Pagi itu, suasana di lantai eksekutif Ararya Group terasa lebih dingin dari biasanya. Pintu lift berdenting, terbuka lebar menampilkan sosok Praditya yang melangkah keluar dengan setelan jas abu-abu gelap yang sangat pas di tubuh tegapnya. Wajahnya datar, menyimpan rahasia malam tadi yang masih berdenyut di benaknya.
Namun, langkah kakinya sempat melambat sejenak saat matanya menangkap sosok yang berdiri di balik meja sekretaris.
Amindita berdiri di sana, menyambutnya dengan profesionalisme yang sempurna. Penampilannya pagi ini sangat elegan namun tetap bersahaja, persis seperti bayangan yang menghantui pikiran Praditya sepanjang malam.
Wanita itu mengenakan atasan hitam berlengan panjang dengan potongan turtleneck yang membungkus leher jenjangnya dengan sopan. Dipadukan dengan pencil skirt panjang berwarna abu-abu tua yang menonjolkan siluet tubuhnya dengan cara yang sangat terhormat.
Sebuah sabuk kecil melingkar di pinggangnya, dan tas bahu hitam berada di atas meja kerjanya. Rambutnya tergerai berwarna hitam legam, kontras dengan wajah putih bersih tanpa riasan berlebihan.
Bagi orang lain, itu mungkin hanya seragam kerja biasa. Tapi bagi Praditya, kesederhanaan Amindita justru terlihat jauh lebih memikat daripada gaun-gaun bermerek jutaan rupiah yang biasa dikenakan Widya.
"Selamat pagi, Tuan Praditya," sapa Amindita tenang. Suaranya datar, tak ada nada manja atau pun getaran emosional yang menunjukkan bahwa beberapa jam lalu mereka telah mengikat janji di depan penghulu.
Praditya berhenti tepat di depan meja Amindita. Ia menatap tajam ke dalam mata istrinya—yang kini kembali menjadi sekretarisnya.
"Pagi. Apa jadwal saya hari ini?"
Amindita membuka tablet di tangannya, jemarinya yang lentik bergerak lincah. "Pukul sepuluh ada rapat dewan direksi mengenai ekspansi lahan di Surabaya. Pukul satu siang, Anda memiliki janji makan siang dengan perwakilan Laksmi Group—" Amindita menjeda kalimatnya sejenak, matanya bertemu dengan tatapan Praditya. "Bersama Nona Widya."
Rahang Praditya mengeras mendengar nama itu disebut. Ia mendekatkan wajahnya sedikit, hanya sedikit agar tidak mengundang curiga staf lain yang ada di lantai tersebut.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Praditya, suaranya sangat rendah hingga hampir menyerupai bisikan.
Amindita terkejut, namun dengan cepat ia menguasai diri. "Sudah, Tuan. Terima kasih atas perhatiannya. Dokumen untuk rapat dewan sudah saya siapkan di atas meja kerja Anda."
"Bagus," jawab Praditya kembali dengan nada dinginnya yang biasa. "Kopi hitam saya. Bawa masuk dalam lima menit."
"Baik, Tuan."
Praditya melangkah masuk ke ruangannya yang luas. Saat pintu tertutup rapat, ia baru bisa mengembuskan napas panjang. Ia melepas kancing jasnya, merasa frustrasi.
Bagaimana bisa seorang wanita dengan pakaian sesederhana itu mampu membuatnya begitu tidak fokus? Ia adalah istrinya, namun di gedung ini, ia harus melihat wanita itu membungkuk hormat padanya seolah mereka orang asing.
Di sisi lain, Amindita menarik napas dalam. Dadanya sesak. Ia baru saja menyadari bahwa berakting sebagai sekretaris setelah menjadi istri adalah ujian mental yang jauh lebih berat dari yang ia duga.
Amindita melangkah menuju pantry khusus eksekutif dengan perasaan yang campur aduk. Di tangannya, ia memegang cangkir porselen hitam favorit Praditya. Sejak awal ia bekerja, Praditya adalah atasan yang sangat pemilih soal rasa. Enam sekretaris sebelumnya didepak hanya karena takaran gula yang salah atau suhu air yang kurang pas. Selain kesalahan yang dibuat mereka. Entah apa.
Namun, dengan racikan Amindita selalu pas di lidah pria itu, pahit yang tajam namun memiliki aftertaste yang membekas, persis seperti kepribadian sang CEO.
Sambil menunggu air mendidih, Amindita melamun. Bayangan sentuhan Praditya tadi malam masih terasa membakar kulitnya. Ia kini adalah istri sah pria itu, namun di sini, ia tetaplah Amindita sang sekretaris yang harus memastikan segala sesuatu yang diminta bosnya siap tersedia.
Setelah kopi siap, Amindita berjalan kembali menyusuri lorong lantai eksekutif. Namun, langkahnya terhenti saat seorang pria bertubuh tinggi dengan perawakan atletis menghadang jalannya.
Pria itu adalah Adnan Baskara, Manajer Pemasaran yang dikenal karena ketampanannya dan keramahannya yang kontras dengan kekakuan Praditya. Adnan memiliki rambut hitam yang ditata rapi dengan sedikit jambul yang jatuh secara natural, memberikan kesan maskulin sekaligus ramah.
"Pagi, Dita," sapa Adnan dengan senyum manis yang mampu membuat banyak staf wanita di kantor ini salah tingkah.
"Pagi Mas," Balas Amindita tak kalah ramah.
"Masih dengan rutinitas kopi hitam keramat buat Pak Bos?"
Amindita mengangguk tetap menjaga jarak aman. "Iya, Mas. Seperti kebiasaannya."
Adnan tertawa kecil, menatap Amindita dengan binar kekaguman yang tak bisa disembunyikan. "Oh iya, Pak Bos ada di ruangannya kan?"
"Ada kok Mas, ada perlu apa ya? Mas Adnan sendiri atau saya yang kasihkan?" Tanya Amindita.
Adnan menyunggingkan senyum yang lebih lebar, matanya tak lepas dari wajah tenang Amindita. Ia mengangkat sebuah map kulit berwarna biru tua yang sejak tadi diapitnya di ketiak.
"Tadinya mau saya serahkan sendiri, tapi melihat kamu bawa kopi panas begini, saya jadi kepikiran," ucap Adnan dengan nada suara yang sengaja dilembutkan.
"Maksudnya gimana Mas?"
Ia tidak segera memberikan map itu, melainkan sedikit condong ke arah Amindita. "Ini berkas laporan kampanye digital untuk bulan depan. Tolong titip ke Pak Bos ya, Dita? Saya malas kalau harus kena semprot pagi-pagi karena dia belum minum kopi 'sakti' buatanmu."
Amindita tertawa kecil, sebuah tawa sopan yang membuat suasana lorong yang kaku itu terasa sedikit lebih hangat. "Bisa saja Mas Adnan ini. Baiklah, nanti saya letakkan di meja beliau."
"Terima kasih ya," Adnan akhirnya menyerahkan map itu, namun sebelum ia menarik tangannya, ia sempat berhenti sejenak, menatap Amindita dengan tatapan khawatir yang tulus. "Oh iya Dit, wajahmu pucat. Kamu sakit kah? Jangan terlalu sering lembur. Pak Praditya itu memang gila kerja, tapi jangan sampai kamu yang tumbang hanya demi ambisinya."
"Hha? Saya nggak apa-apa kok Mas"
Adnan kemudian merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebatang cokelat kecil dan meletakkannya di atas map yang kini dipegang Amindita. "Buat penambah energi. Dimakan ya!"
Amindita tertegun, sedikit canggung dengan perhatian yang diberikan sang Manajer Pemasaran. "Mas Adnan, tidak perlu repot-repot..."
"Anggap saja itu upah jastip berkasnya," potong Adnan cepat sambil mengedipkan satu matanya. "Saya balik ke divisi dulu ya. Sampai ketemu di jam makan siang, Dita. Ingat, jangan lembur terus!"
Adnan berbalik dan melangkah pergi dengan gaya santai, meninggalkan Amindita yang masih terpaku memandangi cokelat di atas map biru tersebut.
Amindita menghela napas, mencoba menyingkirkan rasa tidak enak hatinya. Ia tidak menyadari bahwa di balik pintu kayu mahoni besar di dekatnya, sepasang mata elang sedang mengawasi setiap gerak-geriknya dengan sikap tak terbaca.
Amindita mengetuk pintu ruangan Praditya pelan. "Permisi, Tuan."
"Masuk!" suara Praditya terdengar dingin dan datar.
Begitu Amindita melangkah masuk, ia merasakan hawa ruangan itu mendadak turun beberapa derajat. Praditya duduk di balik meja besarnya, tidak menatap dokumen di depannya, melainkan menatap lurus ke arah Amindita dengan tangan yang saling bertaut di atas meja—seakan hendak meminta penjelasan akan apa yang dia dengar dan lihat barusan.
Amindita meletakkan cangkir kopi hitam itu dengan hati-hati. "Kopi Anda, Tuan. Dan ini ada titipan berkas dari Mas—maksud saya, Pak Adnan Baskara."
Mendengar nama Adnan disebut, Praditya mendengus sinis. Matanya tertuju pada cokelat yang masih tergeletak di atas map. "Sejak kapan memberi laporan dengan imbalan coklat di kantorku, Amindita?"
Amindita tersentak, ia segera mengambil cokelat itu. "Maaf Tuan, ini hanya..."
"Buang," potong Praditya tajam. "Atau kau ingin aku yang membuangnya bersama dengan kontrak kerja manajer kesayanganmu itu?"
Praditya bangkit dari kursinya, melangkah memutari meja dan memerangkap Amindita di antara tubuhnya dan pinggiran meja kerja. Aura posesifnya meledak, menekan Amindita hingga wanita itu sulit bernapas.
"Tu—eh, Mas, In—ini... "
"Ingat satu hal, Amindita. Di luar mungkin kau adalah sekretaris yang disukai semua orang. Tapi di mataku, kau adalah istri yang tadi malam baru saja ku beli. Jangan berani-berani menerima pemberian dari pria lain di depanku, atau kamu ingin aku membatalkan perjanjian kita?"