Zevanya bangun dari tidurnya sambil menguap, rasanya waktu berjalan begitu cepat. Baru saja dia tidur sebentar tak terasa sudah pagi saja dan yang membuatnya tidak bersemangat menjalani harinya adalah harus bekerja di rumah Devanka. Zevanya turun dari kasur dengan langkah lemas, ia menyentuh keningnya sendiri yang terasa hangat.
“ Apakah aku demam? “ tanya nya karena memang semalaman dia tidur kurang nyenyak dan merasa tidak enak badan. Mungkin karena kemarin dia hujan – hujanan.
Zevanya pun tetap memaksakan diri untuk melanjutkan aktivitasnya meskipun tubuhnya terasa lemas. Setelah rapih dan sarapan pagi, seperti biasa Zevanya mengantarkan kedua adiknya ke sekolah.
“ Ninis…Neo… ini kakak kasih kalian uang lebih untuk beli makan. Jadi, pulang sekolah kalian langsung beli makan sendiri ya tidak usah tungguin kaka pulang. “ Zevanya memberikan uang kepada kedua adiknya.
“ Oke, kak. “ Jawab Ninis.
“ Oh iya, kak. Kemaren bu Cia tanyain uang SPP bulan kemarin yang belum dilunasi. Katanya kapan mau dibayar? “ Ungkap Neo.
“ Yaudah kamu tenang saja, nanti kalau sudah ada uang akan segera kakak lunasi ya? “ jawab Zevanya agar adiknya tidak risau.
“ Baiklah, kak. “
Setelah kedua adiknya masuk kedalam sekolah, ia langsung berangkat kerja. Untungnya hari ini dia mendapatkan bus yang tidak terlalu ramai penumpang jadi bisa mendapat tempat duduk.
Sampainya dirumah Devanka, ia langsung melaksanakan tugasnya seperti biasa. Ketika masuk ke dalam kamar, ternyata Devanka masih tertidur. Zevanya pun masuk saja untuk meletakan sarapan pagi di atas meja, tapi tiba – tiba Devanka membalikkan badannya lalu menarik tangan Zevanya hingga tubuh gadis itu jatuh menindih badan Devanka.
Zevanya sangat terkejut dan gugup karena kini wajahnya sangat berdekatan dengan Devanka yang sudah terbangun, lelaki itu menatap lekat wajah Zevanya selama beberapa detik sebelum akhirnya Zevanya bergerak untuk bangun.
“ Dev, kamu ini bikin aku kaget saja. “ Ungkap Zevanya dengan jantung yang masih berdegup kencang karena tadi ditatap dengan jarak dekat seperti itu oleh Devanka.
Lelaki itu terbangun duduk, ia kembali memperhatikan wajah Zevanya lagi dengan serius lalu berkata. “ Wajahmu terlihat pucat. “
“ Masa, sih? “ Zevanya memegang wajahnya sendiri.
“ Apa kamu sedang sakit? “ tanya Devanka seraya turun dari kasur.
“ Aku memang merasa sedikit tidak enak badan hari ini. “ Ungkapnya.
“ Zee, aku ingin memberitahu kamu satu hal. “ Devanka berdiri dihadapan Zevanya yang masih terduduk dipinggir kasur.
“ Apa, dev? “
“ Aku tidak perduli kamu mau sakit atau tidak karena apapun yang terjadi kamu tidak boleh libur kerja walau hanya sehari! “ tegas Devaka membuat Zevanya terkejut karena dia fikir Devanka akan bersimpati kepadanya dengan menyuruh beristirahat atau bahkan libur bekerja sampai sembuh, tapi ternyata respon lelaki itu benar – benar menyebalkan.
“ Tidak boleh libur bekerja meskipun hanya sehari? “ Zevanya berdiri. “ Peraturan macam apa itu, dev? “
“ Apa Alin tidak memberitahu kamu soal hari kerja? “ Devanka semakin mendekati Zevanya dan memberikan tatapan mendalam. “ Setiap hari kamu harus masuk kerja tanpa libur. Ingat itu! “ Tegasnya sekali lagi, setelah itu Devanka pergi menuju kamar mandi, ia meninggalkan Zevanya yang terdiam kaku.
Satu hal yang Zevanya lewatkan adalah ketika menerima pekerjaan ini lupa untuk bertanya kapan dia dapat jatah untuk libur dalam seminggu.
“ Ck, bodoh sekali! kenapa aku tidak menanyakan ini ketika pertama kali menerima pekerjaan! “ sambil mendengus kesal, Zevanya pergi mengambil pakaian untuk Devanka.
**
Zevanya sudah bersiap untuk pulang karena hari sudah mulai sore, namun ketika ingin pergi tiba – tiba saja Devanka menahan dirinya membuat Zevanya jadi takut kalau lelaki itu akan menyakitinya.
“ Kamu jangan pulang dulu. “
“ Kenapa, dev? Aku harus segera pulang. “ Ungkap Zevanya.
“ Hari ini kamu harus lembur. “ Devanka menggengam lengan Zevanya lalu menuntun gadis itu keluar rumah.
“ Kita mau kemana, dev? Tolong jangan sakiti aku. “ Ucap Zevanya, ia ketakutan kalau Devanka ingin melakukan sesuatu kepadanya. “ Lepaskan aku, dev! Hari ini aku tidak membuat kesalahan, lalu kenapa kamu ingin menghukumku? “
Devanka menghentikan langkahnya, ia menghadap Zevanya. “ Apa aku bilang akan menghukum kamu? “
Zevanya menggeleng. “ Terus kita mau kemana? Kenapa aku harus lembur? “
“ Baiklah akan aku beritahu. “ Devanka mengatakan alasannya menyuruh Zevanya untuk lembur. “ Temani aku untuk mengecek club milik papahku. “ Devanka memajukkan wajahnya kehadapan Zevanya. “ Apakah kamu pernah ke club? “ tanya nya dan Zevanya menggeleng.
“ Aku belum pernah menginjakkan kaki ketempat seperti itu, dev. Lebih baik aku pulang saja dan tolong izinkan aku untuk tidak lembur. “ Pinta Zevanya dengan sangat memohon, apalagi saat ini dia sedang tidak enak badan.
“ Ini perintah dan kamu jangan membantah! “ Devanka mencengkram lengan Zevanya cukup kencang. “ Aku tidak menerima penolakan! “ tambahnya.
“ Dev, aku harus segera pulang karena pasti kedua adikku sudah menunggu. “ Ungkap Zevanya berusaha melepaskan cengkraman tangan Devanka.
“ Aku akan membayarmu lebih dan uang lemburnya pun hari ini juga cash aku bayar tanpa harus menunggu gajian. “ Devanka melepaskan cengkraman tangannya. “ 1 jam 1 juta. Bagaimana? “ Devanka memberikan penawaran yang cukup menggiurkan bagi Zevanya yang benar – benar membutuhkan uang untuk menopang kehidupannya dan kebetulan saat ini dia sedang membutuhkan uang untuk melunasi SPP adiknya.
“ A—apa? Jadi, maksudnya kamu akan membayar 1 juta jika aku lembur selama 1 jam? “ tanya nya terkejut karena itu termasuk pembayaran yang cukup besar jika dalam hitungan jam.
“ Ya. “ Devanka menggut – manggut. “ Bayangkan jika kamu menemaniku salam 3 atau 4 jam? Dalam sehari kamu bisa mengantongi uang sekitar 4jt. “ Terang Devanka membuat mata Zevanya melotot mendengar jumlah uang yang lumayan besar bagi dirinya.
“ Baiklah, aku akan lembur hari ini, tapi…” Zevanya menatap Devanka sambil mengerjapkan matanya beberapa kali karena sedikit takut.
“ Tapi apa? “
“ Tapi, tolong jangan melakukan sesuatu yang menyakitkan kepadaku, dev. “ Ungkapnya karena Zevanya tidak siap menerima hukuman dikala tubuhnya sedang tidak fit seperti saat ini.
Devanka memberikan senyuman miring, lalu berkata. “ Tergantung, kalau kamu melakukan kesalahan atau buatku marah, maka aku akan menghukum kamu. “ Tangan Devanka bergerak meraih dagu Zevanya. “ Bagaimana kalau aku membayarmu sebesar 10 juta, tapi izinkan aku menyayat dibagian sensitifmu? “ pertanyaan Devanka kali ini bagai hantaman keras untuk Zevanya karena lelaki itu benar – benar menakutinya.
“ Tidak! “ Zevanya menggeleng cepat. “ Kamu ini mengerikan sekali! “ serunya dengan wajah terlihat cemas namun membuat Devanka tertawa.
“ Aku hanya bercanda. “ Devanka tersenyum tipis, lalu ia membalikan badannya. “ Ayo kita berangkat sekarang karena perjalanan cukup jauh. “ Devanka melangkahkan kakinya menjauh dari Zevanya yang masih terdiam dengan lutut lemas karena penawaran Devanka ingin memberikan sayatan di area terlarang.
“ Dia bilang itu bercanda? “ Zevanya bergidik. “ Bercandanya saja mengerikan! Dia benar – benar iblis menjelma jadi manusia! “ Zevanya pun berjalan cepat mengejar Devanka.
**
Selama diperjalanan, Zevanya hanya diam saja karena dia juga bingung ingin bicara apa kepada Devanka, ditambah lagi saat ini Devanka menyetel musik instrumen Dark Piano yang terdengar mengerikan karena suaranya seperti di film – film horor dan pembunuhan membuat Zevanya nampak tidak nyaman mendengarnya. Zevanya tidak habis fikir kepada Devanka karena di antara banyak jenis musik mengapa Devanka harus menyukai musik mengerikan seperti ini.
Devanka melirik Zevanya yang nampak tidak nyaman. “ Kenapa? “ tanya Devanka.
“ Um… gak apa – apa. “ Zevanya tidak ingin mengatakan karena takut Devanka akan marah.
“ Katakan saja! “ Devanka sedikit membentak karena sepertinya lelaki itu tidak suka kalau Zevanya menyembunyikan sesuatu darinya.
“ Maaf dev, bisakah kamu matikan musik nya? “ Ucapa Zevanya memberanikan diri.
Devanka tertawa kecil. “ Kamu takut ya? “ pertanyaan yang tentu saja ingin Zevanya jawab dengan suara keras namun tidak berani gadis itu lakukan.
“ Iya, dev. Kenapa kamu suka musik seperti itu? “ Zevanya bertanya – tanya.
“ Ini musik yang paling ku suka dan terdengar sangat menyenangkan. “ Jawab Devanka tentu saja membuat Zevanya menatapnya aneh. Bagaimana bisa musik horor seperti itu dibilang menyenangkan. “ Ketika aku mendengarkan musik ini, aku membayangkan sambil membunuh seseorang atau…” Devanka melirik Zevanya yang kini sedang menatapnya takut. “ Atau menyayatmu, Zee. “ Devanka tersenyum menyeringai.
Zevanya langsung melengos tak ingin menatap atau menanggapi Devanka yang selalu saja membuatnya ketakutan. “ Dev, apakah masih lama untuk sampai ditempat tujuan? “ Zevanya mengalihkan pembicaraan.
“ Lumayan, Zee. “
“ Mengapa kamu ajak aku, dev? “ kali ini Zevanya menatap Devanka.
“ Biasanya aku mengunjungi club milik keluargaku bersama para Bodyguard, tapi kali ini aku merasa bosan. Jadi, aku memutuskan untuk mengajakmu. “ Devanka menoleh ke arah Zevanya. “ Ini pertama kalinya aku mengajak perempuan untuk menemani aktivitasku. “ Tambahnya.
“ Jadi, aku yang pertama? “ tanya Zevanya.
“ Sebenarnya tidak juga, sih. “ Balas Devanka membingungkan Zevanya.
“ Tadi kamu bilang aku yang pertama? Sekarang kenapa jawabanmu seperti itu? “
“ Dulu, aku pernah mengajak perempuan tetapi belum sampai di tempat tujuan perempuan itu aku bunuh. “ Jawab Barra dengan enteng tapi mampu mengakibatkan rasa terkejut bagi Zevanya.
Mata dan mulut Zevanya terbuka sempurna. “ Kenapa kamu bunuh dia, dev? “
“ Karena di tengah perjalanan dia berusaha membunuhku. “ Terang Devanka membuat Zevanya melongo mendengarnya.
“ Ba—bagaimana bisa itu terjadi? “ Zevanya nampak terheran – heran.
“ Dia sengaja menyerangku disaat sedang berduaan seperti ini di dalam mobil. Ternyata dia membawa senjata tajam untuk membunuhku karena perempuan itu ingin terbebas dariku. Tapi, dia gagal melakukan itu dan aku langsung merobek jantungnya dengan pisau milik perempuan itu. “ Jelas Devanka membuat Zevanya ngeri mendengarnya, lelaki itu benar – benar kejam.
“ Apa perempuan itu bekerja sebagai asisten seperti diriku? “
“ Ya, Zee. “ Devanka mengangguk. “ Dia juga sama seperti dirimu yang ingin melarikan diri dan mengadu ke polisi tetapi dia tidak pernah berhasil dan berakhir dengan mati secara menggenaskan ditanganku. “
Zevanya meneguk ludah dengan susah payah, ia taku jika suatu saat nanti nasibnya akan seperti perempuan itu tetapi Zevanya yakin dirinya bisa lebih cerdas dari perempuan malang itu agar bisa melaporkan Devanka dan terbebas dari lelaki kejam itu.
“ Apa kamu ingin mati seperti itu? “ Devanka bertanya dengan wajah menyeringai.
“ Tidak ada orang yang ingin mati dalam keadaan tragis, dev. “ Balas Zevanya, ia memalingkan wajahnya lagi ke arah jendela mobil. Dia tidak ingin lagi mendengar cerita yang keluar dari mulut Devanka karena selalu mengerikan.
Devanka hanya tersenyum tipis, ia dapat melihat ketakutan dimata Zevanya dan itu membuatnya senang.
Zevanya menguap karena kantuk menyerangnya, matanya juga mulai terlihat sayu.
“ Perjalanan masih sekitar tiga puluh menit, silahkan saja kalau kamu ingin tidur. “ Ucap Devanka yang melihat Zevanya menguap seperti itu.
“ Apa kamu akan marah jika aku tidur? “ Zevanya bertanya dulu untuk memastikan bahwa dia dapat tidur tenang tanpa beban.
“ Asalkan tidurmu tidak menimbulkan suara seperti kodok dan kuda yang sangat berisik, aku tidak akan marah. “ Balas Devanka jadi ingin membuat Zevanya tertawa mendengarnya.
“ Tenang saja, dev. Aku tidak mendengkur saat tidur. “ Jawab Zevanya.
“ Tidurlah. Nanti kalau sudah sampai akan aku bangunkan. “
“ Baik, terimakasih, dev. “
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Zevanya tertidur karena dia sudah sangat mengantuk jadi sekalinya memejamkan mata dia langsung cepat terlelap. Devanka melirik Zevanya yang sudah pulas, tangannya bergerak untuk mengecilkan volume musik yang sejak tadi diputar cukup kencang. Musik yang katanya terdengar sangat mengerikan bagi Zevanya sudah mulai meredam nyaris tak terdengar. Devanka melakukan itu agar Zevanya dapat tertidur nyenyak tanpa gangguan.
Ketika sudah sampai di parkiran club, Devanka menghentikan mobilnya. Dia melepaskan Seatlbelt yang dikenakan dan sekarang saatnya membangunkan Zevanya. Terlihat gadis itu tak bergerak sedikit pun, wajahnya sedikit tertutupi oleh rambut panjangnya.
Devanka memperhatikan Zevanya cukup lama seraya menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Zevanya. Dia merasakan sesuatu yang berbeda ketika memandangi gadis itu hingga menciptakan seulas senyuman diwajahnya. “ Dia sangat manis. “ Ucap Devanka dengan kedua bola mata yang tak berkedip menatap Zevanya.
Akhirnya, Devanka pun berhenti memandangi wajah Zevanya ketika kepala gadis itu bergerak dan memilih menghadap ke arah jendela. Devanka tidak bisa menatap wajah Zevanya lagi dan memilih segera membangunkan Zevanya.
“ Zee, cepat bangun. Kita sudah sampai. “ Devanka mencolek tangan Zevanya beberapa kali tetapi gadis itu nampak tak bergerak sedikit pun. Sepertinya dia sangat menikmati tidurnya.
“ Ya ampun, dia susah sekali dibangunin. “ Devanka memikirkan cara lain agar Zevanya cepat bangun. Otaknya yang selalu dipenuhi dengan hal kejam membuat Devanka memilih langkah untuk membangunkan Zevanya dengan menyayatnya.
Devanka sudah memegang silet di tangannya, ia sedang mengamati bagian mana yang ingin dia berikan hadiah dan akhirnya Devanka memutuskan untuk menyayat tepat di bawah telinga Zevanya.
Devanka sedikit menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Zevanya yang saat ini tertidur dengan kepala yang bersandar ke jendela mobil membuat Devanka dapat dengan mudah memberikan sayatan di bawah telinga gadis itu. Namun siapa sangka, ketika Devanka ingin menyayatnya tiba – tiba saja Zevanya bergerak dan wajahnya menoleh ke arah Devanka membuat bibirnya tak sengaja mencium pipi Devanka yang sangat dekat dengannya.
CUP…
Ciuman yang tidak terduga itu membuat Devanka membeku bahkan dirinya tidak sengaja menjatuhkan silet yang sejak tadi dia pegang, sedangkan Zevanya yang saat ini sudah terbangun juga terdiam dengan tatapan tak percaya atas apa yang baru saja dia lakukan.
“ De—dev, sumpah aku tidak sengaja! “ Zevanya membenarkan duduknya agar tegak, ia jadi ketakutan kalau Devanka akan menghukumnya.
Entah mengapa sesuatu yang aneh menyeruak di dalam hatinya membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya dan Devanka jadi merasa gugup . Dia memegang pipinya yang baru saja mendapat kecupan dari Zevanya, lalu perlahan matanya bergerak menatap Zevanya.
“ Maafkan aku, dev. Tolong jangan hukum aku. “ Nampak kekhawatiran di wajah Zevanya karena di tatap secara mendalam oleh Devanka.
Devanka tidak banyak bicara, ia menjauhkan tubuhnya dan bersiap untuk turun.
“ Ayo turun. “ Ajak Devanka yang sudah membuka pintu untuk keluar, sedangkan Zevanya kini menghela nafas lega karena dia tidak mendapat hukuman atau bahkan sekedar omelan dari Devanka. Zevanya pun bergegas turun sebelum Devanka memarahinya.
‘ Kenapa Devanka bisa berada sangat dekat denganku seperti tadi? ‘ Zevanya jadi bertanya – tanya sendiri karena ketika dia membuka mata, posisi Devanka sedang menyondongkan tubuh ke arahnya dan nampak sedang mengamati wajahnya.
Zevanya tidak tahu saja kalau Devanka sebenarnya ingin memberinya sayatan. Ciuman tak sengaja yang tadi terjadi, secara tidak langsung sudah menyelamatkan Zevanya.