Mobil sedan mewah itu terparkir di lobi utama gedung Ararya Group. Amindita, dengan gerak refleks profesional yang sudah terlatih selama dua tahun, langsung membuka pintu depan di samping kursi pengemudi. Ia baru saja hendak mendudukkan dirinya sebelum suara bariton yang berat dan penuh tekanan menghentikan niatnya untuk mendudukkan bokongnya.
"Kenapa duduk di depan?" Praditya bertanya dengan nada memprotes yang sangat kental.
Amindita tertegun, tangannya masih memegang sabuk pengaman. Ia menoleh ke arah jok belakang, di mana Praditya sudah duduk dengan kaki bersilang, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Bukankah memang selalu seperti ini, Tuan? Apa ada yang salah?" jawab Amindita bingung dan bertanya balik.
"Ck, itu sebelum kamu menjadi istriku," decak Praditya sinis. Matanya melirik ke arah luar jendela sejenak, seolah merasa konyol harus menjelaskan hal itu. "Pindah ke belakang. Sekarang."
"Oh," gumam Amindita pendek.
Ia memilih keluar lagi dari kursi depan—kursi yang biasanya menjadi tempat "aman" baginya jika sedang bertugas di luar kantor. Bukannya lupa akan statusnya, tapi masa' iya hanya karena menikah kebiasaan itu berubah?
Wira, asisten pribadi yang sekaligus merangkapn menjadi sopir kepercayaan Praditya yang duduk di balik kemudi, hanya mampu melipat bibirnya ke dalam. Ia berusaha keras menahan tawa melihat tingkah atasannya yang biasanya sedingin es, kini bersikap selayaknya pria remaja yang sedang dirundung cemburu hanya karena perkara kursi.
"Apa yang kamu lihat, Wira? Jalan!" ketus Praditya saat menangkap lirikan Wira dari spion tengah.
"Baik, Tuan," sahut Wira cepat, langsung menginjak pedal gas pelan menuju restoran mewah tempat pertemuan dengan Laksmi Group akan berlangsung.
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam kabin mobil terasa sangat menyesakkan. Amindita duduk di pojok kiri belakang, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari Praditya meskipun mereka berada di jok yang sama. Pikirannya melayang pada pertemuan pukul satu siang nanti. Ia akan duduk di meja yang sama dengan suaminya dan Widya—tunangan suaminya.
Canggung? Itu kata yang terlalu sederhana untuk menggambarkan situasi ini.
Amindita merasa seperti penyusup di dalam sandiwara besar. Ia berniat mengusulkan agar dirinya menunggu di mobil atau di meja terpisah saja, namun lamunannya terpecah saat Praditya tiba-tiba bersuara.
"Kamu cemburu?" tanya Praditya tiba-tiba, suaranya pelan namun tajam.
Amindita menoleh dengan dahi berkerut, menatap wajah suaminya yang tampak sangat percaya diri dengan pertanyaan itu. "Apa maksud Anda, Tuan?"
"Melihatku akan makan siang dengan Widya. Sebagai seorang 'istri' yang baru saja dinikahi semalam, apa kamu merasa terganggu?" Praditya memutar tubuhnya menghadap Amindita, matanya mengintimidasi.
Amindita mencibir dalam hati. Ia merasa jengkel dengan tingkat kepercayaan diri pria di sampingnya ini.
Atas dasar apa dia bertanya begitu? pikir Dita. Pernikahan mereka terjadi karena paksaan dan kontrak hutang, bukan karena cinta yang membara.
"Jelas tidak, Tuan Praditya yang terhormat," jawab Amindita dengan nada bicara yang manis namun sarat akan sindiran. "Justru saya sedang berpikir bagaimana caranya agar saya tidak perlu ikut masuk. Saya tidak ingin merusak nafsu makan Anda dan calon istri Anda yang cantik itu dengan kehadiran saya yang... hanya sekretaris ini."
Praditya menyipitkan mata, merasa sedikit tidak puas dengan jawaban dingin Amindita. "Kau pandai sekali bersandiwara, Dita. Tapi ingat, kau tetap harus ikut masuk. Kau adalah perisai sekaligus saksi kerjaku hari ini."
"Perisai untuk apa, Tuan? Untuk menutupi fakta bahwa Anda tidak bisa menyentuh tunangan Anda sendiri?" balas Amindita telak, suaranya sangat lirih hingga Wira di depan tidak mungkin mendengar, namun cukup untuk membuat rahang Praditya mengeras seketika.
Praditya tidak menjawab, namun ia mendadak meraih tangan Amindita di bawah, mencengkeram jemari wanita itu dengan erat dan posesif hingga mobil berhenti tepat di depan restoran.
"Tersenyumlah, Istriku. Sandiwara kita baru saja dimulai," bisik Praditya sebelum pintu mobil dibukakan oleh pelayan restoran.
"Aku harap kau tak cemburu karena ada tunanganku di dalam." Lanjut Praditya sambil mengecup ujung bibir Amindita.
---
Langkah kaki mereka menggema di lantai marmer restoran mewah berkonsep fine dining tersebut. Sesuai protokol kantor yang kaku, Amindita berjalan tepat satu langkah di belakang Praditya, menjaga batasan yang kasat mata namun terasa menyesakkan. Sementara itu, Wira mengekor dua langkah di belakang mereka, memasang wajah datar meski batinnya terus mengamati dinamika "suami-istri" rahasia di depannya.
Seorang hostess berseragam rapi menyambut mereka dengan senyum profesional yang terlatih.
"Selamat siang, Tuan Praditya. Senang melihat Anda kembali. Reservasi atas nama Laksmi Group?" tanya wanita itu dengan nada bicara yang sangat sopan.
"Ya," jawab Praditya singkat tanpa ekspresi.
"Mari, saya antar ke meja Anda. Nona Widya sudah menunggu di area privat," sang hostess memberi isyarat tangan, menuntun mereka menyusuri lorong yang dihiasi partisi kayu ukiran mewah menuju sebuah sudut ruangan yang lebih tertutup.
Begitu memasuki area tersebut, langkah Praditya sempat tertahan sejenak. Matanya yang tajam memicing, menangkap sebuah pemandangan yang membuat dadanya berdesir jengkel. Di sana, Widya sedang duduk bersandar dengan posisi yang terlalu akrab bersama asisten prianya, Pandu, sementara sekretarisnya yang bernama Ningsih sibuk dengan tablet di sudut meja.
Ada hembusan napas jengah yang keluar dari hidung Praditya. Ia tahu betul permainan Widya. Namun, begitu Widya menyadari kehadiran Praditya, wanita itu langsung mengubah gestur tubuhnya dalam sekejap. Ia bangkit dari duduknya dengan gerakan dramatis, meninggalkan Pandu yang tampak canggung, dan langsung menghampiri Praditya.
"Pradi! Sayang, akhirnya kamu datang juga," ucap Widya dengan suara manja yang dibuat-buat.
Tanpa mempedulikan tatapan orang di sekitarnya, ia langsung menggelayut di lengan Praditya, memeluknya erat seolah ingin menegaskan kepemilikan.
"Kau sudah lama?" tanya Praditya, suaranya terdengar kaku.
Ia melirik Amindita sekilas melalui sudut matanya, ingin melihat reaksi istrinya, namun Amindita justru menunduk dalam, sibuk mengatur berkas di tangannya seolah ia tidak melihat kemesraan palsu itu.
"Lama banget tahu! Aku sampai bosan ngobrol sama Pandu dan Ningsih," keluh Widya sambil mengerucutkan bibirnya.
Matanya kemudian beralih ke arah Amindita, menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan meremehkan. "Oh, kamu bawa sekretaris membosankan ini lagi? Bukannya hari ini hanya makan siang santai antar keluarga?"
Praditya melepaskan pelukan Widya secara perlahan, namun tetap membiarkan wanita itu berdiri di sampingnya. "Ada beberapa detail kontrak yang harus Dita catat, Widya. Bisnis tetap bisnis."
"Ck, kamu ini kaku sekali," Widya mendesis pelan, lalu menoleh pada Amindita dengan senyum sinis. "Dita, kamu duduk di meja sebelah sana saja ya, sama Pandu dan Ningsih. Jangan mengganggu privasi kami."
Amindita mendongak, matanya bertemu dengan mata Praditya. Ia mencari pembelaan, namun pria itu hanya diam dengan rahang yang mengeras—sebuah isyarat bahwa sandiwara harus terus berjalan. Jadi turuti saja perintahnya. Hanya itu bukan pekerjaan Amindita?
"Baik, Nona Widya. Saya mengerti," sahut Amindita dengan nada tenang yang tak .
Amindita melangkah menuju meja staf yang letaknya tak jauh namun terpisah sekat. Di sana, Pandu—sang asisten Widya—menarikkan kursi untuknya dengan senyum yang terlihat sedikit terlalu ramah.
Dari posisinya, Amindita bisa melihat jelas bagaimana Widya terus mencoba menyentuh tangan Praditya di bawah meja, sementara suaminya itu duduk tegang, menahan amarah dan hasrat yang entah ditujukan untuk siapa.
---