- POTONGAN KEPALA -

2443 Kata
Zevanya baru saja sampai di depan Apartemennya, ia terkejut ketika mendengar dari luar pintu ada suara orang dewasa bicara pada adiknya di dalam Apartemennya. Zevanya pun buru – buru menggerakan tangannya untuk membuka pintu dan langsung masuk. Dia sangat takut kalau ternyata di dalam ada orang suruhan Devanka yang entah ingin melakukan apa tetapi yang pasti Zevanya merasa was – was karena takut adiknya diapa- apain.   “ Neo…Ninis! “ Serunya ketika sudah berada di dalam dan ia kaget ternyata ada tante maya dan om Adam sedang makan bersama adiknya. Zevanya pun bisa bernafas lega karena suara yang dia dengar tadi berasal dari om dan tantenya sendiri.    “ Zee? Ada apa? kenapa kamu terlihat panik? “ tanya Maya kepada keponakannya yang baru saja masuk ke dalam Apartemen, ia melihat ada kekhawatiran dari raut wajah Zevanya.   “ Eh—ada tante dan om. “ Zevanya berusaha menampilkan senyumannya, ia berjalan mendekati Maya lalu menarik kursi untuk duduk di sebelah tantenya itu.   “ Apa ada sesuatu yang terjadi? “ tanya Adam yang duduk dihadapan Zevanya.   “ Tidak ada, om. “ Balasnya.   “ Zee, tadi Ninis dan Neo cerita katanya sekarang kamu bekerja ya? apa itu benar? “ tanya Maya yang tidak  tahu – menahu soal Zevanya yang kini sudah bekerja.   “ Benar, tante. “ Jawab Zevanya seraya menuang air ke dalam gelas karena dia merasa haus.    “ Kenapa kamu tidak beritahu tante? “ Maya mengelus kepala keponakannya yang kini sudah menjadi anak yatim – piatu.    “ Aku hanya tidak ingin merepotkan om dan tante. “ Zevanya meneguk segelas air yang tadi dia tuang.   “ Memangnya apa pekerjaan kamu? “ tanya Maya.   Uhukk…Uhukk…   “ Pelan – pelan dong, Zee. “ Maya beralih mengusap – usap punggung Zevanya.   Zevanya terbatuk ketika mendapati pertanyaan itu, sebenarnya tidak ada yang salah dengan apa yang Maya tanyakan, hanya saja dia bingung harus berkata apa, sedangkan Alin yang pada saat itu menginterviewnya menjelaskan bahwa Zevanya tidak boleh memberi tahu siapapun apa pekerjaan sebenarnya dan dimana lokasi tempatnya bekerja.   “ Kamu belum jawab pertanyaan tante, Zee. “ Maya terlihat penasaran.   Zevanya mengambil tissue lalu mengelap bibirnya yang basah.   “ Aku bekerja sebagai Baby Sitter. “ Bohong Zevanya, dalam hatinya dia melanjutkan ucapannya. ‘ Baby Sitter Devanka iblis! ‘ batinnya.   “ Memangnya kamu bisa urus anak kecil? “ tanya Adam.   “ Bisa, om. Apalagi anak yang aku urus sudah berumur 10 tahun, jadi tidak terlalu repot. “ Lagi – lagi Zevanya berbohong.   “ Maafkan tante ya, Zee. “  Maya menunduk dengan wajah sedikit sendu.   “ Minta maaf untuk apa, tante? “ Zevanya merendahkan pandangannya agar bisa menatap Maya.   “ Karena tante tidak bisa membiayai hidup kalian sepenuhnya. Tante jadi merasa bersalah dan gagal untuk membahagiakan kalian. “ Jawab Maya tak enak hati. Dia ingin sekali membantu Zevanya dan kedua adiknya untuk memberikan biaya hidup tetapi Maya sendiri hidup pas – pasan.   “ Tidak apa – apa, tante.  Lagipula, Zevanya sudah cukup dewasa untuk mencari uang sendiri. “ Zevanya memeluk tantenya dari samping. “ Tante sudah sangat baik kepada aku, Ninis dan Neo. Jadi, jangan pernah merasa bersalah atas semua ini. “   Tangan Maya mengusap kepala Zevanya. “ Kamu gadis pintar dan punya pemikiran yang dewasa, Zee. “   “ Keadaan yang memaksa aku untuk menjadi lebih dewasa. “ Balas Zevanya membuat Adam dan Maya terharu mendengarnya.   “ Kamu pasti lapar, kan? “ Maya menyudahi pelukannya dan memberikan Zevanya box berisi makanan yang sengaja Maya beli memang untuk para keponakannya. “ Ini di makan ya, nasi dan ayam bakar. “ Terang Maya.   “ Kebetulan sekali aku lapar. “ Zevanya mengambil nasi box itu dan ingin segera menyantapnya.   “ Zee…” Maya menahan tangan Zevanya yang ingin langsung memocel ayam bakar.   “ Kenapa tante? “   “ Cuci tangan dulu, dong. “ Maya memukul pelan tangan Zevanya. “ Masa makan dalam keadaan tangan kotor. “   “ Oh iya, lupa. “ Zevanya cengar – cengir, ia bangun dari duduknya dan bergegas mencuci tangan sekalian dia mengganti pakaian lengan panjang yang sejak tadi dia pakai dengan kaos lengan pendek.   Zevanya kembali duduk disebelah Maya. “ Waktunya makan. “ Zevanya pun mulai melahap nasi dan ayam bakar yang begitu mengugah selera.   Maya terlihat senang keponakannya sangat lahap menikmati makanan yang dia bawa, tapi ada satu hal yang menggangu pandangan Maya yaitu beberapa sayatan tipis di lengan Zevanya.   “ Zee…” Maya menahan tangan Zevanya yang ingin memasukkan nasi ke dalam mulutnya.   “ Ada apa lagi, tante? “ Zevanya menunda aktivitas melahap makannya.   “ Kenapa tanganmu terdapat beberapa luka? “ tanya Maya langsung membuat Zevanya terpanjat kaget karena dia lupa menggunakan baju lengan panjang untuk menutupi beberapa luka sayat hasil karya Devanka.   “ Hah? “ Zevanya melongo selama beberapa saat sambil mengerjapkan matanya dengan cepat.   “ Apa ada yang melukai kamu? Katakan apa yang sebenarnya terjadi selama tante tidak kesini, Zee? “ Maya terlihat cemas karena menurutnya tidak mungkin luka sayatan itu dilakukan secara sengaja oleh Zevanya.   “ Tante tenang saja, luka ini disebabkan karena tercakar kuku. “ Zevanya berusaha untuk mengelak.   “ Tapi, kenapa luka itu tidak terlihat seperti cakaran kuku manusia? “ celetuk Adam yang ternyata juga memperhatikan lengan Zevanya. “ Dan… kuku kamu juga tidak ada yang panjang. “ Kata Adam membuat Zevanya jadi gugup.   “ Um…” Zevanya meneguk salifanya susah payah sebelum akhirnya menjawab. “ Ini bukan karena cakaran kuku Zee, tapi disebabkan oleh cakaran kucing yang ada dirumah tempat aku bekerja. “ Bohong Zevanya dengan harapan kali ini tante dan om nya percaya.   “ Kamu yakin? “ Maya memicingkan matanya karena merasa ada yang disembunyikan oleh keponakannya itu.   “ Sangat yakin! “ Zevanya manggut – manggut.   “ Pokoknya, kalau ada apa – apa jangan kamu simpan sendiri ya? beritahu tante dan om. “ Ujar Maya mengingatkan Zevanya agar tidak menyembunyikan sesuatu dari Maya dan Adam karena biar bagaimana pun Zevanya dan kedua adiknya sudah menjadi tanggung jawab Maya selaku adik dari ibunya Zevanya.   “ Iya, tanteku. “ Zevanya menampilkan senyuman terpaksa meskipun dalam hatinya menjerit. Dia ingin sekali mengadu pada Maya dan Adam bahwa saat ini Zevanya sedang berada dalam bahaya tetapi Zevanya takut kalau Devanka akan melakukan sesuatu yang buruk pada tante dan om nya. Zevanya tidak ingin hanya karena dirinya jadi melibatkan nyawa orang lain. Alhasil, memendam apa yang dia rasakan adalah jalan terbaik.   “ Yaudah, habiskan makananmu. “   Maya dan Adam tidak bisa berlama – lama di Apartemen Zevanya karena takut ada seseorang yang memata – matai mereka sehingga jadi tahu lokasi dimana Zevanya tinggal.   Zevanya mengantarkan Adam dan Maya sampai depan pintu.   “ Maaf ya, tante tidak bisa berlama – lama disini karena di bawah ada temen tante menunggu di mobil. “ Jelas Maya.   “ Kenapa teman tante tidak di ajak naik ke atas? “ tanya Zevanya.   “ Dia sengaja menunggu di bawah untuk jaga – jaga kalau ada yang mengikuti kita, jadi nanti dia langsung lapor ke tante. “ Jelas Maya membuat Zevanya sedikit bingung sebenarnya apa yang terjadi, ia ingin sekali bertanya soal ini tetapi waktunya tidak tepat karena mereka ingin segera pulang.   “  Yaudah, tante hati – hati ya, di jalan. “ Zevanya memeluk satu – satunya keluarga dari ibunya yang dia miliki. “ Kalau ada waktu luang, jangan lupa mampir kesini lagi ya. “   “ Iya keponakanku. “ Maya nampak tak tega meninggalkan Zevanya, tapi dia harus buru – buru pergi dari sana.   Maya melepaskan pelukannya. “ Zee, kalau ada apa – apa tolong jangan kamu sembunyikan dari tante dan om Adam ya. “ Maya mengusap pipi Zevanya dengan lembut.   “ Iya, tante. “ Zevanya mengangguk saja meskipun dalam hatinya dia merasa bersalah karena sudah membohongi tantenya sendiri.   “ Zee… selalu waspada dan jangan biarkan orang asing masuk ke dalam Apartemen kamu, ya? “ Adam memperingati Zevanya.   “ Siap, om! “ Zevanya memberikan hormat.   “ Baiklah, kami pergi dulu. “   Maya dan Adam pun bergegas meninggalkan Apartemen dengan langkah yang selalu saja terburu - buru.   **   Burung – burung hinggap di dahan pohon sambil bernyanyi – nyanyi mengiringi langkah Zevanya yang saat ini sedang berjalan santai menuju Halte Bus. Dia menghirup udara pagi ini yang masih terasa begitu sejuk untuk menikmati sejenak kedamaian di dalam hidupnya sebelum nanti sampai di rumah Devanka karena jika sudah berada disana yang Zevanya dapatkan selalu saja hal – hal mengerikan.   Sambil berjalan, ia melihat ke kanan dan kirinya terdapat beberapa orang anak yang sedang di gandeng oleh orang tuanya. Hati Zevanya merasa mencelos karena dia jadi rindu orang tuanya, ia ingin sekali menggengam tangan ibu dan ayahnya tetapi hal itu tidak akan pernah terjadi lagi. Zevanya telah kehilangan orang tuanya untuk selama – lamanya dan itu adalah bagian terpahit dalam hidupnya.   Zevanya mencoba mengalihkan pandangannya ke arah depan yang saat ini terlihat banyak orang sedang berkerumun, ia fikir mereka sedang menunggu angkutan umum tetapi setelah difikir – fikir lagi tidak mungkin orang menunggu angkutan didekat gorong – gorong.   “ Ada apa ya? “ Zevanya jadi penasaran, ia pun mempercepat langkahnya ke arah kerumunan untuk melihat apa yang terjadi.   Zevanya menutup hidungnya ketika mencium bau anyir dan saat dia sudah semakin dekat bau tersebut pun semakin menyengat. Zevanya menepuk seorang perempuan yang berdiri di depannya.   “ Mbak, apa yang terjadi? “ tanya Zevanya.   Perempuan itu menoleh untuk menjawab. “ Ada mayat tanpa kepala. “ Jawab perempuan itu membuat Zevanya tercengang.   “ Ta—tanpa kepala? “ mulut Zevanya terbuka lebar. “ Apa kepalanya belum ditemukan? “   “ Belum. “ Jawab perempuan itu.   Zevanya pun semakin penasaran, ia sampai harus berjinjit agar dapat melihat ke arah mayat tanpa kepala yang tadi disebutkan oleh perempuan itu. Setelah bersusah payah, akhirnya Zevanya dapat melihat dengan jelas sosok lelaki yang tergeletak bersimbah darah tanpa kepala di dalam gorong – gorong.   Hoek…   Seketika Zevanya mendadak mual sehabis melihat mayat tersebut, ia bergegas untuk pergi menjauh dari kerumunan itu karena tidak tahan melihat sebagian isi dari leher mayat tersebut menonjol. Zevanya terheran – heran kenapa si pembunuh pria tersebut hanya meninggalkan tubuhnya saja, lalu kemana bagian kepalanya? apakah mungkin kepalanya di buang di tempat lain? Entahlah, hanya pembunuh itu yang tahu.   Zevanya memegangi kepalanyanya sendiri yang mendadak pusing. “ Sial! Kenapa aku harus melihat hal menjijikan seperti itu pagi – pagi begini! “ Umpat Zevanya, ia merasa di awal harinya sudah mengalami hal yang buruk.   Ketika bus datang, Zevanya buru – buru naik dan tak mau menoleh ke arah kerumunan tersebut karena hanya akan membuatnya terbayang – bayang mayat tanpa kepala tersebut. Di saat busn yang Zevanya naiki saat ini sudah melaju, terlihat beberapa mobil polisi datang dan Zevanya yakin mereka ingin menuju ke TKP mayat pria tadi.   Sampainya dirumah Devanka, gadis itu kaget karena melihat Devanka sudah bangun dan kini berada di lantai dasar.   “ Devanka? Tumben jam segini kamu sudah turun kebawah? “ tanya Zevanya karena dia sendiri belum sempat menyiapkan makanan untuk lelaki itu.   “ Bawakan Ice Lemon ke halaman belakang. “ Devanka berjalan melewati gadis itu dan pergi menuju halaman belakang.   Zevanya berjalan ke halaman belakang dengan tangan membawa segelas Ice Lemon dingin dan terlihat begitu segar, ia mendekati Devanka yang saat ini sedang duduk di kursi kayu.   “ Ini minumannya, dev. “ Zevanya meletakkan minuman segar itu di atas meja yang berada tepat di sebelah Devanka.   Devanka mengambil gelas itu dan langsung meneguknya, ia melirik Zevanya yang saat ini berdiri disebelahnya terlihat gelisah.   “ Ada apa denganmu? “ tanya Devanka seraya meletakkan kembali gelas tersebut ke atas meja.   “ Tidak ada apa – apa, dev. “   “ Katakan padaku! “ tegas Devanka, ia ingin ketika dirinya bertanya, maka Zevanya harus menjawab dengan jujur tanpa harus ada yang disembunyikan darinya.   “ Um…” Zevanya menunduk sebentar sebelum akhirnya kembali mendongakan kepalanya menatap Devanka. “ Tadi ketika berangkat kerja, aku melihat ada mayat tanpa kepala. “ Jelas Zevanya tetapi malah membuat Devanka tersenyum.   “ Kenapa kamu tersenyum, dev? “ tanya Zevanya merasa heran.   “ Keren! “ seru Devanka semakin membuat Zevanya kebingungan.   “ Apanya yang keren? “   “ Menurutku, membunuh dengan cara memutuskan kepala seperti itu sangat keren sekali! “ balas Devanka dengan santai tanpa merasa bersalah ataupun berdosa.   Zevanya diam saja tidak ingin merespon ucapan gila yang keluar dari mulut Devanka.   ‘ Dasar iblis! ‘ batin Zevanya.   “ Lalu, bagaimana keadaan mayat tersebut? Apakah kepalanya sudah ditemukan? “ tanya Devanka.   “ Sepertinya belum. “ Zevanya menggeleng.  “ Tapi, aku yakin polisi akan segera menemukan kepala mayat tersebut dan juga pelakunya. “ Imbuhnya.   “ Hmm…Jadi, itu yang membuat kamu terlihat gelisah. “ Devanka kembali mengambil segelas Ice lemon dan meneguknya.   “ Iya, dev. “   Tak lama, Leo bersama beberapa Bodyguard lainnya datang mendekati Devanka yang sedang mengobrol bersama Zevanya.   “ Pagi, tuan Devanka. “ Sapa Leo, ia melirik sekilas ke arah Zevanya kemudian menatap kembali ke arah Devanka.   “ Apa ada berita terbaru soal keluarga pengkhianat itu? “ tanya Devanka.   “ Belum ada, tapi kami punya hadiah untuk tuan Devanka sesuai yang kami beritahu kepada tuan tadi malam. “ Terang Leo.   “ Letakan saja disitu. “ Devanka menunjuk ke arah meja di sebelahnya.   Leo menoleh kebelakang atau lebih tepatnya ke arah Bodyguard yang kini memegang sebuah kardus berukuran sedang seperti kardus mie instan, lelaki itu meletakkan kardus itu di atas meja.   “ Leo, tolong cari tahu keluarga itu sampai ketemu! “ tegas Devanka. “ Jangan biarkan mereka lolos dan hidup dengan damai! “   “ Baik, tuan. Kami akan pergi untuk menelusuri lebih lanjut kemana mereka pergi. “ Jawab Leo.   “ Hm. “ Devanka menggerakkan tangannya menyuruh mereka semua untuk segera pergi.   Zevanya memandangi kardus yang berada di hadapannya saat ini.   “ Zee, tolong buka kardus itu. “ Perintah Devanka.   “ Baiklah. “ Zevanya melepaskan perekat plastik yang menempel di bagian atas kardus agar dapat terbuka, setelah berhasil membuka perekat itu, Zevanya pun membuka bagian atas kardus untuk melihat apa isi di dalamnya.   DEG…   “ AAAAAA…” Zevanya menjerit histeris ketika melihat isi di dalam kardus tersebut adalah sebuah kepala dengan mata melotot dan lidah yang menjulur keluar serta berlumuran darah. Lutut Zevanya seperti ingin terlepas dari kakinya karena begitu gemetar hebat dan sangat ketakutan atas apa yang baru saja di lihat. Bau amis dan sedikit busuk yang berasal dari kepala tersebut membuat Zevanya ingin memuntahkan isi perutnya.   Devanka menyeringai melihat gadis dihadapannya teriak ketakutan. “ Mungkin itu kepala yang sedang dicari – cari polisi saat ini. “ Ungkap Devanka dengan santai kepada Zevanya seraya menyeruput kembali segelas Ice Lemon ditangannya sambil menikmati jerit ketakutan yang masih terdengar dari mulut Zevanya.   BUKK…   Rasa terkejut yang amat sangat membuat Zevanya kehilangan kesadaran dan jatuh pingsan begitu saja. Dia tidak tahan melihat kepala itu dalam keadaan mengerikan, bahkan Zevanya tidak tahu apakah itu benar kepala lelaki yang dia lihat tadi pagi atau bukan karena Zevanya sendiri tidak mengenalinya. Namun, terlepas dari benar atau tidak kepala itu milik mayat tersebut, tapi yang pasti Zevanya benar – benar shock berat.   **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN