Keduanya telah duduk berdua bersama di sebuah kursi panjang yang ada di lorong rumah sakit. Lorong yang tampak sepi dan hening suara langkah petugas kebersihan yang mendorong kotak beroda dengan perlengkapan bersih-bersih melintasi keduanya. Mereka duduk berhadapan dan tidak berbicara untuk beberapa detik. Nena mencoba mempersiapkan dirinya untuk bertanya langsung pada Alena. “Ada dua hal yang perlu aku bicarakan denganmu, Alena,” ucap Nena dengan hati-hati. Ia mengamati perubahan wajah Alena yang pucat. Mimik wajah Alena tidak terbaca. Ia terlihat datar dan tatapannya lurus. “Apa yang ingin kau bicarakan? Bagaimana keadaan Sergei yang sebenarnya?” tanya Alena tidak sabar. Nena menarik napas selama jeda dua detik. “Beberapa hari yang lalu kondisinya mungkin sudah lebih baik.” “Apa

