- RUANG RAHASIA -

2923 Kata
Zevanya sudah pasrah dengan apa yang akan Leo lakukan padanya di dalam ruangan yang sangat sepi saat ini, ia ingin berteriak tetapi sepertinya percuma saja karena tidak akan ada orang yang mendengar.   Tubuh Zevanya sudah berada di dalam dekapan Leo dan wajah mereka berdua pun sangat berdekatan, bahkan hampir tidak ada jarak tetapi tiba – tiba saja Leo malah menjauh dari wajah Zevanya dan bergerak untuk menyingkirkan tangannya yang sejak tadi memegang kedua pundak Zevanya.   Zevanya sendiri merasa bingung kenapa tiba – tiba Leo menjauh dan membiarkan dirinya terlepas dari dekapannya, tapi setidaknya saat ini Zevanya dapat bernafas lega karena Leo tidak jadi melakukan apapun kepadanya.   Leo tersenyum sambil merapihkan rambut Zevanya yang sedikit berantakan. “ Aku tidak akan berbuat buruk padamu, Zee. Tadi, aku hanya bercanda saja. “   JLEB…   Zevanya dibuat melongo dengan penjelasan Leo. Dengan entengnya lelaki itu berkata bahwa tadi dia hanya sekedar bercanda sedangkan Zevanya sudah sangat panik dan sampai menangis dibuatnya.   “ Apa maksud kamu, Leo? Kenapa kamu berbuat seperti ini padaku? “ Zevanya menatap Leo penuh pertanyaan.   “ Tidak ada maksud apa – apa. Lagipula, dari awal kamu sendiri yang langsung menuduh aku membohongi dan akan berbuat macam – macam padamu. Jadi, aku lanjutkan saja dengan berakting seperti tadi agar terkesan bahwa aku benar – benar berbohong dan akan melakukan sesuatu kepadamu. “ Leo tersenyum tipis.   “ LEOO!!! “ Zevanya mencubit gemas lengan Leo. “ Kamu sudah cocok menjadi seorang aktor karena tadi aktingmu benar – benar terlihat nyata! “ seru Zevanya mencubit sekali lagi lengan Leo.   Leo mengusap lengannya yang sejak tadi mendapat cubitan. “ Kenapa semua perempuan di muka bumi selalu saja berfikir secara berlebihan terhadap sesuatu? “ Leo bertanya sambil bertelak pinggang.   “ Ya—ya, namanya juga perempuan. “ Jawab Zevanya terbata – bata. “ Wajar saja kalau perempuan suka Overthinking karena kadang – kadang apa yang dia khawatirkan suka benar terjadi. “ Terangnya.   “ Tapi, kekhawatiranmu kali ini tidak terbukti karena aku tidak berbuat macam – macam kepadamu. “ Balas Leo.   “ Hm, baiklah. “ Zevanya hanya manggut – manggut saja.   “ Aku tidak berbohong padamu, Zee. “ Leo menunjuk ke arah lemari yang saat ini berada di belakang Zevanya. “ Tangga menuju lantai atas ada di dalam sana. “   “ Hah? “ dengan cepat Zevanya membalikkan badannya untuk melihat. “ Dimana? Bukankah disana hanya ada lemari? “   “ Sebentar. “ Leo membuka lemari tersebut lalu mengambil salah satu buku yang tersusun dibagian tengah sehingga terlihat celah kosong yang ternyata ada tombol di tempat yang  tadi ditutupi oleh buku. Tombol kecil itupun ditekan oleh Leo dan tiba – tiba saja lemari yang berada ditengah – tengah dinding tersebut bergeser ke arah kanan hingga mentok sampai ke sudut dinding.   Mata Zevanya terbuka lebar, ia merasa terkejut ketika melihat ada ruangan lagi dibalik lemari besar yang kini sudah bergeser. Zevanya menggeleng takjub atas apa yang baru saja dia lihat saat ini dan sekarang Zevanya sudah percaya bahwa di dalam ruangan itu benar – benar ada tangga.   “ Ternyata kamu benar, Leo! “  Zevanya berjalan mendekati Leo yang kini sudah masuk ke dalam ruangan itu. Zevanya dapat melihat dengan jelas bahwa ada sebuah tangga yang berada di tengah – tengah ruangan itu berbentuk spiral alias membentuk melingkar sehingga terlihat berliku - liku.   Kepala Zevanya mendongak untuk menelusuri arah tangga yang menjulang ke atas. Baru kali ini dia menemukan rumah yang menyembunyikan sebuah tangga untuk menuju ke lantai atas.   “ Kenapa tangga ini berada ditempat tersembunyi? “ nampaknya Zevanya sangat penasaran sekali, ia sampai terkesima dibuatnya.   Leo menekan tombol yang berada di dinding sehingga lemari tersebut bergeser ke posisi semula yaitu menutupi ruangan rahasia ini.   “ Sebenarnya ruangan ini adalah salah satu tempat rahasia di rumah keluarga Ulpio karena jika ada musuh melakukan p*********n dan menyerbu rumah ini, papahnya tuan Devanka yaitu tuan Jazon pasti menyuruh keluarganya untuk bersembunyi di ruangan ini. “ Jawab Leo seraya berjalan mendekati Zevanya.   “ Apakah pernah terjadi p*********n dirumah ini? “ Zevanya bertanya – tanya.   “ Dulu pernah ada komplotan geng sindikat kejahatan yang menyerang rumah ini dan saat itu tuan Jazon menyembunyikan istrinya dan juga tuan Devanka yang masih kecil di dalam ruangan ini sampai suasana benar – benar kondusif. “ Jelas Leo agar Zevanya tidak penasaran lagi.   “ Leo, sepertinya kamu tahu banyak soal keluarga Ulpio. “ Zevanya memperhatikan perawakan Leo yang bertubuh tinggi dan kalau dilihat – lihat lelaki dihadapannya saat ini sangat manis, apalagi ketika tersenyum.   “ Ya,  karena dulu papahku juga bekerja sebagai Bodyguard tuan Jazon dan saat aku masih kecil, papahku sering mengajakku ke rumah ini untuk menemani tuan Devanka main. “ Leo bercerita seputar masa lalunya.   “ Jadi, kamu dan Devanka sudah dekat dari kecil? “ Zevanya sedikit terkejut.   “ Bisa dibilang seperti itu, tapi kami berdua jarang ngobrol layaknya teman karena ketika berbicara kami hanya membahas masalah pekerjaan saja. “ Ucap Leo dan Zevanya mendengarkannya dengan baik. “ Sejak kecil, tuan Devanka lebih suka menyendiri dan sangat tertutup, tapi setelah dewasa dia jadi sedikit terbuka kepadaku, bahkan terkadang dia menceritakan beberapa rahasianya padaku. “ Jelas Leo. “ Oleh karena itu, aku cukup tahu tentang keluarga Ulpio karena memang sudah lama mengenal keluarga ini dan tuan Devanka pun sangat percaya padaku. “ Imbuhnya.   “ Pantas saja kamu selalu berada disisinya dan sampai tahu tempat rahasia ini. “ Zevanya pun kini mengerti bahwa Leo tahu tentang keluarga ini karena memang sudah sejak kecil mengenal keluarga Ulpio.   “ Aku harap kamu tidak memberitahu siapapun soal rahasia bagaimana cara masuk ke dalam sini karena nanti kepala ku akan dipenggal oleh tuan Devanka. “ Kata Leo memperingati gadis dihadapannya.   “ Kamu tenang saja, Leo.  “ Zevanya menepuk pelan pundak Leo. “ Oh iya, tadi kamu bilang ruangan ini adalah salah satu tempat rahasia, apakah itu artinya ada tempat rahasia lagi selain disini? “ rasa ingin tahu di dalam diri Zevanya semakin meningkat karena baginya ini cukup menarik dia pertanyakan.   “ Ada. “ Leo menunjuk ke arah pintu yang berada di belakang Zevanya. “ Disana juga terdapat tempat rahasia, Zee. “   Zevanya membalikkan badannya untuk melihat ke arah yang ditunjuk Leo. Ternyata ada satu pintu di dalam ruangan itu yang entah apa isi di dalamnya. “ Ruangan apa itu, Leo? “   Leo berjalan melewati Zevanya dan melangkahkan kaki menaiki tangga mendahului Zevanya sambil berkata. “ Kalau itu aku tidak bisa beri tahu kamu. “   “ Apakah itu sangat privasi? “ Zevanya ikut menaiki tangga dengan hati – hati agar tidak terjatuh karena bentuk tangga yang dia naiki saat ini berlika - liku tanpa pegangan di sisi kanan dan kirinya sehingga cukup mengerikan.   “ Iya, Zee. Tempat itu benar – benar sangat privasi! ”  Leo menghentikan langkahnya ketika sudah berada di atas. Zevanya pun ikut berhenti dan kini berdiri di depan sebuah pintu.   “ Tapi, jika kamu memang ingin tahu… “ Leo menatap Zevanya dengan serius. “ Kamu bisa tanya langsung kepada tuan Devanka. “ Lanjutnya.   Zevanya diam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab. “ Apa menurutmu dia akan memberitahuku? “ tanya nya.   “ Aku tidak yakin. “ Jawab Leo seraya membuka pintu dihadapannya. “ Kita sudah sampai, Zee. “ Ketika pintu sudah terbuka lebar, terpampang jelas di atap rumah Devanka benar – benar terdapat lapangan, hal itu lagi – lagi membuat Zevanya menggeleng takjub.   Selain megah dan banyak kejadian mengerikan, ternyata di dalam rumah ini juga terdapat beberapa tempat yang tidak terduga. Selama ini, Zevanya tidak pernah mengira kalau ada lapangan dibagian paling atas rumah Devanka karena jika diluar dari luar, bagian atas rumah lelaki itu hanya nampak dinding tinggi sehingga menutupi apa yang ada di Rooftop.   Zevanya melangkahkan kakinya menuju lapangan itu diikuti oleh Leo. Dia mengamati sekelilingnya mencari – cari keberadaan Devanka dan akhirnya Zevanya menemukan juga lelaki yang sejak tadi dia cari. Terlihat saat ini Devanka sedang memegang sebuah panah ke arah buah apel yang berada di atas manekin alias patung yang biasa digunakan sebagai model baju di toko pakaian. Buah apel berwarna merah itu di letakan tepat di atas kepala manekin tersebut.   Zevanya tidak berfikiran negatif atau apapun karena dia sendiri tahu permainan yang saat ini Devanka mainkan adalah sebuah panahan apel yang cukup populer dan banyak juga diluaran sana orang yang menyukai permainan ini.   Zevanya pun berjalan mendekati Devanka yang kini membelakanginya.   “ Devanka? “ panggil Zevanya.   Mendengar ada yang memanggilnya, Devanka membalikkan badannya dengan posisi anak panah yang sudah siap di lepas itu dia arahkan tepat ke wajah Zevanya yang saat ini berdiri di belakangnya.   Melihat panahan itu sudah berada tepat di depan wajahnya tentu saja membuat Zevanya terpanjat kaget karena takut sekali jika tiba – tiba saja Devanka melepaskan anak panah itu ke arahnya. “ De—dev? Aku hanya ingin pamit pulang. Bi—bisakah kamu turunkan panah mu? Aku takut panahan itu terlepas dan mengenai kepala ku. “ Detak jantung Zevanya berpacu cepat karena panik dihadapkan dengan sebuah panah yang nampak begitu runcing dibagian ujungnya dan dapat dipastikan jika Devanka melepaskan anak panah tersebut pasti langsung menembus kepala Zevanya.     Devanka menurunkan kebawah panahan yang sejak tadi mengarah ke arah Zevanya, ia melirik Leo yang berdiri dibelakang gadis itu.   “ Kenapa kamu membawa dia kemari? “ Devanka bertanya kepada Leo.   “ Sejak tadi dia mencari – cari keberadaan tuan karena ingin pamit pulang, jadi saya antar kemari. “ Terang Leo dan Devanka pun hanya berdecak saja tetapi dia tidak marah karena merasa kalau Zevanya tidak akan berani membocorkan ruangan ini kepada siapapun diluaran sana.   “ Kamu ingin pulang? “ tanya Devanka dan Zevanya pun mengangguk. “ Aku akan mengizinkan kamu pulang, tapi setelah aku berhasil memanah apel itu. “ Devanka menunjuk ke arah apel yang sejak tadi masih berada di atas kepala patung berbentuk manusia.   “ Baiklah, aku akan duduk disana menemani kamu. “ Zevanya berjalan melewati Devanka ingin menuju kursi yang berada disisi lapangan tetapi tangan Devanka menahan lengan Zevanya membuat gadis itu berhenti melangkah. “ Ada apa, dev? “ tanya Zevanya bingung.   “ Aku ingin kamu menjadi modelnya. “ Terang Devanka masih tidak dapat Zevanya pahami.   “ Maksud kamu? “ Zevanya mengerjapkan matanya berkali – kali.   “ Ikut aku. “ Devanka menarik tangan Zevanya berjalan ke arah ujung lapangan, saat itu Zevanya mengikutinya saja karena belum tahu apa tujuan Devanka.   Ketika sudah sampai di ujung lapangan, Devanka menyuruh Zevanya untuk berdiri disebelah manekin tersebut.   “ Dev, apa yang ingin kamu lakukan? “ perasaan Zevanya mulai tidak enak karena yakin pasti Devanka akan melakukan sesuatu yang tidak wajar dan benar saja ternyata Devanka memindahkan apel yang berada di kepala patung manekin tersebut ke atas kepala Zevanya.    “ Aku ingin kamu menjadi model panah apel karena aku bosan selalu saja menembak di atas kepala patung itu. “ Dengan santainya Devanka berkata seperti itu, ia tidak tahu saja saat ini jantung Zevanya sudah hampir copot dibuatnya.   “ Dev, aku mohon. Jangan jadikan aku model panahmu, aku sangat takut! “ Tubuh Zevanya mulai gemetar, ia menatap Devanka dengan wajah memelas. “ Bagaiman jika nanti panahan itu melesat dan mengenai kepalaku? “ tanya Zevanya dengan segala rasa cemas bercampur panik.   “ Itu resikomu, tugasku hanya memanah dan jika mengenai kepalamu, maka akun akan menguburmu bersama panah yang menancap dikepalamu. “ Devanka menampilkan senyuman penuh seringaian, tidak ada rasa iba yang tumbuh dalam dirinya kepada Zevanya yang sudah terlihat ingin menangis.   “ Devanka…aku mohon…” Suara lirih itu terdengar begitu parau dengan mata yang sudah tergenang air dan siap tumpah tetapi Devanka tidak perduli karena jika dia sudah menginginkan sesuatu, tentunya hal itu harus segera terlaksanakan.   “ Berdiri tegap dan jangan banyak bergerak karena jika kamu tidak bisa diam, panahku bisa melesat dan akan mengenai dahimu. “ Devanka menunjuk dahi Zevanya, lalu beralih menunjuk kedua bola mata Zevanya. “ Atau mungkin bisa saja mengenai mata kamu, Zee. “ Tambahnya semakin melemaskan lutut Zevanya sehingga membuat gadis itu tidak mampu berdiri tegak tetapi Devanka memaksanya untuk sigap tak boleh berdiri dalam keadaan lesuh.   “ Bersiaplah! “ Devanka membenarkan kembali buah apel di kepala Zevanya setelah itu dia pergi menjauh untuk mengatur posisinya yang siap memanah.   Keringat dingin mengucur di kening Zevanya, jantungnya berdetak hebat dan air mata mengalir begitu saja, ia mengigit bibirnya sendiri untuk menahan rasa ketakutan yang menyerang dirinya begitu hebat. Lagipula, siapa yang masih bisa tenang jika dirinya dijadikan model panah apel yang sangat beresiko.   Saat ini, Zevanya hanya bisa berdoa agar Devanka berhasil memanah tepat sasaran pada buah apel yang berada di atas kepalanya dan jika itu tidak terjadi, Zevanya meminta kepada sang pencipta agar melindungi kedua adiknya apabila dia tidak lagi berada di dunia ini.   Zevanya menarik nafasnya dalam – dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Dia sudah pasrah dengan keadaan dan sepertinya memang sudah begini jalan hidupnya bahwa tidak ada kebahagiaan karena hanya ada kesedihan di dalam hidupnya. Mungkin, inilah saatnya bagi Zevanya untuk meninggalkan dunia ini agar tidak lagi merasakan segala penderitaaan dan mungkin saja ini sudah waktunya Zevanya untuk bertemu dengan ibu dan ayahnya.   Disisi lain, Devanka sudah siap memulai aksinya. Mata Devanka berusaha untuk fokus ke arah titik yang ingin dia panah, tentunya untuk melakukan kegiatan ini diperlukan konsentrasi yang penuh. Dapat Devanka lihat gadis yang berdiri cukup jauh darinya saat ini nampak ketakutan sekali tetapi dia berusaha untuk tidak perduli karena baginya menggunakan Zevanya sebagai model panah apel adalah hal yang menarik. Jadi, Devanka merasa senang mendapatkan bahan baru untuk membangkitkan semangatnya dalam permainan ini.   SHOOT…   “ Sial! “ Devanka berdecak kesal karena anak panah yang sudah Devanka tembak ke arah apel melesat dan melewati tepat disamping telinga Zevanya.   DEG…   Jantung Zevanya berhenti berdetak selama beberapa detik ketika melihat anak panah yang baru saja Devanka tembak ke arahnya nyaris menusuk telinga bagian kanan miliknya dan tentu saja hal itu membuat ketakutan semakin memenuhi Zevanya karena ternyata Devanka tidak bisa menembak tepat sasaran. Mata Zevanya menatap lurus ke arah Devanka yang kini ingin kembali memberikan tembakan ke arah apel yang masih tetap berada di kepala Zevanya.   ‘ Sumpah demi tuhan, jika aku mati…aku akan meminta kepada tuhan agar menyeretmu ke neraka! ‘ batin Zevanya mengeluarkan sumpah serapah untuk Devanka.   “ Baiklah, sekali lagi. “ Ucap Devanka seraya mengambil anak panah yang berada di atas meja kecil tepat disampingnya.   Devanka mencoba untuk memastikan kembali agar tembakannya nanti tepat pada sasaran dan setelah merasa sudah yakin, perlahan Devanka menarik busur panahan lalu dengan penuh keyakinan dia melepaskan anak panah tersebut ke arah apel yang berada di atas kepala Zevanya.   SHOOT…   Zevanya buru – buru memejamkan kedua matanya ketika anak panah sudah tertuju ke arahnya, ia tidak ingin melihat benda runcing itu jika kali ini melesat menembus kepalanya.   TUKK…   Seketika Zevanya membuka matanya karena merasakan buah apel yang berada di atas kepalanya jatuh ke bawah.   Devanka mengayunkan tangannya ke belakang sambil berkata. “ Yes! “ Lelaki itu sangat puas dan bangga karena tembakannya kali ini berhasil dan anak panah itu sudah menancap tepat pada buah apel yang berada di atas kepala Zevanya.   Zevanya tertegun setelah menyadari bahwa dirinya saat ini masih hidup dan tembakan Devanka berhasil tepat sasaran dan tidak melesat seperti tadi. Sepertinya, takdir tuhan berkata lain dengan menunda Zevanya untuk menemui kedua orang tuanya karena tuhan menginginkan Zevanya untuk tetap hidup.   “ Terima kasih , ya allah. “ Zevanya pun langsung mengucap syukur kepada sang pencipta. Dia buru – buru jalan mendekati Devanka dengan rasa takut yang masih menyeruak di dalam dirinya. “ Devanka, tugasku sudah selesai. Aku ingin pulang. “ Pamitnya karena dia tidak ingin berlama – lama lagi disini sebab Zevanya takut kalau Devanka akan meminta dirinya untuk melakukan hal yang aneh – aneh.   “ Baiklah. “ Devanka mengangguk dengan senyuman puas karena permainan panah apel kali ini terasa lebih menyenangkan dibanding sebelumnya.   Zevanya pun bergegeas pergi menghampiri Leo. “ Bisakah kamu antarkan aku turun ke bawah? “   “ Tentu saja. “ Leo mengikuti Zevanya yang berjalan dengan langkah cepat agar segera menjauh dari Devanka yang kini sedang memandangi kepergiannya dengan wajah menyeringai.   “ Dasar ibliss!!! “ umpat Zevanya ketika sudah keluar dari Rooftop.   Leo tersenyum tipis saja mendengar Zevanya menggerutu.   “ Dia sudah gila menjadikan manusia sebagai model panah! “ cibirnya seraya menuruni anak tangga dengan langkah cepat.   “ Hati – hati, Zee. Nanti kamu jatuh. “ Leo mencoba memperingati gadis yang berjalan cepat di depannya.   “ Kenapa kamu tidak menolongku, Leo? “ tanya Zevanya ketika sudah berada di ujung anak tangga.   “ Karena aku yakin tuan Devanka tidak akan memahan tepat di kepalamu. “ Jawab Leo dengan tenang.   “ Mengapa kamu yakin kalau si ibliss itu tidak akan memanah kepala ku? Buktinya tadi tembakan dia sempat melesat dan itu tidak menutup kemungkinan kalau anak panah itu bisa menembus kepalaku. “ Oceh Zevanya panjang lebar karena dia masih merasa kesal bercampur emosi, bahkan dia bicara dengan nafas tersenggal – senggal.   “ Baiklah, aku salah. “ Tangan Leo bergerak untuk mengusap lembut kepala Zevanya membuat gadis itu bungkam karena tangan Leo yang baru saja mengelus kepalanya terasa begitu tulus.   “ Maafkan aku, ya. “ Ungkap Leo yang tak ingin banyak berdebat karena dia yakin sebanyak apapun dia menjelaskan sesuatu kepada perempuan yang sedang marah akan sia – sia. Jadi, untuk mempercepat dan menghentikan Zevanya marah padanya, lebih baik Leo mengaku saja bersalah dan minta maaf.   Zevanya pun tidak banyak bicara lagi karena Leo menghadapi dirinya yang sedang emosi dengan tenang dan tidak ikut marah. Justru, lelaki itu malah mengaku salah dan meminta maaf meskipun sebenarnya dalam hal itu Leo tidak sepenuhnya salah.   “ Baiklah. “   Leo pun menekan tombol yang berada di dinding karena memang untuk menggeser lemari tersebut ada dua cara. Pertama, Jika ingin masuk ke dalam harus menekan tombol yang terdapat di dalam lemari atau lebih tepatnya berada dibalik buku. Sedangkan jika ingin keluar, cukup menekan tombol yang berada di dinding ruangan rahasia tersebut. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN