Danis melakukan rutinitas yang dua minggu ini ia jadikan pelampiasan ketika perasaan menyesal menyelimutinya. Adalah meninju udara dengan sia-sialah yang menjadi rutinitasnya itu. “Arrgg,” Danis menggeram dengan tertahan. Takut juga terdengar oleh seseorang dan ketakutannya itu terjawab saat Natalia membuka pintu kamarnya. “Papa?!” tegur gadis kecil itu. Danis terkesiap, wajahnya yang tadi penuh penyesalan seketika berubah lembut. “Ada apa sayang?” tanyanya. Natalia mendekat, ia mendongak untuk menatap wajah Papanya yang masih terlihat frustasi meskipun senyum lembut terpatri di wajah itu. “Kata Oma, Papa yang akan mengantarku ke sekolah. Oma sedang menenangkan Mama,” jawabnya. Danis menganggukan kepalanya singkat, “baiklah. Ayo kita berangkat.” Ajak Danis. Tanpa mengganti baju terle

