Setelah melihat Yuki pergi, Kenzi terduduk lagi di ruang kerjanya, kepalanya tiba - tiba sakit lagi. Segera dia menyuruh anak buahnya yang berjaga di luar ruangan untuk memanggil Masaki.
"Cepat kau panggilan Masaki ke ruanganku!"
"Siap Tuan Kenzi."
Lima menit kemudian, Masaki datang menghampiri Kenzi.
"Permisi Tuan Kenzi, ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong ambilkan obat sakit kepalaku, aku tidak kuat lagi, cepat!"
"Baik Tuan, sebentar saya ambilkan."
"Mana obatnya, aku sudah tidak kuat."
"Ini dia obatnya. Tuan saya pikir sudah waktunya berhenti menjalankan bisnis - bisnis ilegal ini, dan tuan harus segera menjalani operasi pengambilan satu peluru yang masih ada di dalam kepala tuan."
"Aku tidak akan pernah mau operasi, sebelum aku menemukan seseorang yang benar - benar tulus mencintaiku, masalah bisnis ilegal, aku pun belum bisa mempercayai siapapun."
"Bisnis ini bisa membahayakan keselamatan tuan lagi, tuan sudah pernah tertembak di bagian kepala, dengan tiga buah peluru, namun masih ada satu peluru yang tidak bisa diambil, karena posisinya bisa membahayakan memori tuan."
"Sampai kapan pun aku tidak mau operasi karena bisa ada kemungkinan usiaku tidak akan lama lagi, percuma operasi karena pasti suatu saat aku akan mati."
"Lalu bagaimana perawat yang masih berkerja di sini tuan?"
"Aku sudah tidak mau memakainya lagi, biar Yuki saja yang merawatku, besok kau pulangkan saja perawat itu kembali ke yayasannya. Tolong tinggalkan aku sendiri, aku ingin istirahat."
"Siap Tuan Kenzi."
Satu hari telah berlalu, menuju kediaman Yuki, jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, saat dia tengah bersiap berangkat ke sekolah, nampak sedan mewah hitam sudah menunggunya, supir itu mendekat dan membukakan pintu untuk Yuki.
"Saya utusan langsung dari Tuan Kenzi, saya yang akan bertugas mengantar dan menjemput Nona Yuki ke sekolah."
"Ya Tuhan aku sudah seperti terkekang sekarang, ya sudah terserah."
Sesampainya di kampus, banyak para mahasiswa dan mahasiswi Golden University memperhatikan Yuki yang turun dari mobil sedan mewah. Namun mereka hanya berani mengguncing di belakang.
'Lihat itu, Yuki si biang onar, sepertinya bukan mobilnya, apa sekarang dia menjadi istri simpanan ya' seru para mahasiswi yang kurang menyukai Yuki.
Yuki semakin kesal melihat dia menjadi bahan cibiran di kampus. Namun dia berusaha menutup kupingnya, dan melanjutkan kegiatan belajar di kampus sampai pada waktu pulang, dia pun segera menuju White Mansion milik Kenzi.
Saat tiba di dalam Mansion, Yuki tak sengaja melihat Masaki sedang bicara dengan seorang perawat, tetapi dia segera berlalu menuju ruangan Kenzi. Yang saat itu masih tertidur, nampak tegas rahang Kenzi yang membentuk sangat sempurna, sempat Yuki terkesima dengan ketampanan CEO Golden University itu.
"Tuan Kenzi, aku sudah datang, apa tugasku hari ini." ucap Yuki saat membangunkan Kenzi.
"Akhhh... ternyata kau sudah datang, sebentar aku kumpulkan nyawa dulu."
"Apa anda sakit Tuan Kenzi?"
"Hmm ... hanya kurang istirahat mungkin, ya sudah sekarang aku mau teh gingseng, buatkan ya, jangan terlalu panas, hangat kuku saja."
"Baik aku ke dapur dulu."
Sekejap Kenzi menarik tangan Yuki.
"Hei, tidak perlu ke dapur, teh dan cangkir serta air panasnya ada di sisi kananmu, lihatlah."
"Oh, aku pikir di dapur tuan."
"Ya sudah buatkan, ingat gulanya satu sendok saja ya."
"Auuu... panas."
"Hei, kau ini belum pernah ya membuat minuman, hati - hati, konsentrasi jika ingin membuat minuman, tugas begini saja kau tidak becus!"
"Maafkan aku tuan."
"Ya sudah taruh di meja, lalu setelah itu ambilkan obatku di lemari kecil itu ya."
"Baiklah, ini dia obatnya."
"Yuki, mulai malam ini sampai kau lulus sarjana, kau harus tinggal di sini, semua perlengkapanmu sudah aku siapkan."
"Tetapi aku dapat hari libur kan!"
"Tidak, kau harus tinggal di sini sebagai istriku, sampai waktunya kau lulus, barulah semua hutangmu aku anggap lunas. Jangan pernah ada niat kau kabur dari sini, karena kau akan tahu sendiri akibatnya."
"Aisshhh, bagaimana bisa kau tidak memberikan aku libur, kejam sekali kau ini, pantas saja tidak ada wanita yang menyukaimu."
"Gadis macam dirimu yang selalu membuat onar di kampus, hukuman ini sudah pantas untukmu."
"Ya bagimu pantas, tetapi karena ulahmu hari ini, yang sudah menugaskan supirmu untuk mengantarkan aku ke kampus, sudah membuatku menjadi bahan tontonan, puas kau."
"Sudah jangan cerewet, untuk apa kau hiraukan mereka, jika mereka berani menyerangmu, maka mereka semua dengan mudah aku keluarkan dari Golden University, bahkan mereka tidak bisa lagi kuliah di mana pun."
"Dasar lelaki aneh."
"Ssstttt diam, aku tidak pernah suka gadis yang cerewet sepertimu, jangan sampai aku hilang kendali, kau bisa aku lenyapkan tanpa jejak."
"Ya sudah kalau begitu apa lagi yang harus aku lakukan Tuan Kenzi yang terhormat."
"Nanti malam, ada undangan pertemuan dengan kolega bisnisku, kau harus ikut bersamaku."
"Apa! Tetapi untuk apa, aku tidak mau sampai banyak media yang mempublikasikan wajahku di surat kabar."
"Hahaha, kau ini, surat kabar saja kau takutkan, untuk apa, biarkan saja mereka tahu, kalau kau ini istriku, istri seorang CEO."
"Menjadi istrimu adalah mimpi buruk bagiku, masa mudaku harus menjadi istri lelaki tidak waras sepertimu bisa - bisa aku strees."
"Sudahlah jangan bawel, kau akan menjadi istriku sampai kuliahmu selesai, setelah kau lulus, kita bisa bercerai."
"Kau sudah gila! Aku tidak mau menghabiskan masa mudaku, hidup bersamamu, aku tidak pernah mau menikah muda, dengan lelaki sepertimu."
"Jangan pernah membantah, kau mau aku publikasikan, seorang anak pengusaha terkenal, selalu membuat onar di kampus, dengan demikian nama baik dan reputasi ayahmu dalam sekejap hancur, kau bisa apa, kau saja masih hidup dengan uang ayah dan ibumu, jawab pertanyaanku Yuki!"
"Aku belum siap menjadi seorang istri, apalagi menjadi seorang istri lelaki yang sangat aneh sepertimu, aku belum siap melakukan itu."
"Hahahaha apa katamu, melakukan itu. Melakukan apa Yuki, jelaskan padaku." ucap Kenzi sembari mendekat ke belakang punggung Yuki
"Ahh sudahlah, menjauh dariku, tidak perlu dibahas, intinya aku tidak akan pernah mau melakukan itu."
"Hahaha, maksudmu hubungan suami istri, iya kan! Heii pikiranmu sungguh sangat nakal ya. Dasar bodoh kau, aku bukan lelaki hidung belang seperti itu, aku hanya ingin selam kau menjadi istriku, kau hanya mengurus semua keperluanku, tidak ada sentuhan di antara kita, tenang kita pun tidur terpisah, tetapi semua kebutuhanmu, keamananmu, semua aku berikan. Namun jangan pernah berniat mengkhianatiku, karena taruhannya adalah kematianmu."
"Baiklah , kalau begitu aku setuju, ya sudah aku mau melanjutkan tugasku yang lain."
"Ini daftar pekerjaanmu Yuki, kau bacalah di kamarmu, yang letaknya persis di pintu kecil dalam ruanganku ini."
"Aku masuk ke kamarku dulu."
"Ya sudah rehatlah dulu, ingat semua perlengkapan acara nanti malam sudah ada di atas ranjangmu, baik gaun, sepatu dan perhiasan, jangan sampai kau terlalu lama bersiap, acaranya tepat pukul tujuh malam, perjalanan kita dua jam lebih, kita berangkat pukul lima sore, ingat itu."
"Ya ....ya aku ingat. Sudah sekarang aku mau istirahat, Tuan Kenzi yang terhormat, untuk apa kau masih berdiri di situ!"
"Ya gadis bawel, ingat aku tidak mau kau malas - malasan selama menjadi istriku, sampai aku lihat kau malas - malasan, maka tunggakan biaya kuliahmu akan aku bunga kan, camkan itu baik - baik Yuki."
"Ya, sudah, aku mau tutup pintu. Aku mau istirahat."
Yuki pun menutup pintu dan Kenzi pun meninggalkan kamar Yuki dengan senyum simpul di bibirnya.