Muak

1552 Kata
Di meja staf yang letaknya hanya terpisah beberapa meter, suasana terasa jauh lebih "sibuk" dibandingkan meja utama. Suara denting garpu yang beradu dengan porselen sesekali tertutup oleh obrolan serius antara Wira dan Pandu. "Lahan di Surabaya itu posisinya strategis, Ndu. Tapi kalau Laksmi Group tidak segera mengurus izin Amdal-nya, Tuan Praditya tidak akan mau tanda tangan," ucap Wira dengan nada profesional, matanya fokus pada draf di tabletnya. Pandu mengangguk pelan sembari menyesap kopinya. "Kami sedang usahakan. Ningsih sudah pegang berkasnya, kan?" Ningsih, sekretaris Widya yang sejak tadi tampak kaku, mengangguk cepat. "Sudah, Mas. Tinggal menunggu instruksi dari Nona Widya." Amindita sesekali menimpali dengan data teknis yang ia hafal di luar kepala. "Izin itu harus keluar paling lambat akhir kuartal ini, Mas Pandu. Kalau tidak, valuasi proyeknya akan turun." Bagi siapa pun yang melihat, pertemuan ini tampak aneh. Para asisten dan sekretaris bekerja keras membahas angka dan legalitas, sementara di meja utama, dua atasan mereka tampak asyik dalam dunianya sendiri. Widya terus berceloteh manja tentang rencana shopping-nya di Paris, tangannya sesekali mengusap lengan Praditya dengan provokatif. Amindita benar-benar tidak peduli. Ia memotong steak-nya dengan tenang, fokus pada makanannya dan obrolan kerja di depannya. Baginya, ini adalah cara terbaik untuk menjaga kewarasannya. Karena bagi Amindita pernikahan ini hanya alat untuk dia membalas hutang Ayahnya. Biarkan saja dia dengan dunianya, aku hanya perlu bertahan sampai kontrak ini selesai, batin Amindita. Namun, ketenangan Amindita adalah duri bagi Praditya. Praditya duduk dengan kaku. Meskipun matanya seolah menatap Widya yang sedang tertawa, fokusnya tidak ada di sana. Telinganya justru menangkap setiap tawa kecil Amindita yang menanggapi candaan Pandu. Ia mencuri pandang ke arah meja staf melalui pantulan kaca di samping meja mereka. Darahnya mendidih melihat bagaimana Amindita bersikap seolah dirinya tidak ada. Wanita ini benar-benar menganggap pernikahan semalam tidak terjadi? pikir Praditya jengkel. "Pradi? Kamu dengerin aku nggak sih?" Widya merajuk, menyentuh dagu Praditya agar pria itu menatapnya kembali. "Ya, Widya. Paris. Aku dengar," jawab Praditya pendek, suaranya terdengar jauh lebih tajam dari biasanya. Matanya kembali melirik ke arah Amindita. Saat itu, Pandu tanpa sengaja menyentuh tangan Amindita saat hendak mengambil botol lada. Amindita hanya tersenyum tipis dan menggeser botol itu. Sebuah interaksi kecil yang biasa, namun di mata Praditya yang sedang dikuasai rasa cemburu dan posesif, itu tampak seperti undangan. Undangan ingin mematahkan tangan yang menyentuh dengan pancang istrinya. Ya... Memang istrinya bukan sekretarisnya itu. Praditya mendadak meletakkan pisau dan garpunya dengan denting yang cukup keras, membuat Widya tersentak. "Amindita!" panggil Praditya dengan suara lantang, memotong obrolan di meja staf. Amindita mendongak, wajahnya menunjukkan keterkejutan dan bercampur dengan kebingungan. "Iya, Tuan?" "Bawa berkas laporan keuangan kuartal ketiga ke sini. Ada bagian yang ingin aku tunjukkan pada Widya," perintah Praditya dingin. Amindita mengernyit. "Tapi Tuan, bukankah tadi Anda bilang ini hanya makan siang santai? Berkas itu ada di tas saya di—" "Sekarang, Amindita. Dan duduklah di sini. Kau harus menjelaskan bagian pajaknya padaku," potong Praditya, matanya menatap Amindita dengan intensitas yang seolah ingin menelan wanita itu bulat-bulat. Widya mendengus kesal. "Pradi! Masa dia harus duduk di sini? Ganggu banget, sih!" "Dia sekretarisku, Widya. Dan dia tahu lebih banyak soal angka daripada kau," sahut Praditya tanpa menoleh pada tunangannya. Ia memberikan kode pada Amindita agar segera pindah kursi ke sampingnya—kursi yang tadinya kosong dan kini menjadi medan tempur baru bagi mereka bertiga. --- Amindita melangkah menuju parkiran dengan sisa-sisa kejengkelan yang membuncah di dadanya. Ia menggerutu pelan sembari membuka pintu mobil Rolls-Royce milik suaminya untuk mengambil map tebal yang diperintahkan. "Dasar pria labil. Tadi bilangnya jangan merusak suasana, sekarang malah minta berkas," gumam Amindita sembari membanting pintu mobil dengan tenaga yang sedikit lebih besar dari biasanya. Ia tahu Praditya hanya sedang mencari alasan untuk menariknya dari meja staf, namun cara pria itu benar-benar menguji kesabaran. Saat kembali ke meja makan, Amindita berdiri dengan tegak dan menyerahkan berkas itu pada Praditya. Ekspresi wajahnya menunjukkan protes yang nyata, alis yang bertaut dan bibir yang terkatup rapat. Setelah meletakkan map itu, Amindita segera berbalik, berniat kembali ke mejanya yang tenang bersama Wira dan Pandu. Namun, suara dingin Praditya menghentikannya bak sembilu. "Kamu tuli, Dita? Sudah kukatakan, duduk di sini," ucap Praditya tanpa menoleh, matanya tetap tertuju pada dokumen di depannya. Widya yang melihat itu langsung menyeringai puas. Ia tertawa kecil di balik jemari lentiknya yang terawat, merasa senang melihat Amindita ditegur secara kasar di depan umum. "Tuh, dengerin calon suamiku, Dita. Kamu itu sekretaris, turuti saja apa kata atasanmu." Ucap Widya angkuh. Amindita sempat mendelik tajam ke arah Praditya. Dalam hatinya, ia ingin sekali menarik bibir pria itu—bibir yang tadi malam begitu lancang "nyosor" tanpa permisi namun sekarang bicara seolah ia adalah b***k yang tak punya telinga. Dengan helaan napas berat, Amindita menarik kursi di samping Praditya, menciptakan jarak yang sangat tipis di antara mereka. "Jelaskan poin pajak dan risiko likuiditas dari proyek ini pada Nona Widya," perintah Praditya lagi. Praditya menyandarkan punggungnya, menatap Widya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sejujurnya, ia heran bagaimana Mahendra—calon mertuanya—bisa begitu percaya menyerahkan proyek sebesar ini pada putrinya. Widya tidak tahu apa-apa selain warna lipstik terbaru dan diskon di butik ternama. "Silakan diperhatikan, Nona Widya," ujar Amindita memulai penjelasan dengan nada profesional. "Di halaman empat belas, terdapat skema pemotongan pajak progresif yang akan berdampak pada margin keuntungan sebesar 15% jika kita tidak segera melakukan restrukturisasi biaya operasional—" "Duh, bisa dipersingkat nggak sih?" potong Widya dengan angkuh. "Maaf?" "Tau arti dipersingkat nggak sih? Lagian, aku nggak usah deh sayang." Widya berbalik pada lelaki tamoan di dekatnya. "Aku ikut kamu aja deh. Kamu kan yang pegang. Aku cukup tahu kapan uangnya masuk ke rekeningku." Praditya tak bergeming sama sekali. Hanya melirik Amindita dari ujung matanya. "Kamu nggak perlu sok pintar dengan istilah-istilah pusing itu." Ia memainkan kuku-kukunya, bahkan tidak melirik map itu sedikit pun. Amindita terdiam sejenak, menelan ludahnya. Ampun jika berurusan dengan wanita satu ini. "Ini menyangkut legalitas perusahaan Anda juga, Nona. Jika perhitungannya salah—" "Dita, cukup," Widya mengibaskan tangannya di depan wajah Amindita seolah sedang mengusir lalat. "Pradi, lihat deh sekretarismu ini. Dia cerewet banget. Padahal aku cuma mau makan siang cantik sama kamu, bukan mau kuliah ekonomi." Praditya tidak menanggapi rengekan Widya. Matanya justru terpaku pada tangan Amindita yang memegang pena dengan kencang, menahan amarah. Praditya tiba-tiba mengulurkan tangannya di bawah meja, meraih paha Amindita dan mencengkeramnya dengan tekanan yang memberi isyarat agar istrinya itu tetap tenang. Amindita tersentak, hampir saja ia menjatuhkan penanya. Ia menoleh pada Praditya dengan mata membelalak, namun pria itu hanya menatap lurus ke depan dengan wajah datar seolah tangannya tidak sedang berbuat "dosa" di bawah meja makan yang mewah itu. Memberikan tekanan yang membuat jantung Amindita berdegup liar karena kaget dan amarah yang bercampur baur. Amindita melirik tajam ke arah Praditya dari sudut matanya, memberi isyarat agar pria itu melepaskannya. Tangan kirinya turun ke bawah, mencoba menepis jemari Praditya yang nakal itu. Namun, alih-alih lepas, Praditya justru semakin erat mencengkeramnya, bahkan jemarinya mulai bergerak perlahan, seolah menantang batas kesabaran Amindita. "Seperti yang saya katakan tadi, Nona Widya," Amindita melanjutkan penjelasannya dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha sekuat tenaga menjaga profesionalitasnya meskipun "serangan" di bawah meja itu membuatnya geram. "Restrukturisasi ini krusial." "Duh, Dita! Kamu nggak dengar ya? Aku bilang berhenti bicara soal angka!" Widya menyela dengan nada ketus. Ia kemudian sengaja memajukan tubuhnya, menempelkan dadanya ke lengan Praditya sembari mengusap pipi pria itu dengan manja. "Pradi, kamu lihat kan? Sekretarismu ini benar-benar tidak tahu situasi. Masa di depan tunanganmu sendiri dia terus-menerus bicara soal kerjaan? Apa dia sengaja mau cari perhatian kamu?" Amindita mendengus dalam hati, merasa sangat muak. Bukan karena cemburu, demi Tuhan, dia sama sekali tidak cemburu. Tapi dia geram melihat Widya yang seolah tidak punya harga diri, merendahkan dirinya hanya untuk mencari perhatian seorang pria yang bahkan bersikap dingin padanya. Lalu apa katanya tadi? Mengatakan soal kerjaan terus? Yang tuli seharusnya dia bukan? Praditya sendiri yang meminta Amindita untuk menjelaskan. Kok jadi Dita yang salah? Dan yang paling membuatnya ingin mengumpat adalah pria di sampingnya ini. b******n, batin Amindita. Praditya tidak menolak Widya yang bermanja-manja padanya—meski wajahnya datar—namun di saat yang sama, tangannya justru bermain lancang di bawah meja terhadap istri sahnya. Praditya menoleh ke arah Widya, namun matanya tetap dingin. "Dia hanya menjalankan tugasnya, Widya. Justru kau yang seharusnya belajar sedikit bagaimana cara menghargai waktu bisnis." Meski berkata demikian, tangan Praditya di bawah meja tidak berhenti. Ia justru semakin berani, merayap lebih tinggi hingga membuat Amindita hampir memekik. "Tuan Praditya," Amindita memotong pembicaraan dengan nada tegas, matanya menatap lurus ke arah Praditya dengan kilatan kemarahan yang nyata. "Jika penjelasan saya sudah dianggap cukup oleh Nona Widya, izinkan saya kembali ke meja saya. Saya rasa tangan Anda... maksud saya, Anda sudah memiliki semua data yang diperlukan di dalam map tersebut." Amindita dengan paksa menyentak tangan Praditya di bawah meja dan langsung berdiri. Ia tidak peduli lagi dengan tatapan bingung Widya atau tatapan tajam Praditya yang seolah ingin menelannya hidup-hidup. "Permisi," ucap Amindita singkat sebelum berbalik menuju meja Wira dan Pandu, meninggalkan aura ketegangan yang pekat di meja utama. Praditya mengepalkan tangannya yang kini kosong. Ia menatap punggung Amindita dengan rasa haus yang semakin menjadi-jadi. "Sandiwara ini akan segera berakhir, Dita. Dan saat itu tiba, tidak akan ada meja yang menghalangi tanganku," bisiknya pelan, yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri di tengah celotehan manja Widya yang kembali memenuhi rungu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN