Zevanya menatap langit yang sudah gelap gulita. Perjalanan yang cukup panjang dari rumah Devanka menuju club melewati waktu sore hingga menempuh malam. Zevanya jadi memikirkan kedua adiknya, untung saja dia memberikan uang lebih kepada adiknya agar pulang sekolah langsung membeli makan tanpa perlu menunggunya pulang. Setidaknya Ninis dan Neo tidak kelaparan menunggunya kembali.
“ Dev, apakah kita akan lama berada disini? “ tanya Zevanya di perjalanan menuju ke dalam club.
“ Aku hanya bicara sebentar pada klien dan setelah itu aku akan antarkan kamu pulang. “ Jelas Devanka.
“ Baiklah. “
Mereka berdua pun masuk kedalam club yang cukup ramai pengunjung. Minimnya pencahayaan didalam dan kerasnya bunyi alunan musik yang sangat menggangu indra pendengaran membuat Zevanya tidak nyaman berada disana, apalagi bau alkohol cukup menyengat.
Saat masuk kedalam, beberapa penjaga dan pelayan yang mengenali Devanka menyapa dan mempersilahkannya untuk duduk serta membawakannya minuman.
“ Jadi, seperti ini isi di dalam club. “ Ucap Zevanya dengan mata yang memperhatikan sekelilingnya. Terlihat banyak perempuan dengan baju terbuka berjoget dengan gemulai mengikuti alunan musik DJ dan lampu sorot berwarna – warni menambah kesan gemerlapnya dunia malam.
“ Kamu benar – benar tidak pernah ke club? “ tanya Devanka yang duduk disebelah Zevanya memperhatikan gadis itu dengan intens.
“ Ya, aku memang tidak pernah menginjakkan kaki ketempat seperti ini. Memangnya kenapa? “ Zevanya bertanya balik.
“ Wajahmu terlihat sangat menggoda seperti perempuan nakal, aku jadi ragu jika wanita sepertimu tidak pernah ke club. “ Ungkap Devanka membuat Zevanya ingin sekali menampar mulut lelaki disampingnya itu tetapi tentu saja dia tidak berani.
“ Aku tidak seperti yang kamu fikirkan, dev. “ Balas Zevanya memilih untuk mengalihkan pandangannya karena merasa kesal dengan pernyataan Devanka tadi yang seolah – olah menilainya sebagai perempuan nakal.
“ Anak muda jaman sekarang banyak yang sudah terjerumus kedalam pergaulan bebas. “ Devanka menunjuk ke arah kerumunan perempuan yang memegang gelas berisi minuman beralkohol sambil berjoget menampilkan lekukan tubuhnya. “ Kamu lihat perempuan itu? “
Zevanya melihat ke arah yang Devanka tunjuk. “ Ya, aku melihatnya. Kenapa dengan dia? “
“ Mereka itu masih ABG. “ Devanka memberitahu.
“ Kenapa mereka boleh masuk kedalam club? “
“ Karena umur mereka sudah 17 tahun dan itu sudah sesuai dengan syarat masuk kedalam club. Mereka juga sudah punya KTP. “ Jelas Devanka jadi membuat Zevanya mengerti bahwa salah satu syarat untuk masuk kedalam dunia yang penuh gemerlap ini harus punya kartu pengenal.
“ Oh, begitu. “ Zevanya manggut – manggut. “ Kok, kamu tahu dia masih 17 tahun? Apa kamu pernah ngobrol dengannya atau kamu pernah tidur dengannya? “ tanya Zevanya.
“ Dia itu tamu langgaanan di club ini, hampir setiap hari dia dan teman – temannya datang. Aku sebagai pemilik dan sering memantau kesini jadi hafal. “ Jawab Devanka, ia melingkarkan tangannya di pundak Zevanya. “ Aku tidak bernafsu tidur dengan mereka, kecuali dengan kamu. “ Tambah Devanka membuat Zevanya bergidik.
“ Dev, kamu membuatku risih. “ Balas Zevanya dan mendapat respon senyuman saja dari Devanka yang selalu senang melihat Zevanya ketakutan. Dia menjauhkan tangannya yang sejak tadi melingkar di pundak Zevanya.
Devanka mengambil sebungkus rokok yang berada di atas meja, ia mengeluarkan satu puntung dan membakar benda beracun itu.
Zevanya menutup hidungnya ketika kepulan asap menyesakkan nafasnya, namun ia tidak bisa protes karena takut Devanka akan marah padanya. Selalu itu yang Zevanya fikirkan yaitu takut…takut…dan takut.
Dengan sengaja, Devanka mengeluarkan asap beracun itu tepat di wajah Zevanya membuat gadis itu terbatuk – batuk.
“ Uhuk…Uhuk…”
“ Kamu mau? “ Devanka menawarkan rokok yang berada ditangannya kepada Zevanya.
Zevanya memundurkan wajahnya sambil menggeleng. “ Gak mau. “ Tolaknya.
Devanka manggut – manggut, ia menghisap lagi benda beracun itu, lalu menuangkan minuman beralkohol kedalam gelas kecil. “ Kalo ini mau? “ kini Devanka menawarkan minuman beracun itu kepada Zevanya.
Zevanya menggeleng cepat. “ Dev, aku tidak merokok dan minum! “ tolaknya lagi.
Devanka tersenyum miring sambil mengusap kepala Zevanya. “ Bagus. “ Ungkapnya. Entah maksudnya apa tetapi Zevanya dapat merasakan bahwa tangan Devanka mengelusnya dengan lembut.
Devanka pun memanggil pelayan dan menyuruh untuk mengambilkan minuman yang tidak beralkohol untuk Zevanya minum.
“ Zee, aku pergi kebalakang dulu untuk bertemu dengan rekan kerjaku. “ Devanka menekan puntungan rokok yang sudah mulai pendek ke dalam asbak hingga apinya padam, setelah itu dia berdiri. “ Kamu jangan kemana – mana, aku hanya sebentar saja. “
“ Aku akan menunggu disini. “ Jawab Zevanya setelah itu Devanka pun pergi kebelakang club, dimana terdapat ruangan khusus untuk pertemuan orang – orang penting saja yang boleh masuk kedalam.
Ketika Devanka masuk kedalam ruangan itu terdapat beberapa rekan kerjanya yang menaruh saham dalam bisnis club malam bersama Devanka. Mereka berbicara mengenai perkembangan club ini dan berbagai macam masalah yaitu banyaknya preman – preman yang datang ke wilayah ini.
“ Kalian tenang saja, saya akan mengutus anak buah saya untuk mengawasi daerah ini agar tidak ada lagi penyusup masuk untuk merusak club ini yang membuat kita semua rugi besar! “ Tegas Devanka mendapat anggukan penuh kepercayaan dari semua klien yang bekerja sama dengannya. “ Kalian perlu khawatir jika berbisnis denganku. “ Tambahnya.
Disisi lain, saat ini Zevanya sedang duduk sambil menyeruput minuman soda kaleng yang diberikan oleh pelayan khusus untuknya karena tidak mengandung alkohol. Tak lama datang dua pria yang dapat Zevanya pastikan mereka lebih tua darinya.
“ Hai nona manis!! “ Mereka duduk dikanan dan kiri Zevanya untuk menghimpit gadis itu hingga kesulitan bergerak. Zevanya pun nampak panik dan ketakutan apalagi kedua lelaki itu kini mulai menyentuh bagian tubuhnya.
“ Sendirian aja? “ lelaki yang berbadan kekar dengan model rambut cepak itu mencolek dagu Zevanya.
“ Gak usah pegang – pegang! “ Zevanya menepis tangan lelaki itu dengan kasar.
“ Wah, galak juga si manis. “ Ucap lelaki yang satunya lagi mulai mengelus pahanya.
Merasa geram dengan kedua lelaki itu, Zevanya pun langsung bangun dari duduknya namun tangan lelaki itu melingkar dipinggangnya dan memaksa tubuhnya kembali duduk.
“ Jangan pergi dulu, kita belum bersenang – senang. “ Ucap si lelaki yang rambutnya di kuncir dengan tubuh kurus namun ada banyak tato di lehernya. Sangat mengerikan!
“ Lepasin! “ Zevanya berusaha memberontak tetapi sangat kesulitan karena mereka berdua menahan tubuhnya cukup kuat. Setelah Zevanya menyikut wajah kedua lelaki itu dengan tangannya, akhirnya Zevanya bisa terbebas dan buru – buru berlari. Dia meminta pertolongan pada orang yang ada disana namun semuanya pada mengabaikan dan menganggapnya sedang mabuk berat.
“ Mas…tolongin saya lagi dikejar sama orang jahat! “ Zevanya bicara pada salah satu penjaga tetapi tidak mendapat respon baik.
“ Ngaco kamu. “ Balas penjaga itu.
“ Saya serius, mas. “ Mata Zevanya berkaca – kaca, ia menoleh ke arah lain dan melihat kedua lelaki itu sudah semakin mendekat ke arahnya. “ Saya temannya Devanka, pemilik club ini. Kalau kamu tidak menolong saya nanti kamu akan dihukum! “ kecamnya agar mereka mau melindunginya, tapi lagi – lagi justru respon tidak baik yang dia dapat.
“ Semua perempuan disini suka mengaku – ngaku kenal dengan boss kami pak Devanka yang tampan itu. “ Balasnya dilanjuti tawa.
“ Tidak punya otak! “ cibir Zevanya karena disaat seorang perempuan membutuhkan pertolongan malah diabaikan.
Zevanya melihat kesekelilingnya, barangkali dia menemukan Devanka yang sudah selesai bertemu dengan rekan kerjanya dan kini sedang mencarinya, namun ternyata dia tidak menemukan lelaki itu, bahkan Zevanya tidak tahu dimana Devanka berada.
Sial! perset@n dengan semua ini! kedua lelaki itu semakin dekat dan memaksa Zevanya harus berlari keluar club untuk meminta pertolongan dengan orang lain. Kedua lelaki itu terus mengejarnya.
“ Tolong! Tolong! “ teriak Zevanya berlari diparkiran, ia menoleh kebelakang kedua lelaki itu semakin dekat dan sialnya Zevanya malah terjatuh.
BUK…
Dia terduduk di aspal hingga menyebabkan tangan dan lutunya terluka.
“ Aw…” Zevanya meringis kesakitan, tak lama kedua lelaki itu sampai didekatnya.
“ Nah… mau kemana lagi kamu? “ ucap si badan kekar, ia tertawa keras karena saat ini parkiran sangat sepi.
“ Tolong jangan macam – macam! Saya mohon! “ Zevanya memohon seraya menitikan air mata ketakutan. Dia melihat sekelilingnya sangat sunyi dan sepi, tidak ada siapapun selain mereka bertiga.
“ Kami berdua tidak akan macam – macam kalau kamu mau menuruti kemauan kita berdua. “ Balasnya dengan wajah menyeringai. “ Lagi pula, kami akan memuaskanmu dan pasti kamu akan senang menikmati malam ini bersama kami! “
“ Dasar gilaa!! Aku tidak akan mau menemani kalian! “ Zevanya meludahi mereka membuat kedua lelaki itu naik pitam dan menamparnya. Rambut Zevanya dijambak dan lehernya dicekik.
“ Layanin kami atau kamu akan habis ditangan kita! “ ancamnya dengan kuat mencengkram rambut Zevanya, mereka tidak merasa iba dengan tangisan gadis itu.
“ Sakit!! tolong lepaskan saya! “ jeritnya disertai ringisan.
“ Kami tidak perduli! “ mereka langsung membawa Zevanya ke belakang club yang lebih sepi dan tidak dilewati orang.
Devanka yang sudah selesai bertemu dengan kliennya langsung kembali ketempat dimana dia meninggalkan Zevanya. Dia terkejut ketika melihat Zevanya tidak ada di tempat.
“ Sial! Kemana dia pergi? “ Devanka jadi ikut panik, ia takut gadis itu pergi dan melaporkannya ke polisi, tapi sebelum itu, Devanka mencari Zevanya terlebih dahulu ke toilet wanita.
“ Awas saja kalau sampai dia melarikan diri!! “ Devanka langsung masuk saja ke dalam toilet wanita menimbulkan teriakan dari para perempuan yang berada didalam toilet itu tetapi Devanka tidak perduli karena yang dia fikirkan saat ini adalah menemukan Zevanya.
“ Tidak ada! Berani – beraninya dia pergi! “ ketika tidak menemukan Zevanya diseluruh toilet, Devanka pun bergegas keluar club dengan beranggapan jika gadis itu pergi pasti belum jauh karena lokasi club ini berada di pojokkan dan cukup jauh dari jalan raya. Devanka berlari cepat keluar club.
Devanka menuju mobilnya yang berada di parkiran, ketika sudah ingin masuk kedalam mobil, ia mendengar suara perempuan menjerit dan berteriak minta tolong. Dia diam sambil menutup pintu mobilnya pelan agar tidak terdengar. Devanka langsung tahu siapa yang menjerit karena suara itu yang paling Devanka sukai jika meringis.
“ Zevanya? “ Devanka mengendap – endap menelusuri sumber suara dan ketika sudah sampai di belakang club, ia melihat baju Zevanya sedang dipaksa untuk dilucuti namun gadis itu sekuat tenaga menahan bajunya agar tidak dibuka.
Melihat Zevanya diperlakukan seperti itu, Devanka langsung naik darah. Dengan langkah cepat, Devanka langsung memukul kedua lelaki yang kini membelakanginya.
“ Persetan dengan manusia otak kotor! “
BUKK…
“ Dev? “ Zevanya yang tadinya berfikir hidupnya akan hancur hari ini juga langsung memiliki harapan untuk hidup ketika melihat kedatangan Devanka.
Kedua pria itu langsung terkapar lemah, tapi sedetik kemudian mereka langsung bangkit kembali untuk memberikan perlawanan kepada Devanka.
“ Siapa lo datang – datang langsung serang kita? Kalo lo mau juga sama cewek ini, ayo kita nikmati bersama! “ ucap salah satu diantara pria bejaat itu semakin membangkitkat amarah Devanka.
“ Bajiingan! “ Tangan Devanka langsung meninju wajah lelaki itu dan tepat sasaran hingga langsung menciptakan memar dan cairan darah keluar dari bibir pria bejaat itu. Tak berhenti sampai disitu, Devanka menendang perutnya beberapa kali, lalu menjatuhkan tubuhnya hingga rebahan di aspal. Kaki Devanka menginjak d@da lelaki berbadan kekar dengan rambut cepak itu beberapa kali hingga lelaki itu meminta ampun tetapi sama sekali tidak Devanka perdulikan.
Sedangkan lelaki yang rambutnya dikuncir dengan tato yang memenuhi lehernya mulai merasa panik melihat Devanka mengalahkan temannya yang berbadan kekar, ia pun mengeluarkan pisau kecil yang dia simpan didalam kantong, ia menodong pisau itu ke arah Devanka. Rupanya, nyali kedua lelaki itu sama sekali lemah dan itu terbukti mereka tidak memberikan perlawanan kuat dan malah menggunakan senjata tajam.
“ Awas, dev! “ teriak Zevanya panik ketika pria berambut dikuncir itu semakin mendekati Devanka.
Devanka tersenyum miring, ia mencolek hidungnya sendiri seraya berkata. “ Apa kamu fikir saya takut? “ tanya Devanka, ia merogoh saku belakangnya untuk mencari silet yang biasa dia simpan disana tetapi tidak dia temukan dan setelah teringat, ternyata silet miliknya terjatuh didalam mobil ketika ingin menyayat Zevanya dan lupa dia ambil.
Baiklah, tanpa silet pun Devanka masih memiliki nyali besar. Mereka tidak tahu saja kalau yang dihadapi saat ini sudah membunuh banyak orang.
“ Ayo maju! “ Tangan Devanka mengayun memberikan isyarat agar pria itu mendekatinya tetapi pria itu hanya diam dengan tangan gemetar, ia melirik temannya sedang telengkup meringis kesakitan habis dipukuli Devanka.
Devanka sudah memasang ancang – ancang jika lelaki itu akan memberinya serangan.
“ Brengsekk! “ Akhirnya, lelaki itu pun maju dengan tangan memegang sebilah pisau namun itu bukan hal yang sulit bagi Devanka untuk menyingkirkannya. Ketika lelaki itu sudah mendekat, Devanka pun langsung mendunduk dan beralih untuk berdiri dibelakang lelaki itu. Disaat itu juga Devanka langsung melakukan penyeraangan dengan memukul punggung dan menendang kaki bagian belakang hingga lelaki itu tak berkutik dan jatuh berlutut.
Pisau lelaki itu pun terjatuh dan dengan cepat Devanka menarik kedua tangan lelaki itu kebelakang dan langsung merebahkan tubuh pria itu telengkup di aspal hingga suara ringisan kesakitan terdengar.
“ Ta—tangan saya sakit sekali! tolong lepaskan! “ Dia kesakitan karena kedua tangannya yang ditarik kebelakang.
“ Kamu bukan tandingan saya! “ seru Devanka sambil menekan tangan lelaki itu membuatnya semakin meringis kesakitan dan meminta ampun.
“ A—ampun! To—tolong lepaskan saya! “ pintanya dengan terbata – bata.
“ Jangan harap! “ Dengan kencang, Devanka membenturkan kepala lelaki itu ke aspal higga tidak sadarkan diri.
Tak lama ada beberapa penjaga datang dan langsung menghampiri Devanka setelah melihat ada yang terkapar.
“ Boss… ada apa ini? “ tanya penjaga yang baru saja datang.
“ Tolong kamu bawa mereka berdua kerumah saya! “ perintah Devanka langsung dilaksanakan. Tentu saja mereka tidak membawa ke mobil Devanka melainkan menggunakan mobil lain.
“ Baik pak boss! “
Setelah mereka semua pergi, Devanka mendekati Zevanya yang masih terduduk dengan wajah lusuh dan baju yang compang – camping karena sebagian dirobek oleh kedua pria bejaat itu.
“ Dev, aku takut sekali…” Zevanya bicara dengan suara gemetar, ia trauma atas apa yang baru saja dia alami.
Devanka berlutut dihadapan Zevanya, lalu membuka jaket yang sejak tadi dia pakai. Tanpa banyak bicara, Devanka membalut tubuh Zevanya dengan jaket itu untuk menutupi bagian bahu dan dadanya yang nyaris terlihat karena bajunya robek.
Devanka mengamati beberapa luka lebam di wajah dan lutut Zevanya, ia jadi ingin kembali memukuli kedua lelaki itu karena telah membuat asistennya terluka.
“ Terima kasih karena kamu sudah menolongku, Dev. “ Zevanya merasa terharu atas apa yang sudah Devanka lakukan untuknya, bahkan lelaki itu mengorbankan nyawanya demi menolongnya.
Devanka menatap lekat wajah Zevanya, lalu berkata. “ Apa dia sudah melakukan sesuatu kepadamu? “ tentu saja pertanyaan itu mengarah kepada tindakan seksual yang kedua pria itu ingin lakukan.
“ Belum. “ Zevanya menggeleng.
“ Syukurlah. “ Tanpa aba – aba, Devanka langsung mengangkat tubuh Zevanya. Dia tidak membiarkan gadis itu jalan karena tahu pasti kakinya sedang sakit meskipun sebenarnya masih bisa untuk berjalan, tapi Devanka tetap menggendong gadis itu.
“ Dev? Aku bisa jalan sendiri. “ Ucap Zevanya ketika tubuhnya sudah di gendong ala bridal style menuju mobil, tapi Devanka diam saja tidak menyahut. Dia tetap fokus berjalan sambil mengangkat tubuh gadis yang kini menatap wajahnya begitu serius.
‘ Kenapa dadaku berdebar kencang menatap Devanka seperti ini? ‘ batin Zevanya.
Devanka melirik Zevanya yang kini menatapnya, ia jadi ikut merasakan apa yang saat ini Zevanya rasakan. Kedua detak jantung mereka nampak seirama saling berdegup kencang.
**