Suasana di dalam penthouse itu semakin memanas. Praditya seolah kehilangan akal sehatnya, terus melumat bibir Amindita dengan intensitas yang sanggup meluruhkan pertahanan wanita manapun. Namun, di tengah gempuran hasrat yang kian memuncak, suara dering ponsel yang nyaring di atas meja nakas membelah keheningan malam.
Praditya tidak peduli. Ia masih terus menyesap manis yang ia temukan pada bibir istrinya—sebuah rasa yang ternyata jauh lebih candu dari dugaannya. Amindita yang mulai kehabisan napas dan merasa jantungnya hampir meledak, terpaksa menepuk-nepuk d**a bidang Praditya dengan keras.
"Mmph... Praditya..." rintih Amindita di sela pagutan mereka.
"Sial!" umpat Praditya pelan saat akhirnya ia melepaskan tautan bibir mereka.
Wajahnya memerah, matanya menggelap penuh kilatan frustrasi. Dengan gerakan kasar, ia menyambar ponselnya.
Nama 'Widya Laksmi' berkedip di layar.
Praditya mengembuskan napas panjang, mencoba menetralkan suaranya yang parau. Ia melirik Amindita yang kini tengah merapikan pakaian dengan wajah pucat dan bibir yang sedikit bengkak. Praditya mengangkat satu jari telunjuknya, menempelkannya di depan bibir tebalnya sendiri—sebuah isyarat mutlak agar Amindita tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
"Ya, Widya?" suara Praditya mendadak berubah. Dingin, datar, namun tetap menjaga formalitas seorang tunangan.
Amindita terdiam mematung. Ia bisa mendengar suara manja dan melengking dari seberang telepon karena kesunyian ruangan itu.
"Sayang... kok kamu belum pulang juga ke rumah? Aku sudah nungguin kamu dari tadi di rumah Mama. Kamu di mana? Kamu nggak lupa kan kalau besok kita ada fitting baju pengantin tambahan?"
Praditya memijat pangkal hidungnya, matanya tetap mengunci pandangan Amindita yang kini tertunduk. "Aku masih di kantor, Wid. Ada beberapa dokumen audit yang bermasalah dan harus kuselesaikan malam ini juga. Jangan menungguku, tidur saja dulu."
"Ih, kamu tuh selalu kerja terus! Sekali-kali manjakan aku, dong. Ya sudah, besok pagi jemput aku ya? Love you, Pradi..."
"Hm. Aku tutup dulu," balas Praditya singkat tanpa membalas ucapan cinta tersebut.
Setelah panggilan terputus, suasana di penthouse itu berubah drastis. Hasrat yang tadi meluap-luap seolah membeku seketika. Praditya meraih jasnya yang tergeletak di sofa, mengenakannya dengan gerakan cepat yang menunjukkan kegelisahan.
"Aku harus pergi," ucap Praditya tanpa menatap Amindita. "Ada urusan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan. Kau... tetaplah di sini. Jangan berani-berani keluar dari rumah ini tanpa izinku."
Amindita hanya bisa terpaku melihat suaminya yang baru saja mengikat janji suci dengannya, kini bersiap pergi menemui wanita lain. "Anda mau menemui Nona Widya?"
Praditya menghentikan langkahnya di depan lift, ia berbalik sekilas dengan tatapan yang kembali menjadi sang predator yang dingin. "Ingat statusmu, Amindita. Kau adalah istri rahasia yang kubeli untuk kesembuhanku. Jangan pernah mencampuri urusanku dengan tunanganku. Mengerti?"
Pintu lift berdenting terbuka. Praditya melangkah masuk dengan ponsel yang kembali menempel di telinga, seolah-olah momen panas di antara mereka beberapa menit lalu tidak pernah terjadi.
Amindita berdiri seorang diri di tengah kemegahan penthouse yang kini terasa seperti gua es yang sangat luas. Ia menyentuh bibirnya yang masih terasa panas, lalu menatap cincin pernikahan yang tersembunyi di dalam tasnya. Ironi menghantamnya dengan keras—ia adalah istri sah di mata Tuhan, namun ia hanyalah rahasia yang tak boleh ada di dunia Praditya.
Malam itu, di bawah kemilau lampu Jakarta, Amindita menyadari satu hal: Pernikahan ini memang benar-benar akan menjadi neraka, persis seperti yang dijanjikan Praditya.
---
Praditya memacu mobilnya membelah sunyinya jalanan kota dengan kecepatan di atas rata-rata. Rahangnya mengeras, jemarinya mencengkeram kemudi hingga buku-bukunya memutih. Bayangan bibir Amindita yang gemetar di bawah lumatan hasratnya masih membekas jelas, namun dering telepon dari "pusat kekuasaan" keluarganya telah memaksanya kembali ke realita yang memuakkan.
Mobil itu melambat saat memasuki gerbang menjulang sebuah mansion megah di kawasan elite Menteng. Mansion keluarga Aryatama. Begitu kaki mahalnya menginjak lantai marmer selasar, aura menyesakkan langsung menyambutnya.
"Praditya! Jam berapa ini? Kau membuat calon istrimu menunggu sampai hampir tertidur di ruang tengah!"
Suara bernada tinggi itu berasal dari Nyonya Gayatri Aryatama, sang ibu yang selalu tampil sempurna dengan sanggul rapi dan kebaya sutranya. Di sampingnya, sang ayah, Tuan Mahendra Aryatama, duduk dengan wibawa yang menekan, menatap putra tunggalnya melalui kacamata baca.
"Aku baru selesai bekerja, Ibu. Audit Ararya Group tidak bisa menunggu," jawab Praditya datar, berusaha menyembunyikan sisa-sisa gairah yang masih berdenyut di nadinya.
"Pekerjaan, pekerjaan! Kau selalu menjadikan itu alasan," Gayatri melangkah mendekat, aroma parfum melatinya yang kuat menyengat indra penciuman Praditya.
Praditya tak lagi menjawabnya memilih diam saja.
"Widya sudah menunggumu sejak sore. Dia itu wanita yang luar biasa, Praditya. Dia sabar, dia dari keluarga Laksmi yang terpandang, dan dia adalah satu-satunya yang pantas mendampingimu di takhta Aryatama."
"Bu... "
"Lalu bagaimana bisa kamu membuat wanita yang tak pantas menunggu itu, kamu anggurin?" Lanjutnya dengan wajah yang sudah memerah jengkel.
Praditya nyaris terkekeh sinis. Luar biasa? Jika ibunya tahu bahwa wanita "ular" itu baru saja turun dari ranjang pria lain sebelum meneleponnya dengan suara manja, mungkin sanggul rapi itu akan berantakan seketika.
Namun, Praditya masih bungkam. Ia butuh Widya sebagai tameng untuk menutupi kondisi fisiknya yang belum stabil di depan publik, setidaknya sampai posisinya sebagai pewaris mutlak aman.
"Widya ada di dalam?" tanya Praditya singkat, berusaha memutus rentetan pujian ibunya yang membuatnya jengah.
"Tentu saja. Dia sedang menunggumu di teras belakang. Temui dia, Praditya. Tunjukkan sedikit sikap manis. Jangan dingin seperti es begitu," timpal Tuan Mahendra dengan suara beratnya. "Ingat, pernikahan kalian bulan depan adalah merger terbesar tahun ini. Jangan buat malu nama Aryatama."
Praditya melangkah melewati kedua orang tuanya tanpa sepatah kata pun. Setiap langkahnya menuju teras belakang terasa seperti berjalan menuju eksekusi. Ia merasa jijik—bukan pada dirinya sendiri, tapi pada sandiwara yang harus ia perankan.
Di teras yang menghadap kolam renang itu, Widya Laksmi duduk dengan anggun, menyesap jus jeruknya. Saat mendengar langkah kaki, wanita itu menoleh dan langsung memasang senyum paling manis yang ia miliki—senyum yang bagi Praditya terlihat seperti bisa menyemburkan racun kapan saja.
"Pradi! Kamu lama banget sih..." Widya bangkit dan langsung bergelayut di lengan Praditya.
Praditya merasakan mual. Kulit Widya yang menyentuhnya terasa salah. Pikirannya justru terbang kembali ke penthouse, pada sosok Amindita yang polos, yang memintanya menikah hanya demi menghindari dosa. Kontras itu begitu nyata.
"Aku lelah, Widya. Ada apa kau memintaku ke sini malam-malam begini?" Praditya melepas pelukan Widya secara halus, menjaga jarak yang sangat kentara bagi siapa pun yang jeli melihatnya.
"Aku cuma kangen," bisik Widya manja, jemarinya mencoba merapikan kerah kemeja Praditya yang sebenarnya sudah rapi. "Dan Ibu bilang, kita harus bahas soal bulan madu kita di Paris nanti. Kamu setuju, kan?"
Praditya menatap Widya dengan mata elangnya yang dingin. Di kepalanya, ia hanya memikirkan satu hal, Bagaimana cara menghancurkan wanita ini tanpa merusak reputasi keluarganya, sementara hatinya kini tertinggal pada wanita yang ia sebut 'obat' di apartemennya.
"Lakukan sesukamu, Widya. Aku tidak peduli," jawab Praditya dingin, sebelum berbalik meninggalkan Widya yang tertegun, meninggalkan aroma pengkhianatan yang tersembunyi di balik kemewahan mansion Aryatama.
---