Moza terkejut ketika membuka mata dan teringat akan ibunya. “Ibu!"
Dengan cepat dia bangun. Hingga membuat Rama yang sedang tertidur dengan kepala ditaruh di pinggir ranjang, duduk di kursi di samping tempat tidur itu terbangun karena terkejut.
Setengah sadar Rama mengusap-usap kedua matanya supaya lebih jelas. “Moza ada apa?” tanya kemudian. Melihat Moza beringsut akan turun dari ranjang.
“Kau ini bagaimana? Aku harus mengikuti pemakaman Ibu. Tapi mengapa malah membawaku ke rumah sakit,” ucap Moza dengan raut panik sedih sembari mencabut jarum infus dari salah satu tangannya.
“Moza... Moza... Tunggu, Moz. Kamu masih lemah. Kamu baru saja pingsan cukup lama,” jelas Rama berusaha memegang kedua bahu untuk menahannya pergi.
“Aku sudah lebih baik sekarang. Tadi aku hanya pusing saja. Tolong, menyingkirlah. Aku bisa terlambat,” sahut Moza mendorong tubuh Rama lalu turun dari ranjang. Kemudian berjalan mengambil tasnya di atas nakas. Lalu melangkah sedikit sempoyongan meninggalkan Rama.
“Ibumu sudah dimakamkan, Moz,” jelas Rama menghentikan langkah Moza yang sudah berjalan beberapa langkah.
Dengan cepat dia segera membalikkan badan mendekati Rama dengan wajah antara sedih dan marah. “Mengapa kamu tidak berusaha menyadarkan aku? Mengapa kamu malah membawaku ke rumah sakit ini? Mengapa kamu tidak mengantarku ke pemakaman?” tanya Moza lalu memukul-mukul Rama.
Rama hanya bisa pasrah jadi tempat pelampiasan amarah itu. Ia sengaja membiarkan Moza memukuli dirinya sesuka hati. Tak kuat menahan beban di hatinya Moza pun menjatuhkan kepalanya di dadda pria itu dan menangis. Rama segera memeluk dan mengusap punggungnya dengan lembut untuk menenangkannya. Untuk beberapa saat keduanya tidak mengatakan apa pun. Rama pun sengaja membiarkan Moza meluahkan kesedihan dan kekecewaan yang ada di dalam hatinya. Berharap perasaan Moza merasa sedikit lebih lega.
“Maafkan, aku, Moz,” ucap Rama memecah kesunyian setelah beberapa lama mereka saling terdiam. Hanya sesekali terdengar isak tangis Moza. “Kamu tahu, Moz. Tadi aku sangat panik. Kamu tidak segera sadarkan diri meski sudah kuberikan pertolongan pertama. Akhirnya memilih membawamu ke rumah sakit. Aku takut terjadi sesuatu padamu,” jelas Rama.
Moza melepaskan dari dari pelukan Rama. Menatap Rama serius. “Kalau begitu antar aku ke makam Ibu sekarang juga.”
“Apa? Tapi kamu masih lemah, Moz. Dan ini sudah malam,” jelas Rama merasa keberatan karena dia mencemaskan kondisi Moza yang baru saja siuman.
“Ya, sudah. Kalau tidak mau aku akan berangkat sendiri,” ucap Moza kemudian membalikkan badan.
Rama meraih pergelangan tangan Moza. “Baikah. Aku akan mengantarmu.”
Moza menoleh.
“Tapi kita harus minta izin dulu dengan dokter.”
“Hmm, baiklah. Terima kasih,” ucap Moza.
Kemudian Rama keluar sambil menelpon pak Danu. “Halo, Pak. Tolong kirim dua orang ke makam Ibu mertuaku. Suruh mereka cari posisi makamnya di mana. Dan minta mereka memasang lampu penerangan di sana untuk sementara. Moza memaksa untuk ke sana saat ini juga.”
“Baik, Tuan muda. Akan segera saya laksanakan.”
“Terima kasih, Pak. Usahakan secepatnya. Kalau bisa saya sampai di pemakaman mereka juga sudah siap di sana.”
“Siap, Tuan.”
***
Tiba di pemakaman, semua sudah siap seperti yang diminta Rama. Makam ibu Moza sudah diberi penerangan. Dua yang ditugaskan oleh pak Danu segera menjauh begitu melihat kedatangan Moza dan Rama.
Moza segera menjatuhkan diri dan memeluk batu nisan sang ibu. Tangisnya pecah kembali. “Maafkan Moza, Bu. Maafkan, Moza. Ibu pergi karena aku. Bagaimana aku bisa hidup dengan beban ini, Bu? Katakan, bagaimana aku harus menjalaninya?” Moza terus menangis tersedu-sedu. “Harusnya kamu tunggu sampai aku kembali. Akan kujelaskan semuanya.”
Rama turut bersimpuh. Ikut terenyuh. Tangannya mengusap punggung gadis itu untuk menenangkannya.
“Sebenarnya aku hanya ingin menyembunyikan masalah Nami dan ingin kuselesaikan sendiri. Toh, aku memang sudah dewasa dan sudah pantas untuk menikah. Aku tidak ingin Ibu kecewa dan itu akan membuat sakit. Tapi ternyata tidak semuanya terjadi sesuai harapanku. Justru akulah yang membuat kecewa dan celaka. Maafkan aku, Bu. Maafkan putrimu yang ceroboh ini. Aku terlalu sombong dan percaya diri bisa mengatasi semua masalah kita sendirian.”
Rama memberika sapu tangannya pada Moza. “Sudahlah. Jangan terlalu menyalahkan diri seperti itu.”
Moza tidak membalas ucapan itu. Dia juga tidak mengambil sapu tangan yang diulurkan padanya. Moza malah terus berbicara sendiri sambil menatap ke pusara ibunya. Berharap di dalam sana sang ibu mendengar penjelasannya. “Apa Ibu tau? Aku menikah demi Nami, Bu. Nami tiba-tiba tidak mau melanjutkan sekolah lagi. Dia menyukai Rama. Dia berhenti masuk sekolah dan berharap suatu saat bisa menikah dengan Rama. Aku sudah menasehatinya. Tapi dia keras kepala. Tidak mau mendengarkan aku sedikit pun.”
Rama mendapatkan telepon. Kemudian dia berdiri dan meninggalkan Moza. Melangkah menjauh dari makam ibu mertuanya itu.
Sementara itu Moza tak memperhatikannya. Dia masih belum menghentikan curahan hatinya. Dia masih melanjutkan ceritanya. “Aku jengkel sekali dengan Nami, Bu. Sudah sebulan ini dia tidak masuk sekolah. Aku sudah bolak-balik ke sekolah memenuhi panggilan pihak sekolah. Nami diberi peringatan keras. Jika sampai awal bulan dia tidak masuk, maka akan dikeluarkan. Sementara itu Rama hanya menganggapnya teman main saja. Itulah kenapa aku nekat melamar Rama dan mengajaknya menikah. Aku berharap dia mau menghentikan keinginannya yang salah.”
Di tempat yang cukup jauh dari posisi Moza sekarang, Rama ternyata sedang berhadapan dengan Namira. Keduanya sedang terlibat pembicaraan serius.
“Tidak. Aku tidak akan melepaskan dia. Moza sekarang adalah Istriku. Jadi kamu tidak boleh mengatur dia sesuka hatimu. Kau sendiri telah menolak permintaan Kakakmu untuk terus bersekolah. Sekarang saat dia sudah menikah denganku, kamu minta dia untuk meninggalkan aku. Yang benar saja, Nami. Ini pernikahan sungguhan bukan main-main,” tegas Rama berusaha meyakinkan Namira seolah pernikahannya memang benar-benar serius bukan kontrak.
“Oh ya,” sahut Nami sembari tersenyum sinis menatap Rama dalam keremangan malam di antara makam. “Aku sangat mengenal Kakakku. Dia bukanlah orang yang sangat mudah menyukai seseorang. Kakakku sangatlah pintar meski dia terkadang sangat ceroboh karena mudah terbawa perasaan. Hatinya sangat lembut dan mudah kasihan dengan orang lain. Karena itulah dia nekat menikah denganmu. Semua demi aku dan Almarhum Ibuku. Jadi, aku sangat yakin pernikahan kalian ini benar-benar serius,” tebak Namira dengan sangat tepat.
Rama terkejut dengan tebakan Namira yang begitu tepat. Tapi dia berusaha menyembunyikan kegugupannya di depan remaja cantik dan juga cerdas itu. Dia tidak ingin pernikahan yang belum dua puluh empat jam ini akan hancur berantakan gara-gara adik Moza ini. Mau ditaruh mana mukanya. Meski sekarang dia gagal mempertahankan posisinya sebagai CEO di Alrash Corp, tapi setidaknya pernikahan sementaranya dengan Moza tidak gagal. Agar dia tidak jadi tertawaan musuh-musuhnya.
“Kamu salah besar, Nami. Pernikahan ini benar-benar keinginan hati kami yang tulus. Cinta kami memang terkesan kilat. Tapi sungguh ada ketulusan dan tidak ada dusta di sana,” jelas Rama.
Namun Namira tidak menggubrisnya. Gadis itu bergegas menuju ke makam ibunya untuk mencari Kakaknya.
Rama segera mengejarnya. “Hai, kamu mau ke mana? Tunggu!”
***
“Nami!” sebut Moza terkejut melihat kedatangan adiknya.
“Ayo, kita pulang, Kak.” Namira segera menarik tangan Moza.
“Lepaskan! Ada apa ini?” tanya Moza.
“Dia ingin mengajakmu pulang, Moz. Dia pikir pernikahan kita hanya pura-pura,” sahut Rama.
Moza melepaskan tangannya dari cengkraman Namira dengan kasar. “Sekarang setelah semuanya seperti ini, kamu ingin mengajak Kakakmu ini pulang? Kamu tidak bisa memaksaku dengan sesuka hatimu, Nami. Kami benar-benar sudah menikah dengan kesadaran kami sendiri. Tidak ada pernikahan pura-pura. Pulanglah dan segera kembali ke sekolah. Rama sekarang sudah menjadi suami, Kakak. Dia tidak menyukaimu.”
Moza menggenggam tangan Rama. Keduanya saling berpandangan untuk meyakinkan Namira.
“Jangan terlalu yakin, Kakak. Ingatlah. Pria yang kamu nikahi itu playboy. Buaya senang mempermainkan wanita,” jelas Namira sinis.
Ponsel Rama kembali berdering. Dia mengambil ponsel itu kembali dari sakunya. Di layar dia lihat Ellea sedang memanggilnya. Rama melepaskan tangan Moza. Dan Moza cukup terkejut. Menatapnya tidak mengerti. Di saat ini seharusnya mereka terlihat solid di mata Namira.
“Ada panggilan. Aku ke sana dulu,” pamit Rama. Kemudian melangkah pergi.
“Ada apa, Ellea?” tanya Rama dingin.
“Rama kamu di mana? Aku sudah kembali Rama. Sekarang aku sudah ada di rumahmu. Aku sangat merindukanmu,” ucap Ellea manja.
“Apa? Kamu sudah tidak waras, ya!” tanya Rama terkejut dan kesal.