Bab 2: Syarat di Atas Takhta Kaca
Baru saja kaki Amindita melewati ambang pintu pagar kayu rumahnya yang lapuk, sepasang lampu depan mobil SUV hitam berukuran besar menyala terang, membutakan pandangannya sejenak. Suara mesinnya halus, namun memancarkan aura intimidasi yang pekat.
Pintu mobil terbuka. Seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas serba hitam dan kacamata berwarna senada keluar. Langkah kakinya berat dan berirama, persis seperti seorang algojo yang datang untuk menjemput narapidana menuju tiang gantungan.
Amindita bergidik ngeri, bulu kuduknya meremang. Ia tahu betul siapa Praditya—pria itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Jika ia bilang jam delapan, maka detasemen jemputannya akan berdiri di sana tepat waktu. Seharusnya dirinya sudah tau itu. Tapi entahlah,
Amindita berbalik sejenak, menatap sekali lagi ayahnya yang berdiri lemas di ambang pintu rumah dengan raut wajah sendu dan hancurnya. Ia mendekat, meraih tangan renta itu, dan mencium punggung tangannya dengan takzim. Aroma minyak kayu putih dari sang ayah seolah menjadi asupan kekuatan terakhirnya.
"Aku berangkat, Yah. Assalamualaikum," bisik Amindita, suaranya bergetar namun penuh tekad.
"Waalaikumussalam... Hati-hati, Nduk. Gusti Allah bersamamu," sahut Pak Broto dengan suara tercekat.
Amindita berbalik dan melangkah menuju mobil. Saat ia hampir mencapai pintu belakang, sang ajudan bergerak cepat, mencoba memegang lengan Amindita untuk membantunya masuk, seolah ia adalah tawanan yang harus dijaga ketat.
"Jangan sentuh saya. Saya bisa sendiri," ucap Amindita tajam.
"Maaf Nona."
Matanya menatap sang ajudan dengan keberanian yang membuat pria berotot itu tertegun sejenak dan mundur satu langkah. Amindita membuka pintu sendiri, masuk ke dalam kabin mobil yang aromanya persis seperti ruangan Praditya—dingin, mahal, dan menekan.
Perjalanan menuju pusat kota terasa seperti perjalanan menuju akhir dunia. Mobil itu berhenti di sebuah gedung apartemen paling eksklusif di kota tersebut. Melalui lift pribadi yang langsung menuju unit paling atas, Amindita akhirnya sampai.
Pintu lift terbuka, langsung menyajikan pemandangan penthouse yang sangat luas dengan dinding kaca yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota. Di sana, di dekat jendela besar yang sedang diguyur hujan, ya... Hujan itu menguyur kota begitu saja, seakan menggambarkan hati Amindita malam ini. Praditya berdiri membelakanginya. Ia hanya mengenakan kemeja putih dengan kancing atas terbuka dan lengan yang digulung hingga siku.
"Kau tepat waktu. 20.00 WIB," suara Praditya menggema, rendah dan berbahaya. Ia berbalik, menatap Amindita yang masih berdiri kaku di dekat pintu lift. "Masuk, Amindita. Jangan berdiri di sana seperti tamu yang tidak diundang. Malam ini, tempat ini milikmu."
Amindita melangkah maju, namun ia menjaga jarak aman. "Saya di sini untuk menyelamatkan Ayah saya, Tuan. Bukan untuk menjadi pajangan di apartemen Anda."
Praditya terkekeh pelan. Ia berjalan mendekat, langkahnya tenang, terukur—seperti pemburu yang sudah yakin mangsanya tak punya jalan untuk melarikan diri. Aroma alkohol tipis tercium saat ia berhenti tepat di depan Amindita.
“Kau tahu kenapa kau di sini,” gumamnya. “Obat-obat dari dokter luar negeri itu tidak ada gunanya. Obat itu hanya sampah.” Rahangnya mengeras. “Hanya kau… hanya saat saya melihatmu di kantor, sesuatu dalam diriku bereaksi. Kau harus menyembuhkanku, Amindita. Malam ini.”
Amindita mengangkat dagunya, menatap lurus tanpa gentar. “Jadi kabar itu benar?” suaranya tipis, namun tajam. “Bahwa Tuan Praditya Ararya yang ditakuti semua orang… ternyata hanya kalah oleh pikirannya sendiri?”
Tatapan pria itu berubah dingin.
“Di luar sana,” lanjut Amindita pelan, nyaris seperti nada ejekan, “orang-orang berbisik tentang disfungsi ereksi yang anda alami. Atau... Sebut saja anda mengalami Impoten?"
Ia tersenyum samar, nyaris seperti senyuman sinis. “Dan Tuan pikir saya ini apa? Obat perangsang berjalan?”
Dalam sekejap, rahang Praditya menegang. Tangan kanannya bergerak cepat hendak menyentuh pipi Amindita, namun wanita itu mundur selangkah. Jarak itu seperti tamparan.
“Kau berani sekali,” bisiknya rendah.
“Tidak,” balas Amindita. “Saya hanya berpikir jika itu yang hendak anda tawarkan. Sebagai ganti hutang ayahku, benar bukan?”
Hening menggantung beberapa detik. Praditya tertawa kecil, namun tak ada kehangatan di sana. Sorot matanya berbahaya—bukan karena hasrat, melainkan karena obsesi.
“Kau akan menyembuhkanku,” ucapnya perlahan. “Dengan cara apa pun.”
Sikap itu dan perkataan itu begitu manipulatif. Seakan mengancam. Seolah tubuh dan kehendak Amindita hanyalah bagian dari kontrak tak tertulis. Namun Amindita tidak goyah.
“Saya akan melakukannya,” katanya tegas.
Praditya menyeringai. “Tapi tidak dengan cara yang Anda bayangkan.” lanjut Amindita yang melangkah mundur lagi, menjaga jarak, menjaga kendali atas satu-satunya hal yang masih ia miliki—dirinya sendiri.
Praditya menaikkan sebelah alisnya, meremehkan. "Oh? Kau ingin negosiasi harga lagi? Bukankah dua belas miliar sudah cukup?"
"Saya ingin pernikahan," jawab Amindita lantang.
Ruangan itu mendadak kembali hening. Praditya terdiam, lalu tawa pecah dari bibirnya—tawa yang terdengar sangat dingin. "Nikah? Kamu ingin menjadi Nyonya Ararya? Kau sadar siapa dirimu, Sekretaris? Saya sudah memiliki tunangan dari kasta yang sama denganku."
"Saya tidak peduli dengan takhta Anda. Saya tidak butuh pesta, saya tidak butuh pengakuan dunia. Nikahi saya secara agama jika anda ingin saya. Panggil penghulu, panggil saksi. Saya tidak akan membiarkan Anda menyentuh saya seujung kuku pun jika status saya bukan istri sah Anda di mata Tuhan."
Amindita menatap Praditya tanpa kedip. "Jadikan saya istri Anda untuk 'menghadiri' dosa ini. Jika tidak, silakan panggil polisi sekarang juga. Biar Ayah saya dipenjara, dan biarkan Anda tetap menjadi pria yang 'mati' di balik jas mewah Anda karena tidak akan pernah bisa menyentuh saya."
Rahang Praditya mengeras. Matanya berkilat marah sekaligus terkesima. Belum pernah ada yang berani mengancamnya di dalam wilayah kekuasaannya sendiri, apalagi menggunakan kelemahannya sebagai senjata.
Praditya mendengus kasar, wajahnya memerah karena amarah yang memuncak. Ia merangsek maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Amindita terdesak ke dinding kaca yang dingin. Tangan kekarnya mencengkeram kedua bahu Amindita, menekannya dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang.
"Kau gila?!" desis Praditya tepat di depan wajah Amindita. Napasnya memburu, panas menerpa kulit wajah wanita itu. "Kau pikir kau siapa, hah? Berani-beraninya mengaturku di rumahku sendiri!"
Amindita tidak bergerak sedikit pun. Meski bahunya terasa nyeri karena cengkeraman itu, matanya tetap menatap manik mata Praditya tanpa gentar. Ketenangannya justru menjadi penghinaan bagi ego sang CEO.
"Kenapa saya harus menuruti sekretaris seperti dirimu?" suara Praditya naik satu oktav, penuh penekanan pada setiap kata. "Bukannya harusnya kau yang bersujud di kaki saya untuk menebus hutang ayahmu? Tapi kau malah berlagak seperti ini, Amindita! Kau hanyalah aset yang kubeli, tidak lebih!"
Amindita mengumpulkan sisa tenaganya, lalu dengan satu sentakan yang tak terduga, ia melepaskan cengkeraman itu dari bahunya. Ia merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan dengan gerakan elegan yang sangat kontras dengan situasi panas tersebut.
"Kenapa Anda tak sabaran sekali dengan saya, Tuan?" tanya Amindita pelan, namun nadanya menyindir.
Praditya menyeringai sinis, ia melonggarkan dasinya seolah oksigen di ruangan itu mendadak menipis. "Cih, jangan besar kepala. Saya memintamu ke sini bukan berarti kamu bisa meminta sesuka hati seperti ini, Amindita. Ingat posisimu!"
"Buktinya Anda bisa terangsang hanya dengan saya, bukan?" Amindita membalas telak.
Pertahanan Praditya seolah runtuh mendengar kejujuran yang terlontar begitu lancar itu.
"Bahkan tunangan Anda saja tidak bisa membuat Anda seagresif ini. Saya sudah dua tahun bekerja untuk Anda, Tuan Praditya. Saya tahu bagaimana cara Anda menatap Nona Widya—dingin, kosong, seolah dia hanyalah pajangan mati. Tapi pada saya? Anda bahkan tidak bisa mengontrol napas Anda sekarang."
Praditya tertegun. Kata-kata itu menghantam egonya lebih keras daripada tamparan fisik. Memang benar, selama ini ia memperlakukan Widya seperti benda tak tersentuh bukan karena ia menghormatinya, tapi karena tubuhnya mati rasa. Namun di depan Amindita, ia merasa seperti remaja yang tidak bisa mengendalikan instingnya sendiri.
"Anda butuh saya untuk merasa menjadi pria yang utuh kembali," lanjut Amindita, suaranya melembut namun tetap mematikan. "Dan saya butuh pernikahan untuk menjaga kehormatan saya di depan Tuhan. Kita hanya dua orang yang saling melakukan transaksi, Tuan. Jika Anda tidak bisa memenuhi syarat saya, silakan buka pintu lift itu. Panggil polisi, penjarakan ayah saya, dan biarkan diri Anda terus membusuk dalam kondisi... 'cacat' itu selamanya."
Praditya mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. Amarah di matanya kini bercampur dengan rasa frustrasi yang luar biasa. Ia menatap ke arah luar jendela, ke arah lampu-lampu kota yang seolah menertawakan ketidakberdayaannya.
Hening menyergap ruangan itu selama beberapa saat. Hanya ada suara rintik hujan yang menghantam kaca penthouse.
Akhirnya, Praditya berbalik. Wajahnya yang tampan kini terlihat sedikit kuyu, namun tatapannya tetap tajam. Ia menyadari tidak ada jalan lain. Ia butuh kesembuhan ini untuk mempertahankan takhtanya, untuk membuktikan pada dunia bahwa ia tidak lemah.
"Kau menang untuk saat ini, Amindita," ucap Praditya pelan, suaranya parau. Ia meraih ponsel di meja kerjanya, menekan sebuah nomor dengan kasar. "Saya akan memanggil orang untuk mengurus akad ini malam ini juga. Tapi jangan harap kau akan memiliki kehidupan pernikahan yang indah. Kau meminta neraka, maka saya akan memberikannya padamu."
Amindita memejamkan mata sejenak, membisikkan doa dalam hati. Ia tahu, langkah yang ia ambil adalah jalan yang terjal, namun setidaknya, ia tidak akan melaluinya sebagai wanita yang kalah oleh dosa.
---