"SAH!"
Teriakan itu menggema, memantul pada dinding kaca penthouse yang dingin. Kata yang seharusnya menjadi melodi paling indah dalam hidup seorang wanita, kini terdengar seperti vonis penjara bagi Amindita.
Di ruang tengah yang luas itu, suasananya jauh dari kata romantis. Tidak ada dekorasi bunga, tidak ada aroma melati, hanya ada aroma kayu cendana dan ketegangan yang mencekik.
Pak Penghulu menutup buku nikah siri tersebut dengan helaan napas lega, sementara Pak Brotoatmojo tampak menyeka air matanya dengan sapu tangan lusuh, bahunya bergetar antara rasa syukur dirinya selamat dari penjara dan rasa bersalah karena membiarkan putrinya terikat pada pria seperti Praditya.
Asisten pribadi Praditya dan dua orang anak buahnya yang bertubuh tegap berdiri kaku sebagai saksi. Mereka lebih mirip pengawal sel tahanan daripada saksi pernikahan.
"Alhamdulillah. Tuan Praditya, Mbak Amindita, sekarang kalian sudah sah di mata Allah," ucap Pak Penghulu dengan nada tenang. "Sekarang, silakan Mbak Amindita mencium tangan suaminya sebagai bentuk bakti."
Amindita membeku. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dadanya. Dengan jemari yang gemetar hebat, ia mengulurkan tangan, meraih tangan kanan Praditya. Kulit pria itu terasa hangat, namun sikapnya sangat dingin. Saat bibir Amindita menyentuh punggung tangan Praditya, ia merasakan sengatan aneh—sebuah kesadaran bahwa mulai detik ini, hidupnya bukan lagi miliknya sendiri.
"Dan Tuan Praditya, silakan cium kening istri Anda. Doakan agar pernikahan ini membawa berkah," lanjut sang penghulu.
Praditya tidak segera bergerak. Ia menatap puncak kepala Amindita dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada amarah, ada kemenangan, namun ada juga secercah hasrat yang tertahan. Dengan gerakan kaku, ia merunduk. Kedua tangannya tidak menyentuh bahu Amindita, ia hanya menempelkan bibirnya di kening wanita itu.
Sentuhan itu singkat, namun terasa seperti cap kepemilikan. Amindita memejamkan mata erat-erat, membiarkan satu tetes air mata jatuh tanpa suara. "
Ini adalah mimpi buruk yang menjadi nyata," batinnya.
Setelah rombongan penghulu dan Pak Brotoatmojo diantar pulang oleh anak buah Praditya—dengan jaminan bahwa semua dokumen hutang akan dianggap lunas secara bertahap—keheningan yang lebih mencekam kembali menguasai penthouse.
Praditya berdiri di tengah ruangan, melepas jasnya dan melemparkannya ke atas sofa kulit. Ia melonggarkan kancing kemejanya hingga memperlihatkan d**a bidangnya, matanya kini tertuju sepenuhnya pada Amindita yang masih berdiri mematung di tempatnya.
"Puas, Istriku?" tanya Praditya, menekan kata terakhir dengan nada mengejek yang kental.
Amindita mendongak, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. "Saya hanya memenuhi kewajiban saya untuk menjaga diri saya sendiri, Tuan."
"Berhenti memanggilku Tuan. Di dalam kamar ini, aku bukan bosmu lagi," Praditya melangkah mendekat, langkahnya pelan namun mengintimidasi. "Kau menginginkan akad ini untuk menghindari dosa, bukan? Sekarang, tidak ada lagi penghalang antara kau dan aku. Tidak ada dosa yang kau takuti."
Ia berhenti tepat di depan Amindita, jemarinya yang panjang kini berani menyentuh dagu Amindita, memaksanya untuk mendongak.
"Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau, Amindita. Nyawa ayahmu sudah aman. Statusmu sudah naik. Sekarang..." Praditya merunduk, suaranya berubah menjadi bisikan parau yang sangat dekat dengan bibir Amindita. "... giliranmu memenuhi janji itu. Sembuhkan aku. Jangan buat aku menyesal telah memanggil penghulu ke rumah ini."
Amindita menahan napas. Ia tahu, babak baru yang lebih gelap baru saja dimulai. Ia bukan lagi sekadar sekretaris yang mengatur jadwal rapat, melainkan "obat" yang terikat kontrak suci dengan seorang pria yang belum tentu memiliki hati.
Amindita bisa merasakan panas yang menjalar dari tubuh Praditya. Hembusan napas pria itu terasa begitu dekat di permukaan kulitnya, membawa aroma maskulin yang bercampur dengan sisa tembakau dan minuman keras yang sempat diteguknya tadi.
Meskipun Amindita berusaha memasang wajah sedingin es, ia tidak bisa membohongi getaran halus di jemarinya. Ia takut. Ia takut jika Praditya akan memperlakukannya seperti barang yang bisa dibuang setelah dipakai. Namun, ketakutan terbesarnya adalah jika dalam hubungan simbiosis mutualisme yang berbahaya ini, hatinya justru ikut terjebak dan hancur.
Praditya mulai memiringkan wajahnya, matanya tertuju pada bibir Amindita yang sedikit terbuka. Namun, tepat saat jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter, Amindita meletakkan kedua telapak tangannya di d**a Praditya.
"Tu—tunggu!" suara Amindita sedikit melengking karena gugup.
Praditya berhenti, ia mengangkat alisnya, menatap Amindita dengan tatapan yang seolah berkata, Apalagi sekarang?
"Emang harus... sekarang? Maksud saya, harus gitu?" tanya Amindita dengan nada yang terdengar sangat lugu sekaligus panik.
Praditya mendengus pelan, sebuah tawa kering keluar dari tenggorokannya. "Aku sudah menuruti semua maumu, bukan? Aku sudah mengucapkan sumpah yang kau inginkan. Jangan bilang kau berniat mundur sekarang setelah nyawa ayahmu ada di tanganku."
Dengan berat hati, Amindita mengangguk pelan. Ia tahu ia tidak punya posisi untuk menawar lebih jauh. Namun, saat Praditya kembali merunduk untuk menciumnya, insting Amindita kembali bekerja. Ia memalingkan wajahnya sedikit ke samping.
"Bisakah... bisakah kita tunda sampai besok? Saya sangat lelah, Tuan—maksud saya, Praditya. Kejadian hari ini terlalu mendadak untuk saya," pintanya dengan suara mencicit.
Kesabaran Praditya mencapai batasnya. Rasa frustrasi karena "dahaga" yang selama ini menyiksanya bercampur dengan kekesalan atas penolakan Amindita yang berulang kali. Tanpa peringatan, tangan kekar Praditya menyusup ke pinggang Amindita, menarik tubuh wanita itu dengan sekali hentakan hingga d**a mereka beradu tanpa celah. Amindita terkesiap, kedua tangannya kini terjebak di antara tubuh mereka yang saling menempel.
"Cukup negosiasinya, Dita," desis Praditya, suaranya kini terdengar sangat rendah dan berbahaya. "Aku tidak memanggil penghulu ke sini hanya untuk melihatmu tidur."
Kali ini, Praditya tidak memberikan ruang untuk bertanya. Ia membungkam bibir Amindita dengan sebuah ciuman yang dalam dan menuntut. Itu bukan ciuman lembut layaknya pengantin baru, melainkan ciuman seorang pria yang sedang kelaparan dan akhirnya menemukan penawarnya. Amindita tertegun, matanya membelalak, ia merasa dunianya seolah tersedot ke dalam pusaran gairah yang membingungkan.
Di sela-sela cumbuan yang masih tertaut erat, Praditya melepaskan sedikit tekanannya, namun bibirnya tetap menempel di sudut bibir Amindita.
"Breathe, Dita..." bisiknya parau, memerintah Amindita yang tanpa sadar menahan napas karena terlalu tegang.
Amindita menghirup oksigen dengan rakus, namun sebelum ia sempat menstabilkan napasnya, Praditya kembali menciumnya dengan lebih intens, seolah ingin menyesap habis seluruh ketakutan wanita itu dan menggantinya dengan kehadirannya sendiri.
Tangan Praditya kini bergerak mengunci tengkuk Amindita, memastikannya tidak bisa lagi menghindar. Di tengah gempuran rasa itu, Amindita hanya bisa mencengkeram kemeja putih Praditya, pasrah pada takdir yang kini mengikatnya pada pria yang paling ingin ia hindari, namun kini menjadi satu-satunya pria yang berhak atas dirinya.
---