zevanya yang kini sudah mulai menitikan air mata ketakutan.   “ Aku mohon, dev….Sungguh aku tidak bisa! “ tangis Zevanya semakin pecah dengan bibir gemetar.   “ Kamu turuti apa yang aku mau atau nasibmu akan sama seperti mereka berdua! “ ancam Devanka membuat Zevanya tak berkutik.  “ Lakukan apa yang aku perintahkan! “ tegasnya.   Dengan amat sangat terpaksa, Zevanya menganggukan kepalanya sambil terus menangis. Tentu saja dia tidak dapat menahan air matanya dalam situasi mengerikan seperti saat ini. Jika Zevanya menolak, maka ia akan dibunuh seperti kedua pria itu dan Zevanya tidak mau seperti itu karena memikirkan nasib adiknya jika hidup tanpa dirinya. Zevanya harus tetap hidup demi Ninis dan Neo.   “ Ambil pisau itu! “ perintah Devanka dan Zevanya langsung berlutut untuk mengambil pisau yang tadi dia jatuhkan, lalu ia kembali berdiri tegak.   “ Ini pisaunya. “ Ucap Zevanya yang sudah memegang pisau itu dengan tangan gemetar, dia meneguk ludahnya susah payah karena sangat tegang.   “  Tolong jangan bunuh saya! Dirumah ada keluarga yang sedang menunggu saya. “ Ucapan yang keluar dari pria itu semakin menciutkan nyali Zevanya karena tidak tega mendengarnya.   “ Cepat kamu sayat leher mereka hingga mati! “ Devanka terlihat begitu antusias ingin melihat Zevanya secara perdana membunuh orang.   “ Dev…” Zevanya mengeleng dengan air mata terus mengalir membasahi pipinya. “ Aku tidak sanggup melakukan itu. “   “ Lakukan sekarang juga! “ bentak Devanka mengguncang tubuhnya.   “ Ba—baik, dev. “ Zevanya berjalan dengan langkah gontai mendekati lelaki yang berbadan kurus dengan leher dipenuhi tato sebagai target pertamanya untuk dibunuh.   Dalam hati Zevanya berdoa dan meminta ampun kepada sang pencipta atas dosa besar yang akan dia lakukan saat ini.   “ Tolong jangan bunuh saya! ampuni saya! “ lelaki itu memohon dengan sangat ketakutan, ia belum siap menerima kematian ini.   “ Ma—maafkan aku…” Zevanya menunduk sambil terisak. Sungguh hatinya sangat hancur karena akan menghabisi nyawa orang yang tentunya masih ingin tetap hidup.   “ Kenapa kamu lambat sekali? Aku tidak bisa menunggu terlalu lama! “ teriak Devanka yang sudah tidak sabar, ia pun memilih untuk berjalan mendekati Zevanya.   “ Aku tidak mengerti bagaimana caranya. Aku sangat takut, dev! “ ungkapnya dengan tatapan penuh kegelisahan bicara kepada Devanka.   “ Aku akan mengajarimu! “ Devanka menuntun Zevanya agar berdiri dibelakang pria yang kini berlutut membelakanginya. Setelah itu, Devanka memegang tangan Zevanya yang memegang pisau, lalu mengarahkan kedepan tepat dibagian tengorokan lelaki yang kini berusaha memberontak untuk terbebas namun tidak bisa begerak leluasa karena di kanan dan kirinya ada penjaga yang menahannya.   “ Jangan bunuh saya! “ teriaknya.   Bibir Devanka mendekati telinga Zevanya lalu berbisik. “ Sekarang, kamu sudah bisa menyayat leher lelaki baajingan ini sesuka hati! “ Ucapan ini sangat menusuk telinga Zevanya dan membuat bulu romanya berdiri.   Zevanya hanya terdiam saja.   Setelah memberikan arahan, Devanka pun berdiri sedikit menjauh dari Zevanya untuk membiarkan gadis itu melakukannya sendiri tanpa dia bantu. “ Posisi ini sudah sangat tepat untuk kamu gorok leher lelaki itu, Zee! Cepat bunuh dia! “  perintahnya.   Zevanya menarik nafasnya dalam – dalam, lalu ia memejamkan matanya dan berbisik ditelinga lelaki itu. “ Maafkan aku. “ Lalu dengan cepat Zevanya menggorok leher lelaki itu hingga suara jeritan kesakitan terdengar begitu jelas.   Pisau yang sangat tajam langsung merobek tenggorokan pria malang itu, bahkan suara jeritan yang tadi terdengar menggema mulai menghilang bagai ditelan bumi karena sang pemilik suara nyawanya telah direnggut.   Leher lelaki itu nampak menganga menyebabkan darah keluar begitu deras bagai air mengalir. Tubuh Zevanya terguncang hebat, ia melongo melihat isi didalam tenggorokan lelaki itu yang terlihat jelas membuatnya mual. Zevanya menunduk, ia menatap tangannya berlumuran cairan merah yang sangat kental serta berbau amis dan di saat itu juga Zevanya menjerit ketakutan sambil menatap tangannya yang berlumuran darah.   “ AAA….” Zevanya menjatuhkan pisau itu ke tanah, ia memandangi kedua tangannya dengan sangat ketakutan dan gemetar.  Nafasnya tersenggal – senggal melihat kini lelaki yang baru saja dia gorok lehernya terkapar di rerumputan halaman yang semula berwarna hijau kini berubah jadi merah darah.   Zevanya berlutut, dia menatap lelaki yang sudah menutup matanya rapat – rapat. Zevanya tidak percaya kalau dia sudah membunuh seseorang dan itu membuat tangisnya semakin menjadi - jadi. Perasaanya benar – benar kacau bak kapal pecah.   “ Ya tuhan!! Maafkan aku! “ jeritnya, ia menggelangkan kepalanya sambil mengelap darah di tangannya ke bajunya sendiri. D@danya terasa begitu sesak menghadapi kenyataan ini, bahkan dia merasa telah menjadi makhluk pendosa yang tidak layak untuk dimaafkan.   Di saat Zevanya menangis histeris, justru Devanka malah bertepuk tangan, ia bangga dengan Zevanya. “ Bravo!!! Kamu keren sekali, Zee. Aku bangga padamu! “ Dia tersenyum senang.   “ Devanka…dia sudah mati…dia sudah mati…aku telah membunuhnya! Aku sangat berdosa, dev! Aku sangat berdosa! ” Zevanya bicara dengan air mata yang terus mengalir deras sambil berusaha untuk berdiri, namun lututnya terasa begitu lemas serta penglihatannya kini mendadak kabur dan tiba – tiba saja Zevanya menjatuhkan dirinya tergeletak di rerumputan penuh darah.   Zevanya mulai tak sadarkan diri karena tak tahan menghadapi kenyataan bahwa saat ini dia telah membunuh seseorang. Sungguh itu sebuah mimpi buruk bagi siapapun.   Sementara itu Devanka tersenyum puas, ia merasa kagum atas hasil karya Zevanya yang cukup bagus karena dapat menggorok leher lelaki itu hingga nyaris putus.   “ Kamu memang luar biasa, Zee! “   Terlihat lelaki yang satunya lagi kini sedang menangis dan meratapi nasibnya yang akan menyusul temannya itu.   “ Kenapa dia harus pingsan sekarang, padahal masih ada 1 target lagi. “ Devanka berjalan mendekati Zevanya, ia mengambil pisau yang tergeletak di tanah setelah itu mendekati pria berbadan kekar dengan rambut cepak yang sudah terlihat pasrah.   “ Temanmu sudah mati, ini saatnya kamu ikut menyusul! “ tanpa rasa iba, tangan Devanka langsung bergerak menancapkan pisau itu tepat di atas kepala pria itu hingga langsung mati ditempat.   Selesai menghabisi pria itu, Devanka memberikan pisau penuh darah miliknya kepada Bodyguardnya untuk segera dibersihkan. “ Urus kedua mayat ini! “ perintah Devanka dan para Bodyguardnya langsung faham karena kegiatan seperti ini sudah menjadi makanan sehari – hari.   Devanka mengusap cipratan darah pria tadi yang mengenai wajahnya seraya berjalan mendekati Zevanya, ia berlutut dan mengamati wajah Zevanya yang terlelap dalam ketakutan.   “ Kamu sangat mengangumkan! “ pujinya atas hasil karya Zevanya menggorok leher lelaki tadi. Devanka pun segera mengangkat tubuh gadis itu dan menggotongnya menuju kedalam rumah. Dia akan membersihkan darah yang menempel ditubuh Zevanya.   Harapan Zevanya untuk mengalami sesuatu yang menyenangkan pada hari ini tak terkabul karena justru sebuah kengerian yang dia dapatkan. Entah bagaimana perasaan Zevanya saat ini, tapi yang pasti dia tidak akan pernah melupakan kejadian ini seumur hidupnya.  **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN