Berjalan mondar-mandir di tengah ruang kamar tidurnya di penthouse. Alena telah berbaring, mencoba memejamkan mata di antara suara denting detik jam yang tergeletak di atas nakas, menatap langit hingga Alena menyerah dan bangkit dari atas tempat tidur. Alena tak dapat menyingkirkan pikirannya dari semua hal dan kenyataan yang ada di hadapannya. Banyak wajah yang berkelebat di dalam otaknya. Alena merasa frustasi dengan kenyataan suaminya berada di tempat yang jauh bersama wanita lain, bersama mantan kekasihnya, sedangkan sungguh terasa ironi dirinya sendirian di penthouse yang luas dengan segala pengawasannya. Alena tak dapat menghitung jumlah kamera pengawas yang dipasang Rudolf. Alena terduduk di tepian tempat tidur. “Apa yang kau lakukan di Boston? Kenapa kau memerintahkan Clanc

